
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Terimakasih Kak, Ninis akan berusaha menerima ini," lirih Vanish dengan wajah tertunduk.
"Berjanjilah, kau tidak akan terpuruk. Karena itu semua tidaklah berguna," pesan Susi. Ia menarik dagu Vanish agar wajah itu mendongak memandangnya.
"Iya Kak. Ninis akan mencobanya," ucap Vanish masih dengan suara serak.
"Ingat! Kau masih memiliki keluarga yang utuh. Keluarga yang sangat membutuhkan kehadiranmu. Memikirkan keadaan dirimu. Mengkhawatirkan mu. Apalagi Better, pria itu seperti bukan dirinya. Ia hampir gila karena memikirkan mu, ia juga sedih dan kecewa. Tapi dia akan lebih terluka jika kau yang kenapa-kenapa. Kau beruntung Nis, sangat beruntung. Beri alasan jika kau harus terlarut dalam kesedihan? Apa? Katakan padaku?" Susi berbicara panjang lebar, membuat Vanish bungkam karena kehabisan kata-katanya. Hanya lelehan air mata saja yang mewakili seluruh perasaannya.
"Jika kau ingin menyalahi takdir. Bandingkan dengan nasibku dulu. Kau ingat 'kan. Hanya kau satu-satunya yang tau kisah kelam ku itu Nis. Hanya kau! Ku harap mulai besok tidak ada lagi air mata yang kau tumpahkan. Bersedih-lah untuk hari ini saja." Sontak kalimat terakhir dari Susi menyentak batin Vanish.
Benar juga, apa yang ia alami tidaklah terlalu buruk. Justru bagus, karena janinnya telah menunjukkan penyakit yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Nasibnya tidak lah seburuk apa yang dipikirkannya.
" Kau benar Kak. Aku beruntung. Aku memiliki keluarga yang utuh, ayah mertua yang baik, suami yang penyayang, sahabat yang peduli dan selalu ada untukku. Hidupku penuh anugerah dan berkat. Hanya karena kehilangan sekali, aku mengingkari pemberian Tuhan sebanyak ini." Vanish menyeka air mata yang masih terus meluncur di kedua pipinya. Kemudian ia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Susi.
"Terima kasih Kak. Kau telah menyadarkan ku. Mulai saat ini, aku akan melihat semua hal dari sisi positifnya saja. Aku akan belajar untuk selalu berpikiran baik akan segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. Mungkin, ini adalah salah satu cara Tuhan. Agar kami lebih menikmati masa pengantin baru," ucap Vanish dengan senyum tipis yang berusaha ia munculkan di wajah basahnya. Lagi, ia menyeka air yang merembes ke bawah dagunya.
"Ini baru benar Vanish yang ku kenal. Vanish yang selalu ceria dan pandai dalam menyemangati orang lain. Aku bangga padamu!" Susi menangkup wajah Vanish, memberi semangat dan kekuatan melalui senyum tulusnya.
"Sekarang kau sudah tenang. Biarkan keluargamu menemui mu sekarang. Setelah ini, kau harus banyak-banyak istirahat. Kakak keluar dulu, sekalian pamit pulang ya," ucap Susi berpamitan pada Vanish.
" Iya Kak. Kasian baby S. Kau segeralah pulang, sampaikan maaf-ku pada keponakan tersayangku itu." Vanish pun melambaikan tangannya saat Susi berjalan mundur, hingga membuka pintu keluar.
"Keluarga Vanish, kalian sudah bisa menjenguknya. Dia, sudah baik-baik saja. Saran saya, tidak perlu ajak dia bicara banyak dan berat dulu. Karena Vanish harus kembali istirahat setelah ini," jelas Susi di hadapan seluruh keluarga Vanish
"Terimakasih, Nyonya. Anda telah menenangkan anak saya." Emak menghampiri Susi dan mengambil tangannya.
"Jangan begitu, panggil saja Susi. Saya sahabat Vanish bukan bos apalagi majikannya." Susi menolak bahu Kelly yang hendak dibungkukkan.
"Masuklah. Agar ia tau bahwa dirinya tidaklah sendirian." Susi tersenyum seraya menepuk punggung tangan Kelly. Setelahnya ia berlalu untuk kemudian menghampiri Arjuna suaminya.
Setelah berpamitan dengan Better keduanya melangkah pulang meninggalkan gedung rumah sakit elit tersebut.
__ADS_1
" Kau memang si kanjeng ratu. Setiap kata-katamu mengandung sesuatu. Bahkan, seorang Arjuna saja tidak bisa membantah kalimat yang keluar dari bibir seksimu itu," puji dan puja Arjuna pada istrinya. Membuat kedua pipi Susi bersemu merah muda.
"Kau paling bisa memujiku. Kata-katamu sangat manis. Aku takut lama-kelamaan bisa terserang bucinetes melitus." Susi terkekeh sendiri dengan kalimat nyeleneh karangannya. Setelah saling melempar gombalan dan pujian. Arjuna segera menjalankan Ferrari-nya. Keduanya lantas ingat akan pesan dari sang baby sitter. Bahwa, Satria sudah mulai rewel dan tidak mau menyusu dari botolnya. Susi pun sudah merasakan bengkak di kedua dadanya.
Keesokan harinya.
"Kenapa Na? Sejak tadi ku perhatikan kau seperti tidak semangat? Apa aku membuat kau kesal? Atau ...?" tanya Joy risau.
"Tidak, aku hanya sedih. Seharusnya kita fitting hari ini bersama Vanish." Milna menghela napasnya setelah menjawab pertanyaan dari calon suaminya itu.
๐พCieeee calon suami ni yeee ...๐
๐๐ช๐ข๐ฎ๐ญ๐ข๐ฉ! ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ช๐ต๐ถ. Batin Milna yang tengah merasakan gusar di dalam hatinya. Saat itu akan tiba sebentar lagi. Dimana dirinya dan Joy akan di sah-kan sebagai pasangan resmi. Awalnya dia tidak segusar ini karena ada Vanish. Tapi, kini sahabatnya itu terancam gagal melaksanakan resepsi bersama. Karena musibah yang menimpanya kemarin.
"Bang! Jangan bicara terus. Cepat sedikit bawa mobilnya!" pekik dari suara renyah di belakang sana.
"Haiihh! Aku sampai lupa kalau membawa barbie abal-abal." Joy mencebikkan bibirnya kedepan.
๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ด๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช, ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ถ๐จ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐จ๐ข ๐ค๐ข๐ญ๐ฐ๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ช๐ฑ๐ข๐ณ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ฅ๐ช ๐ฏ๐บ๐ข๐ฎ๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ณ๐ช๐ด๐ช๐ฉ. Lia, nama panggilan remaja cantik itu. Hanya bisa menggerutu panjang-pendek dalam hatinya saja.
Beberapa saat kemudian di butik.
"Tuan, calon istri anda sudah siap. Lihatlah!" Sang perancang busana membuka tirai, dimana Milna telah selesai di dandani dengan gaun pengantin.
Wajah oval itu terus menunduk. Ia tak sanggup melihat ekspresi Joy kala melihat penampilannya. Melihat Joy dengan jas pengantin saja sudah membuat detak jantungnya abnormal. Entah bagaimana jika ia menatap mata pria menyebalkan itu.
"Na, kau sangat cantik," ucap Joy lembut. Tau-tau pria itu sudah selangkah berada di hadapannya. Nada bicaranya sungguh berbeda. Membuat sudut hati Milna tersentak dan sontak membuatnya mendongak.
Kedua mata itu pun beradu dalam pandang dalam diam. Karena ketika Milna mengangkat wajahnya. Joy terpana dengan aura wanita yang tengah menampung benihnya itu. Tanpa sadar Joy mengulurkan tangannya ke wajah Milna.
"Aku ingin segera meresmikan mu," ucap Joy.
" Kenapa?" tanya Milna.
__ADS_1
"Agar aku dapat memiliki sepenuhnya sinar teduh di matamu ini," jawab Joy, dengan kalimat rayuan.
Hampir saja Milna terhanyut dengan pesona seorang Joy Kinder. Mantan casanova kelas kakap. Segera ia membuang jauh buaian yang sempat mampir ke hatinya.
"Teruslah berusaha. Untuk membuatku jatuh cinta padamu. Meskipun aku rasa itu akan sangat sulit," ketus Milna.
"Kenapa?" balas Joy dengan bertanya.
"Karena aku membencimu. Pria menyebalkan sepertimu tidak akan pernah bisa menyenangkan hati orang lain," sarkas Milna.
"Perlahan, aku akan mengubah kebencianmu menjadi cinta. Karena, aku telah lebih dulu jatuh cinta padamu." Joy mencoba meraih tangan Milna. Ia tersenyum senang saat Milna tidak menepisnya.
" Cobalah! Asal jangan menggunakan rayuan mu padaku. Karena itu tidak akan berguna pada wanita sepertiku," sinis Milna.
" Jadi kau lebih suka aksi ketimbang kata-kata." Joy tersenyum penuh arti. Milna memang berbeda, wanita ini tidak akan luluh dengan jurus yang biasa ia gunakan untuk menjerat wanita bodoh di luar sana.
"Ciiiee ... yang lagi terpesona!" seru Lia. Gadis itu tiba-tiba saja keluar dari ruang ganti. Ia baru saja mencoba gaun untuk pendamping pengantin, yang akan ia kenakan nanti. Ia bahkan sudah cukup puas mengambil beberapa tangkapan gambar di layar kamera pada ponselnya.
" Joy! Honey itukah kau?" pekik seorang wanita bertubuh sintal dengan pakaian kurang bahannya. Dimana bagian dadanya hampir meloncat keluar dan bagian pusarnya terpampang nyata. Meskipun bagian bawahnya tertutup sangat rapat. Namun, celana panjangnya itu begitu press body. Hingga membuat setiap lekuk tubuhnya tercetak jelas.
"Miranda!" pekik Joy juga. Pria itu nampak kaget karena bertemu dengan salah satu mantan partner kasur bergoyang nya.
" Kau sedang? Oh, aku tau ...! Jadi, kau sudah insyaf lalu hendak menikah?" sarkas Miranda tersenyum sinis.
"Aku tidak perlu menjawab hal yang sudah kau tau." Joy bertingkah cuek. Dirinya sudah biasa saja melihat penampakan menggiurkan di hadapannya ini. Dimana biasanya akan menjadi santapan makan malamnya sampai pagi.
Wakwawww ...!
Ketemu mantan hot jeletot euuyy ...!
Panas gak ya kira-kira ...?
Bersambung>>>
__ADS_1