
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Susi terlihat begitu serius mempelajari tentang perusahaan ARSA. Ia yang cukup tau detail produk dan keadaan lapangan membuatnya lebih mudah menguasai materi.
Hanya saja, saat ini ia harus menghafalkan perusahaan mana saja yang bekerja sama, serta para klien dan juga para pemegang saham.
"Kau pintar." Joy memperhatikan berkas yang telah di susun oleh Susi.
"Sepertinya kau sudah siap bekerja." Joy menatap Susi dan tersenyum puas.
"Benarkah?" tanya Susi berbinar.
Joy bangkit dari single, kemudian duduk di sebelah Susi dengan berkas yang masih di pegang nya," kau hanya perlu merapikan bagian ini sedikit," ucap Joy sambil menunjuk beberapa part yang kurang.
Susi memajukan tubuhnya hingga ia agak sedikit menunduk pada kertas yang di arahkan Joy padanya.
"Lalu, aku harus merevisi bagian ini juga kah? tanya Susi menunjuk bagian yang salah.
" Ya, ini dan ini hanya perlu penyempurnaan sedikit lagi," jelas Joy yang bisa merasakan harum dari ceruk leher jenjang mulus Susi.
Karena jarak mereka yang begitu dekat, ketika menunduk memperhatikan lampiran berkas.
Kemudian Susi menengok sambil mengibaskan rambutnya yang menjuntai ke depan wajahnya, dengan senyum tipis ia berkata pada Joy, "terima kasih, Pak Joy,"
Asisten tampan berkulit putih dengan rambut model under cut skin itu, terkesima sesaat.
Matanya tak berkedip menatap pemilik mata indah itu yang senyumnya seakan menghipnotis.
Seketika, deheman bariton menyadarkannya.
"Eheermm!"
"Tu-tuan."Joy langsung berdiri dan bergidik ngeri ketika melihat raut wajah tidak bersahabat dari Arjuna.
"Kau bisa pulang sekarang." ucap Arjuna datar, dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"Ah baiklah, lagipula kita sudah selesai iyakan Nona?" Joy melempar tanya dengan seulas senyum.
" Sudah, Pak Joy." Susi pun tersenyum," sampai jumpa besok, " imbuhnya. Interaksi kedua nya membuat pria diantara mereka mengeratkan giginya. Sehingga, Arjuna melempar titahnya lebih keras.
"Sudah cukup belajarnya!"
"Kau siapkan ruangannya!" tunjuk nya pada Joy.
"Dan, kau masakan aku makan malam, cepat!" titahnya pada Susi membuat wanita itu sedikit menjengit kaget, terlihat dari reaksinya yang tiba-tiba memegang dadanya.
Joy undur diri setelah menunduk hormat pada bosnya itu. Mencuri sedikit pandang pada Susi yang telah berbelok ke dapur.
"Kau masih ingin aku memotong gaji mu, Joy!" seruan Arjuna membuat Joy segera menggunakan jurus kaki seribu bayangan.
___**___
Bau harum masakan tercium hingga ke ruang tamu, mengusik kesantuyan Arjuna yang tengah menatap layar persegi panjang 50 inchi.
Pria dewasa yang hanya mengenakan celana pendek rumahan dan juga kaos tipis, hingga bentuk tubuhnya yang atletis itu tercetak jelas.
Atas dasar apa hingga kini kakinya melangkah ke dapur. Mata elangnya melihat tubuh ramping dengan dress selutut itu tengah sibuk mengaduk masakan.
Sesekali Susi terlihat menyeka keringat yang mengalir di pelipis dengan punggung tangannya.
"Ahk! Sejak kapan Tuan di situ?" pekik Susi kaget, ketika ia mendapati Arjuna tengah bersedekap di ujung dapur.
"Masakannya sudah siap, Tuan. Hanya tinggal plating saja,"
"Karena itu saya harus mencuci tangan dulu sekalian dengan alat-alat masak ini," jelas Susi dengan senyum kikuknya, karena baru kali ini bosnya itu mengawasinya ketika memasak.
Arjuna tak mengatakan sepatah kata pun, ia hanya terus memperhatikan gerakan Susi yang lincah.
Susi yang grogi karena tatapan tajam itu seakan mengulitinya hidup-hidup membuatnya beberapa kali menjatuhkan gelas kotor yang sedang di beri sabun.
(Aku harus segera menyelesaikan ini. Kenapa juga dia melihat ku terus!)
__ADS_1
Susi memutar keran terlalu keras dan...,
PTAKK!
CROOSSH!
"HUAAA...!"
"Tuan tolong...!! Kerannya rusak!" Susi berteriak sambil menutupi lubang air itu dengan apapun yang ada di situ, tubuhnya sudah basah kuyup dan dapur becek tak karuan.
Arjuna berdecak dan menghampirinya.
"Pegang dulu, biar aku cari keran ganti." Arjuna membuka laci demi laci, hingga teriakan Susi untuk yang kedua kalinya.
"Tuan, cepetan!" paniknya karena ulahnya tubuhn dan keadaan dapur menjadi kacau. Untung saja letak kompornya berjauhan dengan wastafel.
"Ahh...tahan sebentar!"
"Aku gak bisa, Tuan. Aduh sakit, kejepit!"
"Ya udah jari nya awas!"
PROTT!!
Air menyembur ke wajah Arjuna membuat rambut serta kausnya basah. Susi menahan senyumnya, ia menolehkan wajahnya ke samping.
(Kasian bos ku ini, jadi mandi kesorean.)
"Apa kau sedang menertawakan ku?" tebak Arjuna, ia telah mencekal lengan Susi hingga wanita itu menatapnya.
Susi menggeleng cepat, ia tidak kuat menatap mata itu dari jarak sedekat ini.
"Bereskan kekacauan ini segera!" ucapnya tegas dengan raut wajah kesal.
Baru saja hendak berbalik, namun kaki Susi tergelincir karena lantai yang licin. Arjuna menarik tangannya hendak menangkap tubuh ramping yang basah kuyup itu, namun kakinya terpeleset juga dan...,
__ADS_1
"Kyaaaa...!"
Bersambung>>>>