Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Menculik Pacar ( bag. 2 )


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Nis, apa kau menerima perjodohan itu?" tanya Better setelah beberapa menit keduanya terdiam. Tenggelam dalam samudera pikirannya masing-masing.


" Ya, Ninis menerimanya." Vanish menjawab dengan tetap memandangi air danau yang memantulkan kerlap-kerlip lampu di sekitarnya.


"Aku, membatalkan perjodohan ku dengan papi. Aku juga kabur dari pertemuan dua keluarga inti," jelas Better. Pria ini, asik memandangi wajah cantik natural kekasihnya dari samping.


"Kenapa? Bukankah kita sudah mengikhlaskan hubungan ini!" kaget Vanish, dirinya sontak memalingkan wajahnya dari depan danau. Memandang wajah pria tampan dihadapannya, mencari kesungguhan dari arti kata-katanya barusan.


Aku tidak sanggup, membayangkan akan berpisah denganmu selamanya. Di acuhkan olehmu sejak kemarin, itu sudah membuatku kalang kabut. Aku tersadar, jika separuh napas ku telah pergi bersamamu. Seluruh hati dan pikiranku hanya di penuhi oleh senyum dan tawamu saja." Better menggenggam kedua tangan Vanish. Membawa ke dadanya, seraya memberi remasan kuat pada keduanya.


"Aku akan melepaskan segalanya, apapun itu. Tapi, tidak dirimu."


Better menatap wajah sendu itu dengan pandangan penuh kerinduan, rasa takut kehilangan menyeruak dari dalam rongga dadanya. Menumpahkan tetes demi tetes kristal bening dari sudut mata sipitnya itu.


๐˜—๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ. ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข.


Vanish, sungguh tidak menyangka akan mendengar pernyataan cinta dari pria yang di cintainya itu. Namun, semua terlambat. Ia telah berjanji dengan sang ayah dan juga calon suaminya itu.


"Tapi, kita tidak boleh egois. Dengan memikirkan kebahagiaan kita sendiri." Ninis berusaha melepaskan genggaman tangan dari pria ia yang amat ia cintai itu. Sosok yang selama dua hari ini begitu ia rindukan. Hingga, dirinya selalu membasahi bantal dan guling dengan air matanya.

__ADS_1


"Pernikahan itu, di jalani oleh sepasang hati. Kenapa kita harus memikirkan perasaan orang lain karenanya?" sarkas Better. Jika tindakannya bisa di katakan egois, biarlah. Untuk kali ini saja, ia ingin memikirkan dirinya sendiri.


"Pernikahan tanpa restu, apa kau pikir akan bahagia. Lebih baik pernikahan tanpa cinta di banding dengan pernikahan tanpa restu." Vanish menatap dalam mata hitam pekat di hadapannya. Ia tidak ingin keluarganya membenci dirinya. Terlebih, kesehatan sang ayah adalah segalanya. Ia akan mengorbankan apapun itu, meski nyawanya sekalipun.


"Bagiku, pernikahan dengan cinta akan bahagia selamanya. Meski tanpa restu dari orang yang tidak pernah memikirkan perasaanmu." Better terus mengeluarkan opininya.


"Itu, tidak benar. Setiap orang tua, pasti menginginkan yang terbaik untuk anak mereka. Itulah, yang Ninis yakini. Pilihan mereka, pasti adalah yang terbaik untuk kita." Vanish kembali mematahkan pendapat Better.


"Tidak! Aku tidak setuju! Tidak ada orang lain yang akan mengerti apa yang terbaik, selain dirimu sendiri. Mereka tidak merasakan apa yang bergetar dalam hatimu. Mereka tidak mengalami susah tidurnya aku ketika merindukan orang yang aku cintai! Tidak! Kali ini, siapapun tidak boleh lagi mengambil kekasihku! Tidak akan aku biarkan kali ini!" Tanpa sadar, Better telah mencengkeram dengan kuat kedua bahu Vanish.


๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ?


"Kita, tidak perlu memaksa orang lain untuk mengerti kita. Tunjukan bahwa kita bahagia, demi mereka. Maka, kebahagiaan hakiki akan menghampiri kita. Tidak ada pengorbanan yang akan sia-sia." Vanish turut mencekal kedua lengan Better. Berusaha memberi pengertian pada pria itu.


" Aku tidak membela mereka, ini semua adalah tentang membahagiakan dan keyakinan. Jika kita, membahagiakan orang-orang yang menyayangi kita. Yakinlah, bahwa kebahagiaan itu juga akan datang untuk kita," ucap Vanish bijak. Gadis itu, terlihat dewasa dan tidak seperti Vanish yang biasanya.


"Ninis, juga sebenarnya merasa berat. Melepasmu, dan merelakanmu adalah hal yang sangat menyakitkan. Ini juga tidak mudah bagiku," ucap Vanish lirih. Ia menghapus air matanya yang turun tanpa ia sadari, kemudian juga menyusut hidungnya.


"Tolong jangan menangis." Better mengulurkan kedua tangannya, lalu menggunakan ibu jarinya, untuk menyeka air mata yang deras mengalir di kedua pipi Vanish.


"Maafkan aku, aku tidak bisa merelakan mu untuk orang lain. Aku akan mencoba menghadapi keluargamu, terutama ayahmu. Aku akan berbicara padanya. Tolong, jangan lepaskan aku ...," ucap Better lirih. Kini, ia telah menyatukan kening mereka. Perlahan, kristal bening itu juga luruh membasahi pipinya.

__ADS_1


Better menangkup wajah basah itu dengan kedua tangannya. Memandangi mata mendung itu dengan penuh arti. "Aku mencintaimu, aku ingin memilikimu selamanya. Aku ingin kau yang menjadi istriku. Menemani ku seumur hidup hingga tua nanti. Aku hanya ingin dirimu, aku tidak mau orang lain," ucap Better dengan pandangan yang sudah berkabut oleh rindu bercampur hasrat.


"Tapi, ayah ...." Vanish tak dapat meneruskan kata-katanya. Karena kedua bibirnya telah terkunci, oleh sebuah sesapan dalam yang di berikan oleh kekasihnya itu.


Better semakin memiringkan wajahnya, untuk memperdalam ciumannya. Merasa tak mendapat penolakan dari Vanish. Ia justru menekan tengkuk itu, demi mengeksplor semakin dalam.


Belitan demi belitan pun terjadi, disertai gigitan manja dari keduanya. Sampai sebuah lenguhan nikmat mengalun merdu dari keduanya.


Sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara ini, sama-sama mengurai rindu mereka dengan pertautan yang semakin membara itu.


Vanish yang sudah terhanyut oleh permainan yang di mulai oleh sang pacar, mulai berani melakukan aksi pembalasan. Hingga decapan demi decapan, terlepas nyaring dari kedua bibir yang beradu.


Vanish mengalungkan kedua lengannya di leher Better, mengunci pria itu agar tidak melepas ciumannya. Better, mengulurkan satu tangannya ke pinggang Vanish, menekan tubuh itu agar semakin mengikis jarak antara keduanya.


Hingga, bukit kembar nan kenyal itu terasa menyentuh dadanya yang hanya terlapisi kaus. Ciuman keduanya semakin bergelora, karena tak ada satupun dari keduanya, yang berniat menyudahi pertautan panas itu.


Mungkin, inilah yang di namakan godaan saiton. Di mana kini mereka telah buta dan tuli akan keadaan di sekitar yang semakin sepi.


Mereka berdua, telah terbius dan terbuai dengan gelora hasrat yang hampir menguasai akal dan pikiran. Hanya terpikirkan untuk melepas rindu yang membuncah dan hampir meledak, mencoba menikmati kebersamaan mereka malam ini.


Tanpa mereka sadari, sebuah dorongan dari hawa napsu telah menodai kejernihan dan akal pikiran mereka berdua. Larva gairah yang tumpah telah menyeret mereka dengan arusnya secara perlahan.

__ADS_1


๐ŸพAdu duh ... ๐Ÿง๐Ÿง


Bersambung>>>


__ADS_2