Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Menculik Pacar ( bag. 1 )


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


" Mana dia? sebenarnya kalian ini siapa? kok bisa tau alamat rumah Ninis?" cecar Vanish ketika dirinya dalam perjalananan. Gadis itu bingung, ketika mendadak di jemput oleh dua lelaki berpakaian preman dengan anting besar serta tato di leher serta lengan mereka.


"Adek tenang aja, kita bukan orang jahat. Sebentar lagi kita juga sampe kok." Cepot, tersenyum simpul. Padahal hatinya sedang tertawa terbahak-bahak.


๐˜Ž๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ถ, ๐˜‰๐˜ณ๐˜ข๐˜บ! ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ! ๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜‘๐˜ช๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข ...!


Hal yang serupa juga tengah di rasakan oleh Bagong, ia tidak menyangka jika pemilik yayasan yang begitu tampan juga gagah, ternyata pedofil.


๐˜Ž๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฆ ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข. ๐˜—๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฎ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.


Bagong asik berspekulasi dengan pikirannya sendiri. Karena sudah tak tahan dengan jiwa keponya yang meronta-ronta. Akhirnya, Cepot bertanya pada gadis mungil yang mengenakan dress rumahan selutut itu. Karena, dress yang di kenakan pendek, maka Vanish juga memakai hot pants.


"Dek, maaf kalo boleh tau, kelas berapa sekarang? terus sekolah dimana?" tanya Cepot, agak menoleh sedikit kebelakang.


Bagong yang sedang mengemudi mobil toyota seken itu ikut melirik, karena dirinya juga kepo.


"Kelas? Sekolah?" Vanish heran dengan pertanyaan yang dilempar oleh pria berbadan tinggi besar itu. Iapun, menelisik penampilannya dari atas hingga bawah.


๐˜Š๐˜ฌ, ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ซ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ต๐˜บ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ? ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜บ๐˜ข ... ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฎ-๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด.


Vanish membatin dengan bibir mengerucut. Meski bukan baru kali ini, dirinya dianggap anak bau kencur. Karena wajahnya yang baby face serta tubuhnya yang kecil.


"Aku udah kerja, sekarang lagi cuti. Pacar ganteng 'kan bosku, eh ... maksudnya Better." Vanish buru-buru membungkam mulutnya. Ia tak mau terlalu banyak bicara dengan dua lelaki yang tak di kenalnya ini.


"Wow, jadi. Bos kita cinta lokasi nih." Cepot tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


"Adek, sekretaris atau apa?" tanya Cepot lagi.


"Jangan memanggilku seakan-akan aku ini masih anak SMP. Aku sudah 22 tahun, lho!" protes Vanish.


"Eh, iya deh. Soalnya kan kita gak tau namanya siapa." Kata Cepot.

__ADS_1


"Lagian aku tuh, asistennya. Jadi, jabatannya ku tuh lebih tinggi dari sekretaris. Gajiku juga lebih gede." Vanish menjelaskan dengan menggebu-gebu. Ia sudah terlanjur kesal karena di kira anak remaja baru gede.


"Wah, hebat dong! Pantes aja bisa jatuh cinta. Kalian sudah terbiasa bersama." Celetuk Bagong, menimpali penjelasan dari Vanish.


"Tauk ah! Kalian ini siapanya pacar ganteng sih! Kok kepo banget!" kesal Vanish.


"Jangan marah dong, adek manis. Kita ini, anak buahnya pacar ganteng, eh. bos ding." Bagong dan Cepot pun terkekeh setelah puas meledek Vanish.


"Cepetan dong, jalannya! Katanya bos kalian kecelakaan? Tapi, kok aneh sih? kalian berdua dari tadi malah ketawa terus ngeledekin aku." Vanish mencecar keduanya dengan geram.


"Kita udah sampe kok." Setelahnya Cepot pun turun, hendak membukakan pintu mobil untuk Vanish. Akan tetapi, ada tangan yang tiba-tiba terjulur lebih dulu, setelah tubuhnya besarnya merasa di tarik kebelakang.


"Pacar!"


"Ninis!" Melihat sang pujaan hati di depan matanya sekarang. Better sontak menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Mengabaikan dua orang yang tengah melongo memperhatikan keduanya.


"Pacar, katanya kecelakaan?Mananya yang sakit?" Vanish melerai pelukan mereka, lalu ia memeriksa tubuh Better dari atas kepala hingga bawah kaki. Sampai raga tegap itu di putarnya dua kali. Membuat Bagong dan Cepot tergelak kencang.


" Maaf, aku terpaksa membohongimu," ringis Better.


"Kamu jangan marah ya, aku gak bermaksud apa-apa. Aku melakukan ini karena ingin ketemu kamu. Gak ada niat lainnya, percayalah," jelas Better dengan ekspresi memelas. Membuat Bagong dan Cepot, menahan tawa mereka. Karena hanya bahu mereka berdua saja yang terlihat berguncang, sementara wajah mereka seperti orang sedang menahan mulas.


"Kalian berdua. Bisa tinggalkan kami." Ucap Better dengan tatapan dingin kearah kedua pria berpakaian preman itu.


Bagong dan Cepot sontak menelan ludah mereka kasar. Lalu, tanpa bicara apapun mereka langsung ngacir secepatnya dan melaju kencang dengan mobil mereka.


"Dih, baru di gituin aja udah takut. Tadi aja, ngeledekin mulu." Vanish mencebik ke arah dua pria itu pergi.


" Memangnya, kamu di ledekin gimana sama mereka?" tanya Better lembut, setelah ia mengajak Vanish untuk duduk di kursi teras yayasan rumah atap. Di mana, di sana biasa untuk tempat belajar atau berkreasi para anak jalanan. Karena itu, tempat ini begitu penuh dengan seni dan kretifitas hasil olah tangan.


Dinding yang berwarna-warni, beberapa prakarya yang di gantung di jendela. Sampai beberapa pot tanaman yang di buat dari barang-barang bekas. Hingga, batang pohon yang di hias dengan bungkus bekas kopi instan. Termasuk pada kursi yang mereka duduki ini. Alasnya di anyam menggunakan pembungkus kopi.


" Mereka ngira Ninis masih kecil, sampe di panggil adek. Di kira masih sekolah juga," ucap Ninis, layaknya seorang anak kecil yang tengah mengadu pada ibu mereka.

__ADS_1


"Itu karena kamu, imut ... dan ngegemesin. " Better berucap dengan senyum seraya, mencubit kedua pipi Vanish dengan kedua tangannya.


"Ih, pacar! Apaan sih! Nyebellin deh!" Vanish merajuk dengan mengerucutkan bibirnya ke depan.


Cup!


"Eh!"


"Siapa suruh cium-cium!" pekik Vanish, ketika Better mengecupnya tiba-tiba.


"Maaf, itu permintaan maafku karena udah nyulik kamu kesini," dalih Better.


๐Ÿพ Eh eleeehh ... Bilang ae bang kalo ente gemes ame bibir nyang maju-maju. Udeh rindu berat juga 'kaaaann ... hayo ngaku dah!๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š


"Mana ada permohonan maaf kayak gitu!" Vanish kembali mencebik, tapi ketika Better memajukan wajahnya, ia langsung membekap sendiri mulutnya.


"Pacar jangan nakal! Ini tempat sepi! Nanti ada setan gimana?" Vanish tiba-tiba merengket karena kata-katanya sendiri.


"Kamu gak usah singgung mereka, nanti kalau muncul beneran, gimana ...?" tanya Better dengan gaya bicara seolah menakuti.


"Iiih ... pacar ....!" Ninis jadi merinding nih." Vanish, mendekap tubuhnya sendiri seraya mengusap kedua lengannya. Karena, tiba-tiba udara dingin menyergap mereka.


"Tuh, kayaknya mereka udah dateng. Kamu sih, pake manggil segala barusan," goda Better, semakin membuat Vanish meringis ketakutan.


"Pacaaaarrr ... bisa diem gak sih! Jangan nakut-nakutin Ninis!" pekik Vanish menutupi ketakutannya. Karena, dirinya memang sangat takut cerita hantu.


"Sudah, ada aku di sini. Tidak akan aku biarkan yang lain mengganggumu, termasuk mereka," ucap Better menenangkan, seraya menggenggam tangan kekasihnya itu.


"Sekarang ikut aku ya, pakai jaket ini biar kamu gak kedinginan." Better membuka jaketnya, lalu mengenakannya pada Vanish. Better pun akhirnya membawa kekasihnya itu melaju dengan kendaraan roda dua yang dikendarainya. Sementara, Vanish mengikuti saja kemana kekasihnya ini akan membawanya pergi. Sepertinya, mereka memang harus bicara dari hati ke hati.


Sampailah mereka di sebuah restoran sederhana. Setelah selesai mengisi perutnya. Better mengajak Vanish ke pinggir danau.


"Nis, apa kau menerima perjodohan itu?" tanya Better setelah beberapa menit keduanya terdiam. Tenggelam dalam samudera pikirannya masing-masing.

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2