
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Arjuna meninggalkan Better dan Vanish dengan berlari kencang. Kedua suami istri itu saling berpandangan, mereka dapat melihat luka dan kepedihan di kedua mata Arjuna.
"Sugan sih! Kelamaan tadi ngajak mandinya ... hiks. Kita jadi terlambat!" omel Vanish, sambil memukul dada Better, suaminya.
"Maaf, Moy. Aku tidak menyangka akan seperti ini akhirnya. Aku tidak bisa menahan diriku saat melihatmu. Aku minta maaf, sudah ya. Jangan menangis lagi. Kita masuk, yuk." Better, mencoba membujuk Vanish. Untuk masuk melihat Susi di ruangannya khusus itu.
Setelah Vanish kembali tenang, mereka mengenakan pakaian khusus. Berikut dengan masker dan juga penutup kepala.
Tubuh Vanish serasa lemas seketika, jika saja Better tidak segera memeganginya. Mungkin, raganya sudah ambruk ke lantai.
"Kakak ... kenapa bisa seperti ini? Tadi siang kita masih ketawa-ketawa. Kakak masih ngeledekin Ninis. Akhirnya, Kakak juga yang nasehatin. Kak! Bangun, Kak! Ninis mau cerita sama Kakak! Emang, Kakak gak kepo sama malam pertama Ninis. Eh, sore deh Kak. Sugan gak sabaran nunggu malem Kak. Katanya sama aja, mau sore atau malam. Judulnya pecah pecah perawan juga," oceh Vanish disertai air mata yang mengalir deras di kedua pipinya.
๐๐ถ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฉ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ต๐ช๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐บ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ, ๐ฏ๐บ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ถ ๐ฎ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ!
Better yang tak kuat bila berada terus di dalam. Iapun keluar dan memilih bersandar di dinding saja. Sembari, mengolah napasnya yang sejak tadi terasa sesak.
"Tuโtuan? Apa yang anda lakukan!" kaget Better, ketika melihat Arjuna yang datang lagi. Namun, kali ini ia tak sendirian. Tuannya itu mendekap sesuatu di balik selimut warna biru.
"Minggir, Bet!" Arjuna menyingkirkan Better yang di kira hendak menghalangi jalannya. Padahal, Better hanya ingin mengintip. Memastikan, bahwa apa yang berada dalam gendongan Arjuna, memang seperti apa yang ada di dalam pikirannya.
"Tuan? Siapa yang anda gendong? Oh ... hiks ...." Vanish membekap mulutnya, sekilas ia melihat wajah mungil dengan pipi gembul diantaranya.
"Ninis, keluar dulu ya, Kak. Anak dan suami kakak sudah datang, ku harap Kakak segera bangun." Setelah, berpamitan dengan Susi. Vanish, pun berlalu dengan langkah gontai. Ia memberi remasan kuat pada dadanya, menyalurkan sesak agar tidak mencekiknya.
" Moy." Better langsung mendekati Vanish dan mengajak sang istri untuk duduk. Kemudian, ia mendekap raga itu erat. Membiarkan Vanish meluapkan semua sesak di dalam dadanya.
" Ninis, gak tega. Liat kak Susi kayak gitu ... kasian baby S," lirih Vanish dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Jadi, benar. Kalau, yang di gendong tuan Arjuna tadi adalah Satria Junior?" tanya Better memastikan, yang kemudian di jawab dengan anggukan lemah dari Vanish.
_______
Bayi mungil itu menggeliat diatas dada Susi. Arjuna memegangi tubuh mungil yang di tengkurap kan itu agar tidak jatuh. Dirinya berusaha memberi stimulasi sejak dua hari ini. Susi, masih saja setia memejamkan kedua matanya.
"Sayang, My Queen. Hari ini, kami datang lagi menemui mu. Kau itu kenapa tidak bangun juga? Kau tega! Baby S jadi di beri susu sapi. Bagaimana, jika nanti dia jadi anak sapi? Apa kau rela? Dia akan memanggil dirimu, mooo ... bukan mommy." Arjuna berkata dengan sedikit gurauan garing nya. Kini, baby S sudah ia letakkan di samping kepala istrinya itu. Setiap di bawa kesini, bayinya itu tidak pernah menangis. Padahal, cukup lama ia berada di ruangan ini. Seperti saat ini, putranya itu malah tertidur dengan pulas dengan posisi kepala miring menghadap mommy-nya.
Siapa yang tidak sedih? Hati mana yang tidak trenyuh melihat pemandangan yang mengiris hati itu. Entah, apakah air mata itu masih ada. Selama dua hari ini, tak terhitung berapa lama dan berapa banyak kristal bening itu di keluarkan dari kedua kelopak matanya.
Arjuna menarik nafas dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Ia teringat perdebatannya kemarin dengan Netta.
"Kau bilang, jika pendarahannya berhenti maka istriku akan bangun dan baik-baik saja! Kenapa sampai sekarang dirinya belum sadar juga! Diagnosis macam apa yang kau katakan padaku kemarin hah!"
Saat itu, Arjuna tak mampu lagi menahan emosi dalam dirinya. Ia bahkan, mencengkeram kerah jubah Netta, hingga Dokter muda itu menangis ketakutan.
Karena itulah, untuk kali ini. Arjuna sengaja tidak akan memberi susu pada bayi nya. Tega tak tega sebenarnya, ia berharap cara terakhir ini akan berhasil. Terpaksa, dirinya harus membiarkan baby S kehausan, agar bayi mungil berpipi kemerahan itu, menangis keras di samping mommy-nya. Ia ingin mencoba, apakah tangisan anaknya akan dapat menstimulasi alam bawah sadar Susi. Sehingga membuatnya kembali dari tidur panjangnya.
" Sayang ... My Boy. Kenapa bobonya pulas sekali, sih? Ayo, nak. Bangunkan mommy. Memangnya, kau tidak ingin merasakan susumu yang asli. Bukan dari bahan karet seperti ini." Arjuna, menggoyangkan botol berisi susu di depan wajah sang bayi. Sudah satu jam, tapi putra kecilnya itu tidak menangis juga.
Arjuna, mengulurkan tangannya. Mengarahkan jari besarnya untuk mencolek pipi gembul si bayi. " Bangun, ayo ... bangun. Jangan seperti mommy yang tidurnya kelamaan. Ayolah, menangislah dengan kencang. Bangunkan mommy!" Arjuna, mendekatkan botol susu, ke atas bibir sang bayi, lalu menempelkannya. Ia sudah kehabisan akal, tinggal inilah cara satu-satunya agar bayinya menangis.
Benar saja, baby S menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mencari arah dot yang sengaja dimainkan oleh Arjuna. Wajah baby S sudah merah, kemudian suara khas dari tangis bayi pun terdengar memenuhi ruangan itu.
"Oekk ... oekk ... oekk!" Suara baby S terdengar begitu kencang dan nyaring.
"Teruskan sayang, terus sampai mommy-mu bangun," bisik Arjuna di telinga bayi yang histeris itu.
"Kau dengar, My Queen! Bayi kita menangis! Dia ingin menyusu padamu! Bangunlah! Apa kau tega padanya? Kau tega mendengar tangisnya! Ia kehausan, kau bangunlah, susui dia!" Arjuna terus berteriak, bersahut-sahutan dengan tangisan dari baby S.
__ADS_1
Di belakang mereka para suster, Dokter Netta serta Vanish dan Better. Menahan haru yang menyeruak di dalam ruangan itu. Bagaimana, seorang suami yang terus berusaha membuat istrinya bangun dari koma.
"Dok, jari pasien bergerak," bisik salah satu perawat pada Netta. Membuat, dirinya maju perlahan.
"Kau benar-benar tega Susi! Bayimu menangis, apa kau masih punya hati! Kenapa kau diam saja dan asik tertidur! Kau tau, jika kau tidak bangun. Arjuna akan menikahiku! Kemudian, aku akan meletakkan bayimu di panti asuhan!"
Arjuna hampir saja melayangkan tamparannya pada Netta, seketika itulah. Cekalan Better menghentikannya.
"Biarkan aku menampar mulut busuknya itu!"
"Tenang, Tuan. Lihatlah, nyonya Susi."
Arjuna, menoleh. Saat itu juga kedua matanya meleleh.
"Tidak! Tidak boleh, menikah lagi! Baby S anakku!" teriak Susi kencang dengan mata melotot. Bahkan, dirinya langsung terduduk.
Arjuna, menubruk kan tubuhnya. Menutup bagian depan Susi yang terbuka. Ia merengkuh tubuh itu erat, sementara perawat telah mengambil alih baby S dan memberinya susu formula.
"Baโbayiโku ... maโmana." Susi yang baru saja sadar, langsung bertanya dengan suaranya yang terbata-bata pada Arjuna.
"Tuh, lagi nyusu sapi. Kamu sih, lama banget bobonya," lirih Arjuna yang telah menyatukan keningnya di dahi istrinya itu.
"Aku ... ingin menyusui baby S," kata Susi parau.
"Netta, bagaimana ini?" tanya Arjuna seraya menoleh dengan wajah tak enak hati pada Dokter Obgyn tersebut.
๐พ Malu kan bang๐, esmoni bat sih jadi orang.
Bersambung>>>
__ADS_1