
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Apa kau puas, Ar?" Susi memiringkan tubuhnya menghadap Arjuna. Sebelumnya pria itu telah mendekapnya dari samping, sembari terus melabuhkan kecupan di pelipis Susi.
๐พAih, pak kanebo kering kerontang alamat bakalan bucin๐คฃ๐คฃ ...
"Tentu saja aku puas, bahkan sangat puas." Arjuna menjawab sambil terus melakukan kegiatannya, menciumi seluruh bagian wajah Susi.
"Ar, apa kau tidak lelah ...?" rengek Susi yang merasa risih karena seluruh wajahnya jadi basah. Sedangkan ia hendak kembali memejamkan matanya.
Pergumulan keduanya barusan, telah memakan sebagian tenaganya. Arjuna begitu bernapsu pada setiap inchi raganya, mungkin karena ini adalah hal yang baru dirasakan oleh perjaka tong-tong itu. Belum lagi, usianya sudah berada di fase matang segala-galanya.
"Lelah, tapi sudah hilang. Kenapa, kau mau lagi? Ayo!" ajak Arjuna seenaknya.
Membuat sepasang mata indah berbulu lentik itu mendelik sebal.
"Istirahatlah sebentar, lalu setelah itu bersihkan tubuhmu. Kita harus kerumah sakit setelah ini," titah Susi dengan nada super tegas, pertanda tak boleh di bantah.
"Ok. My Queen." Arjuna menaikkan jemarinya membentuk huruf O. Dengan, panggilan yang sukses membuat kedua pipi Susi bersemu merah.
"Wajahmu, kenapa memerah, apa kau sakit?" tanya Arjuna polos, dan ia sontak meletakkan punggung tangannya ke dahi Susi.
๐๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต. ๐๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ท๐ช๐ณ๐ถ๐ด ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข, ๐จ๐ฆ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฎ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ. ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ฐ๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ด๐ฎ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ.
"Hei. Kenapa bengong?" Arjuna mengibaskan tangannya di depan wajah Susi. Hingga wanita itu terkesiap kaget, lalu bergeser dari dekapannya. Mengurai malu dengan lari cara lari dari kenyataan.
__ADS_1
"Kau mau kemana, sayang?" panggil Arjuna lembut.
"Mau pipis, kenapa ... mau ikut?" ketus Susi yang sebenarnya tengah membiaskan rasa malunya.
"Mau ...,"Arjuna pun lantas turun, dan langsung menyambar piyamanya.
" Aih, nyesel aku nanya," Susi menepuk jidatnya. Akan tetapi, selama sepersekian detik mata Susi sempat mengarah pada pedang naga puspa yang tengah tertidur.
๐๐ข๐จ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ ๐ข๐ซ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฎ๐ข๐ค๐ข๐ฎ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฑ๐ข๐ด ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ. ๐๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ด ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ด๐ฆ๐ด๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ถ๐จ๐ฉ ... ๐๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ด๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ด๐ข๐ต๐ณ๐ช๐ข. ๐๐ฌ๐ถ, ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐ข๐จ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ธ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐จ๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ?
Susi menggelengkan kepalanya, mengusir isi di dalam pikirannya itu. Kembali berniat melanjutkan langkahnya, sampai sebuah tangan melingkari pinggangnya.
" Ayo ..., lagi mikirin apa sih? Bengong terus," heran Arjuna, kembali menarik tubuh itu semakin erat padanya.
"Tidak ada, aku hanya masih tidak percaya bahwa hari ini akan hadir di hidupku," Susi tersenyum lembut serta menatap wajah suaminya lekat.
"Ar, apa itu artinya kau mencintaiku?" tanya Susi ragu. Karena sampai detik ini, Arjuna belum pernah mengatakan perasaannya. Atau lebih tepatnya, belum pernah mengungkapkan cinta padanya.
"Apa perlu dipertanyakan lagi, setelah apa yang ku lakukan dan kuberikan padamu." Arjuna mengangkat Susi dan mendudukkannya di atas nakas.
"A-aku ... hanya, ingin tau perasaanmu. Apakah aku begitu serakah?" lirih Susi seraya menundukkan wajahnya yang mendadak sendu.
"Kau adalah segalanya bagiku, kau matahari, bintang serta rembulan untukku. Apa itu masih kurang?" jelas Arjuna yang jauh dari apa yang Susi harapkan.
๐๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ณ๐ช๐ฃ๐ฆ๐ต ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช? ๐๐ฑ๐ข ๐ด๐ช๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข?
__ADS_1
Arjuna mengangkat dagu lancip Susi, memindai raut wajah yang mendadak mendung itu.
๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฐ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ถ, ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ต ๐ญ๐ข๐จ๐ช, ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฎ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ.
"Cukup, semua lebih dari cukup. Aku wanita sangat beruntung," Susi menatap mata kebiruan itu dalam, sembari memberi usapan lembut pada rahang yang bebas dari bulu saat ini. Karena Arjuna telah mencukurnya, sehingga menjadi rapih dan licin.
"Sekarang, bisa turunkan aku ...?" tanya Susi dengan menaikkan alisnya. Mengingatkan pada Arjuna bahwa dirinya kini nangkring di atas meja samping telepon.
Arjuna pun terkekeh mengingat kelakuannya.
"Hei, aku mau pipis." Susi menahan dada Arjuna yang hendak ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Kan sudah ku katakan tadi, kalau aku mau ikut. Kau sendiri kan yang bertanya," Arjuna mendekatkan wajah nya, kemudian meniup wajah Susi.
Fuuuhhh ...
"Ayo kita mandi." Arjuna mendorong tubuh Susi masuk.
"Ah ... tidak lagi!" Sekuat tenaga Susi berpegangan pada pintu, akan tetapi kalah juga ketika jemari Arjuna menggelitik pinggangnya.
๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ต๐ช๐ฆ ... ๐ต๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ...
_
_
__ADS_1
_
Bersambung lagi ya gais ....