Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Romantis Apa Sadis?!


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Setelah kejadian sore itu di dalam mobil. Arjuna memutuskan untuk membawa Susi ke psikiater.


Ia ingin menyembuhkan luka batin calon istrinya itu sebelum mereka menggelar pernikahan dan menjadi suami istri.


Arjuna faham, bahwa alam bawah sadar Susi masih di selimuti trauma. Luka batin dan pisik yang di alaminya, membuatnya masih berselimut kesakitan psikis.


"Aku tidak akan menikahi mu sebelum kau yang siap dan memintanya." ucap Arjuna tegas sambil menyeruput kopinya.


Kini, mereka berdua tengah berada di sebuah cafe. Mampir sebentar setelah bertolak dari rumah sakit untuk bertemu dengan seorang psikiater.


"Maaf." Susi menundukkan wajahnya, sejak kejadian di dalam mobil waktu itu, penyesalannya dan malunya tak kunjung hilang.


" Angkat wajahmu!" titah Arjuna. Membuat Susi mendongak seketika.


"Jangan lagi merasa bersalah dan malu padaku. Buang perasaaan itu dan fokuslah pada terapi mu, hm." Arjuna menyentuh punggung tangan Susi, mengusapnya pelan dengan ibu jarinya.


(Kenapa kau selembut ini padaku? Apakah aku pantas menerima kebaikanmu ini.) Susi terus menatap wajah kharismatik itu.


" Kau pantas mendapatkan apapun yang kau mau, perhatian, waktu, dan cintaku." Arjuna mengucapkannya dengan sepenuh hati. Ia bahkan menatap wajah itu dalam, menembus iris kecoklatan Susi.


" Jangan menangis, aku ingin melihat mu tertawa dan bahagia mulai saat ini." Arjuna berkata tegas, menghentikan air mata Susi yang hampir menyeruak.


"Ini tangis bahagia kau tau!" Susi menampik tuduhan dari Arjuna. Ia mengusap ujung matanya dengan tangannya.


"Sekarang siapkan dirimu untuk besok. Menghadapi mantan mertua dan ipar mu perlu hati dan kepala yang dingin. Balas mereka dengan elegan dan berkelas, tanpa ada kekerasan. Mengerti!" pesan Arjuna membuat Susi mengangguk pelan sambil tersenyum simpul.


" Kenapa kau jadi cerewet sekali, mirip nenek Piong ku saja." Susi pun terkekeh membayangkan Arjuna dan neneknya yang hanya memakai kemben saja.

__ADS_1


"Kau keterlaluan!" kesal Arjuna, lalu menyuap nasi goreng seafood itu ke dalam mulutnya.


Susi pun tergelak karena kelakuan pria gagah nan tampan itu.


" Kau bisa merajuk juga rupanya," ledek Susi mengambil ayam tepung saos padang dan mengarahkannya ke mulut Arjuna.


"Aku bukan anak kecil, kenapa kau menyuapiku?" tanya Arjuna polos, bahkan ia memundurkan wajahnya.


"Siapa yang menganggap mu anak kecil?" Susi mengerutkan dahinya.


"Ini tuh namanya romantis!" Susi menjejali ayam tepung itu memaksanya masuk ke dalam mulut Arjuna.


Arjuna pun terpaksa mengunyah makanan itu dengan wajah memerah menahan malu,karena baru kali ini ada wanita yang menyuapinya.


Bahkan ia tak ingat, kapan terakhir kali sang ibunda menyuapinya ketika kecil.


" Mana ada romantis kayak gini!" protes Arjuna dengan bibir mengerucut dan tatapan mata sinis nya.


Susi pun tergelak, puas sekali ia mengerjai Arjuna sore itu.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


"Kau keterlaluan Seno!"


"Bagaimana bisa kau menghabisi harga diri mami sampai sisa ampas saja." Easy, meluruhkan raganya di atas sofa. Wanita itu sudah lelah menangis dan berteriak sejak kemarin malam.


"Dimana mau ku letakkan wajah ku ini besok!" Daia pun ikut stress dan panik.


"Sudahlah kalian jangan mendrama. Lebih baik pikirkan jalan keluar atau solusinya." pungkas Seno mengabaikan keluhan dua wanita yang taunya hanya uang saja.

__ADS_1


Mereka tak pernah sedikit pun menghargai kerja kerasnya. Bila sudah terjatuh dan susah seperti ini, lantas langsung menyalahkannya.


"Apa yang harus kulakukan, aku tak pernah sekalipun menginjak kantor mendiang papi." Daia bersungut sambil menyilangkan tangannya di depan tubuhnya.


"Maka mulai besok, injaklah! Atau kau akan kehilangan hak mu sama sekali!" Setelah mengatakannya Seno pun berlalu, meninggalkan kedua wanita yang hanya bisa menambah keruwetan di dalam kepalanya.


" Kami menyekolahkan mu hingga S2, kenapa tidak berguna sama sekali!" hardik Easy pada Daia.


"Mami! Kenapa kau malah mengungkitnya sekarang!" Daia berdiri dan menghentakkan kakinya kelantai.


"Perusahaan itu tugas keturunan laki-laki Pradipta, bukan urusanku!" Daia pun pergi meninggalkan Easy melongo melihat sifat anak perempuan satu-satunya.


Keesokan harinya di kantor Direktur S.( yang dimaksud disini adalah Susi.)


PRAK!


Tumpukan berkas-berkas itu di lempar ke wajah seorang divisi keuangan. Hingga kertas beterbangan ke seluruh lantai.


"Kumpulkan jajaran mu! Kita rapat 5 menit lagi!" titah Direktur S, pada wanita bertubuh seksi dengan pakaian ketatnya.


...Hayyo yang korup siap-siap ......


...Bakalan ada sidak ......


...Siapa yang belom ngevote๐Ÿง??...


...Atuh di vote nupel mak chibi nya biar semangat kreji terussss....


...Mumpung lagi di promoin entun nih๐Ÿ˜š....

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2