
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
...Yang gak kuat plis skip bab ini ya..π...
...Otor gak mau tanggung jawab lho ini ......
...Atau nunggu paksunya pulang dulu bacanya boleh ...ππ...
ππππ
Kedua mata mereka bertemu iris satu sama lain. Arjuna telah mendorong tubuh ramping itu hingga terjerembab di atas sofa panjang ruangan kantornya.
Arjuna semakin mengungkung raga di bawahnya itu. Dirinya gemas sekali acapkali wanita yang telah di nobatkan sebagai calon istrinya itu mendelik kan mata padanya.
"Apa kau sedang merasa di atas angin sekarang?" Arjuna semakin menipiskan jarak diantara mereka.
Membuat mata indah Susi itu terus membesar.
" Apa karena kau calon istri ku lalu bisa berteriak padaku? Apa karena kau calon Direktur, maka seenaknya bisa melotot padaku?" Arjuna semakin menindih raga Susi membuat tubuhnya merespon sensasi yang telah lama tak ia rasakan.
(Tubuh tak tau malu, bisakah jangan merinding seperti ini!) Susi merutuki tubuhnya yang selalu memberi respon acap kali Arjuna menyentuhnya.
"K-kau yang menggangguku lebih dulu. Sekarang ku mohon menjauh lah ...," pinta Susi yang mulai merasa panas di area pribadinya.
Karena posisi kakinya yang melebar sedangkan ia mengenakan rok. Sementara itu posisi Arjuna yang 75 persen telah menindihnya dengan tatapan berkabut yang membuat pikirannya selalu menjurus pada hal itu.
"Jangan harap aku menjauh darimu, aku sudah terlanjur terbiasa dengan ini dan ini." Arjuna berkata sambil menyusuri wajah Susi dengan jemari panjangnya itu.
Mengelus pipinya yang lembut dan halus serta merona merah muda.
__ADS_1
Ibu jarinya sengaja ia mainkan di atas bibir ranum yang lembut dan kenyal itu. Susi memejamkan matanya, tak ada lagi yang dapat ia lakukan selain menerima dan menikmati apa yang akan Arjuna lakukan padanya.
(Kenapa aku begitu lemah, tolong singkirkan pesonamu tuan.)
Susi tidak ingin salah tafsir lagi, yang akan membuatnya malu sampai ke ubun-ubun.
Dimana sore sepulang dari pusat perbelanjaan, kala itu ia salah faham.
Di pikirnya Arjuna hendak menciumnya, ternyata hanya memasangkan seat bealt untuknya.
Ia merasa seperti wanita yang haus akan belaian dan sentuhan laki-laki.
Padahal emang iyaπ.
(Akh, malu sekali kalau kejadian itu terjadi lagi! Pergilah dari atas tubuhku bos mesum!) batin Susi menjerit berusaha menolak keinginan dan harapan hatinya.
"Hah!" Susi kontan membuka kedua mata yang ia pejamkan.
"Keinginan apa? Apa maksud mu?" Susi menatap wajah yang di bingkai oleh bulu halus di sekitar rahangnya itu.
Susi selalu menahan keinginan untuk menyentuhnya.
"Mengabulkan keinginanmu sejak sore itu."
(APA!)
Susi hanya bisa memekik di dalam hatinya, karena bibirnya sudah tidak bisa bergerak kini.
Ia telah berada di dalam kuasa Arjuna, tenggelam dalam buaian dari sesapan yang lembut dan manis.
__ADS_1
Kecupan kecil dan basah itu, terus berpindah dari bibir atas kebibir bawahnya, Arjuna berhasil mengeksplore luar dan dalamnya.
Lidah nya menyusup dan menari dengan indah, menghitung barisan gigi hingga merangsek lebih dalam lagi.
Mereka saling membelit, menggigit manja dan bertukar saliva.
Napas memburu dari keduanya, bagai simphony indah sore itu. Seketika terciptalah alunan syahdu yang terucap dari bibir Susi. Ketika Arjuna menurunkan kecupannya pada leher putih mulusnya itu.
Pria dewasa itu belum pernah melakukan ini sebelumnya, pada wanita manapun.
Entah, apa yang terjadi pada dirinya acapkali melihat Susi merajuk atau marah.
Ia merasa sangat bergairah dan bergelora untuk menumpahkan rasa terpendamnya.
Hanya Susi yang mampu merobohkan pertahanan dirinya. Sejak ia melihatnya hendak melompat dari balkon kala itu. Mulai hari itu, pikirannya telah terpaut pada janda muda ini.
"Hentikan ...," ucap Susi bercampur dengan lenguhan. Akal sehat nya yang masih berada dalam titik sadar memperingati dirinya. Arjuna hampir melewati batasnya, hingga Susi mencekal tangannya yang hendak meraba bukit teletubiesnya.
Akan tetapi, Arjuna malah sengaja menurunkan gigitan nikmatnya dari ceruk leher ke tulang selangka Susi. Membuat raga ramping berisi itu merespon kuat dengan menggeliat.
"Berhenti, ku mohon ...," lirih Susi, mencoba mengembalikan kesadaran Arjuna. Semua ini harus di hentikan, karena tubuhnya merespon dengan cepat setiap sentuhan dan tekanan yang di berikan oleh Arjuna.
Susi takut mereka tak mampu lagi menahan gelora dan gairah yang telah menutupi kesadaran mereka dengan kabut kenikmatan.
Karena bagian pribadinya sudah basah dan bercenat-cenut ria. Sedangkan tongkat sakti Arjuna yang mengeras, terasa telah menekan bawah perutnya.
"Arjuna!"
Bersambung>>>>
__ADS_1