Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Aku Ingin Yang Hangat.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Melihat istrinya seperti syok, Arjuna merampas tablet itu. Lalu, melemparnya ke atas sofa.


"Maaf, seharusnya aku tak memberitahukannya padamu." Arjuna mendekap raga yang bergetar itu. Ia menyesal telah merusak keceriaan Susi.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ด. ๐˜‰๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข!


Ia terus mengumpat dirinya sendiri, menyesali apa yang telah dilakukannya barusan.


Sayang, maafkan aku. Jangan menangis lagi, ku mohon," pinta Arjuna dengan lirih memelas.


"Ar." Susi mendongak didalam dekapan suaminya.


"Jangan salah faham ya. Aku bukan menangisinya karena kehilangan dirinya, bukan itu. Bukan juga karena mengingat segala kejahatan mereka. Aku sudah memaafkan mereka atas kejadian di masa lalu. Aku hanya menyesali niatku dulu, yang dengan bodohnya ingin mati seraya mengumpat takdirku." Susi terus berbicara dengan mata mengembun juga hidung yang memerah.


" Sudahlah, jangan menyesali itu semua. Karena, jika tidak ada kejadian itu, kita tidak akan bertemu. Maka, diriku ini akan selamanya menjadi jomblo yang mengenaskan," kelakar Arjuna, sembari menyeka ujung hidung Susi yang berair.


"Ih, Arjuna!"


"Kenapa, kau jorok sekali!" protes Susi, karena suaminya itu mengusap hidungnya dengan tangan kosong.


"Siapa yang jorok, justru aku membantumu membersihkannya. Kalau nanti mengalir kesini gimana?" dalih Arjuna sembari menunjuk bibir Susi dengan jarinya yang lain.


"Aku mau cuci muka dulu deh." Susi pun berlalu ke wastafel.


"Ikut!"


"Ngapain, ikut segala?" ketus Susi, ia telah kembali pada modenya semula.


"Mau cuci tangan, kan barusan ...,"


"Iyuuhh, ya udah sana cuci!" potong Susi. Membuat Arjuna tergelak kencang.


๐˜“๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ... ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ต ... ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ช๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข. ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ.


๐˜‹๐˜ช๐˜ข, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ซ๐˜ช๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ณ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Tanpa di sengaja, mereka berdua saling bertatapan pada cermin wastafel. Lalu, sama-sama terkekeh setelahnya.


"Sebaiknya, segera kenakan pakaianmu. Kita jalan-jalan, ke danau. Atau, sengaja?" goda Arjuna dengan menaik-turunkan alisnya.


"Ck, dasar omes!" Susi menempel lima jarinya ke wajah Arjuna, setelah itu ia berlari kedalam ๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต, kemudian menutup pintunya.


"Tuh, kan. Hanya begitu saja, naganya terbangun. ๐˜”๐˜บ ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ, sentuhan mu itu ajaib." Gumam, Arjuna disusul dengan senyum simpulnya.


Mereka pun berjalan-jalan, di sekitar danau alami. Di mana terdapat bebatuan warna-warni di sepanjang tepi. Air danau yang jernih hingga terlihat seakan berwarna kebiruan, karena alga atau sejenis tumbuhan air, yang tumbuh di dalam danau.



Pegunungan yang menjulang tinggi, seakan hampir menyentuh awan yang putih bersih. Meskipun, nampak dari kejauhan. Karena, di hadapan mereka hanya terhampar danau yang berkilau serta hutan cemara di depan sana.


"Sayang, itu ada yang menyewakan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ." tunjuk Arjuna ke depan, dimana ada sepasang perahu berbentuk cembung tengah menelungkup.


__ADS_1


"Oh, no! Aku takut!" Susi seketika


menggeleng cepat.


"Kau tidak bisa mendayung? Atau tidak bisa berenang?" tanya Arjuna, yang tangannya tak pernah lepas dari Susi. Entah itu melingkar di bahu, ataupun di pinggang.


"Bukan tidak bisa, tapi memang tidak pernah," jawab Susi jujur.


"Baiklah, yang itu saja." Arjuna menunjuk sebuah sampan berukuran sedang.



"Tunggu, Ar. Iโ€“itu 'kan sama saja." Susi menahan lengan suaminya itu.


"Kenapa?"


"Aku tidak akan membuat kita celaka, tenang saja." Arjuna mengelus punggung tangan Susi guna menenangkannya.


" Memangnya, kau bisa mendayung? Bagaimana kalau nanti kita terbalik? Lalu, tenggelam ketika sampai di tengah? Aku tidak mau, kita duduk di atas batu itu saja, ya?" cecar Susi, dan akhirnya Arjuna hanya bisa menghela napasnya.


Lebih baik menuruti apa keinginan dari kanjeng ratu. Meskipun, bayangan adegan romantisnya harus buyar seketika.


"Apa enaknya hanya duduk disini? Lihatlah mereka!" tunjuk Arjuna pada beberapa pasangan yang sudah sampai di seberang sana.


"Mereka baik-baik saja, tidak ada yang tenggelam," ucapnya, berusaha membujuk agar istrinya itu mau naik perahu.


"Danau ini pasti dalam, Ar. Sementara, pemilik perahu tidak menyewakan pelampung. Aku tidak mau mengambil wisata yang beresiko," jelas Susi, ia tetap bersikukuh pada penolakannya.


๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ?


"Hihihi." Susi membekap mulutnya dengan satu tangan, menutupi kekehannya.


" Menggemaskan sekali! Mana bisa aku menolaknya." Susi kemudian menarik tangan Arjuna untuk berdiri.


"Ayo!"


"Kemana?"


"Katanya mau naik sampan?" tanya Susi heran. Tadi ngajakin, pikirnya.


"Ha, jadi ... sayang mau?" tanya Arjuna memastikan lagi. Bukankah istrinya itu seperti orang yang sangat paranoid tadi.


"Iya, demi dirimu." Susi tersenyum manis sekali. Semakin hari, wajahnya semakin terlihat segar dan muda. Entah pengaruh skin care mahalnya, atau memang dari pengaruh suasana hatinya akhir-akhir ini.


"Benarkah! Aku senang sekali!"


"Percayalah, bersamaku ... semua akan baik-baik saja." Arjuna memegang bahu istrinya itu, sambil mengelusnya pelan. Tatapannya menghujam dalam, bahkan hangatnya terasa hingga ke lubuk hati


"Aku percaya padamu, Ar! Sangat." Kemudian ia menarik Arjuna menuruni bebatuan.


"Jangan cepat-cepat, sayang! Awas tersandung!" teriak Arjuna memperingati istrinya itu.


"Kau ini! Kenapa tiba-tiba bersemangat sekali?" herannya pada makhluk yang bernama wanita. Kenapa pendirian serta suasana hatinya, begitu cepat berubah.


๐˜ˆ ๐˜ง๐˜ฆ๐˜ธ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ.

__ADS_1


"Ar, jangan terlalu jauh. Tidak usah sampai ketengah," ucap Susi, memperingati suaminya itu. Dimana, mereka kini duduk saling berhadapan di atas sampan.


"Sayang, kau tenanglah," sahut Arjuna dengan santai dan seulas senyum.


"Ar, hewan buas seperti buaya atau ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ง๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ. Biasanya, hidup di arus tengah danau. Sudah pasti sangat dalam juga, kan?" Susi mengencangkan pegangannya pada pinggiran sampan.


Kata-katanya barusan, spontan menciptakan gelak tawa dari pria gagah yang sedang mendayung itu.


"Oh, sayang. Kau membuat pipiku keram," ucap Arjuna dengan sisa-sisa tawanya.


"Siapa suruh tertawa, cepat bawa kepinggir lagi. Ar, apa kau mendengar ku!" Susi terlihat sangat tegang.


"Bagaimana, aku tidak tertawa. Memangnya sejak kapan, buaya tinggal di dalam danau?" tanya Arjuna, kepalanya menggeleng tanda tak mengerti.


๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ถ? ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข-๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ.


"Memangnya, buaya ada tempat khusus untuk tinggal? Bukankah memang di tempat seperti ini? Dimana airnya sangat tenang." Susi terus mencecar Arjuna, dengan pertanyaan yang semakin mengocok perut.


"Sayang ... hanya ada jenis ikan air tawar ditempat seperti ini," jelas Arjuna perlahan, hingga akhirnya Susi faham dan mengerti.


Tanpa ia sadari, sampan tersebut telah menepi. Namun, bukan pada pinggir danau tempat mereka pergi tadi.


" Sampai!" Arjuna merentangkan tangannya.


๐˜œ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฉ ... ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜บ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข.


"Ar! Kau ini, benar-benar!" Susi bertolak pinggang, hingga berniat mencubit pinggang suaminya itu. Tak terasa, mereka kini telah sampai di seberang danau.


"Ayo, sayang." Arjuna mengulurkan tangannya, agar Susi dapat turun dari sampan, "perlahan saja, hati-hati."


Kemudian mereka berjalan, menyusuri sungai. Terdapat taman bunga yang indah di sini, juga ada air terjun kecil.


Bagi yang ingin beristirahat atau makan, terdapat beberapa gubuk atau pondok jika berjalan lagi sedikit ke atas.


"Sayang, apa itu di sana? Sepertinya, ada beberapa pasangan yang berjalan ke sana," tanya Susi, seraya mengarahkan telunjuknya kearah pondok.


Sepertinya, itu tempat beristirahat dan makan. Kau ingin ke sana?" tanya Arjuna memastikan keinginan istrinya itu.


"Hm, aku ingin yang hangat," jawab Susi, dengan senyumnya yang mengarah pada Arjuna.


"Kalau ingin itu, baiklah." Arjuna langsung mendekati istrinya itu, dan ...


Grep!


"Eh!" kaget Susi, karena suaminya itu tiba-tiba memeluknya.


"Hangat 'kan?" goda Arjuna, yang semakin mengencangkan lingkaran tangannya pada pinggang Susi.


"Aku mau nya coklat hangat, kalau begini dirumah juga bisa!" seru Susi, seraya mencebikkan bibirnya.


Cup!


"Arjuna!"


๐ŸพDasar Arjuna omes๐Ÿ˜†.

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2