Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Kepusingan Calon Papa


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


...Sekilas info ๐Ÿ’ป๐Ÿ’ป๐Ÿ’ป๐Ÿ’ป๐Ÿ’ป...


...Maaf ya gais, kemarin bukannya otor gak up ya....


...Review lagi lambat....


...Setor kemarin pagi baru lolos siang ini....


...Entahlah yang otor setor siang ini akan lolosnya kapan.๐Ÿคง...


...Otor jadi geregetan๐Ÿ˜ฃ....


...Semoga kalian mengerti dan jangan marah ya ...๐Ÿค—๐Ÿค—....


...Plis semangatin otornya dengan like, vote, komen, gift dan segala bentuk dukungan kalian ya gais....


...Makasih Pembacaku terzayanggggg...๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜...


_______


"Moy, jangan marah. Dokter pasti memiliki alasan kenapa memberi saran seperti itu," bujuk Vanish. Sejak pulang dari rumah sakit wanita mungil ini merajuk padanya. Vanish makan banyak tapi tidak ingin berbicara sepatah kata pun dengannya.


"Ninis bilang tidak ya tidak! Ninis akan pertahankan kehamilan ini! Seharusnya Sugan dukung keputusan Ninis bukan perkataan dokter!" teriak Vanish marah, dada wanita itu turun naik akibat emosinya bahkan napasnya terdengar memburu cepat.


"Moy. Kau tak tau bagaimana keadaanmu kemarin. Kau begitu mengkhawatirkan, membuatku sangat takut. Aku tidak ingin mengambil resiko kehilanganmu!" ucap Better penuh penekanan.


"Apapun itu, Ninis tidak sampai hati untuk menggugurkan kandungan ini. Ninis enggak bisa!" teriak Vanish, lalu dirinya menangis seraya memegangi perutnya yang masih rata itu.


"Moy. Ingat 'kan kata dokter. Mumpung usianya baru 4 minggu. Selagi masih berbentuk segumpal darah. Tidak apa-apa. Nanti, kamu bisa hamil lagi dan semoga nasibnya bisa lebih baik," tutur Better memberi penjelasan secara perlahan.


Plakk!


Vanish menepis tangan Better yang merangkul bahunya.


"Sugan tega! Sekecil apapun, walau masih sebesar biji sawi pun itu adalah calon anak kita. Buah cinta kita. Ninis gak akan membunuh darah daging sendiri!" isak Ninis dengan suara seraknya.


"Sayang, Imoy. Bukan begitu maksudku ... aku hanya ...." Better tak meneruskan kalimatnya karena melihat Vanish yang menunduk sambil meremas perutnya.


"Imoy!" Better langsung membopong Vanish, kemudian membawanya ke tempat tidur.

__ADS_1


"Perutnya keram lagi ya? Tunggu sebentar, biar aku ambilkan kompres patch dulu." Better beranjak mengambil benda yang dia perlu. Hingga harus membongkar beberapa laci. Sepertinya pria itu panik sehingga lupa kemarin meletakkannya di mana.


" Dimana ku letakkan kemarin ya? Aduhh!" Gumam Better dengan segala kepanikannya. Melihat wajah meringis Vanish membuatnya tak tega.


"Ah ini dia! Bagaimana bisa ada di atas kulkas?" ocehnya lagi seorang diri.


"Sayang, biar aku pasang kompresnya dulu." Better mengangkat pakaian istrinya agak ke atas hingga menampakkan perutnya yang rata.


"Gak mau!" Vanish menepis plester kompres yang hendak di tempelkan pada perutnya.


"Kenapa sayang?" heran Better. Wajahnya terlihat frustasi. Tak tau lagi harus bagaimana menghadapi istri yang tengah marah dan merajuk seperti ini.


"Maunya di elus!" pekik Vanish. Entah kenapa emosinya meledak-ledak semenjak keluar dari rumah sakit.


"Hah! Ah iya, baiklah." Better menurut, ia mengambil oil zaitun lalu mengolesnya ke perut Vanish, kemudian mengusapnya perlahan dan lembut.


"Gimana sayang, udah enakan belum?" tanya Better hati-hati. Ketika dilihatnya Vanish sudah lebih rileks dan tenang.


"Emmm ...," gumam Vanish. Menjawab pertanyaan suaminya. Better hanya dapat menghela napasnya, berharap dirinya dapat lebih sabar lagi. Ia tak ingin ada kejadian buruk menimpa istri tercintanya. Kejadian kemarin cukup membuatnya trauma. Dimana saat itu keadaan Vanish yang bersimbah darah.


Tubuhnya serasa tak bertulang, dadanya sesak. Dirinya memanglah terbiasa melihat darah di medan pertempuran. Akan tetapi ketika orang yang dicintainya berkubang dalam darahnya sendiri, itu sangatlah mengerikan.


Better baru bisa bernapas lega ketika istri mungilnya itu telah tertidur pulas. Ia menurunkan pakaian istrinya dan menutup perut yang terbuka itu. Sebelumnya, Better melabuhkan ciuman dan seuntai doa di sana.


Pria yang rambut panjang ikalnya selalu di gelung itu, membatin dalam hatinya. Menguntai doa yang tulus hingga air mata itu muncul dari ujung matanya.


Better menutup raga Vanish dengan selimut, merapikan surai istrinya yang menutupi wajah. Melabuhkan kecupan dalam di kening. Menatap wajah itu sebentar, hingga berakhir dengan mencuri ciuman dari bibir istrinya itu.


๐˜š๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜™๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช. ๐˜’๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ.


Better hanya dapat membatin di dalam hatinya.


________


"Na. Sudah jangan marah lagi ya. Aku ketiduran setelah memijat kakimu. Sungguh ...!" ucap Joy memelas. Kejadian semalam di kamar kembali menyulut bara api yang baru saja padam.


Milna tetap bergeming. Wajahnya ia palingkan keluar jendela. Meski tak di pungkiri jika dirinya juga merasa nyaman. Ketika Joy tidur di sampingnya sambil memeluk dirinya.


Tapi, bagaimanapun juga. Hubungan mereka belumlah sah. Dirinya kembali merasa jika Joy memanfaatkan kebaikannya.


"Na, bicaralah! Lebih baik kamu maki-maki saja diriku ini. Daripada kau membisu seperti itu! Aku merasa seperti orang gila baru yang sibuk berbicara sendirian sejak tadi," rengek Joy. Sambil mengemudi sambil sesekali melirik wanita di sebelahnya.

__ADS_1


"Pffttt." Milna menahan tawanya. Sebenarnya sejak tadi dirinya juga sudah pusing mendengar ocehan Joy yang terus menerus. Hanya saja, ia merasa perlu memberi pelajaran bagi mantan cassanova itu.


"Menyetirlah dengan benar!" celetuk Milna. Hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya.


" Baiklah, Nyonya besar." Joy melirik sekilas dengan senyum tipis di wajahnya. Mendapat jawaban begitu saja sudah membuat hatinya yang galau, menjadi sedikit lebih tenang.


Milna tersenyum samar. Entah mengapa kali ini dirinya tak bisa meledakkan amarahnya seperti biasa. Mungkinkah, karena ada tabiat dan watak yang harus ia persiapkan sejak dalam kandungan.


" Berhenti di sana!" tunjuk Milna pada sebuah toko roti dan kue. Joy tersenyum kemudian menghentikan laju kendaraannya di depan bakery tersebut.


"Mami Lovely suka kue rasa apa? Lalu Lia suka coklat atau tidak?" tanya Milna sambil memperhatikan deretan kue yang menggugah selera. Di sepanjang etalase yang membentuk setengah lingkaran yang besar ini.


๐˜›๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜“๐˜ช๐˜ข. ๐˜’๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜•๐˜ข. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ..


Gumam Joy dalam batin.


" Emm, seingatku mami tidak suka yang berbau coklat. Tapi, suka sekali kue yang beraroma pandan. Kalau Lia, remaja itu pemakan segalanya. Hanya batu dan kayu saja yang tidak di konsumsinya." jelas Joy kemudian terkekeh dengan kata-kata terakhirnya.


"Baiklah. Mbak minta bolu talas pandannya dua ya. Juga brownies lumernya satu. Kue mangkuk yang warna-warni itu sepuluh piece ya." Milna mengatakan pesanannya kepada sang pelayan toko. Tak perlu waktu lama pesanan mereka pun siap. Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanannya ke apartemen Joy.


Sementara itu di apartemen.


"Mam!" pekik gadis remaja yang mana wajahnya belepotan mayonaise serta tar-tar.


"Kenapa lagi Lia!" gemas Mami Lovely.


Putrinya ini tengah membuat hamburger home made ceritanya. Tapi sudah hampir dua jam, makanan buatannya itu tak ada yang berhasil. Gadis itu sungguh payah di dapur.


"Lia! Matikan kompornya! Apa kau ingin membuat dapur ini meledak karena ulahmu!" gemas Lovely. Sejak tadi puterinya itu telah menggosongkan lima buah roti berikut daging asapnya.


" Mami ... kalau begini mana kakak ipar akan terkesan padaku ...," rengeknya sambil melempar celemek keatas meja.


Ting tong!


"Mami! Lihatlah siapa yang ku bawa untukmu ...!" panggil Joy sambil menuntun Milna masuk ke dalam apartemennya.


"Gaswat Mam! Kakak ipar udah datang!" Lia membekap mulutnya dengan wajah yang sangat panik.


"Hadduuhh, ini anak. Selama empat belas tahun kau tak pernah masuk dapur. Kenapa tiba-tiba bermain dengan kompor dan wajan?" Lovely hanya bisa menggeleng, lalu menyeret Lia agar keluar dari dapur.


" Mam, kenapa rumahku bau asap?"

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2