Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
BAB 276. ABPR


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥


"Ck. Bagaimana aku bisa lupakan kehadiranmu. Bocah sialan!" kesal Joy, langsung menatap Puspa dengan amarah. Joy berlalu cepat dari hadapan Milna, bahkan kini dirinya telah berjongkok di depan Puspa.


"Jo–Joy. Kau pasti kasian padaku kan? Tolong aku Joy. Istrimu itu gila, dia menyiksaku," adu Puspa sambil terisak. Satu tangannya terulur untuk menggenggam pergelangan Joy.


PLAK!!


Sepasang mata Puspa membola ketika mendapat tepisan keras dari pria maskulin di hadapannya.


SRETT!


"Kau benar-benar cari mati!" hardik Joy dengan kasar menarik rambut panjang Puspa yang berwarna merah. Hingga kepala gadis muda itu mendongak. Darah yang bercampur dengan air mata telah membuat wajahnya begitu berantakan.


Tak ada lagi kesan cantik dan menggoda seperti pertama kali Joy melihatnya dulu. Kini Joy bahkan sangat benci dan jijik atas segala perlakuannya.


"Lepaskan aku Joy ini sakit! Bagaimana bisa kau memperlakukan aku seperti ini!" Puspa mengerang dan merintih, satu tangannya beralih memegangi tangan Joy yang tengah menarik rambutnya.


' Pasangan gila! Kalian berdua sungguh menyakitiku! Aku tidak terima ini semua!' jerit Puspa dalam hatinya. Karena tenggorokannya mulai sakit, tenaganya seakan habis. Tiada daya, dan keberanian untuk sekedar berteriak. Aura bengis dari wajah Joy membuat jantungnya seakan diremas.


"Kau hampir mencelakai istri dan juga calon bayi kami. Aku tidak akan mengampuni mu." Joy berkata dengan nada dingin. Tatapannya berkilat penuh amarah. Tiba-tiba tangannya terulur ke tubuh Puspa. Milna yang menyaksikan perbuatan Joy menahan napasnya.


SREK!


"Jangan!" teriak Puspa dengan sisa-sisa tenaganya. Ketika Joy merobek pakaian atasnya.


" Joy Apa yang kau lakukan!" ketik Milna segera menghampiri Jo yang berjongkok di hadapan Puspa. Joy langsung mendongak dan segera berdiri.

__ADS_1


"Udara di kota ini jika malam sangatlah dingin, dengan keadaannya saat ini, di tempat seperti ini kemungkinan kecil dia akan bertahan." Joy berkata pada Milna sambil menatap kesembarang arah. Kedua mata tajamnya berkilat penuh amarah.


Karena Milna sedang hamil maka Joy tidak akan menghabisi musuhnya dengan menggunakan kedua tangannya secara langsung. Kali ini ia akan membiarkan alam yang bekerja. Jika bukan udara maka para binatang hutan pun juga dapat membuat gadis itu meregang nyawa.


" Apa perlu kamu buka pakaian atasnya! atau itu hanya akal-akalanmu saja untuk melihat tubuhnya!" protes Milna dengan nada marah.


"Sudah tidak perlu cemburu lebih baik sekarang kita pulang ke hotel." Joy meraih tangan Milna kemudian menarik gadis itu masuk ke dalam mobil yang di bawa olehnya.


" Hei! Segera ralat kata-katamu. Aku tidak sedang cemburu kau tahu! Jangan berpikiran aneh!" Milna hendak berontak untuk melepaskan cekalan Joy pada tangannya. Akan tetapi pegangan pria maskulin itu sangatlah kencang.


' Menyebalkan! Siapa yang sedang cemburu! Idih!' gerutu Milna dalam hatinya.


Mereka berdua kembali ke hotel. meninggalkan Puspa tergeletak lemah di pinggiran hutan yang sepi. Gadis itu hanya bisa menangis terisak, meratapi keadaannya saat ini.


Hendak menghampiri mobilnya pun dia tidak sanggup. Satu lengannya patah sementara wajahnya sudah kebas. Seluruh sendinya seakan lemas tak bertenaga, kedua tungkai kakinya masih bergetar hebat hingga saat ini.


Salahnya yang sejak awal tidak mencari tahu dulu siapa Joy dan siapa Milna sebenarnya. Puspa hanya memiliki pengalaman melakukan kekerasan ketika merundung teman sekolahnya dulu. Gimana kala itu hanya gadis-gadis lemah lah yang menjadi sasarannya. Puspa sama sekali belum pernah berhadapan dengan orang yang lebih kuat dari dirinya.


Bahkan baru pertama kali dirinya di pertemukan dengan pasangan bengis dan kejam. Pertama kali mendapat kekerasan dan perlakuan sadis dalam hidupnya. Selama ini dirinya hanya tau menyakiti orang lain dan bahagia karena perbuatannya itu. Ia tidak pernah berpikir jika apa yang pernah dilakukannya terhadap orang lain akan menimpanya juga suatu saat.


'Apakah aku akan mati di hutan ini? Dengan keadaan mengenaskan setengah telanjang begini. Aku seperti mengingat sesuatu. Aku mengingatnya, ya aku telah mengingatnya sekarang. Beberapa bulan lalu, setelah hari kelulusan itu. Aku dan beberapa kawanku juga pernah membuang salah satu murid dari sekolah. Aku memerintahkan kepada mereka agar membuangnya ke pinggiran rawa yang penuh semak belukar. Setelah kami sempat menyiksa dan melecehkannya.' batin Puspa menyesal.


Akan tetapi terlambat, Puspa mendengar suara mendesis yang mendekat ke arahnya. Bahkan rumput-rumput kecil yang tak jauh dari tempatnya mengeluarkan suara dan bergoyang. Akibat dari gesekan suatu makhluk yang saat ini tengah melata ke arahnya.


Puspa seketika membelalakkan sepasang matanya. Ketika hewan melata dengan tubuh panjang bercorak belang hitam kuning itu menjulurkan lidahnya yang bercabang. Hewan itu semakin dekat ke wajahnya. Ingin rasanya Puspa menggerakkan badannya. tapi entah kenapa seluruh tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan.


"Pergi! Pergi jauh dariku!" lirihnya pelan. Bahkan suaranya kini serak dan hampir tak terdengar. Bagaimana ia mau teriak minta tolong? Lagipula, siapa yang lewat di jalan sepi pinggir hutan begini.

__ADS_1


Hewan itu mendapat status keadaan makhluk lain di dekatnya berkat sensor lidah bercabang yang menjulur dari moncongnya. Kemudian sinyal itu di diterima otak dan di sampaikan ke seluruh tubuhnya. Karena tubuh makhluk hidup yang berada di dekat hewan melata itu mengeluarkan sensor panas.


Puspa masih berusaha untuk menghindar dengan menggerakkan tubuhnya sekuat tenaga. Justru pergerakannya itu telah memancing sifat agresif dari hewan melata yang mengandung bisa mematikan tersebut.


Gerakan rusuh dari Puspa yang menimbulkan gesekan pada daun-daun dan ranting di atas tanah. Mengisyaratkan sebuah ancaman pada hewan melata itu. Sehingga membuat hewan vertebrata yang masuk dalam golongan reptil itu melancarkan serangan dengan cepat.


"Akh! Sshh!" Puspa berteriak dengan kedua mata yang mendelik. Ketika hewan karnivora tersebut mematuk keningnya. Puspa meringis tatkala rasa panas karena bisa ular mulai mengalirkan rasa panas di dalam aliran darahnya.


Sepersekian detik kemudian dadanya mulai sesak, wajahnya pucat bagaikan mayat. Racun itu telah menyebar dalam darahnya, mengehentikan kerja alat vitalnya secara bersamaan. Jantung, paru-paru, hati dan juga ginjal. Dalam hitungan kurang dari lima menit semuanya berhenti bekerja.


Tubuh Puspa kaku tak bergerak dengan kedua mata yang membuka lebar serta mulut yang mengeluarkan busa.


Sungguh Na'as jika kejahatannya selama ini terbayar kontak melalui pembalasan dari Joy dan Milna.


Hal yang serupa pun di alami oleh Miranda dan si wanita pramusaji. Penjahat amatir kita telah mendapat akibat dari perbuatannya saat ini.


Keduanya hendak beringsut menjauh dari hewan-hewan yang menjijikan serta menakutkan itu. Akan tetapi tubuh keduanya diikat oleh tali tambang dengan kuat. Alhasil mereka hanya bisa menggeram dan menggeliat merasakan gigitan dari tikus-tikus yg kelaparan. Cairan pesing telah bercampur dengan keringat dan darah. Darah yang berasal dari luka di hampir sekujur tubuh mereka.


'Joy sialan! Jika aku mati saat ini aku akan mendatangimu sebagai hantu sekalipun! Aku, Miranda tidak akan membiarkan hidupmu tenang!' jerit Miranda dalam hatinya. Sembari merasakan perih di seluruh tubuhnya.


Tiba-tiba kedua matanya membola, ketika sebuah laba-laba besar menggelantung dari atas kepalanya. Serangga tersebut tepat berada di depan hidungnya. 'Kyaaa! Laba-laba! Huaaa ...Mamiiii!' Miranda hanya bisa menggeram karena mulutnya di lakban. Sementara dalam hatinya ia menjerit ketakutan sampai wanita itu akhirnya pingsan.


"Ck. Mereka berantakan sekali."


" Sepertinya mereka sudah tidak bernyawa."


" Ya sudah kita lakukan saja seperti apa yang bos perintahkan. Bakar tempat ini, lalu kita pergi!" perintah salah satu pengawal bayaran Joy kepada anak buahnya.

__ADS_1


Beraambung>>>


__ADS_2