Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 295. ABPR


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Kami pasti datang!" ucap Susi kemudian ia meraih Milna ke dalam dekapannya.


"Nis," lirih Milna beralih pada sahabatnya. Ia teringat bagaimana Susi mempertemukan keduanya. Ia turut bahagia ketika kedua sahabatnya bersatu menjadi pasangan abadi.


"Kak!" Vanish mendekap Milna erat. Berat rasanya ketika harus berjauhan dengan sahabat terbaik. Milna yang selalu menanggapi tingkah gaje-nya. Mendengar dan meladeni setiap curhatannya hingga tengah malam sekalipun.


"Semoga kalian selalu sabar. Ia akan hadir disini saat kalian tak menyadarinya," pesan Milna. Ia mengusap perut Vanish sambil menatap kedua sahabatnya bergantian.


"Apapun itu, doakan kami disini. Aku akan bekerja keras untuk berusaha menanamnya setiap malam," kelakar Better. Membuat Vanish mendaratkan cubitan di pinggangnya.


"Bisa patah pinggang Ninis!" celetuk Vanish yang mana membuat semuanya tertawa bersama.


"Sudah, kalian jangan membicarakan pasal tanam-menanam!" sungut Joy.


"Wah, Kak Milna kau keterlaluan!" celetuk Vanish lagi. Membuat Milna menggeram sambil melirik tajam ke arah Joy.


"Joy!"


"Apa? Memangnya aku bilang apa?" Joy memasang wajah polosnya membuat Milna semakin membulatkan matanya.


"Na, berikan hak suamimu. Anggap di sana adalah bulan madu kedua kalian," bisik Susi. Membuat Milna nyengir kuda dan meringis.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ! ๐˜”๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต. Batin Milna, merutuki kegagalan malam itu tatkala ia dan Joy ingin melakukan hubungan suami-istri pertama mereka.


"Kau pakarnya Bung. Masa belum bisa menjebol gawang untuk selanjutnya, payah!" bisik Arjuna mengejek Joy dengan senyum smirk. Kemudian Joy berlalu sambil mengurut dadanya.


๐˜š๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ ... ๐˜ด๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ. ๐˜—๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ. Batin Joy pasrah.


Joy dan Milna pun berangkat ke negara K. Mami Lovely dan Soffelia sang adik tak luput menyalami Arjuna dan Susi.


"Terimakasih. Atas kebaikan kalian selama ini terhadap putra saya. Ijinkan saya membawanya pulang sekarang," ucap Lovely pamitan.


Susi dan Arjuna hanya mengangguk hormat dengan seulas senyum.

__ADS_1


______


"Nis, kau mau ikut ke mansion tidak?" tanya Susi setelah mereka melangkah keluar dari area bandara.


"Mau dong Kak. Kebetulan ๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ bakal balik kekantor iya 'kan sayang?" ucap Vanish mamastikan.


"Iya. Ikut saja. Pulang dari kantor aku akan langsung menjemputmu," jawab Better, sembari mengusap pucuk kepala Vanish. Senyum sumringah seketika terbit di wajah istrinya itu.


"Tuan, maaf jika istri saya merepotkan. Lebih baik daripada hanya di rumah saja menunggu saya pulang. Hatinya akan sangat bahagia setiap selesai bermain dengan Satria," jelas Better.


"Sudahlah, itu tak apa. Istriku justru senang. Karena ia memiliki teman bicara selain para asisten rumah tangga saja," ucap Arjuna. Selepas mengantar istrinya ia akan beralih ke kantor juga. Membimbing Red yang belum paham betul seluk-beluk perusahaan.


________


"Ah syukurlah anda sudah kembali Pak!" seru Rapika ketika Better melewati mejanya.


"Ada apa memangnya?" Better mengerutkan keningnya, karena raut wajah Rapika terlihat panik.


"Diโ€“didalam, ada putrinya Tuan Bay Collin," ucap Rapika dengan nada menyiratkan kecemasan.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข. ๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฃ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. Rapika terus menggerutu di dalam hatinya. Wajahnya terlihat masam karena kesal.


"Apa begini tata krama seorang pengusaha? Masuk kedalam kantor orang lain ketika yang punya tidak ada di tempat!" sarkas Better ketika ia telah memasuki ruangannya.


"Beginikah caramu menyambut kawan lama, Boy? Aku bahkan sudah menunggumu kurang lebih satu jam," ucap wanita berparas cantik itu. Bentuk tubuh yang sempurna hingga tanpa cela dan cacat sedikitpun. Wanita berambut coklat lurus sebahu itu memasang senyum manisnya.


"Urusan antar perusahaan sudah beres. Jadi apa sebenarnya alasanmu kesini?" tanya Better langsung ke sasaran.


"Kau tau, merger proyek kita dengan perusahaan di negara S. Papi telah memutuskan untuk mengirim ku kesana," jelas wanita itu dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Ia sengaja bersedekap agar dadanya sedikit menyembul ke atas. Kerah blues nya yang rendah tentu sangat mendukung akan aksinya itu.


"Kenapa tuan Bay Collin mengirim putri manjanya untuk menangani proyek yang besar? Apakah ia tidak takut menderita kerugian?" sindir Better.


Kalimat yang seakan merendahkan kemampuan itu, seketika membuat wajah wanita di depan meja Better merah padam. Namun sebisa mungkin ia meredamnya demi kelancaran misinya tentu saja.


"Kau terlalu merendahkan partner mu Boy. Aku, bukan lagi Myrabelle yang kau kenal tujuh tahun yang lalu," ucapnya dengan senyum semenarik mungkin.

__ADS_1


"Aku juga bukan pria yang kau kenal tujuh tahun yang lalu. Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu." Better berkata sinis dengan tatapan tak suka mengarah pada Myra. Meskipun, wanita di hadapannya ini sangatlah cantik dan menggoda.


"Ya aku tau sekarang. Kau menjadi pria yang dingin semenjak kekasihmu mati bunuh diri kala itu," tukas Myra percaya diri dengan analisanya sendiri.


๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜บ. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. Batin Myra dengan segala persepsinya.


"Jika sudah selesai, silakan!" ujar Better seraya menunjuk ke arah pintu dengan tangannya.


"Baiklah, sampai ketemu tiga hari lagi. Bye, Boy!" ucap Myra dengan senyum menggoda. Mungkin jika lelaki lain, sudah klepek-klepek di buatnya. Akan tetapi pria ini Better, lelaki yang menjunjung tinggi kesetiaan dan pastinya sudah terlanjur bucin dengan istrinya yang gemoy.


"Dalam waktu dekat, aku harus membuat resepsi pernikahan. Agar wanita ulat pucuk seperti itu tidak berkeliaran di hidupku." Gumam Better sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Kemudian ia menghembuskan napasnya kasar.


"Kenapa godaan seperti itu harus datang di hidupku!" gusar Better seraya mengacak rambutnya kasar.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜บ. ๐˜’๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ. Batin Myra, yang kini tengah menatap gedung di belakangnya dengan senyuman penuh arti.


_____


"Pagi Kakak ipar!" sapa Walls yang kini ikut bergabung di meja makan.


"Pagi Walls. Silakan pilih menu sarapan mu ya," ucap Susi.


"Kakak ini, ternyata bukan hanya cantik dan seksi. Akan tetapi juga sangat baik dan pengertian," puji Walls dengan kerlingan nakalnya. Sementara Susi hanya meladeni tingkah laku Walls sebagai candaan saja. Namun, tidak dengan Arjuna. Sejak kedatangan Walls pria dengan bulu halus di rahangnya itu terus menatap tajam ke arah adik sepupunya.


"Ayo Bang. Lanjut lagi makannya. Jangan melotot begitu, apalagi marah. Nanti kau bisa cepat tua dan keriput, lalu Kakak ipar kepincut berondong yang lebih muda dan perkasa." Walls berkata asal sambil menyendok nasi.


Sementara pria di hadapannya sudah mengeluarkan asap pada hidung dan juga telinganya. Kemudian Arjuna meraih centong di hadapannya, dan ...


PLETUUKK


"Awww! Sakit!" Walls langsung meletakkan piringnya kembali. Ia pun meringis sembari memegangi dahinya yang sepertinya benjol.


"Siapa yang menyuruhmu makan! Menggoda istriku lalu menyumpahi ku!" hardik Arjuna dengan kedua mata memerah menahan kesal.


๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช? ๐˜‹๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต. Susi sontak memijat pelipis dengan kedua tangannya. Kepalanya berdenyut seketika.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2