
π₯π₯π₯π₯π₯π₯
"Shiit!" Joy mengumpat dengan geram.
Dirinya sama sekali tak memperhitungkan penyerangan, bahkan ia tak habis pikir bagaimana bisa lokasi mereka di ketahui.
"Bagaimana dengan mayat mereka Bos?" anak buah Joy yang bermata satu itu bertanya.
Sambil menatap tubuh setengah bugil preman yang mati dengan mengenaskan. Di mana terdapat benda tajam yang menancap di dahi dan juga di tengah dadanya.
" Bakar tempat ini, lokasi ini sudah di ketahui oleh orang lain!" titah Joy tegas.
___***___
Wanita cantik yang kini berpenampilan kusam, tanpa skin care apalagi pakaian branded.
Rambutnya kusut masai, di cepol asal keatas. Warnanya pirangnya memudar, sungguh miris dimana sebelum ini gayanya teramat modis dan berkilau.
"Oh babe, keadaanmu menyedihkan sekali," sindir seorang pria paruh baya yang masih parlente.
Dengan kacamata besar berwarna gelap, serta kumis dan rahang yang berbulu lebat.
"Maka itu, keluarkan aku dari sini." pinta Daia dengan tatapan memohon.
Hanya pria ini yang bisa mengeluarkannya dari penjara yang menyiksanya di setiap detik hidupnya.
__ADS_1
"Aku sudah tidak kuat lagi ... aku bisa mati, Don ...," rengek Daia dengan mimik wajah yang sangat memelas.
Pria berdarah Itali itu, yang bernama Don Domino, memajukan tubuhnya mendekat ke arah Daia.
" Keuntungan apa yang akan ku dapatkan?" Domino membuka kacamatanya, kemudian menatap liar pada wanita di hadapannya ini.
"Aku akan melakukan apapun yang kau minta, asalkan aku terbebas dari neraka yang menjijikkan ini!" sarkas Daia dengan penuh penekanan serta mata yang berkilat.
" Apapun ... hemm, baiklah babe?" Pria itu akhirnya mengabulkan permintaan Daia dengan menjaminnya seharga satu buah mobil Toyota Yaris.
Kini mereka berdua telah berada di sebuah mansion mewah milik Domino.
"Terima kasih, honey ...." Daia melangkah dengan gerakan sensual menghampiri Domino, kemudian duduk di atas pangkuan sugar daddy nya itu.
"Hemm ... aku menantikan cara mu menyampaikannya." Domino menyeringai, mata laparnya berkabut.
Sesekali Daia pun menggigit, hingga pria yang tak lagi muda itu mengeluarkan desis serta lenguhannya.
Daia melucuti kain yang melekat pada raga gagah Domino hingga terlepas semua.
Daia menelan ludah nya kasar, ketika ubi jalar itu telah menegak siap menerima sinyal darinya.
Daia bermain nakal di sana, hingga pria itu melengkingkan tubuhnya. Lalu melepas setiap helai kain yang melindungi raga molek aduhainya.
Daia bersiap, memposisikan dirinya yang telah lembab. Menerima panah asmara dan gelora yang sudah bergejolak bagaikan air yang mendidih.
__ADS_1
"Yes babe ...!" racau Domino, pria itu mabuk oleh setiap gerakan Daia yang menggila.
"Faster please!" pintanya.
"As you wish, honey!" Daia pun semakin mempercepat alurnya hingga titik ******* itu tersampaikan.
πππππ
"Kau lihat Mam!"
"Karena kelakuan mu yang selalu mengambil keputusan sendiri, telah menguras sisa tabungan kita." Seno melempar sepatunya ke lantai.
Hingga menggelinding ke bawah kaki Easy.
"Ma-mami ...," Easy tergagap. Wanita itu tak tau harus bagaimana membela diri di hadapan putranya.
Setidaknya dirinya bisa bernapas lega sekarang, karena Seno telah menyelesaikan akibat perbuatan cerobohnya.
"Mana perhiasan Mami? Serahkan padaku!" titah Seno. Menatap orang tua itu dengan menaham geram.
"Ta-tapi. Itu semua milik Mami dan akan di pakai setiap ada acara." tolak Easy dengan memangku kedua tangannya yang saling meremas.
"Mam!"
"Bisa-bisa nya mau masih memikirkan kehidupan sosialita mu itu!" hardik Seno. Dirinya tak tahan lagi menahan gejolak amarah dalam dadanya.
__ADS_1
"Seharusnya aku biarkan saja dirimu menghabiskan masa tuamu di penjara!" sarkas Seno.
Bersambung>>>