
🔥🔥🔥🔥🔥
"Aaarrrggghhhh ...!!" teriakan kesakitan dari Seno menggema, merobek udara panas di dalam ruangan itu.
" Teriakan itu, di lantai atas." Arjuna berbalik dan menemukan tangga menuju lantai kedua bangunan itu. Pria gagah itu menyeret Katana panjangnya, karena ia melangkah dengan cepat.
Kedua mata Susi memanas melihat pemandangan kesakitan dari Seno. Pria itu terus menggeliat merasakan sakit luar biasa pada alat tempurnya.
Susi meraih pistol yang di letakkan Seno di atas nakas. Menekan pelatuknya, dan mengarahkannya ke arah pria yang tengah memegangi barang pusakanya.
"Kau lihat kan, aku begini karena dirimu!" pekik Susi dengan suara bergetar. Bagaimanapun, dirinya belum pernah berlaku kasar pada siapapun.
"Semua ini akibat ulahmu sendiri, kau tidak menyangka bukan?"
"Bahkan, aku bisa membunuhmu saat ini juga!" teriak Susi sambil menghapus air matanya kasar.
" K-kauu ...," Dengan susah payah Seno mengeluarkan sepatah kata, wajahnya sudah sangat pucat. Bahkan keringat dingin mengucur begitu deras dari dahinya.
"Kau memang lemah. Aku yang kuat sekarang!"
Dor!
Susi melepas tembakan ke atas, dirinya terkesiap dengan napas yang terengah-tengah. Tubuh yang hampir terjungkal kebelakang, dapat di tahannya dengan satu tangan yang bertumpu pada dinding.
"Untung saja tembakanku tidak mengenai kepalamu!" Susi yang telah menyeimbangkan kembali raganya, berjalan mendekati tempat tidur.
"Sebentar lagi pasti akan ada yang datang, tentu saja para anak buah bodohmu itu."
"Aku akan menghabisi mereka satu persatu, kau pikir aku akan takut!" Susi terus saja meneriaki Seno yang telah lemas, karena pingsan.
__ADS_1
"Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!" Kembali menghapus kasar air matanya, Susi pun keluar dengan berlari.
Wanita bergaun panjang itu berlarian di lantai kayu dengan kaki tanpa alas. Sepasang mata indahnya menelisik setiap arah, mencari jalur untuk turun. Hingga sebuah tangan membekapnya masuk ke dalam sebuah ruangan gelap.
Brak!
Pintu di tutup.
Klik.
Lampu dalam ruangan kecil itu pun menyala. Meskipun redup tapi dapat menampakkan satu wajah yang sejak tadi sangat ia harapkan untuk datang.
Terutama, ketika tangan si busuk Seno menyentuhnya.
"Maafkan aku ...," lirih Arjuna, menarik tubuh bergetar itu ke dalam rengkuhannya.
Wanita itu mendadak rapuh di hadapan lelakinya, dia yang tadi sok kuat dan berani, kini bergetar hebat dalam isak tangisnya. Tenggelam di dada bidang itu, menelusup kan rasa rendah dirinya.
"Pria itu menyentuh tubuhku lagi, aku tidak bisa menjaga diriku." Susi terisak makin kencang serta semakin membenamkan kepalanya di dada pelukable itu.
"Aku akan meledakkan kepala pria itu." Arjuna hendak berbalik.
"Jangan!" Susi menahan pinggang Arjuna dengan melingkarkan kedua tangannya di sana. Karena pria itu ingin menemui Seno dengan amarahnya.
"Ia belum sempat melakukannya, karena aku lebih dulu mematahkan senjatanya." jelas Susi sambil menunduk.
"Senjata apa yang kau patahkan?" Arjuna heran, ia masih belum nyambung akan maksud Susi.
"Mematahkan itu ...," tunjuknya dengan gerakan kepala ke arah keris empu gandrung Arjuna.
__ADS_1
Arjuna mengikuti arah gerakan kepala Susi, setelah otaknya mampu mencerna maksud darinya, sontak dirinya menutupi keris dengan kedua tangannya.
"Me-mematahkan?" Arjuna bergidik sambil mendelik. Ikut merasa linu membayangkan anu yang di patah.
"Kalau begitu, tak perlu khawatirkan yang lain. Bagiku, keselamatanmu adalah yang lebih penting," Arjuna menatap mata berair itu serta memegangi kedua bahunya.
"Aku berjanji, ini terakhir kalinya kau lepas dari pengawasanku." Arjuna kembali merengkuh raga itu, membawa kedalam pelukannya. Memberi ketenangan dan keyakinan, bahwa rasa di hatinya tidak akan berubah.
"Kita keluar dari sini." Arjuna menuntun tangan dingin itu. Membawanya menuruni tangga, hingga sebuah tembakan melesatkan peluru di antara kaki mereka.
Tarr!
"Akh!" Susi memekik karena hampir saja peluru itu mengenai kaki nya.
"Kesini." Arjuna kembali menarik Susi mundur dan bersembunyi dibalik dinding.
"Temukan mereka berdua hidup-hidup." titah seorang pria berambut kucai. Dengan tato ulat kaki seribu yang memanjang dari tengkuk hingga ke lengannya.
...Terus dukung karya ini ya gais ......
...Jangan lupa dukungannya ......
...Vote karya ini, rate bintang 5 lalu tekan like dan komen🥳....
...Terima-kasih....
...Dukungan dari kalian adalah semangat untuk penulis.😚...
Bersambung>>>
__ADS_1