Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Analisa payah.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


" Jauhi tangan mu dari nya jika kau masih ingin bekerja dengan ku!" Ancam Arjuna sambil mencengkeram kerah jas asistennya itu.


"Maaf, Tuan. Saya berjanji itu adalah yang terakhir." Joy, berusaha menenangkan pak singa yang tengah menancapkan kuku tajamnya, karena merasa miliknya terancam.


"Ku rasa sekedar peringatan tak mempan buat kau Joy!" Arjuna mulai mengendurkan cengkeramannya.


"Biar Susi yang menjadi asisten ku, dan kau pergilah ke bagian bersih-bersih!" Arjuna melepas pegangannya dengan sedikit dorongan, hingga Joy agak terhuyung.


Namun senyum miring justru terbit di wajah mengesalkan Joy.


" Tuan, saya sama sekali tidak berniat mengambil milikmu, meski di awal sempat menyukainya," jelas Joy santai.


"Apa kau bilang? Kau pernah menyukainya?" ulang Arjuna dengan kilat laksana petir di matanya.


"Cari mati kau Joy Kinder!" Arjuna mendorong tubuh Joy yang tengah bersandar santai dengan kaki di silang.


BUKK!

__ADS_1


"Tu-tuan, jangan marah dulu. Dengarkan penjelasannya saya sampai habis," ringis Joy karena punggungnya di adu dengan dinding.


"Jelaskan!" titah Arjuna.


" Lepas dulu, Tuan. Kalau begini anda benar-benar terlihat seperti cemburu," goda Joy, dengan kekehan campur ringisan.


"Apa maksudmu? Apa!" Arjuna masih saja berteriak di wajah Joy. Entah sudah berapa liter ludah yang muncrat.


"Ya, setelah saya perhatikan dan menyadari satu hal, saya memutuskan untuk tidak meneruskan niat pertama saya. Lagi pula dia adalah wanita polos yang baik, akan sangat jahat kalau saya berniat memanfaatkan wanita sebaik itu," jelas Joy dengan senyum penuh arti, dan Arjuna tidak tau artinya.


"Apa yang kau sadari dari apa yang kau perhatikan?" Arjuna melepas tekanan pada Joy, karena ia tak pernah melihat asistennya bicara sambil tersenyum padanya, ketika ia sedang marah. Antara geli dan penasaran Arjuna menatap wajah menyebalkan itu lekat. Mencoba memahami arti dari setiap kalimat ambigu dari pria berambut cut skin itu.


"Jangan di potong, dan Tuan jangan marah. Ini hanya sekedar pandangan saya," ucap Joy memperingati Arjuna.


"Sejak awal Tuan memberi tugas pada saya untuk menjemput nona Susi, ketika dia datang ke kantor ini. Dengan penampilan yang lusuh dan berantakan, lalu Tuan memerintahkan saya untuk selalu mengawasinya, memantau setiap cara kerjanya, mereview nya hingga ia bisa menjadi semakin baik dan bersinar di tengah sales-girl lainnya." Joy menjeda sebentar kata-katanya, di lihatnya Arjuna diam menunggu kalimat selanjutnya dengan tatapan tajam tentu saja.


"Sejak kawan seorang pemimpin setegas dan sedingin anda, bahkan bisa di katakan hidup anda itu segaring kanebo kering. Eits, jangan marah!" Tahan Joy,dengan cengirannya. Membuat Arjuna mengepalkan tangan dan mengadu gerahamnya.


"Iya maksud saya sejak kapan anda begitu peduli terhadap makhluk yang bernama wanita? Bahkan karyawan wanita di sini hanya operator depan saja. Anda begitu memperhatikan nona, menjaganya, menghajar salah satu karyawan Mr. Bai Goon, menuntutnya perusahaannya. Memecat secara tak hormat Mr. Harpic Go Cheng dan salah satu leader sales bernama Siska."

__ADS_1


"Memberinya bonus secara diam-diam, karena anda tau nona sedang membutuhkan uang untuk perawatan wajahnya."


"Karenanya saya menyimpulkan bahwa anda menyukai nona Susi, iya kan betul kan?" Joy menaik-turunkan kedua alisnya. Image asisten berdarah dingin musnah sudah.


Kecuali dengan wanita cantik Joy seketika berubah menghangat bahkan memanas.


"Jadi, itu yang ada di pikiran mesum bin ngeresmu itu?" Arjuna bersedekap dengan senyum smirk nya. Membuat aura garang dan kejam makin kentara di wajah rupawannya itu.


Seandainya sikapnya baik sedikit saja, mungkin para wanita takkan menyumpahinya.


Hingga, kini di usianya yang sudah berkepala empat, dirinya masih setia dengan status belum kawin yang tercetak di KTP seumur hidupnya itu.


"Ya saya sangat yakin, jika Tuan menyukai nona Susi," Joy tersenyum lebar, yakin bahwa tebakannya takkan meleset.


" Kau terlalu sering bercinta Joy, hingga otakmu hanya mengingat hutan belantara dan gunung kembar saja." Arjuna melewati Joy yang tengah menganga, bahkan ia sedikit mendorong bahu nya.


Hingga Joy terjengkang dan membentur ujung meja.


(Punya bos atu kejem banget. Untung gaji gede bisa beli paha ama dada mentok.) batin Joy merutuki nasibnya.

__ADS_1


" Analisamu sangat payah. Mungkin posisimu saat ini memang harus di ganti." Arjuna menduduki kursi putar nya, kemudian menaikkan kedua kakinya ke atas meja.


Bersambung>>>>>


__ADS_2