
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Aku sudah menghabiskan dua puluh empat miliyar untuk sebuah lamborgini cantik ini." Jelita bergumam, sembari mengelus body mulus kendaraan yang baru saja di belinya itu. Warna merah metalik nya begitu kinclong.
"Aku ingin tau apa reaksi mu, Seno ku sayang." Tawanya sambil memainkan sebuah kartu ekslusif di tangannya. Dimana di dalam kartu berwarna hitam itu, tak ada nominal limitnya.
"Salahmu, begitu bodoh. Mencintai tubuhku saja, inilah balasan untukmu!" Lagi pula, aku belum cukup bersenang-senang. Siapa mengira, kini perusahaan mu tengah maju pesat. Pergi dari sisimu sekarang pun, aku puas." Jelita kembali tertawa hingga bahunya berguncang.
"Haih, udaranya panas. Lebih baik aku memanjakan diriku di salon." Jelita kembali masuk kedalam mobilnya, meletakkan kartu no limit itu di ๐ฅ๐ข๐ด๐ฉ๐ฃ๐ฐ๐ข๐ณ๐ฅ mobil. Lalu, mulai menyalakan mesinnya.
"Shiiitt!" Tiba-tiba, Jelita memegangi bawah perutnya. Segera ia meraih air putih mineral dalam botol, yang ia letakkan di pintu mobil.
"Penyakit, sialan! Sejak kapan kau ada di tubuhku. Mengganggu saja!" Jelita malah mengumpat, bukannya berpikir cara mengatasi penyakitnya itu.
"Jangan sampai kau menghalangi rencana ku. Kau bukan apa-apa, aku pasti hanya sakit biasa, ya pasti begitu." Setelah, kembali menguasai dirinya, Jelita pun menjalankan mobil mewah itu.
Brooommm ...
Kendaraan ๐ญ๐ถ๐น๐ถ๐ณ๐บ, yang bersinar nan berkilau itu, membelah jalan raya dengan memukau. Sempat sekali Jelita memaki pengendara bermotor, sebelum akhirnya ia berbelok masuk ke jalur bebas hambatan.
_
_
Keempat roda itu berdecit, ketika Jelita menghentikan laju kendaraannya tepat di halaman salon kecantikan ekslusif para artis.
Sebelum turun, Jelita tampak memegangi bawah perutnya lagi. "Kenapa sekarang sakitnya makin sering?" herannya yang sedikit meringis.
__ADS_1
"Huft, aku tidak boleh stress. Baiklah, sekarang saatnya bersenang-senang." Jelita pun mengunci mobil, dan mulai melangkah memasuki salon kecantikan kelas atas tersebut. Ketika, rasa nyeri itu hilang.
"Halo, Mam. Selamat datang ... dan, silakan pilih perawatan dari kami." sambut wanita muda yang bertugas didepan, ramah.
"Hei, apa matamu buta. Aku masih muda, bisa-bisanya kau panggil seperti itu!" hardik Jelita tak terima pada sapaan karyawati tersebut.
" Ma_maaf, Nona. Jangan laporkan kejadian ini pada manager, saya mohon," pintanya memelas.
"Enak saja, aku adalah pelanggan tetap salon ini! Anak baru kurang ajar sepertimu, harus di laporkan!" Jelita, pun merangsek masuk ke sebuah ruangan dengan nada marah.
"Ya Tuhan, aku telah salah bicara. Bagaimana ini?" Karyawati itu berdiri dengan gelisah.
"Maaf, Nona Jelita. Atas pelayanan karyawati magang kami." Wanita yang bertindak sebagai manager, menunduk meminta maaf.
"Kau tau, sekali aku memberi ulasan jelek pada salon ini. Maka rating salon ini akan turun seketika." Ancam Jelita dengan gaya angkuhnya, meski sesekali ia terlihat menyeka keringatnya.
"Kenapa ruangan ini panas sekali? Kalau tau tempat ini sekarang memiliki pelayanan yang buruk, aku tidak akan mampir," sesal Jelita, seraya mendengus serta bersedekap.
"Baiklah, sekarang beri pelayanan ๐ง๐ถ๐ญ๐ญ ๐ฐ๐ง ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐บ padaku." Setelah mengatakan permintaannya, Jelita pun melenggang pergi menuju bilik yang di sediakan untuk berganti pakaian.
"Sekarang kau ingat, wajah nona itu. Berhati-hatilah melayaninya. Aku tidak akan memotong gaji mu, tenang saja."
" Terimakasih, Bu Manager." Karyawati itu pun membungkukkan badannya. Setelahnya, manager itu pun berlalu.
"Kau tidak salah, wanita itu memang tidak pantas di panggil nona. Niatmu kan hanya sopan padanya." ucap salah satu kawannya di resepsionis depan.
"Sudahlah, aku akan menjadikan ini pelajaran. Lain kali aku akan lebih berhati-hati." timpal nya.
__ADS_1
"Tidak ada lain kali, ini gaji mu. Kau pulanglah!" Manager itu datang lagi, membawa secarik kertas dan amplop.
"Tapi, Bu ... bukankah kata anda tadi_ ," Karyawati itu menunduk memandangi amplop gajinya, bahkan dirinya belum genap sebulan bekerja.
"Pemilik salon ini, tidak ingin menanggung resiko dengan mempertahankan mu." ucap Manager itu, kemudian berlalu begitu saja.
"Saya mengerti, Bu. Permisi." Wanita muda itu pun berlalu setelah melirik sekilas kearah kawannya yang menatap dengan sendu. Kemudian ia kembali menoleh seraya menyeka ujung matanya yang basah.
๐๐ฆ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ๐ข๐ฏ, ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ค๐ข๐ต. ๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ช๐ฉ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ช๐ต๐ถ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ช๐ข๐ญ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ถ. ๐๐ช๐ฌ๐ด ...
Mantan karyawati itu berjalan keluar salon dengan lunglai. Bagaimana cara ia membayar kuliah dan sewa kontrakannya nanti, pikirannya kalut.
Gais sambil nunggu update baca karya temen-temen otor juga ya...
Di jamin keren-keren dan bikin nagih.
__ADS_1
Happy reading all ....
Bersambung>>>