Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Si Pendek Yang Mencuri Hati.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Anda hebat, Pak. Para investor tertarik dengan produk kita," puji Vanish, pada bosnya itu.


Sementara, yang di puji hanya tersenyum tipis. Pria cuek, yang selalu berpakaian semaunya itu, menekan tombol lift.


" Van," Pria dengan model rambut gondrong yang selalu di kuncir asal itu, memanggil asistennya.


"Iya, Pak," jawab Vanish. Hatinya berdegup ketika bosnya itu, memandangnya lamat.


"Maaf, saya belum sempat membelikan mu kado," sesal Better, dengan cara bicaranya yang datar. Pria itu memang tak pandai bicara dengan wanita.


"Eh, itu ... tidak usah di pikirkan, Pak. Tidak masalah, cukup doanya saja," kata Vanish dengan senyum ceria seperti biasanya. Gadis ini, memang tipe periang dan banyak bicara. Sangat kontras dengan Better yang cuek, dingin serta irit bicara.


" Doa?" Better mengerutkan dahinya bingung. Baru kali ini, ada orang yang minta doa padanya. Sementara, dia saja sudah lupa kapan terakhir ia mendoakan dirinya sendiri.


"Iya, Pak. Doa kan saja biar saya sukses, terus dapet jodoh cowok yang tajir dan ganteng. Hihihi ... ." Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Vanish pun terkikik geli sendiri.


๐˜Ž๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข? ๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ข'๐˜ช๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ. ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ.


Vanish, membekap mulutnya sendiri. Merasa dirinya telah lancang bicara sembarangan pada atasannya.


"Maaf ya, Pak. Jangan dianggap serius ucapan saya barusan," sesal Vanish dengan senyum tak enak hati.


๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ?


"Saya tidak pandai berdoa, bahkan saya pun sudah lupa ... kapan terakhir kali mendoakan diri sendiri," jelas Better, seraya menekan tombol lift, karena mereka telah tiba di lantai khusus presdir.


"Benarkah, kalau begitu ... biar saya saja yang mendoakan anda. Semoga, anda selalu berjaya ... sehat ... dan segera menemukan cinta sejati," ucap Vanish tulus, sembari memejamkan kedua matanya.


"Terimakasih." Better pun menarik sudut bibirnya, hingga membentuk lengkungan sabit. Kemudian, ia menepuk lembut ujung kepala asisten mungilnya itu.


๐˜”๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ? ๐˜—๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ!


Mendapat perlakuan sehangat itu, membuat Vanish seketika terpaku. Ia hanya dapat mengerjapkan matanya beberapa kali. Berharap semoga kedua pipinya tidak berubah warna.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช. ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ.


Better pun masuk keruangan nya, sementara Vanish di ruangan sebelahnya. Dimana ruangan keduanya hanya terhalang sekat kaca bening transparant.


"Rapika, tolong keruangan ku sekarang," titah Better melalui interkom di atas meja kerjanya.


๐˜›๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Klek!


"Permisi, Pak."


"Masuklah."


"Rapika." panggil Better, pada sekretarisnya. Kehadirannya di perusahaan ini tak lain, atas rekomendasi dari Susi.

__ADS_1


Meski sudah menjadi istri dari pemilik nomer satu perusahaan. Susi tak pernah lupa akan nasib para sahabatnya. Mereka yang memiliki talenta, akan di rekomendasikan untuk bekerja pada perusahaan Arjuna.


"Iya, Pak," jawabnya sopan.


"Santai saja, duduklah." Better menutup laptopnya, lalu menatap Rapika.


Sementara itu, sang sekretaris di hadapannya terlihat bingung.


"Benarkah, Vanish berulang tahun hari ini?" tanya Better to the point.


"Betul, Pak," jawab Rapika lugas, tetap dengan logat khasnya.


"Kau kan sahabatnya, lalu apa yang disukainya?" tanyanya lagi, dengan mimik wajah yang serius.


"Iya, Pak. Kami sudah bersahabat selama tiga tahun. Di sukai? Bila lebih spesifik lagi kah?" Meskipun sempat bingung kenapa bosnya menanyakan hal ini padanya. Hingga ia berpikir, bahwa ada sesuatu yang telah terjadi antara keduanya.


"Apa saja, sebutkan semuanya dalam waktu lima menit," titahnya.


"Ehm, dalam hal makanan ia begitu menyukai udang juga daging domba. Sedangkan untuk hiburan, Vanish menyukai animasi dan fiksi." Rapika menjeda penjelasannya untuk mengambil napas sejenak.


"Untuk benda apapun itu, ia sangat menyukai warna gelap.Akan tetapi, dalam hal percintaan ia menyukai kesetiaan dan kejujuran," untuk kalimat yang terakhir, ia hanya berkelakar. Karena itu, Rapika sempat tersenyum simpul sesudahnya.


Obrolan keduanya di saksikan oleh, Vanish diruangan sebelah. Hanya bisa melihat tanpa bisa mendengar.


๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ? ๐˜’๐˜ฐ๐˜ฌ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ? ๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ช ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ. ๐˜›๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ชa ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜™๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช.


๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜™๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฉ.


Keesokan harinya.


Presdir dengan gaya rambut gondrong itu, memasuki lobi perusahaan dengan gaya cueknya seperti biasa. Seraya menenteng sesuatu ditangannya.


Ia melewati beberapa karyawan yang menyapanya, sementara Better hanya menanggapinya dengan dengan lambaian tangan ataupun anggukan kepala.


Terkadang memberi tepukan di bahu, tanda menyemangati beberapa karyawan pria di kubikelnya.


"Kerja tuh paling enak ya begini, gaji gede punya bos ganteng dan gak arogan." Komentar salah satu karyawan yang line kubikelnya baru saja di lewati oleh sang presdir.


"Mata gak sepet, kerja jadi semanget." Sahutan komentar dari yang lain, pastinya dari kubu karyawati.


"Bisa aje lu, Zaenab. Dah, kerja! Kerja!" perintah salah satu dari mereka mengingatkan kawan-kawannya.


"Vanish, jadi dia sudah datang? Kenapa tidak menungguku di lobi seperti biasanya?" Better melihat ke ruangan sebelahnya, dimana sang asisten telah sibuk dengan berkas-berkas serta laptopnya.


"Sudahlah, menunggu dia kesini saja." Better pun meletakkan bokongnya di kursi kerja. Menyalakan laptop memeriksa beberapa email perusahaan.


๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฆ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ช. ๐˜š๐˜ฐ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ซ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ. ๐˜Ž๐˜ถ๐˜ฆ, ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ.


Vanish pun keluar dari kantornya, menuju pantry. Sebelumnya ia melewati meja kerja Rapika, sang sekretaris cantik.


"Pagi, Ra!" sapanya.

__ADS_1


"Hai, Van. Pagi juga!" balas Rapika, dengan dialek bahasanya yang tidak bisa dihilangkan.


"Gue mau ke pantry dulu, ye. Jangan lupa nanti siang kite makan bareng lagi." Baru saja Vanish hendak berjalan Rapika menghentikan langkahnya dengan panggilan.


"Van! Sini lah dulu!"


" Kenape, si? Gue mau bikin kopi nih!"


"Jadi, kau belum bertemu sama pak bos?" tanya Rapika yang penasaran.


"Ye,belom lah. Pan die baru dateng, makanye gue mau bikin kopi dulu."


"Eh, emang ade ape sih, Ra? Kok, elu kayak menyimpan sesuatu dari gue?" selidik Vanish dengan mata memicing.


"Kau ni! Bukan macam itu! Aku bertanya pun tak bolehkah?" kilah Rapika, berusaha memasang wajah biasa saja.


"Ye, kirain ada apaan!" Vanish pun berlalu. Gadis mungil itu, selalu menyapa karyawan lain lebih dulu dengan gaya bicaranya yang ceria.


"Hei, Van! Nanti siang, makan sama gue ya?" ajak salah satu karyawan pria.


"Yah, gue kagak bisa. Kalo makan siang, gue pasti sama Rara," tolaknya halus.


"Jadi, lu ngajak makan malem nih?" pria tersebut memasang senyum girangnya.


"Elu bisa aje, Ger. Kalo malem pan waktunye gue tidur, dah ah. Mau bikin kopi dulu buat pak bos!" Pria tersebut hanya bisa garuk-garuk kepalanya, seraya menatap punggung Vanish yang perlahan menghilang dari koridor.


"Gagal? Coba lagi!" goda kawannya di balik kubikel mereka.


_


_


_


"Pagi, Pak! Ini kopinya." Vanish meletakkan secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas itu. Aromanya begitu menggelitik hidung, memancing selera untuk segera mencicipinya.


"Terimakasih ya, Van." ucap Better, yang hanya diangguki oleh asistennya itu.


"Tunggu, dulu." Better menahan langkah Vanish yang hendak keluar dari kantornya.


"Kenapa, Pak? Saya cuma mau ngambil beberapa proposal meeting. Setelah itu, kesini lagi," jelas Vanish.


"Itu, nanti saja. Saya, ada sesuatu untuk kamu, terimalah!" Better menyodorkan paper bag berwarna coklat muda itu keatas meja.


"Apa ini, Pak? Iโ€“ini, untuk saya?" heran Vanish, tumben sekali bosnya ini memberi hadiah. Apa karena ia ulang tahun kemarin.


"Itu hadiah dari saya, maaf kalau terlambat. Semoga kamu suka," ucap Better, sambil menatap wajah sumringah di hadapannya.


"Ini!"


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2