Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Koki pribadi.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"Eh, a-aku lagi nyiapin buat masak besok pagi," ucap Susi terbata karena saat ini wajah Arjuna dekat sekali dengannya.


(Lama-lama aku bisa kena serangan jantung.)


Arjuna memundurkan tubuhnya, namun pandangannya masih terkunci pada rupa wanita yang mengenakan piyama lengan panjang dengan rambut pendek sebahu yang berantakan.


"Kenapa gak besok pagi aja? Kenapa harus tengah malam?" Arjuna heran, harusnya kan Susi istirahat dan tidur.


"Tadi aku terbangun karena haus, lalu aku teringat akan daging yang masih beku di lemari es. Aku hanya mengeluarkannya, agar besok mencair dan lebih mudah memotongnya," jelas Susi, menunduk. Ia tak ingin menatap wajah yang sudah membuat hatinya tak karuan akhir-akhir ini.


(Jadi dia memikirkan masakan untuk sarapan besok, seperti apa yang kuinginkan tadi sore.) Arjuna merubah mimik wajahnya.


"Setelah selesai istirahatlah. Jika sekiranya kau lelah jangan di paksakan menuruti keinginanku. Kau bisa menolak atau mengerjakannya saat kau ada waktu." Arjuna mulai bersikap manusiawi, sepertinya otaknya kesandung hingga hatinya terkilir.


Susi sontak mendongak mendengar ucapan yang lebih ramah dari bosnya itu.


"Hah! Eh, tidak apa-apa, Tuan. Tidak masalah, bukankah ini termasuk tugas ku sebagai koki pribadi mu." Susi tersenyum canggung seraya mengibaskan tangan ke depan wajahnya.


Ia belum terbiasa dengan cara bicara Arjuna yang seramah itu.


(Apa dia baik-baik saja?) Susi menggaruk kepalanya.


"Kembalilah tidur, besok pagi kau harus menyiapkan susunan meeting dengan perusahaan Mr. Aviand." Setelah mengatakan hal itu Arjuna pun berlalu.


___***___


Paginya mereka kembali berangkat bersama setelah sarapan berdua dengan khidmad dan tenang.


Susi menyerahkan jas Arjuna," Biar aku bantu memasangkannya" Karena saat itu Arjuna tengah menerima telepon.


Kalau di lihat sekilas, mereka berdua layaknya pasangan suami istri yang sangat serasi.

__ADS_1


Sesampainya di kantor mereka terus beriringan. Para karyawan memberi hormat dengan menundukkan kepala mereka pada Arjuna. CEO dari ARSA Mandiri.


Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan alat rumah tangga elektro/non elektro.


Susi terlihat mengekorinya di belakang, karena memang mereka bekerja di lantai yang sama.


Beberapa pasang mata mencuri pandang pada mereka berdua. Secara kasat mata ini adalah pemandangan yang langka.


Di mana seorang bos dingin yang selalu menjaga jarak dengan wanita. Bahkan di perusahaan ini lebih banyak divisi yang di tempati oleh laki-laki.


Karena itulah, ketika Arjuna tiba-tiba memiliki seorang sekretaris perempuan, di saat itulah rumor buruk tentang kejantanannya mulai meredup.


"Kau lihat wajah Bos kita, seperti tanah gersang yang baru saja tersiram hujan,"


"Benar, begitu segar dan cerah tidak suram dan sekaku kanebo kering lagi,"


Hei kalian!"


"Balik kerja sana!"


"Sebelas dua belas emang dia ama bosnya," bisik halus para karyawan pria itu,sambil kembali ke kubikel mereka.


"Beda dong, kalo pak bos kita gak doyan cewek. Liat aja karyawannya yang perempuan cuma dua resepsionis depan doang ama sekretarisnya," balas pria bernama Kalpa.


"Lha kalo pak Joy, raja nya cewek dia." sambungnya lagi yang di akhiri dengan gelak tawa tertahan dari mereka berdua.


___***___


"SIAL!"


"Siapa yang sudah meretas perusahaan ku?" Seno meremas rambut dengan kedua tangannya, rahangnya mengeras terlihat dari kedua gerahamnya yang beradu.


Kedua matanya yang berlapis cermin berbingkai, terlihat menatap tajam pada layar lebar pipih yang menyala di hadapannya.

__ADS_1


"Rich, datang ke apartemenku sekarang!" titahnya pada orang kepercayaannya di seberang sana. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya.


"Baik, Tuan." sahut pria berwajah oriental.


"Kenapa bisa, keamanan ku di retas?"


"Arrghh!"


Bukk!


Bukk!


Seno berteriak frusterasi. Kedua tangannya memukul pinggiran meja.


"Susi..., suatu saat aku akan membuat perhitungan denganmu. Tunggu saja, aku pasti mendapatkan mu kembali." Seno menyalakan kembali ponselnya, mengusap layar enam inchi tersebut.


"Setelah aku menyelesaikan masalah ini, aku pasti akan mencari mu." Seno dengan senyum smirknya menatap sebuah foto di layar ponselnya.


Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya. Setelahnya, seorang lelaki tinggi berusia lebih tua darinya pun masuk dengan langkah tegap.


"Tuan." Pria berwajah oriental itu menunduk setelah berada cukup dekat dengan majikannya.


"Bagaimana dengan para pemegang saham dan klien kita?" tanya Seno melirik kaki tangannya itu.


"Sebagian mencabut sahamnya, Tuan. Beberapa proyek kita berhenti, dan perusahaan kita mendapatkan pinalti," jelas pria bernama Richesse itu.


Seno mengepalkan tangannya, seketika ia berdiri dari kursinya.


"Siapa yang telah kurang ajar berani menyerang ku?"


"Bagaimana ahli IT perusahaan kita bisa kecolongan hah!" hardiknya mengarahkan telunjuk ke hadapan wajah Rich.


Pria itu tak bergeming.

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2