
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
" Mana dia? sebenarnya kalian ini siapa? kok bisa tau alamat rumah Ninis?" cecar Vanish ketika dirinya dalam perjalananan. Gadis itu bingung, ketika mendadak di jemput oleh dua lelaki berpakaian preman dengan anting besar serta tato di leher serta lengan mereka.
"Adek tenang aja, kita bukan orang jahat. Sebentar lagi kita juga sampe kok." Cepot, tersenyum simpul. Padahal hatinya sedang tertawa terbahak-bahak.
๐๐ช๐ญ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ถ, ๐๐ณ๐ข๐บ! ๐๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ ๐จ๐ช๐ญ๐ข๐ฌ! ๐๐ข๐ด๐ข ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ข๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ถ๐ณ ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ข๐ค๐ข๐ณ๐ช๐ฏ. ๐๐ช๐ข๐ฉ๐ข๐ฉ๐ข๐ฉ๐ข๐ฉ๐ข ...!
Hal yang serupa juga tengah di rasakan oleh Bagong, ia tidak menyangka jika pemilik yayasan yang begitu tampan juga gagah, ternyata pedofil.
๐๐ข๐ฌ ๐ฏ๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ด ๐ฅ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ซ๐ข ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐จ๐ฆ๐ฅ๐ฆ ๐จ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฅ๐ถ๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ข๐ณ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ฎ๐ช๐ฏ๐ข. ๐๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ต๐ฆ๐ณ ๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฐ๐ค๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ฐ๐ฎ ๐ญ๐ถ๐ญ๐ถ๐ด ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ.
Bagong asik berspekulasi dengan pikirannya sendiri. Karena sudah tak tahan dengan jiwa keponya yang meronta-ronta. Akhirnya, Cepot bertanya pada gadis mungil yang mengenakan dress rumahan selutut itu. Karena, dress yang di kenakan pendek, maka Vanish juga memakai hot pants.
"Dek, maaf kalo boleh tau, kelas berapa sekarang? terus sekolah dimana?" tanya Cepot, agak menoleh sedikit kebelakang.
Bagong yang sedang mengemudi mobil toyota seken itu ikut melirik, karena dirinya juga kepo.
"Kelas? Sekolah?" Vanish heran dengan pertanyaan yang dilempar oleh pria berbadan tinggi besar itu. Iapun, menelisik penampilannya dari atas hingga bawah.
๐๐ฌ, ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ฐ๐ฎ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ต ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ฃ๐ข๐ซ๐ถ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช. ๐๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ณ๐ฆ๐ด๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ช๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐จ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ณ ๐ฉ๐ฆ๐ญ๐ญ๐ฐ ๐ฌ๐ช๐ต๐ต๐บ, ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฏ๐จ๐ช๐ณ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ? ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐บ๐ข ... ๐ด๐ฐ๐ข๐ญ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ข๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฎ-๐ด๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฎ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด.
Vanish membatin dengan bibir mengerucut. Meski bukan baru kali ini, dirinya dianggap anak bau kencur. Karena wajahnya yang baby face serta tubuhnya yang kecil.
"Aku udah kerja, sekarang lagi cuti. Pacar ganteng 'kan bosku, eh ... maksudnya Better." Vanish buru-buru membungkam mulutnya. Ia tak mau terlalu banyak bicara dengan dua lelaki yang tak di kenalnya ini.
"Wow, jadi. Bos kita cinta lokasi nih." Cepot tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Adek, sekretaris atau apa?" tanya Cepot lagi.
"Jangan memanggilku seakan-akan aku ini masih anak SMP. Aku sudah 22 tahun, lho!" protes Vanish.
"Eh, iya deh. Soalnya kan kita gak tau namanya siapa." Kata Cepot.
__ADS_1
"Lagian aku tuh, asistennya. Jadi, jabatannya ku tuh lebih tinggi dari sekretaris. Gajiku juga lebih gede." Vanish menjelaskan dengan menggebu-gebu. Ia sudah terlanjur kesal karena di kira anak remaja baru gede.
"Wah, hebat dong! Pantes aja bisa jatuh cinta. Kalian sudah terbiasa bersama." Celetuk Bagong, menimpali penjelasan dari Vanish.
"Tauk ah! Kalian ini siapanya pacar ganteng sih! Kok kepo banget!" kesal Vanish.
"Jangan marah dong, adek manis. Kita ini, anak buahnya pacar ganteng, eh. bos ding." Bagong dan Cepot pun terkekeh setelah puas meledek Vanish.
"Cepetan dong, jalannya! Katanya bos kalian kecelakaan? Tapi, kok aneh sih? kalian berdua dari tadi malah ketawa terus ngeledekin aku." Vanish mencecar keduanya dengan geram.
"Kita udah sampe kok." Setelahnya Cepot pun turun, hendak membukakan pintu mobil untuk Vanish. Akan tetapi, ada tangan yang tiba-tiba terjulur lebih dulu, setelah tubuhnya besarnya merasa di tarik kebelakang.
"Pacar!"
"Ninis!" Melihat sang pujaan hati di depan matanya sekarang. Better sontak menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Mengabaikan dua orang yang tengah melongo memperhatikan keduanya.
"Pacar, katanya kecelakaan?Mananya yang sakit?" Vanish melerai pelukan mereka, lalu ia memeriksa tubuh Better dari atas kepala hingga bawah kaki. Sampai raga tegap itu di putarnya dua kali. Membuat Bagong dan Cepot tergelak kencang.
" Maaf, aku terpaksa membohongimu," ringis Better.
"Kamu jangan marah ya, aku gak bermaksud apa-apa. Aku melakukan ini karena ingin ketemu kamu. Gak ada niat lainnya, percayalah," jelas Better dengan ekspresi memelas. Membuat Bagong dan Cepot, menahan tawa mereka. Karena hanya bahu mereka berdua saja yang terlihat berguncang, sementara wajah mereka seperti orang sedang menahan mulas.
"Kalian berdua. Bisa tinggalkan kami." Ucap Better dengan tatapan dingin kearah kedua pria berpakaian preman itu.
Bagong dan Cepot sontak menelan ludah mereka kasar. Lalu, tanpa bicara apapun mereka langsung ngacir secepatnya dan melaju kencang dengan mobil mereka.
"Dih, baru di gituin aja udah takut. Tadi aja, ngeledekin mulu." Vanish mencebik ke arah dua pria itu pergi.
" Memangnya, kamu di ledekin gimana sama mereka?" tanya Better lembut, setelah ia mengajak Vanish untuk duduk di kursi teras yayasan rumah atap. Di mana, di sana biasa untuk tempat belajar atau berkreasi para anak jalanan. Karena itu, tempat ini begitu penuh dengan seni dan kretifitas hasil olah tangan.
Dinding yang berwarna-warni, beberapa prakarya yang di gantung di jendela. Sampai beberapa pot tanaman yang di buat dari barang-barang bekas. Hingga, batang pohon yang di hias dengan bungkus bekas kopi instan. Termasuk pada kursi yang mereka duduki ini. Alasnya di anyam menggunakan pembungkus kopi.
" Mereka ngira Ninis masih kecil, sampe di panggil adek. Di kira masih sekolah juga," ucap Ninis, layaknya seorang anak kecil yang tengah mengadu pada ibu mereka.
__ADS_1
"Itu karena kamu, imut ... dan ngegemesin. " Better berucap dengan senyum seraya, mencubit kedua pipi Vanish dengan kedua tangannya.
"Ih, pacar! Apaan sih! Nyebellin deh!" Vanish merajuk dengan mengerucutkan bibirnya ke depan.
Cup!
"Eh!"
"Siapa suruh cium-cium!" pekik Vanish, ketika Better mengecupnya tiba-tiba.
"Maaf, itu permintaan maafku karena udah nyulik kamu kesini," dalih Better.
๐พ Eh eleeehh ... Bilang ae bang kalo ente gemes ame bibir nyang maju-maju. Udeh rindu berat juga 'kaaaann ... hayo ngaku dah!๐๐
"Mana ada permohonan maaf kayak gitu!" Vanish kembali mencebik, tapi ketika Better memajukan wajahnya, ia langsung membekap sendiri mulutnya.
"Pacar jangan nakal! Ini tempat sepi! Nanti ada setan gimana?" Vanish tiba-tiba merengket karena kata-katanya sendiri.
"Kamu gak usah singgung mereka, nanti kalau muncul beneran, gimana ...?" tanya Better dengan gaya bicara seolah menakuti.
"Iiih ... pacar ....!" Ninis jadi merinding nih." Vanish, mendekap tubuhnya sendiri seraya mengusap kedua lengannya. Karena, tiba-tiba udara dingin menyergap mereka.
"Tuh, kayaknya mereka udah dateng. Kamu sih, pake manggil segala barusan," goda Better, semakin membuat Vanish meringis ketakutan.
"Pacaaaarrr ... bisa diem gak sih! Jangan nakut-nakutin Ninis!" pekik Vanish menutupi ketakutannya. Karena, dirinya memang sangat takut cerita hantu.
"Sudah, ada aku di sini. Tidak akan aku biarkan yang lain mengganggumu, termasuk mereka," ucap Better menenangkan, seraya menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Sekarang ikut aku ya, pakai jaket ini biar kamu gak kedinginan." Better membuka jaketnya, lalu mengenakannya pada Vanish. Better pun akhirnya membawa kekasihnya itu melaju dengan kendaraan roda dua yang dikendarainya. Sementara, Vanish mengikuti saja kemana kekasihnya ini akan membawanya pergi. Sepertinya, mereka memang harus bicara dari hati ke hati.
Sampailah mereka di sebuah restoran sederhana. Setelah selesai mengisi perutnya. Better mengajak Vanish ke pinggir danau.
"Nis, apa kau menerima perjodohan itu?" tanya Better setelah beberapa menit keduanya terdiam. Tenggelam dalam samudera pikirannya masing-masing.
__ADS_1
Bersambung>>>>