
...Kondangannya ke Jelita sama Seno dulu ya gais.๐คฃ...
...Perjalanan masih panjang untuk Susi dan Arjuna kepelaminan. ...
...Nunggu para pengganggu itu keok dulu, biar gak ada yang ganggu malam pertama mereka berdua๐คฃ๐คฃ...
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Mau tidak mau, berat tidak berat, ikhlas tidak ikhlas. Arjuna tetap melangkahkan kakinya, menapaki lantai marmer kebiruan itu.
Better dan Milna yang mendampinginya, saling memberi kode dengan bahasa mata.
Seorang pria bertubuh sama tinggi dengannya, tengah duduk santai di sofa single. Kakinya di tumpang ke kaki satunya lagi, bahkan dari segi usia dan ketampanan, mereka benar-benar bersaing.
"Ada angin apa, seorang kawan lama berkunjung kegubuk deritaku ini." Pria itu segera berdiri, lalu merentangkan tangannya demi menyambut kedatangan sahabat masa lalunya itu.
"Kau merendah?" Arjuna mengernyit, setelah keduanya melepaskan rangkulan ala pria sejati.
"Aku sudah bosan sombong. Sesekali bolehlah aku merendah sedikit," kekehnya sambil memukul pelan bahu Arjuna.
" Sombong itu ciri khasmu, tak baik di hilangkan. Silakan duduk." Arjuna mempersilakan tuan rumah, yang mana malah membuat pria maskulin tersebut tergelak.
" Ya, anggap saja rumah sendiri." Kelakarnya.
"Apa yang telah di lakukan pria tua itu padamu, sehingga ... kau membutuhkan bantuanku?" tanya pria rupawan itu, yang merupakan ketua dari klan Toyobo.
"Komodo tua itu mengincar calon istriku, melampiaskan dendam puluhan tahunnya dengan mendiang kakek kepadaku," jelas Arjuna jujur, tanpa ada yang di tutupi. Karena, bagaimanapun juga, dirinya butuh pasukan dari kawan lamanya ini. Dimana ia dulu pernah terjerumus ke dunia underground, dunia hitam atau dunia bawah tanah.
"Ah ... ya, orang tua itu memang gila. Napsunya tidak habis-habis, dan tak akan pernah tercukupi. Selalu ingin merebut milik orang lain," timpal pria itu di depan Arjuna. Pria itu memajukan tubuhnya, menatap lekat pada Arjuna.
__ADS_1
"Kita sepakat, aku akan mengerahkan berapapun pasukanku. Lagi pula, sudah saatnya pria tua itu kena batunya." Sang ketua klan menaikkan sudut bibirnya, dengan pandangan penuh arti.
" Katakan padaku, kapan tanggal mainnya?" tambahnya lagi, membuat senyum tipis terbit di wajah Arjuna.
"Better akan mengirim data-datanya padamu nanti, berikut jalur yang akan kami lalui dari apartemenku menuju Hotel," jelas Arjuna.
"Baiklah,"
Lalu mereka pun melakukan tanda tangan kontrak kerja sama. Berjabat tangan dengan senyum sumringah, tentu hanya di pihak sebelah. Sebab, Arjuna terpaksa melakukan ini demi kelangsungan pernikahannya, serta demi keselamatan Susi. Karena mafia gila seperti Domino, memiliki rencana tak terbaca pada otak tuanya.
"Baiklah, jadi begini strateginya ...." Ketua klan tersebut menggelar sebuah peta di atas meja besar. Beberapa anak buah ini telah mengelilingi meja tersebut.
"Kemungkinan itu bisa saja terjadi ..." Jelas sang ketua, di akhir rancangan strategi pertahanannya.
"Aku berharap mereka menyerang, dengan begitu aku mendapat kesempatan untuk menyelundupkan orang ku kemarkasnya."
________
Bukan hanya risau dan tak tenang karena akan mengikat janji untuk kedua kali dalam hidupnya.
Akan tetapi, kemungkinan penyerangan dan ancaman dari klan mafia Durex yang membuatnya khawatir.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ถ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ, ๐ต๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข.
๐๐ณ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฎ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข๐ฎ๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ถ๐ค๐ถ-๐ญ๐ถ๐ค๐ถ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฉ๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ต๐ถ, ๐บ๐ข ... ๐ด๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ช๐ต๐ข.
Susi terus memandangi dirinya di depan kaca. Risau dan khawatir itu tercetak jelas pada wajah cantiknya.
Lamunannya pun buyar seiring bunyi ketukan pada pintu kamarnya. Membuatnya segera menghampiri untuk membukanya.
__ADS_1
Klek.
Sosok rupawan nan dewasa, dengan postur tinggi tegapnya. Kini tengah tersenyum begitu hangat padanya.
Bahkan, wajah itu menjadi halus, karena Arjuna telah mencukur bulu di area sekitar rahang tegasnya.
"Apa kau sudah siap, my Queen?" tanya Arjuna, dengan panggilan yang membuat Susi tersipu malu. Hingga dirinya hanya dapat mengangguk pelan.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ฉ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ด๐ฆ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ฆ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข.
Arjuna mengulurkan tangannya, menaikkan dagu pada wajah yang tengah menunduk itu.
Cup!
Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi sebelah kiri Susi. Membuatnya seketika meraba bagian yang hangat itu.
"Kita harus segera berikrar, karena aku sudah tidak tahan untuk memakanmu." Arjuna menarik tangan Susi, menuntunnya keluar Apartemen.
๐๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ฃ๐ข๐ณ, ๐๐ณ.
๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐บ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ... ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ ๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข.
Sabar ya gais ....
Kuy, kita kawal mereka ...
_
_
__ADS_1
_
Bersambung>>>