
🔥🔥🔥🔥🔥
" Bagaimana keadaan Ninis, Nak?" tanya Kelly yang notabene adalah Ibu kandung dari Vanish. Atau kata lainnya beliau adalah Ibu mertuanya Better.
"Masih mendapat penanganan intensif, Bu," jawab Better lesu. Di kabari Vanish ketika rapatnya baru saja selesai. Better langsung meninggalkan kantornya secepat kilat. Mendapati keadaan Vanish yang kembali bersimbah darah, membuat seluruh sendinya serasa tak bertulang.
"Awalnya bagaimana? Kenapa Emak enggak di kasih tau?" cecar Kelly, dengan raut wajah kecewa. Karena anak dan menantunya ini kompak menyembunyikan masalah sebesar ini.
"Maaf, Bu. Ninis yang melarang saya untuk memberitahu keluarga. Dia tidak mau membebani pikiran orang tua. Dia juga bilang, apapun masalahnya nanti dalam rumah tangga kami harus bisa menghadapi dan menyelesaikannya berdua," jelas Better sendu. Nampak sekali kesedihan di raut wajah yang tampan itu. Meski terlihat kusut dan muram, karena beban pikiran yang merenggut binar kebahagiaan yang biasanya terpancar lewat mata.
" Ninis, dia benar-benar mencontoh kami sebagai orang tuanya. Semoga, apa yang terjadi pada Emak dulu tidak menimpanya saat ini," ucap Kelly lirih.
"Bu, boleh tau apa yang terjadi?" tanya Better hati-hati. Ia pun ikut mendudukkan dirinya di kursi sebelah Kelly.
"Beberapa tahun lalu Emak sempat hamil. Ninis dan Kiss sangat senang karena mereka akan punya adik. Ayah juga berharap anak laki-laki. Akan tetapi, takdir berkata lain. Di usia kandungan ke empat bulan, Emak terjatuh ketika berbelanja ke pasar. Sebenarnya tidak parah jatuhnya, tapi karena ada kelainan pada kehamilan saat itu. Emak pendarahan hebat bahkan sampai koma selama tiga hari. Dokter pun menyarankan agar mengangkat rahim Emak, untuk menghindari resiko besar jika hamil lagi," tutur Kelly. Sambil menatap nanar ke sembarang arah. Jemarinya bergerak ke bawah pipi demi mengusap lelehan air matanya. Ternyata luka itu masih terasa di hatinya. Ia berharap semoga Ninis tidak mengalami seperti dirinya.
" Semoga Ninis tidak mengalami hal seburuk itu, Bu. Dia sangat menginginkan untuk memiliki bayi. Setiap hari maunya ketemu baby S terus. Kalau tidak ketemu dia pasti vidio call. Setiap hari selalu bayi yang menjadi topik pembicaraan kami. Apalagi semenjak Milna hamil bayi kembar." Better menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Pria itu menangis dalam diam hanya bahunya saja yang terlihat naik turun dengan berat.
"Nak, yang sabar. Kuatkan dirimu. Ninis sangat membutuhkanmu saat ini," ucap Kelly. Wanita itu mengelus punggung menantunya yang bergetar.
"Dokter pasti memiliki keputusan yang terbaik. Karena keutamaannya adalah menyelamatkan nyawa. Semoga, Ninis baik-baik saja. Juga bisa menerima apapun yang terjadi nanti. Pesan Emak padamu Nak, tetaplah disisinya bagaimanapun keadaannya," ucap Kelly memberi nasihat sekaligus pesan.
" Saya, tidak akan pernah meninggalkan Ninis apapun yang terjadi. Anak bukanlah hal utama yang saya cari dari sebuah pernikahan. Saya mencintainya tulus dari hati. Saya akan berusaha memberinya kebahagiaan dengan cara yang lain." Better mendongak ke arah Kelly, cucuran air mata itu terus melewati hidung lancipnya. Membuat siapapun trenyuh kala memandangnya.
"Terima kasih Nak. Emak tenang dan lega mendengarnya. Semoga kalian segera menemukan kebahagiaan dari arah yang lain. Ingatlah, semua kejadian pasti ada maksud dan hikmahnya." Itulah nasihat bijak dari seorang Ibu terhadap musibah yang menimpa rumah tangga anaknya.
__ADS_1
Memberi kekuatan bukan sebuah judgement yang justru menekan mental. Katakan yang baik-baik ketika seseorang mengalami kemalangan, jika tak bisa berkata baik, cukup diam.
Ayah dan Kiss hanya bisa saling berangkulan di pojokan. Mereka tidak dapat mendengar apa yang si bicarakan Emak dan Better. Tapi, melihat dari ekspresi sedih pria gondrong itu mereka seakan ikut merasakan sakitnya.
"Sudah, hentikan tangismu! Pakaian Ayah basah sama ingus dan air matamu!" ucap Ayah Roma, melerai pelukan anak gadisnya itu. Segera anak remaja kelas delapan, dari sekolah menengah pertama itu mengusap kasar hidungnya.
"Iddihh, kagak pake ujung kaos Ayah juga kalik! Sama aja dong ah! Ayah jadi bau amis deh nih!" pekik Roma meski agar tertahan, karena ia tidak ingin menganggu suasana haru biru antara mertua dan menantu.
"Bung Roma!" panggil seorang pria paruh baya parlente. Dengan gayanya yang rapih berikut jas dan juga dasi.
"Shim! Akhirnya kau datang juga!" sambut Roma dengan memeluk sahabat sekaligus besannya itu.
"Sorry Bray, jalanan macet. Sempat ada kecelakaan truk tangki minyak goreng yang terguling di jalan. Jadi, banyak emak-emak yang tiba-tiba turun dan kumpul di tengah jalan," jelas Shim dengan napas yang masih tersengal-sengal.
"Anakmu sangat terpukul Shim. Bukankah kau bilang dia pria beku? Tapi, sejak tadi dirinya menangis tak henti-henti." Roma berkata dengan raut wajah terheran.
"Meskipun dia bukanlah darah dagingku sendiri. Akan tetapi sifatnya sedikit banyak menurun dariku. Kami adalah pria yang kuat dalam pertempuran, tapi bila sudah menyangkut hati. Apalagi wanita yang kami cintai, maka iblis ini akan seketika berubah selembut malaikat." Shim menyeka ujung matanya yang berair. Ia dapat merasakan luka dan kesedihan serta rasa kalut yang di rasa oleh putra angkatnya itu.
"Itulah, yang membuatku kagum padamu sahabat! Kau memiliki jiwa iblis dan malaikat pada saat-saat tertentu.
Pintu ruangan di buka, seorang perawat berpakaian serba putih keluar sambil membawa map.
" Suami Ibu Vanish!" panggilnya.
Better sontak menghapus air matanya kemudian menghampiri perawat yang memanggilnya. Begitu juga Kelly, Roma, Shim dan Kiss. Mereka mendekat berupaya mengetahui kabar apa yang akan di sampaikan oleh perawat tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri saya, Suster?" tanya Better merangsek kedepan tak sabaran.
"Anda suaminya ya?" tanya perawat memastikan.
"Tentu saja saya, Sus!" ketus Better kesal, apa perlu perawat ini memastikan seperti itu. Buang waktu saja, pikirnya. Kelly lantas menghampiri menantunya itu dan menenangkannya dengan mengusap bahu.
"Silahkan ke bagian station nurse untuk menandatangani surat izin. Karena proses kuretase tidak berjalan baik. Ibu Vanish tetap pendarahan. Sehingga dokter mengajukan opsi pengangkatan rahim bagi istri anda. Mohon silahkan di urus segera karena tim medis sedang berkejaran dengan waktu," jelas perawat tersebut enteng. Tapi tidak bagi keluarga pasien.
Bagaikan mendengar sambaran petir yang menggelegar di terik siang. Berita yang di sampaikan membuat beberapa dada sesak seketika. Kelly membekap mulutnya, mencoba menahan pekik tangisnya agar tetap tertahan di kerongkongan saja.
Begitupun Better, lutut pria itu lunglai seketika. Pandangannya mendadak kabur sesaat. Sebelum akhirnya ia menguatkan hatinya. Ia tak boleh lemah, keputusan ada di tangannya saat ini.
"Selamatkan putri saya! Lakukan apapun untuk menyelamatkannya!" seru Roma. Pria itu merangsek melewati Better, menantunya.
"Keputusan ada di tangan suami putri anda Pak," sahut perawat tersebut.
"Better, lakukan yang terbaik untuk putriku. Selamatkan putriku! Jangan banyak berpikir!" bentak Roma sambil mencengkeram kerah kemeja Better.
"Ayah, kendalikan dirimu." Kelly menarik tangan suaminya, lalu memeluknya erat. Ia paham, lelakinya sedang trauma. Kejadian serupa yang pernah di alaminya kini terjadi pada putri mereka.
Better segera berlari ke dalam diikuti oleh perawat tadi.
"Doakan yang terbaik untuk anakmu, Yah. Semoga Ninis tidak sampai koma seperti ku dulu." Kelly berkata dalam dekapan suaminya. Ia dapat merasakan sesak dalam isak tangis tertahan dari suaminya.
Bersambung>>>
__ADS_1