
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Yang benar saja. Anak itu sudah mencuri start dari ku!" dengus Joy, setelah menerima telepon dari Arjuna. Hatinya mendadak menjadi kesal sendiri.
"Kenapa semudah itu baginya, mengikat hubungan dengan seorang wanita. Haihh ... si pendek itu ternyata hebat juga." Gumam, Joy.
"Kau ini kenapa?" tanya Milna heran. Melihat wajah tampan tapi menyebalkan itu tiba-tiba kusut.
"Bos baru saja, menelpon ku. Kau tau? Jika sahabatmu itu akan menikah. Mungkin sudah, karena katanya siang ini." Joy berkata, pada Milna. Melirik sekilas gadis itu, lalu kembali menatap laptopnya.
" Vanish! Kenapa mendadak sekali. Ah, anak itu!" Milna memekik gemas. Pasalnya, ia telah berjanji akan menjadi pendamping pengantin wanita bagi sahabatnya itu. Bahkan, Vanish pun tak ada mengabarinya.
๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข, ๐๐ช๐ด? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ข๐ฑ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ? ๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฃ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช? ๐๐ฉ, ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ...
Milna terlihat gelisah dengan spekulasi dalam pikirannya sendiri. Ia sangat faham bagaimana perasaan sahabatnya itu saat ini. Menikah dengan orang yang tidak kita sukai, akan menjadi sebuah tekanan dalam hati. Jangankan untuk menjalin hubungan selamanya, bekerja sebulan dengan orang yang tidak kita suka saja, sudah merupakan siksaan batin.
Ia lantas melirik sekilas, ke arah Joy yang serius dengan pekerjaannya.
๐๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ฏ, ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐ซ๐ช๐ฏ๐ข๐ฌ. ๐๐ช๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ฐ ๐จ๐ข๐ฌ ๐จ๐ช๐จ๐ช๐ต ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ๐ข๐ณ. ๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐จ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฅ๐ช๐ข ๐ข๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ฆ ๐ด๐ฐ๐ณ๐ฆ.
Milna tersenyum tipis, kemudian kembali ke meja kerjanya yang berhadapan dengan Joy. Mereka kini telah berada di gedung perusahaan milik Franklin.
______
Kembali pada pasangan pengantin baru, kuy ...
"Kenapa, Kakak gak nginep aja di sini. Nanti, tidurnya bareng Ninis," tawar Vanish, yang mana hal itu malah membuat Susi tergelak.
"Gimana ceritanya, malam pengantinnya tidur sama Kakak? Ya sama suamimu lah!" cetus Susi. Ia menggeleng heran. Sahabatnya ini sangat lucu.
" Aku takut, Kak," lirih Vanish pelan.
"Apa yang kau takutkan? Seharusnya kau bahagia malam ini. Bisa tidur berdua sama pacar ganteng. Tuh, liat deh. Ganteng banget 'kan? Emang kamu gak penasaran, gimana bentuk tubuhnya?" goda Susi. Wanita hamil ini memang iseng.
"Em, penasaran sih, Kak. Di peluk aja enak banget, nyaman," ujar Vanish polos. Membuat Susi kembali terkekeh.
"Bayangin itu aja, kalian bakal semaleman tidur sambil berpelukan. Lagian, Kakak cuma bercanda kok. Pecah perawan tidak seseram itu, tenang saja." Susi berbisik pada Vanish membuat gadis itu menoleh kaget.
"Kakak, serius kali ini? Beneran gak sakit?" tanyanya polos, membuat Susi semakin gemas saja. Tapi, dia juga tidak segitu tega untuk mengerjai sahabatnya itu terus-terusan.
"Sakit sih, tapi sebentar. Jika kau menikmatinya, dan tenang, maka rasa sakit itu akan berganti dengan nikmat." Susi menjelaskan dengan benar kali ini. Sebelum sahabatnya ini, benar-benar merengek untuk mengajaknya menginap.
__ADS_1
"Tapi, tetap saja sakit 'kan Kak?" Vanish masih saja ketakutan.
" Ih, sebentar aja kok. Nanti juga kamu bakal nagih deh! Apalagi, suamimu tampan dan perkasa. Nanti juga kamu bakalan minta terus." Susi sambil mengelus perutnya, yang sesekali terasa keram jika ia terlalu lama duduk.
"Ehmm, itu mah Kakak kali!" seru Vanish.
"Kencang ya, Kak. Apa mau istirahat dulu di kamarnya Kiss?" tanya Vanish, yang tak tega melihat Susi seperti tak nyaman. Ia pun ikut mengusap perut yang sudah nampak sangat besar itu.
"Biasa, kok. Kalo jauh dari daddy-nya juga begini. Maunya itu, dielus-elus terus." Susi tersenyum ke arah Arjuna, dimana pria tampan nan gagah itu tengah menghampirinya.
"Kamu lelah, hemm?" tanya Arjuna lembut, terlihat penuh perhatian. Ia langsung meletakkan telapak tangannya di atas perut Susi.
"Hei, anak daddy. Jangan membuat mommy-mu tak nyaman. Tenanglah, daddy sudah ada di sampingmu sekarang." Arjuna mengusap perut sembari bicara dengan calon bayi mereka. Ia bahkan mendekatkan wajahnya ke depan perut dan sesekali mengecupnya.
Tingkah laku Arjuna itu, tak luput dari perhatian Vanish dan juga Better. Perlakuannya yang begitu hangat dan perhatian, membuat mata beberapa tamu berbinar kagum, bahkan iri dengan rasa cinta yang di tunjukkan olehnya.
๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ซ๐ข๐ณ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ, ๐๐ถ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช. ๐๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ซ๐ข ๐๐บ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ถ๐ด๐ช. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช. ๐๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ข๐ถ๐ต ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฌ๐ข, ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ถ๐ซ๐ถ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.
Better, tiba-tiba menarik pinggang Vanish dan mengecup keningnya sekilas. Melihat kemesraan yang di tunjukkan oleh, tuannya itu. Membuatnya ingin segera mengajak Vanish ke dalam kamar saja.
๐พaeh, Abang udah gak tahan ye bang ...๐คญ
Mendapat perlakuan mendadak seperti itu, membuat Vanish ngeblush seketika.
"Apa. Masa kita mau ninggalin Kak Susi? Gak enak nanti," sahut Vanish dengan berbisik juga.
" Mereka juga udah lupa sama orang sekitar, lihat aja tuh. Kita di kacangin 'kan," bisik Better lagi, berusaha terus membujuk Vanish.
"Nanti, kalau di cariin gimana?"
"Ini, sudah sore. Para tamu sudah datang semua. Sebentar saja, aku gerah." Better terus mencari alasan, dirinya benar-benar gerah. Ya, gerah karena melihat kemesraan dari kedua majikannya itu. Dimana mereka berdua, seenaknya saja menebar keromantisan tak tau tempat.
๐พ๐คฃngiri aja bang. Dah sono kekepin istrinya. Seret aja klo gak mau juga.๐คฃ
"Mana gerah, tuh blower nya aja segede gitu." tunjuk Vanish pada kipas angin yang mengeluarkan percikan air dingin.
"Udah, ayuk. Aku juga mau mesra-mesraan sama kamu," bisik Better di telinga Vanish, yang mana membuat gadis itu tersenyum dan juga merinding.
Vanish pun menurut kali ini, hingga Better membawanya masuk kedalam kamar. Pria itu, terlihat sekali jika sudah tak tahan.
Ketika pintu di buka ...
__ADS_1
"Eh, copot!" Kelly, yang sedang duduk di atas kasur terlonjak kaget. Begitupun dengan Better. Sementara Vanish, dia hanya menahan tawanya. Mereka tak tau saja, ada sosok yang berada di belakang daun pintu tengah menahan geramnya.
" Maโmaaf, saya kira ini, kamarnya Vanish." Better menunduk malu, lalu dengan cepat ia menutup kembali pintu itu, lalu menoleh kearah Vanish.
"Udah ketawanya, sekarang kasih tau aku, yang mana kamar kamu?" gemas Better. Karena ingin buru-buru ia jadi lupa menanyakan yang mana kamarnya.
"Makanya, jangan main tarik aja. Jangan-jangan, tadi lagi ada ayah juga tuh di dalem." Vanish pun membekap mulutnya lagi menahan tawanya. Membayangkan bagaimana kesalnya sang ayah jika tadi memang ada di dalam bersama emak.
"Yang, benar saja. Ngapain mereka di kamar berduaan?" protes Better polos.
"Ya mungkin, seperti apa yang suami rencanakan sama aku. Itu juga yang sedang di lakukan sama ayah dan emak." Vanish berkata spontan dan asal. Tanpa menyadari bahwa wajah pria yang sekarang berstatus suaminya itu, kini bagai kepiting rebus. Sungguh memalukan, jika benar tadi juga ada ayah di dalam.
"Yuk, kamar Ninis yang itu." Vanish menunjuk sebuah pintu di seberang.
Brakk!
Better langsung menutup pintu rapat-rapat setelah mereka masuk ke dalam kamar. Supaya ...
๐พSupaya apa bang?๐
Aman dari gangguan kah? ๐
"Pelan-pelan, ih. Nanti pintu nya rusak gimana," gemas Vanish.
"He, maaf. Kelepasan." Better tersenyum kikuk. Kenapa dia jadi grogi begini, pikirnya.
"Oh, iya. Tadi, kamu manggil aku apa?" tanya Better, yang baru menyadari perubahan panggilan terhadap dirinya.
"Suami ...," jawab Vanish, menunduk malu. Melihat tatapan Better yang tak biasa padanya.
๐พBisa malu juga, Nis. ๐
"Aku suka, dengan panggilan yang kamu kasih ke aku. Meskipun terdengar cukup aneh." Better terus mengikis jarak antara mereka berdua.
"Em, emang kamu mau di panggil apa? Sayang? Hubby? Honey Bunny Sweety, gitu?" ledek Vanish, dengan matanya yang kerjap-kerjapkan lucu. Membuat Better semakin gemas saja.
"Terserah kamu, aku suka apapun panggilannya." Better telah meraih pinggang itu, membuat jarak mereka semakin tipis. Kini, kedua mata mereka saling menatap dalam. Better, tengah mengagumi wajah cantik seperti barbie di hadapannya ini. Bentuk wajah tirus, dengan hidung mancung yang mungil. Kedua mata dengan kelopaknya yang besar, serta bulu mata lentik yang bergerak naik turun menggemaskan. Juga, bibirnya dengan warna stroberi mengkilap yang menggoda. Lelaki mana, yang akan tahan melihat ciptaan yang sempurna ini.
Kalo readers, tahan kan ... buat nungguin aksi penjebolan dari Better, di bab berikutnya.๐
Siapin nama dong buat panggilan tayang dari Ninis ke suami gantengnya. ๐คญ
__ADS_1
Bersambung>>>