Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 289. ABPR.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


PRANKK


"Nyonya!" teriak kaget seorang maid kala melihat majikannya itu menjatuhkan botol kaca.


"Ya Tuhan! Bagaimana bisa tergelincir dari tanganku?" heran Susi. Menatap lantai di mana air susu yang baru di perahnya berceceran di lantai.


"Nyonya, anda tidak apa-apa kan?" tanya maid yang berusia tak lagi muda itu khawatir.


"Tidak, Bi. Aku tidak apa-apa. Hanya terpeleset saja dari genggamanku," ucap Susi menampik segala kekhawatiran bahkan yang berasal dari benaknya sendiri.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ-๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ณ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช. ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฌ. ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ถ๐˜ญ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ณ. batin Susi.


Ia mencoba menguasai perasaannya yang seketika berkecamuk. Dadanya sesak dan nyeri tiba-tiba. Susi menggelengkan kepala serta memukulnya, agar bayangan serta pikiran buruk itu pergi dari angannya.


"Nyonya istirahatlah dulu. Nanti setelah makan siang baru pompa asi lagi," saran dari maid tersebut yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala oleh Susi.


"Aku akan menelepon Vanish . Semoga keadaan Joy baik-baik saja." Gumam Susi, seraya mengeluarkan ponselnya dari laci nakas lalu mulailah ia menggeser tombol hijau. Hingga nada dering ponsel terdengar tanda bahwa panggilannya terhubung.


"Halo Nis. kamu masih berada di rumah sakit kan?" tanya Susi di balik ponselnya.

__ADS_1


" Iya Kak, Ninis masih berada di rumah sakit. sedang menunggu Milna yang menemui Joy di dalam kamar perawatannya," jelas Vanish.


" Lalu bagaimana keadaannya saat ini?" tanya Susi lagi.


"Operasinya telah selesai Kak dan berjalan dengan lancar. Akan tetapi Pak Joy masih dalam tahap observasi dari tim medis. Karena itu ia ditempatkan di ruang ICU," terang Vanish lagi.


" Oh syukurlah kalau begitu. Ya sudah kau jangan lupa jaga kesehatanmu. Jangan terlalu lelah. Sebentar lagi Mami dan adiknya Joy akan tiba. Setelah mereka datang kau bisa pulang," pesan Susi pada sahabatnya itu.


" Baik kak, Terima kasih karena telah mengkhawatirkan keadaanku. Saat ini aku hanya sedang memikirkan sugan-ku Kak. Dia belum lama pergi akan tetapi aku sudah merindukannya dan ingin ia segera kembali," curhat Vanish membuat Susi kembali teringat kepada suaminya Arjuna.


"Kau tenanglah, mereka baik-baik saja dan akan segera kembali untuk kita. Jika kau kesepian, kau boleh datang ke Mansion dan bermain dengan baby S," ucap Susi menenangkan. Meskipun sebenarnya perasaannya juga sedang dilanda kerisauan.


" Ah, benarkah Kak. Boleh ya jika nanti aku ke sana mengajak Emak dan juga Kiss?" tanya Vanish dengan memekik senang. Betapa ia rindu dengan bayi gembul itu.


Sementara itu di waktu yang sama di dalam ruangan ICU sebuah rumah sakit terbesar di kota. Milna meraba raga pria yang selama ini selalu saja membuatnya naik darah. Kini bibir yang selalu memancing emosinya bungkam. Tertutup sebuah alat yang membantunya untuk bernapas. Sepasang mata tajam yang mampu membuat nyalinya ciut kini hanya dapat terpejam rapat.


Tak ada lagi kini, kelakuan suami hangat yang menjadi candunya di tengah malam. Sosok gagah yang belakangan ini rela dijadikan guling hidup olehnya. Joy hanya bisa terkapar tak berdaya. Ksatria-nya kini dalam keadaan lemah dan tanpa daya.


" Aku yakin Joy, kau tidaklah selemah itu. Sebentar lagi kau pasti akan bangun dan langsung menggodaku. Pada saat itu terjadi, aku berjanji tidak akan memarahi mu dan juga berkata ketus padamu. Aku akan menampilkan perasaanku yang sesungguhnya. Di mana kala kau menggodaku di dalam sini ada kupu-kupu yang menggelitik." Milna berkata dengan suara parau sambil menunjuk ke arah dadanya.


Setelah itu sebelah tangannya terulur menyentuh perban yang membungkus tulang belikat Joy. Tak terasa buliran kristal bening itu kembali luruh membasahi kedua pipi Milna. Dirinya tak tahan untuk menahan rasa sesak yang membuncah di dalam dadanya. saat ini, akhirnya Milna pun menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


" Kenapa kamu mengorbankan dirimu Joy? Demi aku yang selalu mengabaikan dirimu. Meski kau telah sungguh-sungguh menunjukkan perubahan sikapmu. Namun diriku tak sedikitpun menanggapi niat baikmu itu. Semua yang kau lakukan kuanggap adalah kewajiban mu." Milna semakin terisak, ia mengungkapkan semua rasa bersalah yang ia tahan sejak beberapa hari yang lalu.


"Joy, maafkan aku. Kejadian malam itu bukanlah sepenuhnya kesalahanmu. Kau hanya berniat membantuku. Tidak seharusnya aku menumpahkan kebencian ku terhadap orang itu kepadamu. Tidak seharusnya aku membenci pria yang sebenarnya aku sukai sejak lama. Bukan salahmu sepenuhnya karena selalu mengatai aku jelek. Salahku sendiri yang pada saat itu sengaja menyembunyikan profilku yang sesungguhnya." Milna kini telah merebahkan kepalanya di atas telapak tangan Joy. Kedua kali dalam hidupnya Milna menangis tersedu. Pertama ketika sang Bunda pergi membawa kedua adik kembarnya ke alam baka untuk selama-lamanya.


Yang kedua adalah pada saat ini, kala ia berusaha menepis cintanya. Membohongi dirinya sendiri. Kala ia mulai menyadari bahwa rasa cintanya tak bisa terkubur oleh benci yang ia buat sendiri. Justru rasa cinta itu semakin besar dan tumbuh subur setiap hari. Hanya demi menjaga hatinya agar tidak pupus harapan, Milna memilih untuk menyiksa batinnya.


Milna terkesiap seketika, ketika ia merasakan sebuah sentuhan yang mendarat di atas kepalanya. Gerakan perlahan dari sebuah tangan yang membelai rambutnya lembut.


Milna meraih tangan dingin itu, kemudian ia menoleh. Dalam sekejap sebuah senyuman lebar tercetak di wajahnya. Ia benar-benar dapat bernafas lega saat ini, ketika mendapati sepasang mata dengan iris berwarna kecoklatan itu terbuka dan menatapnya dengan hangat.


"Joy," panggil Milna lirih. Tangannya terulur untuk mengusap pipi yang terikat oleh selang oksigen. Joy hanya bisa menatap wajah sendu Milna. Ia masih berusaha keras untuk sekedar menyapa.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต. ๐˜”๐˜ช๐˜ญ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜”๐˜ช๐˜ญ๐˜ฏ๐˜ข-๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ! ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ด. batin Joy yang masih bingung.


Milna kembali meneteskan air matanya. Ia menekan tombol yang terdapat pada dinding. karena tombol itu berguna untuk memanggil para tim medis di saat keadaan darurat. Milna kembali tak tahan dan tak tega ketika melihat Joy seakan sulit untuk sekedar bernafas. Ia tahu jika suaminya itu tengah berusaha mati-matian untuk sekedar memanggil namanya.


Tak lama kemudian dokter dan beberapa perawat kembali masuk ke dalam ruangan ICU tersebut. Milna segera menyingkir menjauh, memberi ruang pada tim medis untuk melakukan tindakan segera. Milna hanya bisa membekap mulutnya demi menahan Isak tangisnya agar tidak keluar. Hatinya benar-benar perih tatkala melihat keadaan Joy yang selama ini begitu nampak kuat di matanya, kini dengan keadaan yang begitu lemah tak berdaya. Menahan rasa kesakitan Itu demi dirinya dan juga kedua calon buah hati mereka.


๐˜‘๐˜ฐ๐˜บ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜‘๐˜ฐ๐˜บ. ๐˜Š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜‘๐˜ฐ๐˜บ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜’๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ! Milna memeluk dirinya sendiri, ia berharap masih ada waktu untuk mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya. Dirinya juga berharap dapat menjawab dan memberikan apa yang selama ini Joy tunggu darinya.


๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜๐˜ป๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜‘๐˜ฐ๐˜บ!

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2