
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Brakk!
Susi tak sengaja membanting pintu, karena dia benar-benar tengah salah tingkah saat ini. Napasnya bahkan terengah-engah macam habis lari maraton.
Susi membelakangi pintu, lalu menyenderkan punggungnya di sana. Terlihat beberapa kali mengetuk kepalanya.
"Masuk kamar mandi tapi gak bawa baju, gimana coba?" gumamnya, menggerutu sendiri.
"Masa iya, aku minta tolong Ar," Susi memberi remasan pada rambutnya, sambil menghentakkan kaki frustasi.
"Sayang ... jangan terlalu lama, nanti makanannya keburu dingin!" Arjuna berteriak di depan pintu kamar mandi.
"I-iya ... tunggu sebentar!" sahutnya dari dalam, matanya berkeliling mencari yang bisa ia gunakan untuk menutupi tubuhnya.
"Ah, ini saja. Daripada bergelung dalam selimut." Pikirnya, lalu Susi menarik handuk kimono berwarna putih itu.
Arjuna berjalan resah, bolak-balik antara meja makan dan depan pintu kamar mandi.
"Kenapa lama sekali? Apa sih yang wanita lakukan di kamar mandi?" gumam Arjuna. Seperti dejavu, ingin sekali ia mendobrak pintu itu.
Klek.
Pintu terbuka, sontak Arjuna langsung menoleh ke arah suara. Ia bahkan berlari ke arah Susi, dan ...
Grep!
๐-๐ข๐ฑ๐ข? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข? ๐๐ถ๐ฎ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ต ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐๐ณ๐ซ๐ถ๐ฏ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฉ๐ข๐ธ๐ข๐ต๐ช๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ฆ๐ต๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ช๐ฌ.
Susi mencoba melerai pelukan itu tapi tak bisa, Arjuna begitu erat memeluknya.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฅ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ ๐ฉ๐ฐ๐ต๐ฆ๐ญ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐๐ณ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ข๐ช๐ฏ๐บ๐ข.
Arjuna berusaha menenangkan hatinya yang bergemuruh tak karuan, hanya karena Susi berada lama di kamar mandi. Sepertinya, pria itu trauma.
"Ar, maaf. Aku tak bermaksud membuatmu menunggu lama. Ayo kita makan, nanti keburu dingin," bujuk Susi. Agar pria yang telah menjadi suaminya itu, mau untuk melepaskannya.
"Aku, yang minta maaf. Karena sudah berlebihan, membuat semua ini terlihat aneh," ucapnya tak enak hati. Lalu Arjuna menuntun tangan Susi, menarik kursi dan mendudukkan istrinya perlahan.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ต ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช? ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ช๐ด. ๐๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ด๐ช ๐ฃ๐ฐ๐ด ๐ข๐ณ๐ฐ๐จ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ? ๐๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฃ๐ฐ ๐จ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ๐จ.
Susi mengulum senyum, memikirkan kata-kata terakhirnya.
Mereka berdua pun makan dengan tenang, sambil sesekali saling melirik dan kemudian melempar senyum.
๐๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ข. ๐๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช, ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ด๐ต๐ข๐ฎ๐ช๐ฏ๐ข ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ท๐ช๐ต๐ข๐ญ๐ช๐ต๐ข๐ด ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข. ๐๐ฑ๐ข ๐๐ณ๐ซ๐ถ๐ฏ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข? ๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ช๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ข๐ถ?
Susi terlihat mengunyah lalu menelan makanannya kasar. Pikirannya sudah berkelana kemana-mana.
Apalagi ketika ia mengingat apa yang terjadi malam itu.
__ADS_1
๐๐ช๐ฉ, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฌ, ๐ฑ๐ฐ๐ฌ๐ฐ๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐จ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ๐ช. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ข๐จ๐ณ๐ฆ๐ด๐ช๐ง, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐จ๐ฆ๐ต.
"Ar, bagaimana keadaan tanganmu. Apa itu tidak apa-apa?" tanya Susi khawatir, manakala ia teringat akan luka pada lengan suaminya itu.
"Kau tenanglah, tidak perlu khawatir," jawab Arjuna di sela makannya.
"Tidak, kali ini kau harus menurut padaku. Nanti kita akan memeriksamu kerumah sakit," titah Susi dengan nada penuh penegasan.
"Baiklah, My Queen. Sesuai perintahmu, aku akan menurut," jawab Arjuna di sertai senyum tipis.
๐๐ฉ, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต. ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ๐ฌ๐ถ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ช๐ต๐ถ? ๐๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฎ. ๐๐ฑ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ฐ๐ด๐ฏ๐บ๐ข?
Susi meletakkan sendok di piring, membersihkan mulut lalu menenggak air putih hingga tandas. Setiap gerakan yang di lakukannya, tak luput dari perhatian Arjuna.
๐๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ฐ๐ฅ๐ข. ๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐จ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ช๐ฉ.
Arjuna pun, segera menyelesaikan makannya.
"Ar, dimana koper bajuku. Aku mau mandi," tanya Susi sambil matanya berkeliling.
"Kenapa menanyakan baju, tidak usah pakai juga tidak apa-apa," jawab Arjuna sekenanya, tentu saja di sudahi dengan seulas senyum nakal di wajahnya.
๐๐ฑ๐ข? ๐๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ช๐ข ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ฐ๐ฅ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ.
Wajah cantik itu kembali memerah, mendapat kode seperti itu. Pasti makanan seafood tadi sudah bereaksi pikirnya.
"Ar, jangan bercanda. Mana mungkin seperti itu." Susi memalingkan wajahnya, ia tak sanggup melihat wajah rupawan itu tersenyum genit padanya.
"Dasar genit, mesum." gumamnya pelan, tapi masih bisa didengar oleh Arjuna.
"Setelah melihat tubuh polosmu, aku jadi lebih suka melihatmu tanpa baju," bisik Arjuna yang tiba-tiba sudah berada di samping Susi.
Sepasang mata indah Susi membola, entah efek makanan tadi atau apa. Kini, sekujur tubuhnya meremang dan memanas.
Arjuna sedikit menyibak rambut pendek Susi, memberi akses pada bibirnya untuk menjelajahi leher putih jenjang itu.
Hingga, lenguhan merdu itu kembali lolos dari bibir sensual Susi.
๐๐ช๐ฃ๐ช๐ณ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ ... ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ..
Mendapat respon baik dari Susi, Arjuna pun meneruskan aksinya. Perlahan ia menurunkan handuk kimono istrinya. Menarik tali yang mengikat pinggang, hingga kimono itu luruh sebatas pinggul.
Satu tangannya menjulur ke depan, sampai pada satu benda bulat kenyal yang menantang.
Arjuna mengelus ujungnya perlahan, membuat Susi mengerang geli sekaligus nikmat.
๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ต๐ข๐ถ, ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ฏ๐บ๐ข.
Susi malah menyenderkan kepalanya di bahu lebar Arjuna. Menikmati sentuhan jemari pria itu, lewat belakang tubuhnya.
๐๐ฆ๐ณ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ด๐ฆ๐ข๐ณ๐ค๐ช๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ช๐ฏ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ฆ๐ต. ๐๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ, ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ.
__ADS_1
Arjuna pun semakin gencar menyerang setiap titik sensitif istrinya. Ia pun mulai menurunkan ciumannya pada pundak yang terekspos itu.
Kini kedua tangannya telah sibuk memberi remasan pada benda bulat kembar, sedangkan tangan Susi ikut memberi remasan pada paha terbuka Arjuna.
๐๐ฉ๐ฉ ... ๐๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช! ๐๐ข๐ฑ๐ช ... ๐ข๐ฉ๐ฉ ... ๐๐ณ ...
"Hentikan Ar, aku belum mandi. Badanku lengket semua, eh!" Seketika tubuh Susi di balik oleh Arjuna, pria itu pun menaikkan kaki Susi ke pinggangnya.
Jadilah kini posisi mereka berhadapan, dengan bagian depan Susi yang terekspos sempurna.
"Mandinya nanti saja, sekarang aku ... mau ini," ucap Arjuna serak dengan pandangan yang berkabut.
"Ma-mau apa," tanya Susi berlagak polos, padahal ia tau dengan pasti apa yang sedang diinginkan Arjuna saat ini. Sama seperti dirinya, yang sudah terbawa suasana. Hingga sesuatu di bawah sana berkedut dan basah.
" Aku mau menyusu biar cepat besar,"
"Apanya yang besar, kau kan ...ahh!"
Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Arjuna telah lebih dulu menenggelamkan wajahnya di dada yang empuk itu.
Pria itu benar-benar macam bayi yang kehausan, berpindah dari kiri ke kanan.
Tubuh Susi melenting kebelakang, serta kedua tangannya mengalung di leher Arjuna.
Suaminya itu menyangga pinggangnya dengan kedua tangan. Sementara mulut dan kawan-kawannya bermain di area yang telah menjadi favoritnya.
Tanpa di sadari oleh keduanya, kini raga mereka telah menyatu dengan sempurna.
"Kenapa masih begitu sempit, sayang ...," lirih Arjuna dengan suara seraknya. Kini ia tengah memompa dengan perlahan, karena Susi masih saja memekik ketika ia menghujam miss veronica dengan pedang naga puspa-nya.
"Itu ... karena milikmu, sangat besar Ar," sahut Susi sambil merasakan sensasi sedikit nyeri tapi juga nikmat.
Hingga, Arjuna tak mampu lagi mengontrol geloranya, hingga ia memacu dengan cepat membuat Susi melayang ke nirwana.
Lagi-lagi, ia mencapai finish lebih dulu. Arjuna menjeda permainannya sebentar, memberi ruang untuk Susi mengambil napas terlebih dulu.
Pria itu tersenyum seraya mengusap keringat yang membasahi kening Susi. Mengurai anak rambut yang menggumpal dan basah.
"Lanjut ya sayang ...," izin Arjuna, dan Susi mengangguk setelahnya. Lalu Susi ikut bergoyang perlahan, hingga peluh dari keduanya bercampur-baur menjadi satu.
Pagi buta itu, pasangan pengantin baru ini kembali memanaskan kamar pengantin itu. Meski ๐๐ช๐ณ ๐๐ฐ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ณ telah di setting full dinginnya, tetap saja raga kedua bermandikan peluh seiring gelora mereka yang menggebu.
Setelah cukup lama memompa dan berpacu, hingga tempat tidur mewah itu berderit. Tak lama kemudian Arjuna melengking, bak manusia serigala yang melihat bulan purnama.
Tubuh perkasa itu pun ambruk setelahnya, menyisakan napas memburu dari keduanya.
...Puas ya ... Cukup segini aja....
...Udah mak kasih panjaaaangg bet nih part nya ......
...๐๐...
__ADS_1
... Jangan lupa hadiah dan vote nya ya gais ...๐ค...
Bersambung>>>