Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Keripik singkong pedas.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥


"Kenapa ngajak ketemuan mendadak. Kau lupa ya kalau aku ini Direktur?" kesal Susi karena, Arjuna tiba-tiba menjemputnya. Dirinya yang tengah menandatangani beberapa dokumen, terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya.


"Sepertinya kau yang lupa. Kalau aku yang telah menjadikanmu Direktur." Tanpa menoleh, Arjuna menyalakan mesin mobil. Hingga kendaraan mahal nan mewah itu melaju perlahan keluar dari area perusahaan Pradipta.


Susi mendengus, ketika ia menyadari bahwa kata-kata Arjuna memang benar. Siapapun dirinya saat ini, semua karena sebab pria arogan di depan kemudi.


" Aku bawa cemilan nih, mau gak?" Susi menawarkan kripik singkong pedas dengan warna merah menyala. Minyaknya terlihat mengkilap, membuat cemilan itu begitu menggugah selera.


"Emm ... enak juga," Susi berkata sambil mengunyah kripik itu, hingga bunyi kriuk-kriuk kresnya menganggu pendengaran Arjuna.


"Kenapa makan mu berisik sekali." Arjuna melirik sekilas, wajah Susi tampak lucu dan menggemaskan di matanya. Hingga, ia terlihat beberapa kali mencuri pandang.


"Kenapa si Ar. Mau?"


" Nih." Belum sempat Arjuna menggeleng atau menjawab. Susi sudah menjejali selembar keripik ke dalam mulutnya.


Kruk. Kres.


"Haa ... Pedas!" teriak Arjuna sambil megap-megap seperti ikan yang terdampar di daratan.

__ADS_1


"Ya ampun! Gak pedes juga ...." Susi berdecak, tak urung ia pun memberikan air mineral kepada Arjuna.


Pria berahang tegas dengan bulu-bulu halus di sekitarnya itu pun memutuskan untuk meminggirkan mobil. Ia menenggak air hingga habis setengah botol.


"Kau, ingin membunuhku ya!" geram Arjuna dengan wajah kemerahan karena kepedasan, memprotes aksi Susi barusan.


" Ck. Mana ada orang mati karena makan keripik." seloroh Susi santai sambil terus mengunyah cemilan kesukaannya itu.


Brett!


"Cemilan ini penuh penyakit, kenapa kau suka sekali memakannya!" Arjuna merampas kantong yang berisi keripik pedas itu.


"Ish, kembalikan!" Susi berusaha mengambil kembali jajanannya dari tangan Arjuna.


Arjuna tetap menggenggam kantong cemilan itu. Sepertinya pria itu memang suka membuat wanita ini kesal. Apalagi ekspresi Susi sangat menggemaskan baginya.


"Berikan padaku, atau ...," ancam Susi dengan delikkan matanya.


"Kau berani mengancamku!" Arjuna membuka kaca jendela mobil, hendak menjulurkan kantong itu keluar.


Grepp.

__ADS_1


"Enak aja mau di buang!" Susi berhasil memindahkan kantong keripik itu ke tangannya. Akan tetapi dia lupa bahwa posisinya sangat pas untuk Arjuna.


"Kau sengaja ya." Arjuna menaikkan satu alisnya dengan sudut bibir yang ia tarik ke atas, hingga mencipta lengkungan yang mengartikan sesuatu.


Susi terlambat menyadari posisinya yang begitu dekat dengan Arjuna, sampai-sampai wajah rupawan pria itu berada tepat di bawah dadanya. Belum lagi Susi memakai blouse berbahan satin. Kini, ketika dirinya hendak bergeser pria itu sudah melingkarkan tangan di pinggangnya.


" Ehm ..., bisa lepas tidak?" pinta Susi mencoba memasang wajah memohon.


"Mana bisa, kau yang sudah menyerahkan dirimu padaku," sarkas Arjuna dengan mata yang terus menatap Susi.


Membuat wanita, itu merasa tidak nyaman dengan kedekatan mereka yang sebentar lagi akan memicu sesuatu di dalam dirinya.


Arjuna hampir mabuk karena wangi tubuh wanita ini yang sudah menjadi candu untuknya, merangsek masuk ke dalam indera penciumannya, hingga membuat otaknya blenk seketika.


Kembara kembar bapau di hadapannya begitu kenyal dan empuk terasa.


Sebelah tangan Arjuna terjulur untuk menurunkan jendela mobil.


Wanita ini kenapa selalu menggoda imannya. Selama tinggal bersama, dirinya sudah menjaga gelora dan keinginan dari naluri lelaki nya.


Arjuna kembali pada kesadarannya, ia melerai rangkulan pada tubuh menggoda itu.

__ADS_1


Susi bergerak perlahan, karena ia tidak ingin gesekan nanti akan membangunkan keris yang tertidur.


Bersambung>>>>


__ADS_2