Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Kepulangan Milna Membawa Luka


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Kenapa kau mengikuti ku? Pergilah Joy, jangan muncul di hadapanku lagi!" hardik Milna. Tangannya terulur untuk mendorong bahu yang hendak merengkuhnya.


"Berjuta-juta kata maaf telah ku ucapkan, aku harus bagaimana lagi agar kau tidak membenciku." Joy berkata dengan nada lemah. Pria itu putus asa, tak tau lagi harus bagaimana. Milna, adalah tipikal wanita keras hati dan keras kepala. Susah membujuknya, jika gadis itu telah memberi label bencinya pada seseorang. Ia tidak akan mudah mengubah perasaannya begitu saja.


"Aku sadar, aku mengaku. Diriku terlalu banyak menyakitimu. Itu karena aku terlalu gengsi untuk mengakui bahwa hatiku sudah terpaut dengan mu sejak awal. Aku berusaha menentang hati ku sendiri, sehingga kejahatan itu keluar dari lidahku. Kau boleh menghukum ku, Na. Apapun itu, akan aku terima. Asal jangan pergi dariku. Jangan tolak pertanggungjawabanku. Aku takut, jika kesalahanku membuat benih itu tumbuh di rahimmu," ucap Joy memelas dan memohon.


Milna menunduk, kata-kata Joy ada benar nya juga. Bagaimana jika dia hamil? Bagaimana nasib anaknya nanti? Begitulah pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya saat ini.


"Aku akan menunggu hingga pertengahan bulan. Di mana siklus haid ku di mulai di minggu kedua. Jika, aku memang hamil, maka aku bersedia menikah denganmu. Jika tidak, maka biarkan aku pergi." Milna berkata dengan nada dingin, bahkan tanpa menatap ke arah Joy sama sekali.


๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜•๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜“๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. Joy hanya mampu bergumam dalam hatinya. Pria itu menghela napas panjang sebelum menjawab Milna.


"Kenapa Na? Kenapa kau harus pergi? Hukumlah aku, dengan apapun itu. Asal kau jangan pergi. Izinkan aku untuk menebus segala kesalahanku." Joy berusaha meraih tangan Milna, tapi gadis itu menariknya dengan cepat. Bahkan, berdiri semakin menjauh dari Joy.


"Jika ingin menebus kesalahanmu, pergilah sejauh-jauhnya dari hidupku!" ketus Milna.


"Baiklah, jika itu maumu. Aku tidak bisa memaksamu lagi. Sekarang, pulanglah bersamaku. Setidaknya aku ingin memastikan keselamatanmu." Akhirnya Joy memilih mengalah. Percuma ia memaksakan kehendaknya pada gadis itu. Batu yang di pukul terus menerus maka akan pecah bukan? Karenanya, ia mencoba untuk mengikuti apa mau nya Milna.


______

__ADS_1


Milna dan Joy telah kembali ke tanah Air. Urusannya dengan Franklin sudah selesai. Mereka berdua telah berhasil menyelesaikan masalah Franklin di perusahaan. Namun, sungguh ironi. Masalah baru mengikuti mereka berdua imbas dari keberhasilan mereka menumpas gangster dan juga tikus berdasi.


"Tuan, Milna sudah berada di dalam mansion utama," jelas Joy. Ia menjumpai Arjuna di ruang kerjanya.


"Ternyata, kau bisa juga membujuknya untuk pulang bersama." Arjuna tersenyum bangga.


"Itu karena kami membuat perjanjian Tuan," jelas Joy lemah.


"Perjanjian? Jangan bilang kalau itu nikah kontrak?" tanya Arjuna gusar. Bahkan, ia langsung menegakkan punggungnya dan menatap Joy penuh selidik.


๐˜Š๐˜ฌ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข-๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ.


"Awwsshh!" Joy pun mengambil benda itu yang jatuh ke bawah kakinya. Sambil mengusap keningnya pelan.


"Maaf, Tuan." Joy membungkukkan tubuhnya sedikit. Berharap Arjuna tidak marah berkelanjutan.


"Kau belum mendengar kelanjutan dari kata-kataku. Belum paham dari maksudku sebenarnya. Beraninya kau memotongnya hingga memberi dugaan yang salah. Seharusnya, kau belajar Joy dari pengalaman ini. Berkacalah pada dirimu, apa yang kurang agar kau dapat memperbaikinya segera!" ketus Arjuna. Dia sudah tak tahan untuk segera menasehati asisten kepercayaannya ini. Dimana untuk urusan pekerjaan, sosoknya adalah pribadi yang disiplin, pekerja keras juga profesional. Namun, untuk urusan attitude pria ini benar-benar minim akhlak.


"Maksud anda Tuan?" tanya Joy bingung, dirinya tak faham maksud Arjuna. Apa yang salah dalam dirinya, Joy tak menyadari.


"Apa kau tidak paham juga? Apa yang Milna benci dari dirimu?" tanya Arjuna.

__ADS_1


"Saya paham, itu karena saya selalu menghinanya. Merendahkan dirinya, bahkan pernah menuduhnya tanpa bukti. Lebih parahnya saya mengatakan padanya saat malam itu, kalau dirinya sudah ...," Joy tidak meneruskan kalimatnya. Dadanya mendadak sesak kala mengingat ucapannya sendiri. Dimana kata-kata itu begitu sangat melukai hati terdalam Milna.


"Kau sadar sekarang? Jika mulutmu adalah harimaumu!" ketus Arjuna menohok relung terdalam Joy.


"Rupa mu boleh bagus dan mendekati sempurna, hartamu boleh banyak dan melimpah. Akan tetapi, jika lidahmu yang tak bertulang itu tidak kau jaga. Kau tidak bisa menghargai orang lain, tidak bisa menyelamatkan orang lain dari kejahatan lisanmu. Maka, jangan harap orang lain akan menyukaimu." Arjuna berkata panjang lebar menasehati anak buah kesayangannya itu. Bagaimanapun, ia tidak bisa diam terus. Membiarkan perangai Joy yang buruk dan mengurangi kuantitas serta kualitas dari skillnya.


"Saya faham Tuan, saya akan berusaha memperbaiki diri serta perangai saya mulai dari sekarang. Apapun akan saya lakukan untuk memperbaikinya. Bantu saya Tuan." Joy mendongak, memandang Arjuna dengan mata memerah. Raut penyesalan, terlihat jelas di wajah sendunya. Arjuna berdiri, mendekati Joy memberi semangat pada bawahan setianya.


"Tanpa kau minta, aku pasti akan membantumu." Arjuna menepuk bahu Joy pelan. Memberi semangat pada sosok tampan yang baru kali ini terlihat rapuh di hadapannya. Pertama kalinya, seorang Joy tak mampu mencari solusi. Pria itu, termakan omongannya sendiri. Seorang pria yang cerdik dan pandai strategi, akhirnya jatuh pada lubang yang ia ciptakan sendiri.


"Terima kasih Tuan. Gadis itu sangat keras kepala. Walau begitu, saya tidak bisa melepasnya begitu saja. Meskipun, gadis itu tak ingin melihat saya di depan wajahnya tak apa, saya siap menanggung resiko itu. Anggap saja, ini semua adalah hukuman bagi saya," ucap Joy serak. Ingin rasanya pria itu menangis, penyesalannya teramat dalam. Gadis seceria itu, telah di buatnya merundung sedih begitu sesal.


"Sudahlah, semoga istriku dapat memberi sedikit pencerahan. Kau teruslah berusaha mengambil hatinya. Perbaiki penilaiannya terhadapmu, perlahan, jangan memaksakan. Hati wanita itu lembut, kau hanya perlu menyentuhnya dengan ketulusan. Akan tetapi jika kau tekan dia. Maka, hati itu akan melempar mu hingga jauh." Arjuna terus memberi kekuatan dengan nasihatnya pada Joy. Seraya menepuk kuat bahu pria tegap itu.


"Apapun nasihat istriku nanti menurut lah," ucap Arjuna lagi kemudian kembali ke belakang mejanya.


"Tentu saja Tuan. Nyonya kan kanjeng ratu," kekeh nya.


"Jangan menertawakan istriku! Atau kau urus masalahmu sendiri!" ancam Arjuna. Membuat Joy bungkam seketika.


Bersambung>>>>>

__ADS_1


__ADS_2