Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
The Wedding Day Jo–Na.


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Setelah mengunjungi Vanish kala itu, Milna dan Joy kini harus pasrah di pajang berdua di sebuah panggung yang megah. Terletak di pinggir danau indah yang di hias sedemikian rupa oleh jasa π™¬π™šπ™™π™™π™žπ™£π™œ π™€π™§π™œπ™–π™£π™žπ™―π™šπ™§ ternama dalam negeri.


Setelah sebelumnya mereka mengikat janji dan berikrar satu sama lain. Untuk menerima lahir dan batin serta apa adanya hingga sepanjang usia. Tetap setia dalam suka maupun duka, melangkah bersama serta bahu membahu dalam membangun bahtera rumah tangga.


Milna menjilati bibirnya, masih terasa kala Joy menciumnya tadi. Ia merasa begitu bodoh saat ini. Bagaimana bisa kejadian barusan terbayang terus di pikirannya.


"Ish!" umpat Milna pelan, tentu saja di tujukan untuk dirinya sendiri. Seandainya ia membawa lip balm, sudah di tambal itu bibir yang bekas di cium Joy tadi.


"Indah sekali ya, ternyata Nyonya sangat artistik. Ada baiknya juga Better dan Vanish tidak bisa bersama kita saat ini. sehingga pernikahan kita menjadi lebih private. kau setuju kan sayang denganku?" tanya Joy sambil memandang wajah istrinya di mana wajah Milna kala itu terlihat bersama merah.


' Apa-apaan dia memanggilku dengan sebutan itu. Kenapa juga hati ini malah jadi jedak-jeduk seperti ini? kau jangan lemah Milna! Kau tidak boleh semudah itu meleleh.' Milna menggerutu di dalam batin. Iya berupaya menyingkirkan perasaan aneh di dalam hatinya.


Acara yang disusun oleh MC sudah selesai Kini tinggal acara bebas untuk kedua mempelai. Momen pelemparan bunga juga sudah terlaksana. Di ikuti beberapa teman dari kedua mempelai.


Mami Lovely mendatangi Joy dan Milna. Wanita paruh baya itu memegang tangan kedua anaknya, Iya menggenggam hangat Kedua telapak tangan itu saya tersenyum memandangi wajah anak dan menantunya itu.


"Akhirnya Joy, Mami bisa merasakan kebahagiaan seperti seorang ibu, di mana saat ini Mami melihat kalian berada di momen terpenting seumur hidup. Mami masih merasa ini seperti mimpi, Mami tidak menyangka jika akhirnya dapat melihatmu berjalan menggandeng istrimu dari atas altar lalu membawanya ke atas pelaminan. Terima kasih Joy, terima kasih telah memberikan kebahagiaan ini untuk mami. hati Mami sudah tenang sekarang, lega rasanya ketika Putraku dapat menjalani hidup dengan seharusnya." Lovely tidak dapat menyembunyikan perasaannya, air mata kebahagiaan itu luruh begitu saja membasahi kedua pipinya, hingga menetes melewati dagu lancipnya.


Lia yang berdiri di belakang lovely ternyata sudah sesenggukan sedari tadi, Gadis remaja itu ikut terharu melihat pemandangan di depan matanya saat ini. Lia pun beringsut ke depan dengan menunduk malu. Gadis itu ingin mengucapkan selamat pada kedua Kakaknya. terlihat Lia menyodorkan sesuatu ke dalam genggaman tangan Milna.


"Apa ini sayang? Apa ini hadiah untuk kami berdua? darimu?" tanya Milna heran sekaligus bahagia.


Lia hanya tersenyum malu, bahkan ia tak sedikitpun sanggup memandang pada abangnya, Joy. Gadis cantik dengan gaun pendamping pengantin berwarna putih gading. Senada dengan warna gaun dan jas pengantin yang di kenakan oleh Joy dan Milna. Lia memundurkan langkahnya hendak turun dari panggung, tapi Milna menarik tangannya.


"Kita foto yuk!" Lia pun mengangguk, kemudian Lovely memberi kode pada sang juru kamera.

__ADS_1


Beberapa gambar telah di tangkap dan diabadikan. Joy turun ke bawah panggung mencari sepasang suami istri yang begitu berjasa atas keberlangsungan resepsinya.


"Tuan, Nyonya!" panggilnya, senyumnya terbit begitu cerah. Ketika matanya menangkap sosok yang ia cari sejak tadi.


"Hei, kenapa pengantin terlihat begitu sibuk?" kelakar Arjuna pada kaki tangannya itu.


"Saya ingin mengajak anda berdua untuk berfoto," ucap Joy pada kedua majikannya itu.


"Ku pikir kau melupakan kami Joy!" sindir Arjuna dengan senyum miring. Membuat Susi menyenggol lengannya.


"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud." Joy menundukkan kepalanya. Memang para tamu undangan yang hadir cukup ramai. Hampir seluruh karyawan ARSA Company di undang.


Bahkan yang menerima lemparan bunga adalah para wanita yang tidak seberapa jumlahnya itu. Sampai saat ini perusahaan Arjuna tersebut belum menerima karyawan wanita lagi. Bisa di bayangkan jika tamu yang hadir kebanyakan adalah sosok manusia yang mengenakan jas. Meski sebagian dari mereka membawa pasangannya.


Bahkan, Arjuna melarang para tamu undangan wanita untuk mengenakan gaun yang berlebihan dan terlalu terbuka. Karena itulah, gaun Milna tertutup. Begitu juga dengan yang di kenakan Lovely dan Lia. Walaupun begitu, tidak mengurangi kesan anggun dan juga elegannya.


"Kenapa harus di sampingmu Ar? Begini baru bagus. Kita sama-sama mengapit pengantinnya." Susi berkata sembari memutar bola matanya. Suaminya ini memang keterlaluan. Posesifnya tak kenal tempat.


Arjuna memasang wajah dinginnya. Ia bahkan berdiri agak jauh dari Joy. Hingga sang penata kamera atau biasa di sebut Fotografer memberi arahan padanya.


"Maaf, Tuan bisa geser sedikit lebih dekat!" ujar fotografer itu.


Arjuna mendengus sebal, pasalnya ia tak suka terlalu menempel dengan orang lain. Karenanya ia tetap memberi jarak.


"Tuan, anda bisa ...."


"Lakukan atau tidak sama sekali!" bentak Arjuna pada pria yang memegang kamera khusus tersebut. Hingga raut wajah pria itu pucat pasi.

__ADS_1


"Ba–Baiklah." Pria tersebut akhirnya mengambil gambar dengan pose Arjuna yang sangat kaku itu. Bahkan ketika ia memberi kode gaya bebas pun, Arjuna tetap dengan gaya manekinnya.


'Ya ampun ganteng sih tapi sikap arogannya itu bikin merinding.' batin sang fotografer barusan.


Setelah Arjuna dan Susi turun dari panggung, tak lama kemudian naiklah seorang wanita berpakaian sedikit terbuka. Padahal jika wanita itu adalah tamu undangan resmi dari acara ini. Seharusnya dia tahu peraturan yang telah dibuat, bahwa dress code-nya dilarang menggunakan pakaian atau gaun yang terbuka. Karena itulah kehadiran wanita tersebut mengundang perhatian dari hampir seluruh tamu undangan yang hadir. Termasuk Arjuna dan juga kedua pengantin di atas panggung.


Wanita berpakaian kurang bahan itu melenggang dengan anggun dan lemah gemulai ke atas panggung. Joy yang mengenal siapa wanita tersebut, seketika merasakan keringat dingin bercucuran di dahinya. Dalam hatinya dia bergumam.


' Siapa yang memberitahu dia bahwa aku menikah hari ini di tempat ini? Apakah mungkin yang memberitahunya adalah Miranda?'


Joy tanpa sadar menikah keringatnya dengan kasar. Tanpa ia tau Milna telah memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.


' Siapa lagi wanita ini? begitu cantik dengan tubuh yang sangat bagus. Sepertinya wanita ini bukan berasal dari kalangan biasa. Berbeda dengan yang ku temui di butik kala itu. Terlihat berkelas dan berisi.' terka Milna di dalam hatinya.


" Halo Joy! masih ingat padaku kan? Aku tidak menyangka jika pria sepertimu akan menempuh jalur ini. Kupikir Kau adalah pria bebas seperti burung yang akan hinggap di manapun dia mau." Wanita cantik dengan rambut panjang berwarna biru tersebut meletakkan telapak tangannya di atas bahu Joy lalu mengelusnya dengan lembut.


Aku tidak akan percaya jika aku tidak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku datang ke sini tidak ingin mengganggumu. hanya ingin memastikan, kalau pria yang pernah menjadi partner di atas tempat tidurku kini telah menjadi pria normal." Wanita berpakaian seksi itu pun terkekeh pelan. Hingga barisan giginya yang putih dengan gusi berwarna merah muda itu pun terlihat.


" Sania Bagaimana bisa kau datang ke tempat ini? Aku bahkan tidak mengundangmu? katakan dari mana kau dapat kabar ini!" Joy menyembunyikan keterkejutannya.


Bagaimanapun ia harus bisa bersikap biasa saja. Meski wanita di hadapannya ini telah membongkar aibnya.


" Oh Joy, Kau tidak perlu tahu itu. Ataukah kau sudah lupa kekuasaan yang dimiliki oleh ayahku? Hanya untuk dapat masuk ke pesta murahan, itu adalah hal mudah bagiku." wanita itu berkata dengan senyum sinisnya. terlihat sekali jika dia tidak suka dengan apa yang disaksikannya saat ini. sepersekian detik sepasang mata cantiknya melirik ke arah Milna.


' Sejak kapan Joy menyukai wanita lurus seperti ini? tubuhnya saja seperti papan triplek. Wajahnya juga biasa saja pribumi. Apa jangan-jangan pria ini baru saja kecelakaan lalu mengalami gegar otak? kemudian diselamatkan oleh wanita kampung yang biasa-biasa saja. Lalu keluarganya menagih balas budinya dengan minta dinikahi.' Seketika pikiran Sania berkelana kemana-mana. Perasaannya bermain dengan segala persepsinya.


🐾 Woi Sania Tropicana Sanko! Dikau kebanyakan nonton telenovela ya! wkwkwk!

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2