Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Memperbaiki diri.( Susi )


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


******


"Emm...Mas,"


"Apa kau suka?" ucap seorang wanita yang kini tengah bergoyang di atas perut seorang pria.


"Engghh..., aku selalu suka permainanmu sayang," jawab pria itu mengerang halus.


"Oh...faster dewi ku."


"Kau memang luar biasa..., ahhh!" pria itu melenguh panjang dengan melengking kan tubuhnya. Istrinya itu, selalu memberi kenikmatan dan kehangatan di atas peraduan mereka.


"Kau sudah sampai, Mas?" tanya wanita bertubuh sintal yang tidak mengenakan sehelai benang pun pada tubuhnya. Ia masih berada di atas raga kekar suaminya itu, sebelum di perintah turun ia takkan mengakhiri aksinya.


Meski pun seluruh sendi nya sudah lelah, karena sudah dua kali ia bergoyang inul di atas suaminya. Pinggangnya terasa sangat linu. Belum lagi bagian inti nya yang perih. Karena terus bergesekan selama beberapa jam.


"Iya, sayang. Tapi aku ingin lagi," ucap pria itu serak karena gairahnya kembali membakar dirinya. Tangannya bahkan sudah merayap untuk memencet dua buah kenyal yang menggantung.


Wanita itu merasakan tongkat sakti suaminya kembali menegang di dalam intinya, membuatnya meringis kecil. Karena pada posisi ini, tongkat itu terasa keras menyentuh dinding nona-V nya.


Nikmat memang, ia juga terpuaskan. Hanya saja pria yang kembali memaksanya bergoyang ngebor itu tak akan cukup di puaskan sekali dua kali.


Lututnya sudah lunglai, ia tak sanggup untuk bergerak lagi.


"Kau lelah? Baiklah!"


Tiba-tiba, pria itu telah membalik posisi mereka tanpa mencabut pusaka nya terlebih dulu. Karena ia cukup memeluk wanita itu erat dan mengaitkan kakinya.


"Karena aku yang memimpin, mari kita bermain sampai pagi!" titahnya sambil menghujam tongkat saktinya semakin dalam. Menghentak kuat hingga kasur bunyi berderit, suara daging yang saling beradu pun terdengar begitu nyaring.


"Mas! Tolong pelan kan sedikit!"


"Milikku sudah lecet!" pekik wanita di bawah kendalinya sambil meringis dan menggerakkan kepalanya.


"Tidak bisa, sayang. Kau yang selalu membuatku bergairah!" Menyambar bibir, menyesapnya rakus.


Satu jam lebih pria itu berpacu di atas tubuh molek sang istri, hingga racauan dan rintihan wanita itu tak di dengarnya.


"Aku menyerah, Mas! Bagaimana kalau besok a-aku tak bisa ja-jalan?" ucap wanita itu terbata, keringat dan air mata telah bercampur di wajahnya.


"Kau kan bisa istirahat sayang, biar aku yang bicara pada Mami."


"Arghh...!" Pria itu mengerang sambil meremas kedua tonjolan di atas tubuh istrinya.


Akhirnya, pertempuran pasangan halal itu selesai juga. Dan bisa di tebak siapa pemenangnya.


Keesokan harinya.


"Setelah berendam di air hangat, bengkak itu akan hilang. Dan bersiaplah untuk malam nanti,"


"Kau tau kan, bahwa aku tidak akan libur untuk menyerang mu," ucap pria itu sambil mencengkram dagu dan melabuhkan kecupan singkat di bibir merah istrinya.


"Bagaimana dengan pekerjaan rumah, Mas!"


" Berjalan saja aku sulit," lirih wanita itu dengan wajah pucat.


"Kerjakanlah jika keadaanmu sudah lebih baik. Lakukan tugas mu sebagai istri dan sebagai menantu dengan benar," Pria itu berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi, menutup pintu.


"Kerjakan dengan benar!"

__ADS_1


"Kenapa gerakanmu macam siput hah!"


"Apa kau tidak bisa lebih cepat!"


"Menantu pemalas! Lemah!"


"Rumahku bukan penampungan. Cepat kerja!" Suara wanita tua yang suka memerintah.


"Patuhi Mami ku!" titah pria itu


"Tapi, Mas. Tubuhku lelah!" tolak si wanita dengan wajah sendu.


" Jangan beralasan! Sudah tugasmu untuk melayaniku juga keluargaku!" bentaknya sambil melepaskan dasi.


Kemudian ia mengikat kedua tangan sang istri di tiang ranjang. Selalu saja ada cara bermain untuk memuaskan geloranya yang tinggi.


"Aku mencintaimu....," ucapnya di sela-sela pertautan bibir mereka.


"Kau nikmat sekali, sayang...!" Kembali mencumbu setelah marah-marah. Peraduan mereka kembali bergoyang padahal tidak ada gempa.


" Aku juga mencintaimu, mas!"


"Sangat mencintaimu...,"


"Aku rela kau melakukan apapun padaku." Pasrah. Bucin parah.


"Kau buruk! Kau cacat!"


"Kau tidak becus!"


"Pergi dari hidupku!"


" Mas! Mas! Jangan usir aku! Maaaassss!"


Huh..hah..huh...


Susi terbangun dengan peluh sebesar biji jagung, bahkan seluruh bajunya basah karena keringat. Nafasnya memburu, dadanya kembang-kempis memompa udara ke paru-paru.


(Mimpi...? Ternyata..., hanya mimpi? Kenapa begitu nyata? Aku bisa merasakan kulit dan aroma tubuhnya.)


"Sudah berpisah. Namun masih bisa membuatku tersiksa."


"Aku harus apa!"


"Kenapa aku tidak gegar otak saja! Agar aku lupa padanya!"


(Hah, gegar otak? Mungkin...?)


Bug..dug!


"Aww! Sakit...," aduh nya sembari memegangi keningnya yang berdarah.


"Membenturkan kepala ke dinding, ku pikir bisa membuat gegar otak. Ternyata hanya benjol dan lecet."


"Sshh, kenapa melupakanmu harus sesakit ini mas?" desisnya. Meringis pelan sambil meraba kening.


Dar..dar.


Darr.


"Mbak Susi!"

__ADS_1


"Masih lama ndak?"


"Perutku melilit ini!" panggil Yupi sambil menggedor pintu kamar mandi.


"Eh, iyaa!"


"Sebentar !" seru Susi buru-buru membilas tubuhnya dan melingkarkan handuk asal-asalan ke tubuhnya.


Klekk.


Yupi buru-buru masuk dan menutup pintu.


"Tuh anak udah kebelet banget," Susi nyengir tak enak hati.


"Kakak ternyata mulus banget ya, kulitnya juga putih," puji Vanish yang baru kali ini melihat Susi berbalut handuk.


Wanita bertubuh kurus itu menunduk malu, bisa-bisa nya ia lupa membawa baju ganti.


"Kak Susi kan bekas istri orang kaya, pasti kulitnya cantik. Hanya saja sekarang kurang perawatan, ya kan Kak?" kata Rapika, sok menganalisa.


"Sudah lah, kalian balik badan ya. Aku mau pakai baju," titah Susi pada mereka.


"Ck, kakak ni ha. Macam kita siapa aja,"


"Malu pulak," seloroh Rapika, tak ayal ia pun melengos.


"Meskipun kita sesama wanita, bukan berarti kita bebas melihat tubuh satu sama lain. Adab dan rasa malu tetap berlaku. Kecuali untuk hal yang darurat," jelas Susi membuat mereka berdua diam.


"Tapi bener kata Rapika dan Vanish, Mbak Susi ini cantik. Ndak pantes kerja panas-panasan kayak kita," timpal Yupi.


"Iya Kak. Bisa-bisa itu kulitnya gosong kayak aku nih," tunjuk Vanish pada kedua lengannya.


"Kamu itu hitam manis, bukannya gosong!" gemas Susi menarik sebelah pipi kawannya itu.


"Kak. Kening kau kenapa pulak?" tanya Rapika yang menyadari ada luka mengering di jidat Susi.


"Ah ini, terbentur ujung kolam tadi," ucapnya berbohong.


" Tutupin pake ini aja Mbak, lukanya," Yupi menyodorkan sebuah plester bergambar kartun.


"Ehm, makasih Yu," ucap Susi yang di jawab dengan senyum oleh gadis Jawa itu.


"Mumpung libur, gimana kalau kita maen ke salon aja?" Ajak Susi. Kemudian disambut antusias oleh para teman sekamarnya itu.


"Perawatan! We are coming!" seru mereka serempak.


"Sekalian shopping kuy!"


" Butuh baju trendi nih buat nyari jodoh,"


"Biar di lirik cogan," seloroh Vanish membuat mereka tergelak bersama.


*****


Setiap gajian atau keluar bonus, Susi pasti ke salon. Merawat rambut dan juga tubuhnya. Perlahan ia mulai memberi perawatan sedikit demi sedikit pada kulit kusamnya.


Membeli pakaian yang modis dan juga kekinian. Seperti yang pernah ia miliki dulu ketika baru menjadi nyonya Seno Pradipta.


"Perlahan, aku akan membuatmu menyesal mas. Kemudian, kau akan bertekuk lutut kembali di antara kedua kakiku ini." gumam Susi ketika ia melihat pantulan dirinya di cermin.


Ujung sebelah bibirnya tertarik ke atas, mencipta lengkungan senyum penuh arti.

__ADS_1


(Aku akan mengembalikan tubuhku seperti dulu lagi. Kali ini, mental dan nyali ku harus semakin kuat. Agar tiada lagi yang dapat menindas ku seenaknya.) batin Susi dengan kedua tangan mengepal di samping tubuhnya.


Bersambung>>>


__ADS_2