Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 307. ABPR


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


๐˜ฝ๐™–๐™— ๐™จ๐™ช๐™™๐™–๐™ ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™™๐™š๐™ ๐™–๐™ฉ๐™ž ๐™š๐™ฃ๐™™๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™ฎ๐™– ๐™œ๐™–๐™ž๐™จ.


...๐™…๐™–๐™™๐™ž, ๐™ž๐™ฃ๐™ž ๐™–๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ ๐™ฅ๐™š๐™ฃ๐™ฎ๐™š๐™ก๐™š๐™จ๐™–๐™ž๐™–๐™ฃ ๐™™๐™–๐™ง๐™ž ๐™ ๐™ค๐™ฃ๐™›๐™ก๐™ž๐™  ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™–๐™ ๐™๐™ž๐™ง....


...๐™ƒ๐™š๐™ฅ๐™ž ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™˜๐™–๐Ÿ˜Š...


****


"Sini lu!"


"Akh!" Merybelle memekik keras ketika napi berwajah sangar itu menarik rambutnya kuat.


"Lu udah ganggu tidur gua! Sekarang lu pijitin nih, sampe gua tidur lagi!" Perintah Napi berbadan gempal tersebut.


"Enak aja! Memangnya kau siapa memerintah seenaknya. Aku tidak sudi!" tolak Mery dengan gaya arogannya.


"Wah ni anak baru. Minta di kasih bogem mentah kayaknya." Napi bertubuh kekar itu langsung mengarahkan kepalan kerasnya ke perut Mery.


Buagh!


Tak butuh waktu lama, Mery langsung tersungkur dengan keadaan yang tak berdaya.


"Cih, lemah aja belagu lu!" Napi perempuan itu menendang tubuh Mery yang pingsan. Karena ia masih kesal. Niat ingin bermain-main, tapi Mery sudah pingsan lebih dulu.


Byuuurrr!!


Mery seketika terkesiap ketika air dingin menyiram wajah dan juga kepalanya. Sontak ia pun terbatuk-batuk, lantaran ada air yang masuk ke mulutnya.


"Kalian." Mery berkata dengan gemetar. Ia masih merasakan sakit di perutnya.


"Anak manja sepertimu, jangan berharap hidup dengan tenang di sini!" Napi perempuan itu menarik rambut Mery, hingga kepalanya mendongak.


"Lepaskan aku berengsek! Papi akan membebaskan ku. Kemudian dia akan menghabisi kalian satu persatu!" pekik Mery menatap nyalang kepada beberapa napi di hadapannya.


"Heh! Sombong sekali kau!"


Setelah berteriak marah, ketua napi tersebut dan para kawanannya memukuli Mery hingga wanita muda itu tak mampu bersuara lagi. Posisi sel yang paling ujung membuat kejadian pengeroyokan itu luput dari pantauan para sipir penjara.


Mery meringkuk sambil memegangi perutnya. Darah segar mengalir dari mulut dan juga hidungnya. Bahkan, wajah cantiknya sudah tak berbentuk lagi. Karena pukulan serta tendangan yang bertubi-tubi dari para napi senior.


Itulah akibat yang terjadi bagi tahanan yang baru, tapi sombong dan belagu. Maka, akan menjadi sasaran empuk bagi para napi yang senior dan merasa paling kuat.


______

__ADS_1


"Bos, maafkan saya. Tolong jangan jebloskan saya ke penjara. Nanti, bagaimana nasib anak dan juga istri saya." Milo berlutut di bawah kaki Better. Memohon agar tidak dikasuskan ke polisi.


"Jadi, kau memalsukan identitas mu di perusahaan ini?" selidik Better. Ia menemukan lagi satu fakta tak beres dari salah satu karyawan terbaiknya.


"Maaf, Bos." Milo terus menunduk, ia tak berani untuk sekedar mengangkat wajahnya.


"Pulanglah ke daerah mu. Karena kau tidak akan lagi dapat bekerja di kota. Namamu, sudah di black list. Kau tidak akan dapat bekerja di perusahaan manapun." Kalimat terakhir Better mengakhiri semuanya. Milo tak dapat protes atau mengelak. Setidaknya ini lebih baik ketimbang ia di penjara.


"Baiklah, Bos. Terima kasih karena telah membebaskan saya dari tuntutan. Saya terima ganjaran ini sebagai hukuman dari kekhilafan saya. Saya akan pulang kampung dan kembali berjualan papeda serta cilung," ucap Milo dengan suara tercekat.


Habis sudah mimpinya. Karir yang di bangunnya bertahun-tahun hancur sudah. Niatnya yang ingin memperbaiki nasib dan mengangkat derajat keluarga, musnah dalam sekejap mata.


______


Beberapa bulan kemudian.


"Perlahan ๐˜”๐˜ฐ๐˜บ. Berhati-hatilah. Perutmu sudah semakin membesar," ucap Better memperingati Vanish yang turun dari tangga dengan gesit. Karenanya, Better menuntun tangannya dengan erat.


"Belum berat sayangku ๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ. Baru juga berapa bulan. Kalau kandungannya kak Milna tuh pasti sudah sangat besar. Mungkin, sudah bulannya," sahut Vanish berkilah. Entah karena kandungannya yang kuat. Selama masa mengidam, ia bahkan sama sekali tidak rewel. Tidak ada mual di pagi hari, atau menginginkan makanan aneh di malam hari.


"๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ, mau makan apa hari ini? Atau ada yang kau inginkan dariku?" cecar Better. Ia justru menghayalkan sosok Vanish yang akan manja padanya ketika merengek sesuatu. Tapi, ini malah sebaliknya. Istrinya itu nampak biasa saja. Tidak seperti wanita yang sedang hamil.


Tidak ada sosok yang lemah ataupun manja, seperti apa yang di ceritakan oleh Joy, sahabatnya. Bahkan, Milna masih saja mengidam ini itu di penghujung bulan kehamilannya. Karena, mereka hanya tinggal menghitung hari untuk menyambut kelahiran si kembar Foxy dan Hexy.


"Ninis cuma mau kerja lagi, boleh?" jawab Vanish spontan. Hal itu membuat Better seketika menghentikan aksi mengunyah sarapan paginya.


"Memang salah, kalau wanita hamil itu bekerja? Di luar sana banyak kan, wanita hamil yang bekerja di kantor. Termasuk pada perusahaan ChoCho," papar Vanish. Baru kali ini ia memiliki keinginan yang begitu kuat. Ia begitu ingin bekerja di perkantoran lagi. Mengenakan pakaian formal, bukan hanya daster yang melar dan longgar.


"Sayang. Aku tidak ingin kau kelelahan. Aku tau kau hanya bosan dengan rutinitas yang monoton. Akan tetapi, itu semua demi kebaikanmu. Demi calon anak kita yang kini tengah bersemayam di dalam perutmu," bujuk Better. Agar Vanish membatalkan niatnya.


"Ninis gak akan capek. Kalau waktu kerjanya itu fleksibel," ucapnya masih bersikukuh dengan keinginannya.


"Sayang, ketika kau memutuskan untuk bekerja maka kau haruslah total dengan pekerjaanmu. Karena pekerjaan itu bukan untuk iseng-iseng. Bukan untuk mengisi waktu luang. Akan tetapi, ada sebuah tanggung jawab yang akan kau pikul dan harus kau selesaikan dengan baik," tutur Better panjang kali lebar. Menasihati istrinya itu secara lemah lembut. Bahkan ia terlihat sambil merapikan anak rambut Vanish yang terurai ke depan.


Karena dirinya adalah tipikal pekerja yang sangat berdedikasi terhadap apapun profesi yang tengah digelutinya.


Menurut buku yang dipelajarinya wanita hamil itu memiliki perasaan yang lebih sensitif. Karenanya Better sangat berhati-hati ketika berbicara dengan Vanish. Ia tak ingin istrinya itu tersinggung apalagi sedih.


"Ninis, hanya ingin mempunyai rutinitas lain. Ninis mulai bosan dengan kebiasaan sekarang," keluhnya dengan mencebikkan bibirnya hingga sedikit maju kedepan.


"Aku akan mendaftarkan mu ke kelas parenting. Aku juga akan membelikan mu lebih banyak lagi buku," ucap Better kembali menyuap makanannya. Ia juga menyodorkan sendok kehadapan mulut Vanish.


Ini adalah rutinitasnya, bahkan sejak ia menikahi Vanish. Jadi, bukan agenda memanjakan istri yang sedang hamil. Dirinya memang sudah terbiasa menyuapi Vanish ketika mereka sarapan.


" Aku berangkat sayang. Lakukanlah apapun yang kau suka. Tapi, tidak dengan kembali bekerja. ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ, mengerti kan maksud ๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ?" tanya Better memastikan apakah Vanish sudah melupakan keinginannya.

__ADS_1


"Baiklah, Ninis nurut." Vanish berkata dengan lesu.


"Sayang, dengarkan aku." Better menangkup kedua pipi istrinya itu. Ia juga menatap teduh kedua mata bulat Vanish.


"Jika kau sibuk. Maka ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ tidak akan dapat menikmati setiap momen pada kehamilan. Sebuah momen berharga yang mana begitu sangat diinginkan sejak awal kita menikah. Manjakan dirimu, karena sebentar lagi tidurmu takkan lagi nyenyak. Makan mu takkan lagi puas dan bebas. Setelah kamu melahirkan, maka kesibukan yang sesungguhnya akan di mulai. Kau akan sering terjaga karena bayi kita yang ingin menyusu atau sekedar ingin kau peluk," tutur Better yang mana membuat Vanish sadar akan prioritas sesungguhnya.


"Ninis paham sekarang. Maafin Ninis ya. Karena mulai merasa bosan dengan rutinitas yang sejak lama Ninis idamkan. Seharusnya, Ninis lebih mensyukuri keadaan sekarang. Karena, tidak semua ibu hamil senyaman aku," ucap Vanish penuh sesal. Better menarik dagu bulat istrinya itu. Kemudian memandang lamat pada wajah lembut Vanish. Ia tersenyum, karena pada akhirnya sang istri sadar akan peran luar biasanya saat ini.


"Aku janji akan mengajakmu menengok Milna, bulan depan. Kita akan ikut menyaksikan kelahiran si kembar, baby F & baby H," ucap Better, yang mana membuat raut wajah Vanish sumringah seketika.


"Akhirnya bisa jalan-jalan!" pekik Vanish girang.


๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ง ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ.


_______


Di negara K dengan musimnya yang hangat.


"Vanish akan kesini! Aaaa ... aku senang sekali!" Milna memekik kegirangan. Ia mengibaskan tangan Joy saking girangnya.


"Awas perutmu sayang. Aku linu melihatnya." Joy meringis, karena Milna masih saja energik dalam keadaan hamil anak kembar.


"Aku tetap ingin melahirkan normal Joy. Jadi, ayo kunjungi anak-anakmu." Milna menarik Joy cepat, untuk mendekat ke arah peraduan mereka.


"Sayang, baru semalam aku memasuki mu. Memangnya kau tidak sakit atau terganggu?" tanya Joy takut. Ia sebenarnya mau saja. Siapa sih yang menolak kenikmatan? Hanya saja rasa ngerinya lebih mendominasi. Apalagi ketika Milna polos tanpa sehelai benang. Perutnya yang bulat besar seperti sebuah balon berurat yang dapat meletus sewaktu-waktu. Membuatnya merasa tak tega, takut dan khawatir jika istrinya itu kelelahan dan sakit.


"Aku mendapat informasi, jika hamil tua itu justru membutuhkan cairan ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ*๐˜ฎ๐˜ข lebih banyak untuk merangsang pembukaan pada rahim. Istilahnya, memancing ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช agar pintu jalan lahir segera terbuka. Lagipula, laki-laki itu memproduksi susu kental manis setiap hari," ucap Milna sambil menggerakkan jari-jemarinya untuk membuka kancing pada kemeja Joy satu persatu.


Setelah bagian atas suaminya itu polos, Milna kemudian melukis bentuk abstrak di dada bidang berbulu halus milik Joy. Ia kembali meneguk ludahnya kasar ketika menatap bentuk menggoda di hadapannya ini.


Semenjak hamil tua, libidonya naik menjadi dua kali lipat. Karena itulah, lebih sering Milna yang memulai aksi serang menyerang. Ia seperti membalas kesabaran Joy selama masa mengidam nya. Kala itu, ia tidak terlalu suka di sentuh oleh suaminya. Padahal di trisemester pertama, ia sangat suka bila di dekat Joy. Karena rasa mualnya akan hilang.


Akan tetapi semua berubah, ketika justru Milna sudah menerima dirinya. Serta mau memberikan hak Joy seutuhnya. Di trisemester kedua, ia sangat membenci bau badan Joy. Membuat laki-laki itu tak dapat mendekatinya hingga hampir tiga bulan.


" Jangan membuka pakaianmu."


"Kenapa Joy? Apa kau jijik, melihat penampakan ku yang seperti babi!" tebak Milna, karena memang bentuknya saat ini begitu menyeramkan. Perut yang begitu besar. Serta bentuk dada yang lebih besar tiga lipat dari sebelumnya. Bokong yang penuh, serta kedua pipi yang chubby dan bulat.


"Bukan itu sayang. Tolong jangan berpikiran seperti itu. Penampilanmu ini karena sebuah proses. Aku hanya ngeri yang akan berujung tak tega padamu," jelas Joy sambil mengelus rambut Milna yang memanjang hingga melewati bahunya.


"Baiklah. Kalau begitu, tolong cek. Apakah ASI-nya sudah keluar?" titah Milna sambil membuka kancing pada dasternya.


GLEK!


"Baiklah, dengan senang hati, sayang."

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2