
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Anda hebat, Pak. Para investor tertarik dengan produk kita," puji Vanish, pada bosnya itu.
Sementara, yang di puji hanya tersenyum tipis. Pria cuek, yang selalu berpakaian semaunya itu, menekan tombol lift.
" Van," Pria dengan model rambut gondrong yang selalu di kuncir asal itu, memanggil asistennya.
"Iya, Pak," jawab Vanish. Hatinya berdegup ketika bosnya itu, memandangnya lamat.
"Maaf, saya belum sempat membelikan mu kado," sesal Better, dengan cara bicaranya yang datar. Pria itu memang tak pandai bicara dengan wanita.
"Eh, itu ... tidak usah di pikirkan, Pak. Tidak masalah, cukup doanya saja," kata Vanish dengan senyum ceria seperti biasanya. Gadis ini, memang tipe periang dan banyak bicara. Sangat kontras dengan Better yang cuek, dingin serta irit bicara.
" Doa?" Better mengerutkan dahinya bingung. Baru kali ini, ada orang yang minta doa padanya. Sementara, dia saja sudah lupa kapan terakhir ia mendoakan dirinya sendiri.
"Iya, Pak. Doa kan saja biar saya sukses, terus dapet jodoh cowok yang tajir dan ganteng. Hihihi ... ." Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Vanish pun terkikik geli sendiri.
๐๐ถ๐ฆ ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ธ๐ข๐ณ๐ข๐ด ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฌ ๐บ๐ข? ๐๐ข๐ด๐ข ๐ฏ๐บ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ด ๐ฅ๐ฐ๐ข'๐ช๐ฏ ๐จ๐ถ๐ฆ. ๐๐ข๐ฏ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต. ๐๐ข๐ฑ๐ช, ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ณ ๐ญ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ซ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ญ๐ฐ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐จ๐ถ๐ฆ.
Vanish, membekap mulutnya sendiri. Merasa dirinya telah lancang bicara sembarangan pada atasannya.
"Maaf ya, Pak. Jangan dianggap serius ucapan saya barusan," sesal Vanish dengan senyum tak enak hati.
๐๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฅ๐ช๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ต๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฑ๐ข ๐ช๐ข ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ?
"Saya tidak pandai berdoa, bahkan saya pun sudah lupa ... kapan terakhir kali mendoakan diri sendiri," jelas Better, seraya menekan tombol lift, karena mereka telah tiba di lantai khusus presdir.
"Benarkah, kalau begitu ... biar saya saja yang mendoakan anda. Semoga, anda selalu berjaya ... sehat ... dan segera menemukan cinta sejati," ucap Vanish tulus, sembari memejamkan kedua matanya.
"Terimakasih." Better pun menarik sudut bibirnya, hingga membentuk lengkungan sabit. Kemudian, ia menepuk lembut ujung kepala asisten mungilnya itu.
๐๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช ๐ข๐ฑ๐ข ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ญ๐ฆ๐ฎ? ๐๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ด ๐ด๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฎ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ช๐ด ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ฆ ๐จ๐ถ๐ฆ!
Mendapat perlakuan sehangat itu, membuat Vanish seketika terpaku. Ia hanya dapat mengerjapkan matanya beberapa kali. Berharap semoga kedua pipinya tidak berubah warna.
๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ฐ๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ต๐ช, ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐บ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฏ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช. ๐๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ข๐ต๐ถ.
Better pun masuk keruangan nya, sementara Vanish di ruangan sebelahnya. Dimana ruangan keduanya hanya terhalang sekat kaca bening transparant.
"Rapika, tolong keruangan ku sekarang," titah Better melalui interkom di atas meja kerjanya.
๐๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช, ๐ฑ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ด. ๐๐ข๐ฎ ๐ด๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ญ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.
Klek!
"Permisi, Pak."
"Masuklah."
"Rapika." panggil Better, pada sekretarisnya. Kehadirannya di perusahaan ini tak lain, atas rekomendasi dari Susi.
__ADS_1
Meski sudah menjadi istri dari pemilik nomer satu perusahaan. Susi tak pernah lupa akan nasib para sahabatnya. Mereka yang memiliki talenta, akan di rekomendasikan untuk bekerja pada perusahaan Arjuna.
"Iya, Pak," jawabnya sopan.
"Santai saja, duduklah." Better menutup laptopnya, lalu menatap Rapika.
Sementara itu, sang sekretaris di hadapannya terlihat bingung.
"Benarkah, Vanish berulang tahun hari ini?" tanya Better to the point.
"Betul, Pak," jawab Rapika lugas, tetap dengan logat khasnya.
"Kau kan sahabatnya, lalu apa yang disukainya?" tanyanya lagi, dengan mimik wajah yang serius.
"Iya, Pak. Kami sudah bersahabat selama tiga tahun. Di sukai? Bila lebih spesifik lagi kah?" Meskipun sempat bingung kenapa bosnya menanyakan hal ini padanya. Hingga ia berpikir, bahwa ada sesuatu yang telah terjadi antara keduanya.
"Apa saja, sebutkan semuanya dalam waktu lima menit," titahnya.
"Ehm, dalam hal makanan ia begitu menyukai udang juga daging domba. Sedangkan untuk hiburan, Vanish menyukai animasi dan fiksi." Rapika menjeda penjelasannya untuk mengambil napas sejenak.
"Untuk benda apapun itu, ia sangat menyukai warna gelap.Akan tetapi, dalam hal percintaan ia menyukai kesetiaan dan kejujuran," untuk kalimat yang terakhir, ia hanya berkelakar. Karena itu, Rapika sempat tersenyum simpul sesudahnya.
Obrolan keduanya di saksikan oleh, Vanish diruangan sebelah. Hanya bisa melihat tanpa bisa mendengar.
๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ช๐ฏ ๐บ๐ข, ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฅ๐ช๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ? ๐๐ฐ๐ฌ, ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ณ๐ช๐ถ๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ? ๐๐ช๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฑ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ด ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ญ ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐ด ๐ข๐ฑ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ๐ช ๐จ๐ถ๐ฆ. ๐๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต ๐ฅ๐ชa ๐ฏ๐จ๐ฐ๐ฃ๐ณ๐ฐ๐ญ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ข๐ฑ๐ช๐ฌ๐ข, ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช.
๐๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐จ๐ช ๐ฑ๐ช๐ด๐ช๐ฌ, ๐๐ข๐ณ๐ข ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ค๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ, ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ช ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ต๐ช๐ฉ.
Keesokan harinya.
Presdir dengan gaya rambut gondrong itu, memasuki lobi perusahaan dengan gaya cueknya seperti biasa. Seraya menenteng sesuatu ditangannya.
Ia melewati beberapa karyawan yang menyapanya, sementara Better hanya menanggapinya dengan dengan lambaian tangan ataupun anggukan kepala.
Terkadang memberi tepukan di bahu, tanda menyemangati beberapa karyawan pria di kubikelnya.
"Kerja tuh paling enak ya begini, gaji gede punya bos ganteng dan gak arogan." Komentar salah satu karyawan yang line kubikelnya baru saja di lewati oleh sang presdir.
"Mata gak sepet, kerja jadi semanget." Sahutan komentar dari yang lain, pastinya dari kubu karyawati.
"Bisa aje lu, Zaenab. Dah, kerja! Kerja!" perintah salah satu dari mereka mengingatkan kawan-kawannya.
"Vanish, jadi dia sudah datang? Kenapa tidak menungguku di lobi seperti biasanya?" Better melihat ke ruangan sebelahnya, dimana sang asisten telah sibuk dengan berkas-berkas serta laptopnya.
"Sudahlah, menunggu dia kesini saja." Better pun meletakkan bokongnya di kursi kerja. Menyalakan laptop memeriksa beberapa email perusahaan.
๐๐ข๐ช๐ฉ, ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ฃ๐ฐ๐ด ๐จ๐ฐ๐ฏ๐ฅ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ถ๐ฅ๐ฆ ๐ฅ๐ข๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐จ๐ข, ๐ฅ๐ช๐ฆ ๐ฌ๐ข๐จ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ, ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ต๐ข๐ฅ๐ช ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ฌ๐ข๐จ๐ข๐ฌ ๐ซ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ต ๐ฅ๐ช๐ฆ ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ฐ๐ฃ๐ช. ๐๐ฐ๐ข๐ญ๐ฏ๐บ๐ฆ, ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ญ๐ช๐ฆ๐ฏ ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ซ๐ถ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฆ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ฆ. ๐๐ถ๐ฆ, ๐ฃ๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ฐ๐ฑ๐ช ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฉ.
Vanish pun keluar dari kantornya, menuju pantry. Sebelumnya ia melewati meja kerja Rapika, sang sekretaris cantik.
"Pagi, Ra!" sapanya.
__ADS_1
"Hai, Van. Pagi juga!" balas Rapika, dengan dialek bahasanya yang tidak bisa dihilangkan.
"Gue mau ke pantry dulu, ye. Jangan lupa nanti siang kite makan bareng lagi." Baru saja Vanish hendak berjalan Rapika menghentikan langkahnya dengan panggilan.
"Van! Sini lah dulu!"
" Kenape, si? Gue mau bikin kopi nih!"
"Jadi, kau belum bertemu sama pak bos?" tanya Rapika yang penasaran.
"Ye,belom lah. Pan die baru dateng, makanye gue mau bikin kopi dulu."
"Eh, emang ade ape sih, Ra? Kok, elu kayak menyimpan sesuatu dari gue?" selidik Vanish dengan mata memicing.
"Kau ni! Bukan macam itu! Aku bertanya pun tak bolehkah?" kilah Rapika, berusaha memasang wajah biasa saja.
"Ye, kirain ada apaan!" Vanish pun berlalu. Gadis mungil itu, selalu menyapa karyawan lain lebih dulu dengan gaya bicaranya yang ceria.
"Hei, Van! Nanti siang, makan sama gue ya?" ajak salah satu karyawan pria.
"Yah, gue kagak bisa. Kalo makan siang, gue pasti sama Rara," tolaknya halus.
"Jadi, lu ngajak makan malem nih?" pria tersebut memasang senyum girangnya.
"Elu bisa aje, Ger. Kalo malem pan waktunye gue tidur, dah ah. Mau bikin kopi dulu buat pak bos!" Pria tersebut hanya bisa garuk-garuk kepalanya, seraya menatap punggung Vanish yang perlahan menghilang dari koridor.
"Gagal? Coba lagi!" goda kawannya di balik kubikel mereka.
_
_
_
"Pagi, Pak! Ini kopinya." Vanish meletakkan secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas itu. Aromanya begitu menggelitik hidung, memancing selera untuk segera mencicipinya.
"Terimakasih ya, Van." ucap Better, yang hanya diangguki oleh asistennya itu.
"Tunggu, dulu." Better menahan langkah Vanish yang hendak keluar dari kantornya.
"Kenapa, Pak? Saya cuma mau ngambil beberapa proposal meeting. Setelah itu, kesini lagi," jelas Vanish.
"Itu, nanti saja. Saya, ada sesuatu untuk kamu, terimalah!" Better menyodorkan paper bag berwarna coklat muda itu keatas meja.
"Apa ini, Pak? Iโini, untuk saya?" heran Vanish, tumben sekali bosnya ini memberi hadiah. Apa karena ia ulang tahun kemarin.
"Itu hadiah dari saya, maaf kalau terlambat. Semoga kamu suka," ucap Better, sambil menatap wajah sumringah di hadapannya.
"Ini!"
Bersambung>>>>
__ADS_1