Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Jadilah Pacarku!


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


[Van, cepatlah pulang. Minta izin pada bosmu, agar memberimu cuti selama dua hari. Setidaknya temui lah, Om Shie Mi Zu lebih dulu. Dia mantan majikan, ayah dulu. Orangnya baik, kau pasti memiliki masa depan cerah jika bersamanya.]


"Arrgg!!"


"Kenapa, kata-kata ayah selalu terngiang di kepalaku!" Vanish berteriak di kamar kosnya. Ia juga menghentakkan kakinya di atas kasur.


"Vanish! Kalo nonton drakor gak usah teriak-teriak! Berisik!" omel tetangga sebelah kamarnya. Ia mengetuk-ketuk pintu kamar denga


"Dih, siapa juga yang lagi nonton," gumam Vanish, kecil.


"Gak tau apa, orang lagi mumet bin galau!" gerutunya, kemudian.


"Haish, bagaimana ini? mau bilang udah punya pacar tapi belom punya, gimana coba?" rengek Vanish entah pada siapa. Karena, hanya ia sendirian di dalam kamar itu.


__________


"Van, kamu sudah baca chat dari saya?" tanya Better, setelah ia duduk di dalam mobil. Vanish yang tengah menyiapkan rincian proposal, langsung memindahkan arah pandangannya dari laptop ke wajah putih bersih pria di sebelahnya.


"Sudah, kenapa memangnya?" tanya Vanish, datar. Lalu, ia kembali fokus pada layar di depannya.


๐˜‹๐˜ช๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข? ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ต. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข?


Better, seakan menyimpan ribuan tanya di hatinya.


" Oh, jadi kamu sudah baca? kok masih abu-abu ya? jadi, saya kira belum di baca. Juga, kenapa tidak kau balas?" cecar Better, membuat Vanish seketika menoleh kembali.


๐˜—๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข.


Vanish, terheran dengan sikap Better hari ini. Meski ia hanya mampu menyimpan tanya di dalam hatinya. Buru-buru, ia mengecek ponselnya.


"Pergi, ke kebun binatang? apakah, Kak Susi ingin mengajak kita safari ala sultan?" tanya Vanish dengan mata berbinar. Bahkan, ia tersenyum sangat lebar menunjukkan betapa antusiasnya akan ajakan barusan.


"Nah, gitu dong senyum, 'kan cantik," puji Better dengan senyum.


"Emang, baru sadar ya? ya ampun, kemana aja sih?" Vanish kembali mengeluarkan gaya narsisnya. Membuat senyum Better semakin lebar.


"Ya, begitu saja. Saya lebih suka kamu yang seperti ini, ketimbang yang seperti tadi," ucap Better jujur.


"Emangnya, tadi saya kenapa? ngapain?" tanya Vanish mencecar Better dengan mimik wajah bingungnya. Membuat, tangan pria di depannya itu terulur untuk menarik hidungnya.


"Tadi tuh, kamu ketus dan dingin banget. Jadi, tidak seperti Vanish yang saya kenal." Better masih memainkan hidung mini Vanish. Baginya, ini menyenangkan juga. Membuat wajah wanita di hadapannya ini memerah karena kesal.


" Kapan sih, saya kayak gitu? ini tangan lepasin deh dari hidung!" ucap Vanish dengan suaranya yang sumbang karena ia berbicara dalam keadaan hidung yang di pencet.


Better pun tergelak dengan hasil ulah jahilnya itu. Ia menarik tangannya seiring, tawanya yang berhenti mendadak. Sepertinya, pria itu malu karena Vanish menatapnya dengan heran, bahkan gadis itu sampai menganga di buatnya.


๐˜๐˜ฆ๐˜ช, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜’๐˜ฐ๐˜ฌ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ.


Vanish, menepuk pipinya sendiri pelan


"Masa sih, kapan saya ketus sama Bapak? ah, itu mah cuma perasaan aja kali?" kilah Vanish.


"Sudahlah, gak usah di bahas lagi. Sekarang 'kan kamu udah balik jadi Vanish yang saya kenal, dan sayasuka," tutur Better.

__ADS_1


"Heh! Tuโ€“tunggu deh, Pak, tadi anda bilang apa?" tanya Vanish, memastikan apakah ia salah dengar atau berhalusinasi saja.


" Yang mana?"


"Tadi, yang bagian itu lho,"


"Gak usah bahas?"


"Bukan?"


"Kembali jadi Vanish?


" Ih, bukan yang itu ... tapi setelahnya,"


"Yang saya kenal?"


"Bukan, ih!"


"Apa sih? memangnya tadi saya bicara apa?" Better menggaruk pelipisnya, berusaha menutupi kepura-puraannya. Padahal dirinya tahu apa yang di maksud oleh Vanish.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข.


๐Ÿพ Jiahh, bos ganteng. Tibang ketauan suka aja kayaknya susah amat. Di ambil orang tau rasa deh!๐Ÿ˜Ž


" Tauk ah, dah males!" Vanish kembali menatap layar laptopnya. Menyusun proposal untuk presentasinya beberapa menit lagi. Tapi, bosnya itu sama sekali tidak cukup serius bahkan terkesan mengganggunya terus.


" Jangan marah, nanti ikut ya ke taman marga satwa?" bujuk Better. Melihat bibir Vanish mengerucut sambil mengetik, sungguh membuatnya gemas.


"Iya, mau bagaimana lagi? memang sebuah perintah, jadi tak bisa memilih," sahut Vanish.


"Senyum dong, Ninis yang cantik," bujuk Better, membuat Vanish ngeblush seketika.


"Gak boleh ya?"


"Itu, panggilan khusus, untuk orang terdekat saja,"


" Memangnya, saya kurang deket sama kamu?"


"Amโ€“biโ€“gu,"


"Maksudnya?"


"Ya, pertanyaan anda itu, kurang jelas," dalih Vanish.


"Kita sudah sampai, Pak." ucap sang sopir dengan sedikit menengok ke belakang. Dimana terdapat majikannya yang terus saja berdebat dengan asistennya.


๐˜Š๐˜ฌ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข. ๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ.


______


"Ngapain nih orang tiba-tiba ngechat? Ngajak piknik ke ragunan? Yang benar saja?" Milna, terlihat memijat pelipisnya. Kepalanya mendadak pusing ketika membaca chat dari Joy.


"Apa rencana, Nyonya Susi kali ini? apapun yang terjadi, perasaanku padanya tidak akan berubah." Milna, kembali menyelesaikan tugasnya. Merapikan sisa-sisa kegiatan bercocok tanam sore tadi.


Tiba-tiba ...

__ADS_1


Drrrttt ...


Suara ponsel Milna bergetar, gadis tomboi itu mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


๐Ÿ“ฒ" Kenapa tidak membalas chat ku? padahal kau tengah online sejak tadi?"


๐Ÿ“ฑ"Belum sempat!"


๐Ÿ“ฒ " Sok sibuk sekali?"


๐Ÿ“ฑ" Aku memang sibuk, karena itu tidak bisa di rayu bagaimanpun rupanya ketika memasang wajah lucu."


๐Ÿ“ฒ " Siapa yang merayu mu! Sejak kapan juga aku memasang wajah lucu! Aku ini terlalu tampan!" teriak Joy, di seberang telepon.


๐Ÿ“ฒ "Tidak bagiku, Wleee !"


๐Ÿ“ฑ" Berisik! Pokoknya kujemput nanti jam 7 malam."


Tuuutt ....


๐Ÿ“ฑ" Joy tengik! Aku belum menyetujuinya!" umpatnya keasal.


________


"Sayang, nanti jangan jalan kaki. Karena aku telah memesan ATV untuk kita!" teriak Arjuna, dari ruang makan. Ia sedang menunggu Susi menyelesaikan masakannya. Sudah kelaparan sekali.


"Atur saja, yang pasti mereka semua harus ikut! Karena, aku punya rencana bagus!" Susi pun bersorak gembira.


๐ŸพKura-kura, apa ya rencana bumil satu ini.


________


[Vanish, cepatlah pulang atau katakan jika kau mendapat pria kaya di kota!]


[ Bawa dia pulang sekalian menghadap ayah.]


[ Ayah beri waku tiga hari!]


"Mmmmmmm!!" Vanish berteriak, dengan bantal yang menutupi mulutnya. Agar para tetangganya itu tak lagi terganggu karena ulahnya.


Keesokan harinya.


Di taman marga satwa.


"Van, apa masalahmu begitu berat? saya lihat, wajahmu begitu kusut beberapa hari ini?" tanya Better, kini ia berada di dalam mobil. Karena, Better benar-benar menjemputnya. Buru-buru, Vanish menggenggam tangan bosnya itu.


"Pak, bantu Vanish," pintanya dengan mata berkaca-kaca.


"Apa yang bisa kubantu, katakanlah?" ucap Better, menenangkan.


"Jadilah, pacar Ninis!"


"Eh, maksudnya pura-pura!" Vanish mengucapkan hal itu setelahnya.


"Kirain, kamu nembak aku beneran?"

__ADS_1


๐ŸพNgarep dot com, ye bang!โœŒ


Bersambung>>>


__ADS_2