Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 279. ABPR.


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


"Siapa mereka Joy! Kenapa tiba-tiba menyerang kita!" pekik Milna masih terus mengencangkan rangkulannya pada Joy. Ia mulai merasakan mual bergejolak di perutnya. Karena saat ini mereka tengah melakukan aksi kebut-kebutan di atas air laut.


" Entahlah Na, aku pun tak tau. Tapi sepertinya meraka benar-benar bernapsu untuk mencelakai kita." Joy menjawab sambil tetap fokus mengendarai speed boat tersebut. Ia berkelit dan berbelok dengan lincah hingga percikan air besar tercipta dari gesekan body kendaraan tersebut dengan permukaan air.


"Sial! Darimana mereka datang!" Joy terus berusaha menghindar. Jika tidak membawa Milna yang tengah hamil ia pasti akan bermain dengan kasar saat ini.


Karena kini ada dua sky motor boat yang mengapit. Kedua kendaraan itu seakan menjauh serentak, kemudian ...


BRAK!


Kedua sky boat itu beradu dengan kencang, karena Joy secara mendadak mengerem speed boatnya. Kini ia membuat kendaraan tersebut melaju lagi hingga melompati kedua sky motor boat yang telah terbalik itu.


"Joy!!" Milna menjerit seraya memeluk tubuh Joy dari samping. Bahkan kedua matanya terpejam kala Joy seakan mengajaknya terbang di udara.


"Bos kami gagal. Sky kami terbalik." Pengemudi motor boat melaporkan kondisinya melalui tekhnologi yang berasal dari kacamata. Ia hanya cukup menekan salah satu sisinya.


"Mohon kirim bantuan bos!" pintanya. Sementara itu satu kawannya belum muncul juga kepermukaan. Karena tabrakan tadi terlalu keras bahkan saat ini ia memutuskan untuk berenang menjauh, demi menghindari ledakan karena konsleting atau kebocoran dari tanki bahan bakar.


"Joy, kita di mana ini. Kenapa jauh sekali dari pantai?" tanya Milna mulai risau, karena yang ia lihat di sekelilingnya saat ini hanyalah hamparan air laut.


"Serangan dari komplotan tadi secara tidak sadar telah membawa kita menjauh dari dermaga," sahut Joy sambil terus melajukan speed boatnya dengan agak perlahan. Pandangan matanya berkeliling hingga pada akhirnya ia menemukan pulau-pulau kecil yang terletak jauh di depan mereka.


" Aku akan menepi di sana agar kau dapat beristirahat dahulu." ucap Joy pada Milna yang mana wajahnya pada saat ini agak terlihat pucat. Sungguh di luar dugaan Joy jika rencananya pada hari terakhir mereka bulan madu di pulau ini akan menjadi berantakan. Lagi-lagi karena ulah orang-orang yang Joy tidak tahu siapa mereka.


Ia bertemu dengan mantan eks partnernya semalam, dan kebetulan pagi ini ia diserang oleh komplotan yang tak dikenal. Siapa lagi orang yang ingin mencelakai dirinya dan juga Milna saat ini, pikirnya.

__ADS_1


'Kenapa Kebetulan sekali, pertemuanku semalam dengan La Venda serta penyerangan pada pagi ini yang datang secara tiba-tiba. Aku sudah sangat lama tidak berhubungan dengan wanita itu, bagaimana bisa kami bertemu di tempat ini? Kenapa waktunya tepat sekali? Semua Rencanaku menjadi berantakan. Bahkan kejadian ini juga turut mengancam keselamatan Milna dan juga calon bayi kami. Ya Tuhan jika kau ingin menghukum ku tolong jangan libatkan istri dan juga calon anakku. Hukum saja aku.' batin Joy yang mulai lelah dengan serangan bertubi-tubi dari orang-orang yang membencinya atau bahkan terobsesi padanya.


"Minumlah dulu aku membawa ini di dalam speed boat. Juga beberapa jenis makanan ringan lainnya." Joy menyodorkann air mineral dalam botol dengan stikernya yang berwarna biru. Ia menyibak surai Milna yang sedikit basah.


"Sebenarnya tadi aku juga berencana ingin mengajakmu ke salah satu pulau. Aku bahkan menyiapkan kejutan kecil untukmu di sana. Sayangnya semua hanya tinggal rencana. Semua kembali kacau." Joy menatap semakin dalam hingga menembus iris pekat istrinya yang juga tengah menatapnya.


"Maafkan aku Na. Karena orang-orang dari masa laluku yang terus datang membayangi kita. Bulan madu ini menjadi penuh ketegangan. Aku berjanji sepulang dari sini lebih baik untuk mengirim dirimu ke rumah Mami saja. Karena bersamaku, kau hanya akan terus terancam dalam bahaya," ucap Joy seraya menghela nafasnya berat.


Ia menunduk lalu menjulurkan tangannya untuk meraih jemari Milna. Tak ada penolakan, Joy pun memberi remasan lembut. Kemudian kembali menatap wajah pucat yang kini sudah lebih baik itu.


"Lupakan Joy. Semua diluar kuasamu. Ini juga bukanlah keinginanmu. Sekuat apapun usahamu untuk keluar dari masa lalu yang kelam. kau tidak bisa lari sepenuhnya atau melupakan sebagian. pasti akan ada beberapa noda yang ikut, demi menguji niat dan keinginanmu untuk menjadi orang yang lebih baik," ucap Milna lembut dengan seula senyum manis yang baru pertama kali Joy melihat nya.


" Senyummu manis sekali. Apakah ini untukku? Bolehkah aku memintamu untuk sering-sering tersenyum seperti ini?" puji dan pinta Joy pada Milna. membuat wajah istrinya itu tersipu malu dan memerah.


"Hei, kedua pipimu memerah. Apa kau sedang malu?" ledek Joy.


" Semakin kau mengelak semakin membuktikan jika kau sudah mulai menerimaku, iya kan?" tanya Joy menelisik.


'Pria ini kenapa bisa bicara dengan frontal seperti itu? apa ia tidak punya malu? membuat orang sebel saja.' batin Milna. Ia langsung menolehkan wajahnya dan menatap ke sembarang arah.


"Jangan marah, aku hanya menggodamu saja. Tolong pasang lagi wajahmu yang manis seperti tadi. Karena jika kau cemberut seperti ini, justru membuatku gemas dan tidak tahan." Joy berkata sambil mengulurkan tangannya demi meraih dagu Milna, agar wajah istrinya itu kembali menghadapnya.


"Tidak tahan apa maksudmu?" tanya Milna polos.


" Tentu saja tidak tahan untuk menciummu." Joy berkata begitu ceplas-ceplos. Justru aksinya itu malah membuat Milna semakin salah tingkah.


" Apa kau tidak bisa menyaring kata-katamu sedikit! Menyebalkan! Merusak suasana!" pekik Milna langsung bangkit seketika berdiri kemudian berjalan menjauh.

__ADS_1


" Kenapa kau marah? Aku hanya berkata jujur, apa itu salah? Kan tadi kau juga yang tanya!" kilah Joy membela dirinya. Dirinya ikut bangun dan berjalan mendekati Milna. Istrinya ini mudah sekali ngambek, pikirnya.


"Na," panggil Joy ketika telah berada di hadapan istrinya.


"Berhentilah mendrama. Lebih baik kita kembali sekarang. Aku sudah membaik, tidak mual lagi." terang Milna pada Joy.


Joy lantas memeriksa keadaan Speedboat nya. "Hanya lecet sedikit di body belakang. Karena sempat di seruduk tadi. Tapi ... bahan bakarnya menipis," jelas Joy membuat Milna langsung terduduk sambil memegangi keningnya.


"Kenapa? Apa yang sakit?" tanya Joy langsung menghampiri Milna. Guratan khawatir seketika tercetak di wajahnya .


"Sekarang bagaimana cara kita pulang? Aku tidak mau terjebak di pulau ini," lirih Milna.


"Kau tenanglah dulu," ucap Joy menyentuh bahu Milna dan mengusapnya.


"Katamu bahan bakarnya kritis 'kan. Itu artinya kita tidak bisa pulang sampai ada patroli laut yang lewat!" teriak Milna frustrasi. Mau tidak mau ia bermalam di pulau tak berpenghuni ini bersama Joy.


'Perutku lapar. Mau makan nasi kebuli, hiks.' batin Milna meringis. Meratapi nasib bulan madu sekaligus baby moon-nya yang miris.


'Maafkan aku Na. Maafkan daddy-mu ini anak-anakku. Karena telah membuat kalian sengsara. Daddy akan membawa kalian kembali. Percayalah!' batin Joy penuh sesal dan rasa bersalah. Bagaimanapun caranya ia harus menjadi pahlawan saat ini.


π™†π™„π™π˜Ό-π™†π™„π™π˜Ό π™…π™Šπ™” π˜½π˜Όπ™†π˜Όπ™‡ π™‰π™‚π™€π™‡π˜Όπ™†π™π™„π™‰ π˜Όπ™‹π˜Ό π™”π˜Ό π™‚π˜Όπ™„π™Ž?


π˜½π™„π™Žπ˜Ό π™‚π˜Όπ™† π™”π˜Ό π™ˆπ™€π™π™€π™†π˜Ό π™†π™€π™ˆπ˜½π˜Όπ™‡π™„ 𝙆𝙀 π˜Ώπ™€π™π™ˆπ˜Όπ™‚π˜Ό?


π™‡π˜Όπ™‰π™…π™π™ ....π˜½π™€π™Žπ™Šπ™† π™”π˜Ό ...😁✌


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2