Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Persahabatan para penakluk.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"Kau sudah sehat?" tanya Arjuna pada asisten maskulin di hadapannya.


"Terima kasih, Tuan. Atas perhatian anda." Joy membungkukkan tubuhnya sedikit.


"Duduklah." Arjuna, memerintahkan Joy agar pria itu terus berdiri di sisinya.


"Seharusnya, akulah yang berterimakasih padamu. Karena kedatangan mu yang sangat tepat pada waktunya." ucapnya lagi, setelah Joy meletakkan bokongnya di sofa.


Tak lama kemudian, sosok wanita cantik nan anggun melangkah masuk dengan nampan berisi minuman. Arjuna bahkan tersenyum melihat wanita itu begitu feminim sekarang.


Susi, dengan dress berenda di bawah lutut, membuat penampilannya terlihat manis.


"Wah, Nona cantik sekali hari ini. Em, terlihat segar dan lebih muda." puji Joy dengan senyum sumringahnya.


"Kau bisa saja Joy." Susi menggeleng pelan seraya meletakkan cangkir-cangkir berisi kopi di atas meja.


" Di minum kopi spesial nya." tawar Susi sambil mengerling ke arah Arjuna. Membuat pria dewasa itu terkekeh pelan.


"Eh, eh, sepertinya ada yang saya lewatkan selama di rawat di rumah sakit." heran Joy melihat ekspresi tak biasa dari kedua orang di hadapannya ini.


"Ya, karena itu. Kebetulan kau sudah sehat, maka aku ada misi penting untukmu," ucap Arjuna.


"Tunggu dulu, Tuan. Kenapa Nona ada disini? Lalu, bagaimana dengan posisi Direktur di perusahaan Pradipta?" potong Joy, yang selalu seenaknya seperti biasa.


"Makanya dengar dulu kalau Bos mu ini sedang bicara. Aku kan belum selesai!" gemas Arjuna pada Joy, asisten songong tapi setia.


Pengabdian Joy selama ini tak dapat di ragukan lagi. Dialah yang membantu Arjuna mendirikan perusahaan ini, hingga sekarang. Selalu setia melindungi, karena Joy memiliki basic ilmu bisnis serta beladiri yang mumpuni.


"Ah, maaf ... Tuan. Silakan di teruskan penjelasannya." Joy menunduk, dengan sedikit melirik ke arah Susi. Menerka apa yang terjadi diantara mereka.

__ADS_1


" Soal jabatan Presdir di perusahaan Pradipta. Aku telah mempercayakan sepenuhnya pada Better. Susi, akan mengirim Vanish sebagai sekretaris di sana. Lalu, aku akan mengirim Milna sebagai asistennya." jelas Arjuna sambil menyeruput kopi hitam, yang masih mengepulkan uap panasnya itu.


" Ahh ... Kopi buatan mu memang numero uno." Arjuna memberi pujian pada wanita di sebelahnya. Sehingga kedua pipi itu bersemu merah.


" Tumben banget muji, Tuan?" celetuk Joy spontan. Memang dasar asisten juliders, lidah tajamnya sama sekali tidak bisa tahan untuk tidak berkomentar.


"Kau ini, baru muncul tapi sudah bikin kesal!" tegur Arjuna dengan nada ketusnya. Membuat nyali Joy ciut seketika.


"Sudahlah, Joy hanya bercanda. Kau kan memang jarang memujiku." bela Susi pada sang asisten penyelamat. Membuat Arjuna sontan menoleh dengan tatapan tajam ke arah Susi.


"Sabarlah sedikit menghadapinya, bagaimanapun, kau berhutang nyawa padanya," bisik Susi di telinga Arjuna, seraya sebelah tangannya mengelus bahu serta lengan pria pemarah itu.


"Terima kasih, Nona. Anda memang paling pengertian." puji Joy lagi dengan tatapan memuja.


" Tundukan pandanganmu!" sentak Arjuna sebal. Bagaimana bisa anak buahnya ini memandang dengan kekaguman pada wanitanya.


Arjuna memijat pangkal hidungnya. Dirinya tak habis pikir, bahwa Susi akan mampu memikat siapapun dengan auranya. Dari para musuhnya, hingga para anak buahnya sendiri.


_______


"Kenapa kau mengajakku bertemu di tempat ini?" protes Walls, yang sejak tadi menunggu sudah menghabiskan dua gelas cocktail.


"Memang kau berharap aku ajak ketemuan dimana, Bar? Club?" sarkas Joy pada Walls, pemuda berambut pirang itu baru saja mau membuka mulutnya ketika Better memotong.


" Itu sih maumu." sela pria berambut gondrong yang selalu di kuncir itu.


"Ck. Baru datang sudah ikut nimbrung saja." cebik Walls yang merasa dirinya bakal jadi bahan bullyan mereka berdua.


"Adik manis, janganlah merajuk ...." goda Better, yang kemudian di sambut tawa oleh Joy.


"Cepatlah katakan ada apa?"

__ADS_1


" Aku ada janji malam jam 10 nanti." sela Walls pada kedua seniornya ini. Ya, senior terhadap wanita.


"Haish, jangan sok sibuklah anak muda,"


"Sesekali liburkanlah petualangan mu menjelajah hutan squishy." ledek Joy.


"Mana bisa paman," sanggah Walls dengan sedikit sindiran pada Joy.


" Hei. Aku tidak setua itu sampai kau panggil paman!" protes Joy dengan wajah di tekuk.


(Ck. Sampai kapan mereka adu mulut begini?) decak Better dalam hati. Melihat kedua orang di depan dan sampingnya, yang terus saja memperdebatkan hal yang tidak penting.


Matanya memutar malas sambil menyeruput cappuccino tanpa krim di atasnya.


Pikirannya melayang pada sekretaris barunya, di mana gadis polos yang berlatar daerah yang sama dengannya.


"Vanish ...." gumamnya, seraya menaikkan sudut sebelah bibirnya. Menciptakan senyum tipis tak kasat mata.


"Ngapain senyum-senyum, Om?" seloroh Walls menoleh ke arah Better, dimana dirinya sontak mendelik.


"Om, kepalamu!"


Tuk!


Better sukses mendaratkan kunci mobilnya ke atas ubun-ubun si bocah badung.


"Aku menghormati kalian, kenapa malah marah!" jerit Walls yang merasa didiskriminasi oleh kedua orang dewasa itu.


Emang setua apa sih Walls ... Joy sama Better😆


Ngadi-ngadi emang kau ...

__ADS_1


Ketok lagi Bet, otor dukung😉


Bersambung>>>


__ADS_2