
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Melihat istrinya seperti syok, Arjuna merampas tablet itu. Lalu, melemparnya ke atas sofa.
"Maaf, seharusnya aku tak memberitahukannya padamu." Arjuna mendekap raga yang bergetar itu. Ia menyesal telah merusak keceriaan Susi.
๐๐ช๐ข๐ญ! ๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฃ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ด. ๐๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ, ๐๐ณ๐ซ๐ถ๐ฏ๐ข!
Ia terus mengumpat dirinya sendiri, menyesali apa yang telah dilakukannya barusan.
Sayang, maafkan aku. Jangan menangis lagi, ku mohon," pinta Arjuna dengan lirih memelas.
"Ar." Susi mendongak didalam dekapan suaminya.
"Jangan salah faham ya. Aku bukan menangisinya karena kehilangan dirinya, bukan itu. Bukan juga karena mengingat segala kejahatan mereka. Aku sudah memaafkan mereka atas kejadian di masa lalu. Aku hanya menyesali niatku dulu, yang dengan bodohnya ingin mati seraya mengumpat takdirku." Susi terus berbicara dengan mata mengembun juga hidung yang memerah.
" Sudahlah, jangan menyesali itu semua. Karena, jika tidak ada kejadian itu, kita tidak akan bertemu. Maka, diriku ini akan selamanya menjadi jomblo yang mengenaskan," kelakar Arjuna, sembari menyeka ujung hidung Susi yang berair.
"Ih, Arjuna!"
"Kenapa, kau jorok sekali!" protes Susi, karena suaminya itu mengusap hidungnya dengan tangan kosong.
"Siapa yang jorok, justru aku membantumu membersihkannya. Kalau nanti mengalir kesini gimana?" dalih Arjuna sembari menunjuk bibir Susi dengan jarinya yang lain.
"Aku mau cuci muka dulu deh." Susi pun berlalu ke wastafel.
"Ikut!"
"Ngapain, ikut segala?" ketus Susi, ia telah kembali pada modenya semula.
"Mau cuci tangan, kan barusan ...,"
"Iyuuhh, ya udah sana cuci!" potong Susi. Membuat Arjuna tergelak kencang.
๐๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ถ๐ด ... ๐ค๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ธ๐ฆ๐ต ... ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ณ๐ช๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ต๐ฆ๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ช๐ณ๐ฎ๐ข๐ต๐ข. ๐๐ฆ๐ฎ๐ช ๐ข๐ฑ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ, ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ.
๐๐ช๐ข, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฑ๐ฆ๐ณ ๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฆ๐ณ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ซ๐ช๐ซ๐ช๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ฑ๐ถ๐ฏ. ๐๐ณ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐บ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ณ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ช ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฉ๐ช๐ต๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ด๐ข๐ญ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ค๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฉ๐ธ๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช.
Tanpa di sengaja, mereka berdua saling bertatapan pada cermin wastafel. Lalu, sama-sama terkekeh setelahnya.
"Sebaiknya, segera kenakan pakaianmu. Kita jalan-jalan, ke danau. Atau, sengaja?" goda Arjuna dengan menaik-turunkan alisnya.
"Ck, dasar omes!" Susi menempel lima jarinya ke wajah Arjuna, setelah itu ia berlari kedalam ๐ธ๐ข๐ญ๐ฌ ๐ช๐ฏ ๐ค๐ญ๐ฐ๐ด๐ฆ๐ต, kemudian menutup pintunya.
"Tuh, kan. Hanya begitu saja, naganya terbangun. ๐๐บ ๐๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ, sentuhan mu itu ajaib." Gumam, Arjuna disusul dengan senyum simpulnya.
Mereka pun berjalan-jalan, di sekitar danau alami. Di mana terdapat bebatuan warna-warni di sepanjang tepi. Air danau yang jernih hingga terlihat seakan berwarna kebiruan, karena alga atau sejenis tumbuhan air, yang tumbuh di dalam danau.
Pegunungan yang menjulang tinggi, seakan hampir menyentuh awan yang putih bersih. Meskipun, nampak dari kejauhan. Karena, di hadapan mereka hanya terhampar danau yang berkilau serta hutan cemara di depan sana.
"Sayang, itu ada yang menyewakan ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฐ." tunjuk Arjuna ke depan, dimana ada sepasang perahu berbentuk cembung tengah menelungkup.
__ADS_1
"Oh, no! Aku takut!" Susi seketika
menggeleng cepat.
"Kau tidak bisa mendayung? Atau tidak bisa berenang?" tanya Arjuna, yang tangannya tak pernah lepas dari Susi. Entah itu melingkar di bahu, ataupun di pinggang.
"Bukan tidak bisa, tapi memang tidak pernah," jawab Susi jujur.
"Baiklah, yang itu saja." Arjuna menunjuk sebuah sampan berukuran sedang.
"Tunggu, Ar. Iโitu 'kan sama saja." Susi menahan lengan suaminya itu.
"Kenapa?"
"Aku tidak akan membuat kita celaka, tenang saja." Arjuna mengelus punggung tangan Susi guna menenangkannya.
" Memangnya, kau bisa mendayung? Bagaimana kalau nanti kita terbalik? Lalu, tenggelam ketika sampai di tengah? Aku tidak mau, kita duduk di atas batu itu saja, ya?" cecar Susi, dan akhirnya Arjuna hanya bisa menghela napasnya.
Lebih baik menuruti apa keinginan dari kanjeng ratu. Meskipun, bayangan adegan romantisnya harus buyar seketika.
"Apa enaknya hanya duduk disini? Lihatlah mereka!" tunjuk Arjuna pada beberapa pasangan yang sudah sampai di seberang sana.
"Mereka baik-baik saja, tidak ada yang tenggelam," ucapnya, berusaha membujuk agar istrinya itu mau naik perahu.
"Danau ini pasti dalam, Ar. Sementara, pemilik perahu tidak menyewakan pelampung. Aku tidak mau mengambil wisata yang beresiko," jelas Susi, ia tetap bersikukuh pada penolakannya.
๐๐ข๐ช๐ฉ, ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ณ๐ข๐ช ๐ด๐ฑ๐ฆ๐ฆ๐ฅ๐ฃ๐ฐ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ?
"Hihihi." Susi membekap mulutnya dengan satu tangan, menutupi kekehannya.
" Menggemaskan sekali! Mana bisa aku menolaknya." Susi kemudian menarik tangan Arjuna untuk berdiri.
"Ayo!"
"Kemana?"
"Katanya mau naik sampan?" tanya Susi heran. Tadi ngajakin, pikirnya.
"Ha, jadi ... sayang mau?" tanya Arjuna memastikan lagi. Bukankah istrinya itu seperti orang yang sangat paranoid tadi.
"Iya, demi dirimu." Susi tersenyum manis sekali. Semakin hari, wajahnya semakin terlihat segar dan muda. Entah pengaruh skin care mahalnya, atau memang dari pengaruh suasana hatinya akhir-akhir ini.
"Benarkah! Aku senang sekali!"
"Percayalah, bersamaku ... semua akan baik-baik saja." Arjuna memegang bahu istrinya itu, sambil mengelusnya pelan. Tatapannya menghujam dalam, bahkan hangatnya terasa hingga ke lubuk hati
"Aku percaya padamu, Ar! Sangat." Kemudian ia menarik Arjuna menuruni bebatuan.
"Jangan cepat-cepat, sayang! Awas tersandung!" teriak Arjuna memperingati istrinya itu.
"Kau ini! Kenapa tiba-tiba bersemangat sekali?" herannya pada makhluk yang bernama wanita. Kenapa pendirian serta suasana hatinya, begitu cepat berubah.
๐ ๐ง๐ฆ๐ธ ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ถ๐ต๐ฆ ๐ญ๐ข๐ต๐ฆ๐ณ.
__ADS_1
"Ar, jangan terlalu jauh. Tidak usah sampai ketengah," ucap Susi, memperingati suaminya itu. Dimana, mereka kini duduk saling berhadapan di atas sampan.
"Sayang, kau tenanglah," sahut Arjuna dengan santai dan seulas senyum.
"Ar, hewan buas seperti buaya atau ๐ง๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ฆ๐ฏ ๐ง๐ช๐ด๐ฉ. Biasanya, hidup di arus tengah danau. Sudah pasti sangat dalam juga, kan?" Susi mengencangkan pegangannya pada pinggiran sampan.
Kata-katanya barusan, spontan menciptakan gelak tawa dari pria gagah yang sedang mendayung itu.
"Oh, sayang. Kau membuat pipiku keram," ucap Arjuna dengan sisa-sisa tawanya.
"Siapa suruh tertawa, cepat bawa kepinggir lagi. Ar, apa kau mendengar ku!" Susi terlihat sangat tegang.
"Bagaimana, aku tidak tertawa. Memangnya sejak kapan, buaya tinggal di dalam danau?" tanya Arjuna, kepalanya menggeleng tanda tak mengerti.
๐๐ข๐ฅ๐ช, ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ ๐ฅ๐ข๐ฏ๐ข๐ถ ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ๐ข๐ถ? ๐๐ฅ๐ข-๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐บ ๐ฒ๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ.
"Memangnya, buaya ada tempat khusus untuk tinggal? Bukankah memang di tempat seperti ini? Dimana airnya sangat tenang." Susi terus mencecar Arjuna, dengan pertanyaan yang semakin mengocok perut.
"Sayang ... hanya ada jenis ikan air tawar ditempat seperti ini," jelas Arjuna perlahan, hingga akhirnya Susi faham dan mengerti.
Tanpa ia sadari, sampan tersebut telah menepi. Namun, bukan pada pinggir danau tempat mereka pergi tadi.
" Sampai!" Arjuna merentangkan tangannya.
๐๐ถ๐ฉ๐ฉ ... ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐บ๐ถ๐ฉ ๐ฅ๐ข๐บ๐ถ๐ฏ๐จ, ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ฑ๐ฆ๐จ๐ข๐ญ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข.
"Ar! Kau ini, benar-benar!" Susi bertolak pinggang, hingga berniat mencubit pinggang suaminya itu. Tak terasa, mereka kini telah sampai di seberang danau.
"Ayo, sayang." Arjuna mengulurkan tangannya, agar Susi dapat turun dari sampan, "perlahan saja, hati-hati."
Kemudian mereka berjalan, menyusuri sungai. Terdapat taman bunga yang indah di sini, juga ada air terjun kecil.
Bagi yang ingin beristirahat atau makan, terdapat beberapa gubuk atau pondok jika berjalan lagi sedikit ke atas.
"Sayang, apa itu di sana? Sepertinya, ada beberapa pasangan yang berjalan ke sana," tanya Susi, seraya mengarahkan telunjuknya kearah pondok.
Sepertinya, itu tempat beristirahat dan makan. Kau ingin ke sana?" tanya Arjuna memastikan keinginan istrinya itu.
"Hm, aku ingin yang hangat," jawab Susi, dengan senyumnya yang mengarah pada Arjuna.
"Kalau ingin itu, baiklah." Arjuna langsung mendekati istrinya itu, dan ...
Grep!
"Eh!" kaget Susi, karena suaminya itu tiba-tiba memeluknya.
"Hangat 'kan?" goda Arjuna, yang semakin mengencangkan lingkaran tangannya pada pinggang Susi.
"Aku mau nya coklat hangat, kalau begini dirumah juga bisa!" seru Susi, seraya mencebikkan bibirnya.
Cup!
"Arjuna!"
๐พDasar Arjuna omes๐.
__ADS_1
Bersambung>>>>