Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Menuju Wedding.


__ADS_3

...Kondangannya ke Jelita sama Seno dulu ya gais.๐Ÿคฃ...


...Perjalanan masih panjang untuk Susi dan Arjuna kepelaminan. ...


...Nunggu para pengganggu itu keok dulu, biar gak ada yang ganggu malam pertama mereka berdua๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ...


๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Mau tidak mau, berat tidak berat, ikhlas tidak ikhlas. Arjuna tetap melangkahkan kakinya, menapaki lantai marmer kebiruan itu.


Better dan Milna yang mendampinginya, saling memberi kode dengan bahasa mata.


Seorang pria bertubuh sama tinggi dengannya, tengah duduk santai di sofa single. Kakinya di tumpang ke kaki satunya lagi, bahkan dari segi usia dan ketampanan, mereka benar-benar bersaing.


"Ada angin apa, seorang kawan lama berkunjung kegubuk deritaku ini." Pria itu segera berdiri, lalu merentangkan tangannya demi menyambut kedatangan sahabat masa lalunya itu.


"Kau merendah?" Arjuna mengernyit, setelah keduanya melepaskan rangkulan ala pria sejati.


"Aku sudah bosan sombong. Sesekali bolehlah aku merendah sedikit," kekehnya sambil memukul pelan bahu Arjuna.


" Sombong itu ciri khasmu, tak baik di hilangkan. Silakan duduk." Arjuna mempersilakan tuan rumah, yang mana malah membuat pria maskulin tersebut tergelak.


" Ya, anggap saja rumah sendiri." Kelakarnya.


"Apa yang telah di lakukan pria tua itu padamu, sehingga ... kau membutuhkan bantuanku?" tanya pria rupawan itu, yang merupakan ketua dari klan Toyobo.


"Komodo tua itu mengincar calon istriku, melampiaskan dendam puluhan tahunnya dengan mendiang kakek kepadaku," jelas Arjuna jujur, tanpa ada yang di tutupi. Karena, bagaimanapun juga, dirinya butuh pasukan dari kawan lamanya ini. Dimana ia dulu pernah terjerumus ke dunia underground, dunia hitam atau dunia bawah tanah.


"Ah ... ya, orang tua itu memang gila. Napsunya tidak habis-habis, dan tak akan pernah tercukupi. Selalu ingin merebut milik orang lain," timpal pria itu di depan Arjuna. Pria itu memajukan tubuhnya, menatap lekat pada Arjuna.

__ADS_1


"Kita sepakat, aku akan mengerahkan berapapun pasukanku. Lagi pula, sudah saatnya pria tua itu kena batunya." Sang ketua klan menaikkan sudut bibirnya, dengan pandangan penuh arti.


" Katakan padaku, kapan tanggal mainnya?" tambahnya lagi, membuat senyum tipis terbit di wajah Arjuna.


"Better akan mengirim data-datanya padamu nanti, berikut jalur yang akan kami lalui dari apartemenku menuju Hotel," jelas Arjuna.


"Baiklah,"


Lalu mereka pun melakukan tanda tangan kontrak kerja sama. Berjabat tangan dengan senyum sumringah, tentu hanya di pihak sebelah. Sebab, Arjuna terpaksa melakukan ini demi kelangsungan pernikahannya, serta demi keselamatan Susi. Karena mafia gila seperti Domino, memiliki rencana tak terbaca pada otak tuanya.


"Baiklah, jadi begini strateginya ...." Ketua klan tersebut menggelar sebuah peta di atas meja besar. Beberapa anak buah ini telah mengelilingi meja tersebut.


"Kemungkinan itu bisa saja terjadi ..." Jelas sang ketua, di akhir rancangan strategi pertahanannya.


"Aku berharap mereka menyerang, dengan begitu aku mendapat kesempatan untuk menyelundupkan orang ku kemarkasnya."


________


Bukan hanya risau dan tak tenang karena akan mengikat janji untuk kedua kali dalam hidupnya.


Akan tetapi, kemungkinan penyerangan dan ancaman dari klan mafia Durex yang membuatnya khawatir.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜›๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข.


๐˜ˆ๐˜ณ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ค๐˜ถ-๐˜ญ๐˜ถ๐˜ค๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ข ... ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข.


Susi terus memandangi dirinya di depan kaca. Risau dan khawatir itu tercetak jelas pada wajah cantiknya.


Lamunannya pun buyar seiring bunyi ketukan pada pintu kamarnya. Membuatnya segera menghampiri untuk membukanya.

__ADS_1


Klek.


Sosok rupawan nan dewasa, dengan postur tinggi tegapnya. Kini tengah tersenyum begitu hangat padanya.


Bahkan, wajah itu menjadi halus, karena Arjuna telah mencukur bulu di area sekitar rahang tegasnya.


"Apa kau sudah siap, my Queen?" tanya Arjuna, dengan panggilan yang membuat Susi tersipu malu. Hingga dirinya hanya dapat mengangguk pelan.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข.


Arjuna mengulurkan tangannya, menaikkan dagu pada wajah yang tengah menunduk itu.


Cup!


Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi sebelah kiri Susi. Membuatnya seketika meraba bagian yang hangat itu.


"Kita harus segera berikrar, karena aku sudah tidak tahan untuk memakanmu." Arjuna menarik tangan Susi, menuntunnya keluar Apartemen.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ˆ๐˜ณ.


๐˜œ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ... ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข.


Sabar ya gais ....


Kuy, kita kawal mereka ...


_


_

__ADS_1


_


Bersambung>>>


__ADS_2