
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
" Biar aku periksa dulu ya. Selain, suami dan bayinya, silakan keluar dulu," ucap Netta, sambil mendekati kepala brangkar. Setelah Arjuna, melepaskan pelukan terhadap istrinya, iapun segera mencabut selang oksigen dan beberapa alat yang menempel pada dada Susi. Memeriksa retina, serta denyut nadi. Ia juga menekan dengan pelan kedua dada pasien.
"Minum dulu ya, setelah itu makan. Baru, kau bisa menyusui bayi mu." Ujar Netta. Dokter muda nan cantik itu juga telah melepas selang infus yang menancap di lengan Susi.
"Tapi aku ingin menggendongnya." Susi menatap nanar pada sosok mungil yang di gendong oleh salah satu perawat.
"Tentu saja kau akan menggendongnya sayang, baby S juga sangat menginginkannya. Biar aku kenakan pakaian dulu untukmu, ya," tutur Arjuna.
Susi pun menyunggingkan senyumnya, dapat melihat lagi wajah suaminya, serta merasakan sentuhannya. Ia tidak menyangka sama sekali.
๐๐ถ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช. ๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ถ ๐ญ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฎ๐ฎ๐ถ, ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ด๐ช๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฎ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ถ๐ซ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ.
Susi, tak sedikit pun melepaskan pandangannya dari wajah suaminya. Arjuna hanya bisa memberi senyum dan sebuah kecupan ringan di kening. Masalahnya, di ruangan ini begitu banyak orang. Padahal, Arjuna ingin sekali meluapkan kerinduannya pada sang istri.
"Kamu minum dulu, sayang." Arjuna menyodorkan segelas air. Kemudian, Susi menenggaknya hingga tandas.
"Sekarang, aku sudah boleh menggendong bayiku kan," ucapnya penuh harap.
"Nyonya, ini bayi anda." Seorang perawat menyerahkan bayi yang barusan berada dalam gendongannya. Baby S yang sudah kenyang menyusu, kini sudah kembali terlelap dengan tenang.
Susi menerima dengan tangan gemetar, apalagi ketika bayi mungil dengan kedua pipi gembul itu telah berada dalam dekapannya. Air mata sontak mengalir deras, seiring tangisan haru darinya.
"Sayang, kami sangat merindukanmu." Arjuna ikut mendekap dari atas, ia merangkul bahu Susi dan meletakkan dagunya diatas kepala Susi.
"Anakku ... diaโdia tampan sekali." Kagum Susi, baby S kemudian menggeliat kecil.
"Keadaan Susi sudah stabil, nanti akan ada perawat yang mengantar makanan dan juga obat. Dua jam lagi, aku akan kembali memeriksa. Sekali lagi, selamat. Welcome back to the world!" ucap Netta dengan tatapan haru.
"Net, makasih. Maaf, jika tadi aku,"
"Sudahlah, Ar. Aku memakluminya. Aku pergi dulu, jika ada apa-apa, hubungi saja." Setelah, mencolek gemas pipi baby S. Netta pun berlalu dengan dua perawat yang mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
" Sayang, baby S sudah tidur. Kau bisa meletakkannya di atas kasur," saran Arjuna.
"Tidak, aku ingin menggendongnya saja." Susi menggeleng.
"Kau baru saja bangun, nanti tanganmu lelah dan kaku," bujuk Arjuna.
"Kau benar, Ar. Tanganku keram." Susi meringis merasakan denyut di kedua tangannya.
" Tuh, 'kan. Sini, berikan baby S padaku. Anak ganteng daddy." Arjuna terus menciumi, baby S. Sampai ia meletakkan putranya itu ke atas kasur.
"Mana tanganmu, sayang. Biar aku pijat ya." Arjuna meraih salah satu tangan Susi, kemudian mulai memijatnya pelan.
"Gimana, sudah enakan?" tanya Arjuna seraya menatap ke dalam manik mata istrinya itu. Tanpa komando, kelopak matanya itu mengedip cepat dan meluruhkan kembali kristal bening dengan deras.
Arjuna bahkan terasa susah ketika menelan ludahnya sendiri. Napasnya tiba-tiba tercekat. Dada berdentum tak karuan, sesak yang selama ini menekannya tiba-tiba serasa ingin meledakkan sesuatu.
Susi pun sama, hatinya trenyuh ketika melihat mata berkaca-kaca di hadapannya. Dengan jakun yang turun naik menahan suara isak agar tetap tertahan didalam pita suara. Ia tak menyangka dapat kembali melihat wajah tampan suaminya. Susi mengulurkan tangannya untuk menyentuh rahang tegas Arjuna. Di mana saat ini rahang itu telah kembali ditumbuhi bulu-bulu kasar.
"Kau, kenapa tidak mencukurnya. Kau, 'kan tau kalau aku tidak suka yang seperti ini," ucap Susi, dengan suara serak.
Arjuna, semakin menarik Susi kedalam pelukannya. Kedua tangan Susi terjulur, mengelus punggung lebar suaminya itu, lalu merengkuhnya. Arjuna melepaskan pertautan mereka, ketika napas Susi terengah-engah.
"Maafkan, aku sayang. Aku terbawa perasaan." Arjuna menyatukan kening keduanya. Seraya menyeka bibir yang basah karena ulahnya itu dengan kedua ibu jarinya.
Susi hanya memejamkan matanya, merasakan sapuan jari hangat Arjuna pada bibirnya. Melihat respon istrinya yang seperti itu, membuat Arjuna kembali mendaratkan kecupannya pada bibir yang sudah tidak lagi pucat itu.
Susi membuka kedua matanya, lengkungan senyum tercipta ketika kedua sudut bibirnya ia tarik ke atas. Arjuna menangkup wajah itu, ia memberi kecupan malaikat pada Susi. Yaitu, kecupan perlahan pada kedua kelopak mata secara bergantian. Ciuman yang menyalurkan perasaan dalam bukan napsu.
"Hentikan, Ar. Kau membuat wajahku basah," tolak Susi seakan merajuk.
"Sini aku bersihkan." Arjuna menarik tissue basah, lalu mengelap wajah Susi dengan benda tersebut.
"Ish, tambah basah, Ar." Susi mengibaskan tangan di depan wajahnya. Arjuna hanya terkekeh kecil seraya menyusut cairan dari hidungnya.
__ADS_1
"Udah ah, jangan sedih lagi. Kan aku sudah bangun," ucap Susi menyeka air mata yang kembali turun membasahi rahang tegas Arjuna.
Pria itu lantas mendongak seraya membuang napasnya kasar. Ia mencoba, menghalau air mata yang hendak keluar lebih banyak.
"Berjanjilah, untuk tidak berusaha meninggalkanku dan bayi kita, lagi," ucap Arjuna.
"Aku di ajak bunda, Ar. Bunda mendekap ku erat. Dia bilang, ingin bersamaku selamanya. Bunda, menutup telingaku, setiap kali kau datang dan bercerita. Aku tidak bisa mendengar suaramu lagi. Tapi, di saat aku mendengar suara bayi menangis. Aku melepaskan tangan bunda dari telingaku. Aku menjauhinya. Berusaha mencari asal suara bayi. Lalu, ketika itu aku mendengar kalau, Netta dan kau ... kalian akan ...." Susi tidak meneruskan ucapannya karena Arjuna telah membungkam bibirnya dengan sesapan lembut.
"Semua hanya akal-akalan Netta saja, aku pun kaget di buatnya. Kau tau, bahkan aku hampir saja menamparnya." Kata Arjuna.
"Pantas saja, wajah Netta tadi masam padamu. Kenapa kau tidak bisa menahan emosimu," gemas Susi. Bahkan ia mencubit pelan pinggang Arjuna. Membuat suaminya itu, mengaduh geli.
"Iya, iya. Aku salah. Aku hanya refleks kaget saja tadi. Nanti, aku akan meminta maaf padanya, juga akan memberi hadiah untuknya." ucap Arjuna, sembari menggenggam kedua tangan istrinya itu.
Dua jam kemudian Netta datang lagi. Susi pun di pindahkan dalam kamar perawatan yang memang khusus di pesan oleh Arjuna. Pria itu, memesan obat pereda nyeri yang paling paten. Agar, istrinya itu tidak merasakan sakit pasca operasi. Ia juga meminta vitamin paling bagus, agar Susi dapat memproduksi air susu secepatnya.
Ia ingin, anaknya mendapatkan asi eksklusif. Bagaimanapun, ia telah mencari tahu. Ia menemukan fakta bahwa, ๐ผ๐๐ lebih baik dari susu formula manapun, semahal apapun. Karena itu, ia lebih baik mengeluarkan biaya awal untuk memancing agar produksi kelenjar susu milik istrinya itu bekerja optimal. Bahkan, ia juga membayar terapis khusus untuk itu. Hari ini, usaha serta perjuangannya dan sang istri berbuah manis.
"Wah, baby S sudah mulai pintar menyusunya. Bagi-bagi dong, sisakan untuk daddy-mu ini," celetuk Arjuna yang akhirnya mendapat lemparan tatapan tajam dari kedua mata indah Susi.
Tak lama kemudian, Netta datang lagi.
"Juna, kau sudah bisa membawa istri dan anakmu pulang sore ini. Semua berkas-berkasnya ada di sini." Netta menyerahkan amplop besar berwarna coklat. Sedangkan seorang perawat meletakkan tas pemberian dari rumah sakit ke atas nakas. Tas tersebut berisikan obat-obatan serta vitamin untuk Susi. Juga beberapa, perlengkapan untuk bayi.
"Pekan depan, kau tidak perlu ke rumah sakit untuk cek up. Aku yang akan datang ke rumahmu, sekalian main dan ngasih kado buat si bule ganteng ini," ucap Netta, sembari menahan gemasnya ketika melihat kedua pipi baby S yang gembul dan kemerahan.
"Kami sangat menantikan kedatangan mu, aunty." Arjuna berkata dengan senyum sungkan bin malu.
"Biasa aja kali, Juna. Aku sudah tidak marah padamu." Kata-kata Netta sukses membuat Susi tergelak.
"Tuh 'kan, Ar. Aunty baby S itu baik hati." Mereka bertiga pun akhirnya tertawa bersama.
Pulang ... Pulang ...
__ADS_1
Bersambung>>>