
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Ar, ini sangat luar biasa!" Susi membekap mulutnya, sepasang mata indahnya masih mengedar ke sekeliling rumah besarnya itu. Rumah yang terdiri dari beberapa lantai yang lumayan luas.
Rumah yang di desain dengan mewah, serta fasilitasnya yang menggunakan tekhnologi canggih. Bahkan, perabot di dalamnya merupakan hasil design dan ciptaan perusahaan ARSA.
Serta, beberapa tekhnologi kecerdasan buatan yang di kirim langsung dari negara ninja hatori itu. Karenanya, ๐ข๐๐๐ yang bekerja di rumah itu haruslah orang-orang yang terlatih.
Setelah, puas melihat-lihat bagian interior didalam rumah. Mereka pun memutari sisi rumah tersebut. Hari ini, memang hanya akan di isi dengan tour rumah pribadi.
Bangunan modern tersebut, juga memiliki pekarangan di depan, pada kedua sisinya dan juga belakang. Dimana, terdapat hamparan rumput gajah mini yang halus serta luas. Sedangkan halaman depan terdapat beberapa pepohonan buah yang rindang karena pencangkokan.
Sementara halaman samping kiri-kanan rumah, adalah tanaman hias serta bunga. Arjuna telah merenovasinya sedikit, karena ia ingin menyesuaikan dengan apa yang di sukai oleh istrinya itu.
"Ar, bagaimana, kau bisa tau keinginanku? padahal, aku tidak pernah mengatakannya padamu," heran Susi. Ia bertanya pada Arjuna, sembari bergelayut pada lengannya.
"Aku memperhatikanmu." Arjuna menatap Susi yang bersandar pada sisi tubuhnya.
"Memperhatikan apa? memangnya, aku pernah melakukan apa?" tanya Susi, masih bingung bagaimana Arjuna tau keinginannya. Bahkan, ia berani untuk memimpikannya sekalipun.
"Kau suka memesan tanaman pada kurir aplikasi online, bukan? aku melihat tanaman indah itu di balkon, dan samping gym. Kau membuatnya seolah taman kecil, memenuhinya dengan tanaman hias dan bunga yang di tanam bersusun dalam pot warna-warni. Bahkan, ada beberapa tanaman rambat yang menggantung di ruang tengah, dapur juga kamar mandi," tutur Arjuna, tanpa sekalipun bergeser dari wajah cantik istrinya.
"Ah, ya ... itu, hanya mengisi waktu luang ku di rumah. Sejak dulu, aku memang sangat suka menanam," ucap Susi malu, seraya menampilkan senyum manisnya.
" Tapi ...," Susi menundukkan wajahnya dengan jemari yang saling ditautkan. Ia sama sekali tidak ingat lagi, akhir-akhir ini hanya terbersit bayangan dimana ia dan mendiang sang bunda tengah menanam bersama.
"Tapi apa? katakan saja, sayang. Aku pasti akan mengabulkan permintaanmu. Karena, keinginanmu adalah perintah bagiku, kanjeng ratu." Arjuna menunduk hormat ala bangsawan. Membuat Susi, tertawa renyah hingga menampilkan deretan giginya. Wanita itu, berusaha menyimpan sendiri kesedihannya. Dimana, dirinya tengah merindukan sang bunda saat ini.
"Sudah, hentikan gayamu itu!" Susi, menepuk bahu Arjuna, ketika suaminya itu tak sudah-sudah menciumi punggung tangannya. Bahkan, telapak tangannya itu sampai di bolak-balik.
"Iya aku, berhenti. Sekarang katakan apa mau mu?" tanya Arjuna serius.
"Saat ini, aku ingin sekali membelah pohon itu dengan ๐ ๐๐ฉ๐๐ฃ๐. Aku ingin kembali mengayunkan benda keren itu." Susi menunjuk ke arah pohon berukuran sedang yang sudah hampir mati. "Seperti ini." Dengan gerakan tangan seolah ia tengah menari dengan senjata tajam berbentuk panjang itu. Permintaannya, sontak membuat Arjuna melotot kaget. Belum lagi, dua orang yang berada tak jauh dari mereka.
๐๐ฑ๐ข! ๐๐บ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ข๐ฑ๐ข?!
"๐๐บ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐ข! ๐๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข, ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ค๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ, ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.
Joy, dan Milna hanya dapat berkomentar dalam hati. Keduanya, kini saling menatap heran. Setelah ingat perang dingin mereka, keduanya pun kembali pada posisinya semula. Saling membuang wajah satu sama lain.
๐พWah! Jadi, dari tadi Milna sama Joy, nonton adegan mesra sang majikan๐๐.
__ADS_1
Jahat banget ya, tuan kalian. Selamat udah jadi nyamuk!๐๐
Siap-siap, dapet tugas dari bumil.๐
"Kenapa, kau ingin menebang pohonnya? lagipula, senjataku baru akan dikirim besok," ucap Arjuna setengah meringis. Sepertinya, masa mengidam istrinya kambuh lagi. Selain bertarung dan menghajar orang, Susi juga terkadang olah jurus dengan beberapa senjata miliknya.
"Lalu, bagaimana? di ambil sekarang pun, pasti akan lama sampainya," keluh Susi. Ia memegang dahi sambil berpikir, lalu berjalan pelan menyusuri halaman yang luas itu.
"Ahaa!" pekiknya girang, ketika pandangan matanya menangkap suatu benda yang bisa menggantikan benda yang di inginkannya.
"Tak ada ๐ ๐๐ฉ๐๐ฃ๐, bambu pun jadilah!" Susi meraih bambu yang lumayan panjang itu. Entah, bagaimana ia bisa menemukannya. Padahal, letaknya lumayan tersembunyi diantara tumpukan kayu lainnya.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ช๐ด๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฏ. ๐๐ช๐ข๐ญ! ๐๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ด!
Arjuna mengumpat dalam batinnya.
"Joy, panggil Panco. Suruh ia bersihkan sampah-sampah ini!" titah Arjuna, nampak kesal.
Setelah menjawab, asisten itu segera memanggil Panco, lewat alat komunikasinya.
"Kau! Ke halaman belakang, sekarang!" teriak Joy. Pada pria kekar itu.
"Untuk melakukan ini!" Susi, lalu menggerakkan kedua tangannya, lantas ia memutar bambu kecil itu. Kemudian, mengarahkannya dengan cepat ke depan wajah Arjuna. Membuat pria itu terkesiap kaget. Bagaimana, seandainya bambu itu meleset, akan jadi apa bentuk hidungnya.
Perkedel mungkin?
Atau rujak cingur?
"Sayang, hati-hati!" Arjuna mengusap pelan dadanya, menetralisir degup jantungnya.
Sementara, Susi hanya tertawa melihat ekspresi suaminya itu. Ia pun kembali, menggerakkan bambu itu, dengan jurus-jurus yang nyata, bukan hasil karangan semata.
Sekali lagi, Susi melayangkan benda itu, ke segala arah. Laksana menebas, lalu menyerang dengan sekuat tenaga. hingga benda itu menghujam tanah, setelah sebelumnya sempat memutar di udara
Gerakan yang benar-benar indah, hingga mata ketiga orang yang menyaksikan pertunjukan, hampir melompat keluar dari cangkangnya.
"Sejak kapan, Nyonya pandai beladiri?" gumam Joy, seraya tak mengedipkan matanya. Di mana di hadapannya kini, seorang wanita hamil tengah mengeluarkan jurus ๐ฉ๐ค๐ฎ๐, bak pendekar ๐จ๐๐๐ค๐ก๐๐ฃ.
Susi, sama sekali tidak terganggu dengan keadaannya yang tengah berbadan dua, bahkan perutnya mulai terlihat membuncit di balik dress-nya itu. Untung saja, ia mengenakan celana panjang yang longgar di pinggang.
"Nyonya! Darimana anda mempelajari jurus itu? Kenapa bagus lihai dan lincah sekali?" Milna, meringis. Ia memang melihat perbedaan dari gestur Susi yang berbeda, dengan pertemuan mereka kala itu. Pembawaan yang lebih tenang serta ๐ข๐๐ฉ๐ช๐ง๐. Membuat auranya begitu berbeda. "Apakah, pengaruh hormon bisa sampai seperti ini? membuat Nyonya, pandai beladiri dengan cepat?"
__ADS_1
Sontak, gumaman Milna membuat dua pria itu menoleh padanya. Mereka bertiga sama bingungnya. Tak lama kemudian, Panco muncul.
" Ebuseh! Nyonya jago amat!" teriak pria berotot dengan brewok itu. Hingga, teriakannya sampai ke telinga Susi.
" Na! Kemarilah!" panggil Susi. Meski sempat kaget, gadis tomboi itu pun melangkah maju.
"Ya, Nyonya," sahutnya, ketika dirinya telah berhadapan dengan Susi.
"Jangan panggil begitu, aku merasa aneh," pintanya.
"Taโtapi, Nyonya, eh." Milna jadi kikuk.
"Kau bisa panggil aku, Kakak. Sama seperti Vanish dan Rapika memanggilku," jelas Susi dengan senyumnya. Lalu ia membungkuk, kemudian menyodorkan batang bambu lain ke arah Milna.
"Iโini, apa? Nyoโ eh, Kak?" heran, Milna.
"Lawan aku!" titah Susi. Membuat wanita di hadapannya melongo, dengan mata dan bibir yang bulat membola.
"Yaโ yang benar saja?" gagapnya. Bingung. Ia pun menoleh, ke arah Arjuna. Meminta pertolongan, bukan persetujuan. Mana mungkin, ia melawan wanita hamil? pikirnya.
"Sayang ...."
"Stop! Jangan maju atau mendekat!"
"Ini adalah urusanku dengan Milna." Susi mengulurkan ujung batang bambunya. Menahan agar Arjuna tidak mendekat padanya.
"Iya, aku takut kau lelah. Sudah ya, kita istirahat saja di dalam, bagaimana?" saran Arjuna, ia mencoba melakukan penawaran terhadap istrinya,
" Bukankah, ia pengawal ku? Aku hanya ingin bermain dengannya sebentar. Kau saja yang masuk, dan beristirahat. Aku tidak lelah, justru sangat bersemangat." Susi berkata, sembari memutar batang bambu tersebut. Ke atas, samping serta belakang tubuhnya. Siapapun, akan bingung. Dari mana ia memperoleh keahlian dadakan itu.
"Sayang ...," bujuk Arjuna, tapi ia tak berani maju selangkah pun.
"Ah, ya ... baiklah!" Arjuna akhirnya menampilkan senyum terpaksa, ketika ia melihat tatapan tajam dari istrinya itu.
" Lakukan sesukamu, aku akan menunggu di sini." Arjuna meringis, tak bisa menahan setiap keinginan Susi. Atau, ia harus siap tidur di luar kamar hingga enam bulan ke depan.
"Na! Serang aku!"
"Baiklah! Kalah jangan nangis!"
Bersambung>>>
__ADS_1