
🔥🔥🔥🔥🔥
Brakk!!
Milna menggebrak meja di hadapan Joy dengan kerasnya.
"Kau pikir seperti apa diriku ini, hah!" bentak Milna, karena ia tak terima atas tuduhan terhadap dirinya.
"Kau berharap aku berpikir seperti apa-apa memang? Dengan pakaianmu yang seperti itu, gaya mu yang centil, juga tak tau jam malam." Joy berkata dengan datar. Seolah, perkataannya itu tak menusuk sama sekali.
Padahal, jelas-jelas ia tau. Bahwa gadis dihadapan nya ini sedang menahan amarah.
"Kau sungguh pria yang tak memiliki etika. Kau tak berhak memberi tuduhan keji seperti itu pada ku!" hardik Milna.
"Memangnya kau berharap orang akan berpikir seperti apa denganmu? Gadis baik-baik? Mana ada seperti itu, bergelayutan dengan pria yang baru di kenalnya." Joy bicara tanpa menoleh ke arah Milna. Membuat gadis di hadapannya semakin geram saja.
"Aku tidak perduli penilaianmu terhadapku. Kau telah memberiku alasan untuk semakin membenci mu!" sarkas Milna. Gadis itu kemudian berbalik, meninggalkan meja. Hingga sebuah sindiran Joy menghentikan langkahnya.
"Aku hanya berpikir kau berbeda dariku wanita-wanita yang pernah ku kencani. Ternyata, kau sama seperti mereka." Joy tersenyum remeh. Gadis yang membelakangi nya, terlihat mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya.
"Jangan samakan aku dengan para gundikmu itu!" pekik Milna, seraya berbalik. Ia menatap tajam ke arah pria yang telah berani mendiktenya.
"Lantas apa bedanya?"
"Kau!" Milna yang tau-tau sudah maju ke depan. Kini, telah mencengkeram kerah jas pria maskulin yang juga sebagai atasannya itu.
"Kau keterlaluan, Joy!"Milna menyentak genggamannya. Percuma beradu kata dengan manusia tengik, pikirnya.
Joy menepis pakaiannya, seakan barusan ada kuman kotor yang singgah. Ia menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Hingga, membentuk sebuah senyumannya sinis.
"Aku tidak sudi menjelaskan urusan pribadiku padamu. Terserah bagaimana pandanganmu terhadapku. Tapi, kau salah besar, jika menyamakan aku dengan para jalaang bayaranmu. Aku, tidak akan pernah menjual tubuhku dengan alasan apapun." Kali ini, Milna keluar dari ruangan yang seakan tanpa AC. Pengap dan gerah.
'Kenapa sorot matanya seakan penuh luka? Apakah aku memang telah salah bicara?' Joy menatap punggung Milna, hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.
"Pria tengik Sialan! Berani nya ia menganggapku melacur semalaman. Ingin sekali aku merobek mulutnya itu." Milna membasahi wajah nya dengan air di wastafel. Ia perlu mendinginkan dirinya dari emosi yang membakar dadanya.
"Sabar Na, sebentar lagi kasus ini selesai. Setelah ini, tak ada lagi alasan bagiku untuk mengenal nya." Milna, berbicara pada pantulan dirinya sendiri di cermin.
Drrrtttt ...
"Halo!"
"Baiklah."
_____
__ADS_1
"Kenapa gadis itu belum kembali ke kantor? gumam Joy. Entah kenapa ia mendadak risau. Ia pun berdiri.
Kakinya melangkah hingga ke atas rooftoof. Angin kencang terasa menampar wajah nya, membuat kakinya seketika limbung, menatap sosok gadis yang tergeletak tak berdaya itu.
"Hei, Na! Bangun!"
"Siapa yang telah melakukan ini padamu. Kau adalah orang yang biasanya tak mudah terkecoh, selalu berhati-hati terhadap siapa pun. Bagaimana ini bisa terjadi padamu?" Joy tak habis fikir, pria itu heran bagaimana bisa Milna di serang. Ia menemukan gadis itu tersungkur.
"Jhonny! Siapkan mobil, sekarang!" titahnya pada sopir kantor yang merangkap sebagai asisten Franklin.
Kemudian ia kembali mengusap ponselnya untuk menghubungi tim rescuenya.
"Segera ke rooftoof sekarang, dan bawa kotak P3K sekalian." Setelah memberi perintah, Joy kembali Memasukkan ponsel kedalam sakunya.
Drap. Drap. Drap.
Derap langkah terdengar dari beberapa pasang kaki.
"Bos. Apa yang terjadi?" tanya salah satu anak buah Joy.
"Ini tugas mu. Selidiki siapa yang baru saja menghubunginya." Joy menyerahkan ponsel Milna. Lalu ia membuka kotak P3K untuk mengambil minyak aroma therapi. Kemudian mengoleskannya kebawah hidung Milna.
Gadis itu melenguh pelan, kemudian kedua matanya mengerjap perlahan.
"Kita kerumah sakit sekarang." Joy pun mengangkat tubuh Milna dengan mudah kedalam gendongannya.
_______
Dirumah sakit.
"Joy, aku di serang dari belakang. Aku terkena umpan Mereka," ucap Milna pelan. Gadis itu masih merasakan sakit di punggung serta ulu hatinya.
"Apa kau ingat siapa mereka?" selidik Joy.
"Aku tidak melihat nya. Mereka telah merencanakan ini dengan baik. Ternyata tikus-tikus itu lebih banyak dari perkiraan kita Joy," tutur Milna, serak. Gadis tomboi ini menderita luka dalam di perutnya.
"Tim sudah memeriksa nya. Nama-nama itu sudah terkumpul beserta dengan bukti-buktinya. Besok, kita akan langsung eksekusi mereka." Joy berkata dengan kilatan dingin dari kedua mata ambernya.
"Aku ikut."
"Tidak! Kau masih harus di opname sekitar tiga hari," jelas Joy menolak permintaan Milna.
"Baiklah," sahutnya pasrah.
"Serahkan saja padaku, semua akan segera tuntas. Kau, sudah cukup bekerja keras." Joy bangun dari duduknya. Sebelum berbalik, ia berkata pada Milna.
__ADS_1
"Maaf, jika kata-kataku telah menyinggungmu. Tidak seharusnya, aku mencampuri urusan pribadi mu," ucap Joy, seraya menundukkan kepalanya.
Milna menatap ke arah lain, seperti nya tak mudah baginya untuk memberi maaf pada Joy saat ini. Meskipun pria itu telah menolong nya. Dirinya butuh waktu untuk melupakan sakit hatinya.
"Terimakasih, kau telah menolong ku. Aku akan membalas budi baikmu suatu saat nanti. Karena aku, tidak pernah mau berhutang budi pada siapapun." Milna berkata tanpa menatap Joy.
"Aku tidak menganggapnya sebuah hutang. Ini hanya bentuk tanggung jawabku, sebagai ketua tim," jelas Joy. Pria itu dapat melihat kemarahan serta kekecewaan yang terpendam dari gadis diatas brangkar.
'Sejak kapan si tengik ini, menolong tanpa pamrih? Apa ia merasa bersalah? Ah, itu tidak mungkin. Manusia seperti dirinya mana pernah menyesal. Itu sama saja berharap langit menurunkan hujan pie.
Bahkan hujan warna-warni pun kata orang tak mungkin. Apalagi hujan pie.
"Aku pergi. Akan ada tim rescue yang menemanimu. Beristirahatlah." Joy pun bergegas keluar dari ruangan itu, tanpa menoleh lagi sedikit pun. Milna hanya bisa memandangi punggung itu hingga menghilang di balik pintu.
'Kenapa hatiku merasa sedih? Kepergian pria tengik itu seakan membawa sesuatu dari sini.' Milna memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak. Tiba-tiba ia ingin sekali menangis dan berteriak. Meskipun, ia sendiri tak tau itu untuk apa.
Joy berjalan dengan cepat di lobi, sambil meletakkan ponsel di telinganya.
"Siapkan eksekusi malam ini. Tutup akses keluar kota. Kita harus menyelesaikannya malam ini juga. Habisi mereka tanpa sisa." Joy memberi perintah kepada tim yang dibentuk oleh Franklin. Ia kembali mengeluarkan aura kekejamannya. Sang pembantai berdarah dingin itu kembali.
"Jhonny. Antarkan aku menemui tuan Franklin." Joy yang telah masuk ke dalam mobil memberi perintah pada sopirnya.
"Baik, Bos. Kebetulan, tuan Franklin sudah pulang ke mansion. Kebetulan, nona Vynnitta telah keluar dari rumah sakit," sahut Jhonny dengan penjelasan singkatnya.
Di Mansion Keluarga Marquise.
"Kita berangkat sekarang saja." Franklin berdiri dari duduknya, lalu menyambar jubahnya.
"Tuan, biar kami saja. Anda tidak perlu ...," ucapan Joy terpotong karena sebuah tatapan dingin dari Franklin.
"Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana rupa para tikus comberan itu, meregang nyawa." Katanya dengan tatapan penuh amarah.
Note: Adegan selengkapnya ada di novel sebelah ya.
Mungkin yang di sana agak lambat alurnya.
Mohon doanya juga untuk Umminya otor ya. Mungkin, otor akan sedikit terganggu update dua novel ini. Karena otor harus bolak-balik ke rumah sakit.
Catt>> Umminya otor kena tipes dan harus di rawat intensif.🤧🤧
Makasih atas perhatiannya.
Lope u gais💗
Bersambung>>>
__ADS_1