Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Chalenge ... ( cieee ... kangen )


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


๐˜๐˜ข๐˜ข๐˜ข๐˜ฉ ... ๐˜š๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜”๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜‘๐˜ฐ๐˜บ, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ-๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ด. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข.


Milna membatin, sambil mematut dirinya di cermin dalam kamarnya. Ia meraba lehernya, dimana disana telah menggantung sebuah kalung berliontin merah yang sangat cantik. Pemberian dari mami Love, katanya sebagai ucapan terimakasih. Wanita itu sangat senang, bahkan sampai terlonjak saat mengetahui bahwa Milna tengah hamil bayi kembar.


Mami Love juga minta maaf, karena Joy telah menyakitinya selama ini. Lalu wanita itu berjanji akan menjaga sampai Milna melahirkan nanti. Bahkan ia langsung memutuskan untuk memboyong Milna ke negaranya. Setelah bulan madu keduanya nanti.


"Gimana ini? Aku harus minta pendapat Kak Susi dulu. Bagaimanapun, aku takut. Bagaimana jika nanti sikapnya berubah padaku. Kak Susi saja dulu mertuanya awalnya baik tapi ternyata, sangatlah jahat. Bahkan, rumah tangganya hancur juga kehilangan anak karenanya." Gumam Milna sambil rebahan di atas kasurnya. Ia terus meraba kalung dan juga jam tangan emas yang di berikan oleh Lia.


"Gadis itu, baik sekali. Sifatnya sangat polos dan ceria. Tidak nampak seperti remaja yang tinggal dan termakan pergaulan luar negeri sana.


____


" Aiihh, aku bingung Kak! Aku juga takut jika harus tinggal jauh di negara orang. Tapi, aku tidak akan mungkin bisa mengurus kedua anakku sendirian Kak. Bagaimana ini?" rengek Milna.


"Na. Ikuti apa kata hatimu. Jika kau merasa nyaman dengan mereka maka ikutlah. Bukankah ini kesempatanmu, untuk kembali merasa memiliki keluarga yang sempurna," ucap Susi bijak.


"Na, maminya Joy itu berpihak padamu. Itu sangat bagus. Jangan mencontoh atau membandingkan dengan nasibku. Jalan takdir setiap orang kan berbeda-beda," jelas Susi. Membuat wajah Milna tenang seketika.


"Curhat sama Kakak emang paling pas. Hatiku langsung tenang dan adem," puji Milna. Ia kembali merangkul Susi yang tengah menyusui baby S.


" Lagian Na. Kamu 'kan punya ilmu beladiri. Bisa menggunakan senjata tajam dan juga senjata api. Kenapa sih harus takut sama mertua yang jahat," celetuk Susi, yang mana hal itu membuat Milna nyengir kuda.


"Kamu masih mabuk Na?" tanya Susi.


"Masih Kak, tapi entah kenapa jika di dekat Joy aku tidak pernah Mual," ucap Milna bingung.


"Benarkah? Berarti kedua anakmu maunya selalu dekat dengan ayah mereka. Sungguh anak pemersatu dua hati yang berseteru." Susi terkekeh, kala melihat senyum kecut di wajah Milna.


"Jadi, setiap malam Joy bakal pulang kesini?" tanya Susi memastikan yang langsung di jawab oleh Milna dengan anggukan pelan.


"Ya sudah biarkan saja, yang penting kalian harus bisa jaga diri. Masih ada waktu satu pekan lagi. Setelah itu kalian sah dan bebas untuk melakukan apapun," jelas Susi dengan senyum penuh arti.


"Jangan harap bisa melakukan apapun padaku. Kami punya perjanjian Kak. Sebelum hatiku bisa menerimanya. Dia tidak boleh menggauliku sebagaimana istrinya," ucap Milna dengan suara serak.


" Iya iya, semua terserah kau saja. Aku jamin, kau tidak akan tahan ketika melihatnya buka baju nanti." Setelah mengatakan hal nyeleneh itu Susi pun terkikik sendiri.


"Idih, Kakak mah itu! Dasar mesum!" Milna ikut terkekeh hingga baby S menangis karena tidurnya terganggu. Ya terganggu kegiatan rusuh dua wanita yang sedang dalam sesi curhat campur ghibah ini.


Drrrrtttt ...!


"Kak hapemu berdering." Tunjuk Milna ke atas nakas.

__ADS_1


"Tolong ambilkan Na. Takutnya dari Arjuna." Lalu Milna mengambil Ponsel yang terus berdering nyaring dengan ringtone pecah seribu.


" Kenapa sih Na? Itu kan lagu yang sedang viral." Kemudian Susi mengangkat panggilan itu sambil tersenyum.


"Kenapa Van?" Seketika raut wajahnya berubah drastis membuat Milna mendekatinya untuk mengambil alih baby S yang tertidur.


"Aku akan menghubungi Arjuna. Kau tenanglah!" Tak lama kemudian, panggilan terputus.


"Kak, ada apa dengan Vanish?" tanya Milna dengan raut wajah khawatir. Bagaimana tidak, jika ia melihat wajah Susi yang mendadak pasi.


"Vanush, masuk rumah sakit. Karena pingsan ketika sedang mengganti pembalutnya di toilet kantor.


" Keโ€“kenapa bisa pingsan?" heran Milna ikut bingung.


" Better tidak mengatakannya, karena dokter masih memeriksa keadaan Vanish. Bagaimana ini? Resepsi kalian tinggal sepekan lagi. Persiapan juga sudah 90 persen. Tinggal fitting baju saja lusa." Susi memijat pangkal hidungnya. Sungguh, kejadian yang diluar dugaan.


"Kak tenanglah. Semua pasti akan baik-baik saja." Milna merangkul bahu Susi berusaha menenangkan sahabat rasa saudara itu.


"Aku akan mengabari Ar." Lalu Susi kembali menggeser layar pada ponselnya.


"Ar, antar aku kerumah sakit sekarang ya?"


______


" Bet!" Susi, Milna dan Arjuna menghampiri Better yang melamun di kursi tunggu ruang IGD.


"Tenanglah. Semua pasti akan baik-baik saja." Arjuna menepuk bahu itu pelan memberi semangat.


Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka.


"Silakan, suami dari Ibu Vanish!" ujar sang perawat memanggil Better masuk ke dalam.


"Masuklah. Kami akan di sini menunggu kabar." Arjuna menenangkan anak buahnya itu, bahkan dirinya rela meninggalkan rapat. Serta membiarkan Joy yang menyelesaikannya.


"Apa ... Joy akan kesini, Tuan?" tanya Milna. Tapi pada akhirnya ia menyesali pertanyaan yang di lontarkannya.


"Apa kau merindukannya?" sarkas Arjuna. Berakhir dengan sebuah cubitan panas pada area pinggangnya.


" Ish, kenapa aku di cubit?" tanyanya pelan. Tapi masih kedengaran bahkan ke telinga para readers sekalian.


"Jaga ucapan, kalo lagi ngomong sama ibu hamil!" gemas Susi, bahkan terlihat ia mengeratkan gerahamnya.


"Aku 'kan cuma nanya," kilah Arjuna. Hingga cubitan kedua mendarat dengan sempurna.

__ADS_1


"Astaga, sakit!" Arjuna mengusap depan perutnya dengan wajah kesal. Untung saja sayang, entah kalau tidak.


"Udah salah masih berkilah. Mana ada nanya kayak gitu! Kamu sama aja kayak Joy kalo gitu!" omel Susi serius.


" Iya deh maaf." Arjuna meringis ketika kedua mata istrinya itu sudah mendelik kesal.


"Na, maaf ya. Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja jika aku mengatakan pada Joy jika kau merindukannya. Mungkin, pria itu akan berlari meninggalkan rapat yang masih berjalan saat ini. Tapi, itu beresiko dengan pemecatan dariku. Karena klien kami kali ini akan berinvestasi sangat banyak," tutur Arjuna. Membuat dahi kedua wanita di hadapannya berkerut dalam.


"Sudahlah, lebih baik diam." Akhirnya Susi membekap mulut Arjuna. Daripada mengeluarkan kalimat yang cuma bikin orang pusing.


"Kenapa kalian tak mengerti maksud dariku sih?" kesal Arjuna.


๐ŸพEmang maksudnya apaan sih Ar? Readers aja gak ada yang ngerti! Tolonglah jangan berbelit๐Ÿ˜ต


" Apa kau tidak ingin menguji perasaan Joy? Ayo hubungi dia!" tantang Arjuna.


"Dia tidak akan meninggalkan rapat itu. Karena selain akan kehilangan pekerjaannya. Anda juga akan mengalami kerugian karena kehilangan investor," ucap Milna.


"Ini hanya chalenge. Aku tidak akan memecatnya. Dan jika, klien ku tidak mau mengerti keadaan darurat kami. Untuk apa, bekerja sama dengan perusahaan yang tidak memiliki empati atas dasar kemanusiaan.


" Jadi, begitu." Milna mengangguk kemudian mengeluarkan ponselnya.


" Kau sungguh jahil, daddy!" Susi kembali mencubit tapi kali ini dengan gemas. Serta di bagian yang membuat Arjuna tersengat.


"Kau juga jahil sayang. Sudah tau di rumah sakit malah menggodaku." Arjuna menahan gemasnya pada wajah cantik yang saat ini tengah terkekeh geli itu.


"Awas saja di rumah nanti!" bisik Arjuna, dengan ancaman yang membuat Susi menelan ludahnya.


"Kau mau apa Ar? Aku belum empat puluh hari," risau Susi.


"Idih, mesum. Mikirnya kesitu muluk. Cieee ... yang udah kangen tuh," goda Arjuna. Sontak membuat wajah Susi bak kepiting rebus saking malunya.


" Tuan! Joy akan datang." Milna berkata dengan tegang.


"Bagus dong. Kau paham 'kan artinya?" tanya Arjuna senang. Ternyata tebakannya selama ini benar. Hari ini perasaan Joy yang sesungguhnya terbukti.


Klekk!


"Tuan, Nyonya!"


Sontak tiga kepala segera menoleh secara bersamaan.


"Vanish ...."

__ADS_1


" Kenapa?" tanya ketiganya serempak.


Bersambung>>>


__ADS_2