
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
๐๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ณ๐ข๐ฑ๐ช. ๐๐ฎ๐ข๐ฌ, ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฏ๐จ๐ถ๐ณ๐ถ๐ด๐ช๐ฏ. ๐๐ช๐ณ๐ข๐ช๐ฏ, ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ญ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต๐ช๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ช๐ด๐ด.
Vanish mengedarkan pandangannya di dalam kamar yang tak seberapa luas itu. Karena ruangan itu, hanya mampu menampung satu tempat tidur ukuran sedang, satu lemari kayu dua pintu, satu meja rias kecil, dan juga satu meja nakas.
Klek!
Pintu kayu itu terbuka, menampilkan sebuah senyuman hangat dari seorang wanita berusia matang.
"Nis, nih emak bikinin teh anget biar eneg kamu ilang." Wanita berusia 40-an yang bernama Kelly itu, menyodorkan gelas gagang berisi teh yang masih mengepulkan uap panasnya itu.
"Makasih ya, Mak. Tau aja kalo Ninis butuh ini." Vanish tersenyum, seraya menerima gelas dari tangan Kelly.
"Mak, kapan kita akan menjenguk ayah?" tanya Vanish, sembari menyeruput tehnya perlahan.
"Nanti sore aja, biar kamu istirahat dulu. Nanti, Emak kabarin dulu ke ayah. Rencananya, hari ini juga tuan Shi akan menjenguk," ucap Kelly enteng. Ia tak tau saja, ketika mendengar nama itu, dada Vanish langsung berdentum kencang.
" Jaโjadi, Ninis akan ketemu di sana?" tanya Vanish terbata. Bagaimanapun, ia merasa belum siap untuk bertemu pria yang di jodohkan oleh ayahnya.
"Ninis, tenang aja. Ayah sama Emak, udah mikirin dan nyiapin yang terbaik buat masa depan kamu," jelas Kelly seraya menarik tangan putrinya sulungnya itu, lalu menggenggamnya lembut.
Vanish hanya tersenyum hambar, bagaimanapun juga sisi hatinya merasakan sakit meski tak berdarah. Seketika ia menangkap bayangan sang pacar di pelupuk matanya. Buru-buru, Vanish menggeleng cepat demi menghapus bayangan samar itu.
"Kamu kenapa, Nis? pusing?" tanya Kelly dengan gurat khawatir yang begitu kentara di wajahnya yang masih nampak terlihat muda dan cantik.
"Ah, engโenggak kok, Mak. Ninis gak kenapa-napa, beneran." Vanish melambaikan tangannya ke depan, ia tersenyum meski di paksakan. Sehingga kekhawatiran dari wajah Kelly berangsur-angsur hilang.
"Ya udah, kalo gitu, kamu istirahat aja dulu. Nanti, Mak suruh Kiss panggil kamu kalo masakan udah pada mateng semua. 'Kan kamu minta pepes ikan emas, jadi agak lama mateng nya. Kamu tau kan, Emak masaknya manual kagak pake panci peresto," tutur Kelly dengan sebuah kode, yang Vanish tau apa artinya.
" Iya, maafin Ninis, Mak. Kesibukan kerja, jadi lupa mesenin Emak tuh panci," ucap Vanish dengan cengiran tengilnya. "Padahal, mah bisa dapet kortingan harga. Ya udah, sebentar Ninis chat temen dulu yang kerja di tempat lama." Vanish pun, langsung membuka ponselnya.
Seketika itu pula, ia mendapatkan boom chat dan telpon dari sang pacar.
๐๐ข๐ช๐ฉ, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ข๐ค๐ข๐ณ ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ ๐ข๐ซ๐ข ๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐บ๐ข? ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ฆ ๐ฃ๐ข๐ธ๐ฆ๐ญ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต ๐จ๐ช๐ฏ๐ช.
๐ "Maaf ya, pacar. Hapenya sengaja Ninis matikan tadi, terus di silent. Jadi, gak tau kalo dapet chat dan telepon. Jangan telpon, cukup balas chat aja."
๐ฉ "Kamu tega banget, Nis. Bikin aku khawatir setengah mati. Setidaknya kamu ingat untuk mengabari ku."
๐ " Idih, marah! Namanya juga 'kan lupa. Kirain, kamu gak butuh juga laporan dari aku."
๐ฉ "Siapa bilang aku gak butuh. Pokoknya kamu harus cerita, setelah kamu ketemu sama cowok yang dijodohin ke kamu itu."
__ADS_1
๐๐ข๐ข๐ง, ๐บ๐ข ๐ฑ๐ข๐ค๐ข๐ณ. ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ช๐ข๐ต ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ถ๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ช๐ด๐ข๐ฉ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ด ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ข๐ฑ๐ช, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฏ๐จ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐จ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฃ๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ช๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ.
"Abis pesen barangnya, kamu istirahat. Emak gak akan ganggu kamu lagi." Kelly beranjak dari pinggir tempat tidur, membuat Vanish tersentak sadar.
๐๐ต๐ฅ๐ข๐ฉ, ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ณ๐ช. ๐๐ฅ๐ถ๐ถ๐ฉ๐ฉ! ๐๐ฎ๐ข๐ฌ ๐ค๐ถ๐ณ๐ช๐จ๐ข ๐ฌ๐ข๐จ๐ข๐ฌ ๐บ๐ข? ๐๐ฎ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ.
Vanish meringis seraya, menunduk cepat demi menyembunyikan kekagetannya.
๐๐ช๐ด, ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ถ. ๐๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐บ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ฌ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ, ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ค๐ฆ๐ธ๐ข๐ช๐ฏ ๐ข๐บ๐ข๐ฉ. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ, ๐ข๐บ๐ข๐ฉ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ฐ๐ฎ ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฉ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ฆ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช-๐ญ๐ข๐ฌ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ. ๐๐ฆ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ต๐ข๐ถ, ๐๐ช๐ด ...
Kelly, menyusut kristal bening yang mengalir dari sudut matanya. Ia berbalik, kemudian menatap nanar pintu kamar putrinya itu.
Tak lama kemudian, bau khas dari daun pisang yang di bakar. Menguar hingga menggelitik para cacing pita yang kelaparan.
"Kiss, panggil kakakmu gih!" titah Kelly pada putri keduanya yang masih pra remaja itu.
"Iya, Mak. Aku juga udah gak sabar mau ngobrol sama kakak!" sahut Kiss, dari ruang sebelah. Dia yang sudah berangkat sekolah ketika Vanish tiba di rumah ini. Ketika dirinya pulang, sang kakak sedang tertidur pulas di atas kasurnya. Ia pun tak tega, untuk membangunkan Vanish. Saat, di lihatnya raut wajah sang kakak begitu lelah.
Kiss segera berlari dan membuka pintu kamar sang kakak.
"Kak! Bangun yuk! Kiss kangen!" Kiss berteriak sambil mengguncang tubuh kakak perempuannya itu.
"Ugghh ...!" Vanish menggeliat hingga, Kiss terpental dari pinggir kasur.
"Eh, Kiss? Kiss Frey adeknya Kakak...!" Vanish yang nyawanya baru kumpul, akhirnya menyadari jika yang di bawah kasur adalah adik semata wayangnya.
"Kakak!" Kiss pun bangkit dan langsung menubruk tubuh kakak perempuannya itu.
"Kiss, kangen," ucapnya, dengan mata yang terlihat mendung.
"Ih, kamu tuh ya. Masih aja cengeng ternyata," ledek Vanish. Setelahnya ia pun terkekeh ketika sang adik melepas pelukan mereka dengan raut wajah cemberut.
"Selalu deh, ngeledekin aku sukanya!" protes Kiss, sebal.
"Idih, adek imut ngambek nih yee ...!" Vanish, menarik hidung Kiss setelah sang adik teriak iapun lari keluar kamar sambil tertawa.
"Emaaakk! Kakak nakal!"
"Kamu tuh, kebiasaan dari dulu gak ilang-ilang. Masih aja suka ngeledekin adeknya.
"Wah, Mak. Wangi banget dah pepesnya. Beeuuhh, mantebb emang masakan Emak!" Vanish yang membaui aroma pepes yang tertata dengan menggoda di atas piring, mengacungkan dua jempolnya ke arah Kelly.
Mereka bertiga pun duduk di atas permadani tebal. Karena, keluarga ini tidak memiliki meja makan. Jadi, mereka biasa makan lesehan di bawah. Tepatnya di ruang keluarga, di mana biasa mereka berkumpul dulu sambil menonton acara televisi. Sedangkan ruang depan terdapat beberapa kursi dan meja kecil untuk menerima kunjungan dari tamu.
__ADS_1
Vanish menyeka peluh yang menetes di pelipisnya. Namun, tangannya terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sambil sesekali dirinya mengeluarkan desah kepedasan.
"Masakan Emak emang, tiada lawan!" ucap Vanish dengan meniru logat ketimuran. Membuat Kiss dan Kelly tak tahan untuk tertawa.
"Kalo gak ada Kakak sepi deh rumah ini, gak ada yang bisa bikin ketawa." Kiss bercerita sambil berebut mencuil daging ikan pepes dengan Vanish.
"Biasanya, 'kan ayah yang suka ngelawak," ujar Vanish, heran.
"Itu 'kan sebelom ayah, eemmhh!" Kelly menjejali bumbu pepes kedalam mulut Kiss, seraya memberi kode lewat tatapan matanya.
"Nih, bumbunya enak deh, berasa!" ujar Kelly, sambil terus menjejalkan nya kedalam mulut Kiss. Membuat remaja itu, tak bisa bersuara lagi. Iapun faham maksud dari Kelly.
"Emak tega bener! Tapi bagus sih, lanjut Mak!" Lalu Vanish pun tertawa melihat wajah kesal Kiss. Ia merapikan bekas makannya, lalu membawanya ke dapur.
"Mak, nanti Ninis bikinin wastafel ya. Jadi, Emak gak perlu jongkok kalo mau nyuci piring. Sekalian, di keramik aja nih tembok dapurnya." Vanish, yang sedang berjongkok untuk mencuci piring, mengedarkan pandangannya ke dapur yang nampak kurang layak itu.
"Emangnya, kamu punya duit? 'kan yang kamu kirim aja udah banyak?" heran Kelly.
"Ada dong, Mak. Tabungan Ninis lumayan banyak, adalah sekitar 10 jutaan mah." Vanish mengeringkan tangannya lalu, menghampiri Kelly yang duduk di bale dapur.
"Nanti tabungan kamu abis lho! Masa kamu kerja capek-capek gak ada hasilnya?" tolak Kelly, meskipun rumah mereka memang butuh sedikit perbaikan, tapi ia tak sampai hati jika harus menghabiskan hasil jerih payah putrinya itu.
"Kan, nanti Ninis nikahnya sama orang kaya. Jadi, aku gak perlu kerja juga bakal pegang uang, iya 'kan, Mak?" tanya Ninis, dengan senyum yang tersungging tulus dari hatinya.
"Maksudnya, kamu ...?"
"Ninis, ikhlas dengan menerima perjodohan ini." Vanish bertahan dengan senyumnya. Ia sudah bertekad akan menuruti semua keinginan orang tuanya, terutama sang ayah. Ia sudah memikirkannya hingga tertidur dalam tangisnya tadi.
"Emak seneng dengernya." Kelly tersenyum lega. Iapun menarik tubuh mungil itu kedalam dekapannya.
"Padahal, kamu bisa memberi keputusan setelah bertemu dengan tuan Shi," ucap Kelly, sambil mengelus lembut rambut putrinya yang tergerai panjang sebahu. Hanya saja, jika bekerja Vanish biasa menyanggulnya.
" Enggak perlu, Mak. Ninis percaya sama pilihan kalian berdua." Vanish semakin mengeratkan rangkulannya pada wanita yang telah melahirkannya 21 tahun yang lalu.
__________
"Kamu istirahatlah, biar papi yang menemuinya lebih dulu." Seorang pria paruh baya, keluar dari kamar putra angkatnya yang baru saja tiba dari Kota.
"Shoba, kau jaga tuan muda. Saya pergi dulu sebentar" Pria yang sebagian rambutnya telah memutih itu, menepuk bahu salah satu pengawalnya. Lalu ia segera masuk ke dalam mobil, yang akan membawanya untuk menemui sahabat lamanya itu.
"Baik, Tuan!" pengawal itu lantas menunduk, dan mengiring kepergian tuannya dengan wajah dinginnya.
Bersambung>>>
__ADS_1