
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Pindah haluan ah, tengokin yang kena stroke.
Sianan gak ada yang jenguk, kuy yang mau ikut merapat.
_____
"Sebenarnya, apa yang terjadi pada mami saya, Dok?" tanya Seno pada Dokter Franklin, yang tengah membaca hasil diagnosa Easy.
"Ternyata, obat yang di konsumsi oleh ibu anda selama dua bulan terakhir adalah obat keras. Apabila di berikan kepada penderita jantung, maka akan menjadikan keadaan penderita semakin parah. Bahkan, sekarang berefek pada syaraf di seluruh tubuhnya," jelas sang Dokter yang masih berusia muda itu.
Mendengar penjelasan itu, Seno mengepalkan kedua tangannya erat. Matanya menukik tajam dengan aura kemarahan yang begitu kentara.
๐๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ข๐ถ, ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ช๐ข๐ต ๐ซ๐ข๐ฉ๐ข๐ต ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช. ๐๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ต๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช.
Seno mengeratkan gerahamnya, hingga rahang tegasnya terlihat mengeras. Akan tetapi, ia berusaha menetralkan amarahnya.
"Lalu, apa keadaan mami saya bisa di sembuhkan? Bisakah, normal seperti sedia kala, Dok?" cecar Seno, dengan kepanikan dan takut yang menguasai dirinya.
"Maaf, bila saya harus menyampaikan ini pada anda. Bagaimanapun, berita ini harus anda ketahui." Dokter Franklin menjeda ucapannya. Dirinya mengambil napas dalam untuk mengungkap hal yang sebenarnya.
"Beberapa bagian syaraf di otaknya telah rusak, sehingga kelumpuhan permanen lah yang terjadi. Bahkan, perlahan ibu anda akan tidak bisa menggerakkan lidahnya. Kehilangan daya pendengarannya, serta penglihatan," jelas Dokter Franklin dengan berat hati.
Bagaimanapun ini adalah hal yang paling sulit yang harus di sampaikan oleh tenaga medis. Akan tetapi, seburuk apapun keadaan pasien, kenyataan harus diungkap secara terbuka.
Bagai mendengar guntur di pagi buta, jantung Seno seakan berhenti berdetak sepersekian detik. Dadanya terasa sesak, bak terhimpit batu yang begitu besar. Raganya seketika limbung, menerima kenyataan yang begitu miris untuk sang mami.
"Mami," lirihnya pelan.
"Untuk perawatan dan pengobatan mami saya, usahakan yang terbaik, Dok. Berapapun biayanya, akan saya bayar," pinta Seno pada Dokter Franklin, pikirnya ia masih mempunyai mobil yang bisa di jual.
"Tentu saja, Tuan. Kami tim medis akan berusaha semaksimal mungkin demi kelangsungan hidup pasien," tukas sang Dokter, berusaha tetap bertahan dengan keramahannya.
Dirinya kurang respek, terhadap keluarga pasien yang mengatasnamakan biaya untuk menentukan kinerja tim medis.
Padahal, tim medis itu sudah di sumpah untuk mengabdikan dirinya untuk berusaha semaksimal mungkin dalam menangani serta penyelamatan nyawa.
Meskipun tidak tutup kemungkinan, jika ada beberapa bahkan sebagian oknum tenaga medis, yang tidak menggunakan dedikasinya sebagai tenaga kesehatan dengan sebenarnya.
Setelahnya, Seno pun pamit. Ia akan melihat sebentar sang mami, kemudian kembali ke rumah. Mencari jejak dari sang pembuat masalah.
"Mam," panggil Seno pelan dengan suara parau. Kepada sosok yang hanya bisa diam, dengan beberapa selang yang menempel di tubuhnya.
Tangan kekarnya, meraih tangan keriput yang lemas itu. Menggenggamnya pelan,sambil menatapnya nanar.
__ADS_1
๐๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ฌ๐ถ๐ต ๐ฅ๐ช ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ข๐ฏ, ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ข๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข.
Monitor yang memantau detak jantung masih berbunyi stabil, tapi gerakan dada Easy seperti terengah-engah. Kelopak matanya yang menutup, terlihat bergerak-gerak. Kepalanya juga sesekali menoleh ke kiri dan kanan.
"Mam, ada apa lagi denganmu? Apa yang kau rasa dan kau pikirkan?" gumam Seno melihat kegusaran pada diri maminya, meski wanita itu tengah terlelap.
๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ถ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ซ๐ข๐ณ๐ฎ๐ถ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต, ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ฌ๐ช๐ฌ๐ฎ๐ถ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฎ๐ข๐ต๐ช!
Seno sangat geram, mengetahui fakta bahwa ada yang ingin mencelakai maminya.
Seandainya dia tahu, bahwa sang pelaku sudah menjadi abu. Entah, apa yang akan ia lakukan nanti.
_
_
_
Setelah beberapa hari, keadaan Easy terpantau membaik. Seno telah menjual mobil mewahnya untuk membeli rumah sederhana. Berharap beberapa hari ke depan, sang mami sudah bisa di bawa pulang.
"Kalau mami, sudah boleh pulang, lalu siapa yang akan merawatnya. Sementara, aku harus mencari kerja." Gumam Seno, yang tengah merapikan kamar sang mami di rumah yang baru.
Ada beberapa pekerja yang ia bayar, untuk memindahkan barang-barangnya dari rumah megahnya itu.
Berhubung rumah yang sekarang hanyalah tipe 27. Maka, Seno telah melelang beberapa barang yang bisa di jual dan di jadikan uang.
Ternyata sudah menguras banyak waktu serta tenaganya. Seno yang tak pernah terjun sendiri selama ini, hanya tinggal memerintah sang asisten, kini merasakan bagaimana lelah dan pusingnya mengurus semua.
Bahkan, baru kali ini ia berurusan langsung sampai beradu argumen dengan calon customernya.
Kesibukannya menapaki kehidupan barunya ini, membuat dirinya lupa dan abai dengan penampilannya. Bahkan, istirahat serta waktunya makannya berantakan.
Membuat keadaannya menjadi sedikit lebih kurus serta berewok liar yang mulai tumbuh menghiasi rahangnya.
"Untung saja aku masih bisa mendapatkan rumah yang bagus ini, dengan harga yang cukup pantas. Setidaknya, mami tidak akan terlalu sedih. Ku harap, kau bisa menerima semua ini mam," lirihnya, yang kini sedang melepas penat. Sembari menyeruput kopi hitam instan buatannya barusan.
"Lelah sekali, bahkan sangat lelah. Ketika kita melakukan semuanya sendirian. Kawan-kawan berengsek itu, hanya ada ketika diriku jaya saja. Sedangkan di saat ini, mereka seakan tidak mau mengenalku lagi. Sialan!" umpat nya sambil sesekali menendang kaki meja.
Mengingat bagaimana para kawan-kawan nya sesama pengusaha dulu. Bahkan mereka cukup akrab dan sering pergi ke klab bersama.
Bersenang-senang, dengan uphoria yang sama. Namun, kini mereka semua abai ketika masalah menghampiri dirinya. Memberi pekerjaan pun mereka tak sudi.
Miris,sungguh miris. Dirinya yang dulu di puja, kini seakan sampah yang busuk lagi menjijikkan.
"Sial mereka semua! Mereka pikir aku ini penyakitan apa! Sehingga untuk bertemu saja, enggan!" Seno terus memaki dan mengumpat, sambil sesekali meremas kepalanya.
__ADS_1
Hatinya sangatlah kesal. Ia dulu selalu royal dengan kawan-kawannya itu. Ketika dirinya susah begini, tak ada satupun yang bisa turun tangan membantunya.
Buugghh!
"Manusia tak berguna!" Seno menendang dus besar yang kosong, hingga terpental ke teras.
"Psstt,"
" Itu orang ngapa dah?" bisik salah satu pekerja, yang membantu Seno pindahan pada kawan di depannya.
"Auk, dari tadi marah-marah mulu sambil menggerutu gak jelas," jawab kawannya yang sedang memasang perlengkapan dapur.
"Udeh, lu pade kerja aje! Jangan banyak komentar! Kagak di bayar baru tau rasak lu pade!" ucap salah satu pria yang lebih tua, dengan geram. Terlihat ia menekan suaranya agar tak terdengar ke depan.
"Iye, Bang. Iye," jawab keduanya serempak. Lalu mereka melanjutkan lagi pekerjaan hingga rumah itu rapih.
"Bos, rumahnye udeh rapih. Tinggal di tempatin aje. Ubin bersih kinclong dah. Sampah, entaran kite bawa sekalian jalan pulang. Pokoknye semue beres, Gan!" lapor pria yang sepertinya ketua kelompok pekerja ini.
"Baiklah, ini upah untuk kalian!" Seno melempar bungkusan amplop berisi uang ke atas meja. Lalu, ia beranjak ke dalam, tanpa berkata apa-apa lagi.
Sang ketua mengambil amplop uang itu, membuka serta menghitungnya.
"Hehe, pas!"
"Dah, nyok kite pulang!" ajaknya pada kedua kawannya yang barusan sumringah. Karena mereka baru saja melihat uang kertas berwarna merah dan biru.
"Ayok dah, biar kata Bos kita kali ini asem orangnya. Sampe bilang terimakasih aje kagak." Pria berambut ikal dengan tubuh pendek itu mencebik, sembari menengok kedalam rumah.
"Bacot aje lu! Kalo die denger pegimane!" Sang ketua, menampar mulut anak buahnya dengan amplop berisi uang itu.
"Emang susah, punya anak buah mulutnya pada bocor. Kagak bisa nahan diri. Entar di rumah baru deh lu pade ngebacot ape terserah!" pesan pria bertubuh tinggi, yang berperan sebagai pemimpin mereka.
"Udeh, tu angkat sampah nye ke gerobak!" titahnya lagi. Kebetulan mereka memang orang kampung situ. Dimana tempo hari, Seno mengenal sang ketua ketika membeli rumah itu.
Maka, Seno pun menawarkan pekerjaan ini padanya. Karena ia juga butuh orang asli daerah sini. Demi dapat membantunya, membereskan rumah.
Karena, di komplek perumahannya ia tak mengenal siapapun. Sehingga, dirinya kesulitan mencari bantuan.
๐พSelamat lah Seno, di rumah barunya. Meski sekarang jadi orang kampung.๐
Entar apa kata mami mu tuh?
Tinggal di kampung becek gak ada ojek๐คฃ
Aialahh, udah gak bisa ngemeng ini kan Easy. Gak bakal marah-marah๐
__ADS_1
Bersambung>>>>