Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Menginap di hotel gratis.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Bugh!


Buk. Buk. Buk.


Warga tersebut memukul serta menghajar Seno dengan gerakan yang cepat. Hingga pria itu tak sempat menghindar apalagi menangkis.


Alhasil, sebuah tinju dan bogem mentah pun mendarat kasar di rahangnya. Cairan merah pun menetes dari sudut bibir Seno yang terjengkang ke atas tanah berumput.


Beberapa warga serta polisi pun maju untuk melerai warga yang sangat emosi itu. Ketika si warga yang memukul Seno tengah di pegangin oleh polisi. Ternyata Seno bangun, lalu menyerang dengan menendang perutnya.


Daghh!


"Agrh! Sialan! Lepasin, gua mau bales dia!"


"Cukup, Pak!" Kedua polisi pun bergerak untuk memegangi Seno yang kalap kali ini.


"Sudah, tahan emosi kalian!" Teriak polisi satu.


"Sebaiknya anda ikut kami ke kantor polisi." Kedua polisi itu pun hendak menggiring Seno ke mobil mereka.


Namun, dengan gerakan yang cepat. Seno berkelit, serta merampas senjata api yang terselip di pinggang polisi itu.


Srett!


"Hei, dia!"


"Jangan!"


Door!


"Aarghh!" Sebuah erangan kencang memekik, diiringi suara letusan tembakan.


"Ada yang ketembak!"


"Bapaaakk!" Teriak dari beberapa warga yang sangat kaget dengan kejadian yang tak terduga itu. Lalu, mereka segera menghampiri si warga yang tergeletak sembari memegangi bahunya.


" Tuan Seno!"


" Letakkan senjata api itu, atau anda akan kami tembak!" ancam Pak polisi yang kedua, sambil mengarahkan senjata apinya ke arah Seno.


Sementara pria dengan brewok itu, yang masih mengarahkan senjatanya ke depan menampilkan seringainya. Membuat wajahnya semakin terlihat bengis dan sangar.


Beberapa warga segera menjauh, setelah mereka membopong salah satu warga yang terkena tembakan dari Seno. Pria yang memukul Seno itu, memegangi lengannya yang tertembus timah panas. Mengerang kesakitan, karena merasakan sakit luar biasa.


"Bawa kerumah sakit. Kita juga jangan deket-deket tu pria gilak. Nanti dia nembak lagi." Salah satu warga memberi arahan pada warga yang lainnya. Agar mereka cari aman dengan menjaga jarak.


"Apa kau bilang?! Beraninya dia memukulku! Harusnya kalian mati saja sana!" Seno yang semakin emosi, kembali menarik pelatuk pada senjata apinya.

__ADS_1


Dorr! Dorr!


Tembakan Seno meleset ke atas. Sementara itu, lesatan timah panas yang di tembakkan oleh pria berseragam aparat negara itu, telah menembus anggota tubuhnya.


"Aargghh ...!" Sebuah erangan panjang keluar dari mulut Seno. Dimana ia kini tergeletak di atas tanah, sambil memegangi kakinya. Lengannya pun ikut tertembus peluru, hingga darah mengalir dari kedua lubang yang disebabkan oleh tembusan peluru.


Karena setelah tembakan yang pertama mengenai kakinya, ia tetap belum melepas senjatanya. Bahkan, masih berusaha melawan dengan hendak menembak balik polisi. Sehingga, polisi kembali melancarkan serangan yang kedua.


"Inilah akibatnya. Jika anda tidak kooperatif. Sehingga, kali ini penjara lah yang akan menjadi tempat tinggal anda." Polisi itu, mendekati dan berbicara dengan nada marah pada Seno. Sementara, pria itu terus mengerang. Merasakan rasa panas menjalar di kedua bagian tubuhnya sekaligus.


"Saya minta, beberapa warga ikut saya. Untuk membopong pria ini, juga sebagai saksi pembuatan BAP," pinta Polisi tersebut kepada pak RT.


"Saya bersedia, Pak Polisi!"


"Iya, saya juga." Dua orang pria mengajukan diri sebagai saksi.


Akhirnya, Seno pun di bawa ke kantor polisi. Dipapah dua orang warga itu, sambil mereka menahan kesal hingga gigi geraham keduanya bergemeletak.


"Mampus kan lu!"


"Lu rasain tu tangan ama kaki bolong!" Omel kedua nya sambil memapah Seno dengan kasar menuju mobil polisi.


Sementara Seno terus mengerang dan merintih, ketika ia terhimpit dua warga tadi di dalam mobil Polisi tersebut. Rasanya, ia ingin pingsan saja. Agar tak merasakan panas serta perih akibat timah panas tersebut.


"Jangan berisik! Nikmatin aja!"


"Tauk lu! Tadi aja nembak orang kagak mikir!" Dua warga tersebut terus saja mengomeli Seno. Bahkan, membekap mulutnya dengan kanebo mobil agar tidak terdengar erangan mengganggu itu.


"Mana kanebo banyak bekas olinya. Kenapa kalian keterlaluan." Polisi yang kedua sempat menengok sekilas kebelakang, kemudian ia terkekeh pelan melihat keadaan Seno yang mengenaskan.


"Huss! Inget wibawa!" Polisi di depan kemudi itu memperingati kawannya yang menahan tawa. Padahal, ia juga tengah mati-matian untuk tidak nyengir.


Siapa yang tidak kesal dengan pria macam Seno. Seorang warga sombong yang tak tau diri. Bukannya meminta maaf, karena sudah bikin geger di kampung orang, dirinya justru seenaknya menggila dengan menembaki warga yang tak bersalah.


Untung saja, polisi itu telah terlatih untuk menembak lebih cepat darinya. Sehingga tidak sempat ada korban lagi. Beruntung juga, Seno tidak pandai menggunakan senjata api. Jadi, tembakannya meleset kesembarang arah. Meski salah satu warga sempat terluka di bahunya.


_


_


_


Setelah pembuatan BAP selesai, secara kebetulan Seno pun sudah keluar dari ruang pengobatan. Selongsong timah panas yang bersarang di lengan serta betisnya, telah di keluarkan oleh tim medis.


Kini, saatnya Seno bermalam di sebuah kamar dengan tirai jeruji hitam. Berlapiskan alas seadanya, di atas lantai keramik penjara yang dingin. Tak ada kasur empuk atau tempat tidur layaknya di rumah sakit.


Di bantu beberapa sipir penjara, Seno pun digeletakkan di atas karpet dengan kasur busa tipis. Pria dengan brewok itu meringis, karena merasakan sakit pada lukanya.


"Hei! Kalian polisi gila! Harusnya aku di rawat di rumah sakit, bukannya disini! Aku akan menuntut kalian!" Seno, berteriak dalam keadaan duduk bersandar.

__ADS_1


Trank! Trank! Trankk


"Diam!!"


"Sudah bagus kau tidak di tembak mati!" kesal sang sipir, yang berjaga di dekat sel Seno. Untung saja pria itu hanya sendirian di dalam selnya.


๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ!


๐˜—๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ!


๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ!


๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข!


Seno hanya bisa mengumpat serta memaki dalam hati. Karena seluruh tubuhnya sakit dan nyeri. Tenaganya pun seakan habis, tersedot.


Lalu, pria brewok yang telah berganti pakaian berwarna biru dongker khas penghuni sel, meletakkan tubuhnya perlahan di atas kasur tipis yang menyakiti setiap sendinya.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ!


๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช!


๐˜Ž๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ญ ... ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ญ!


Seno terlihat beberapa kali menggaruk bokong serta punggungnya. Sesekali ia meringis ketika bekas lukanya terasa nyeri menyengat.


๐˜”๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ช๐˜ช ...


______


Beberapa hari semenjak kejadian yang menimpa Seno, Easy tak lagi melihat putranya itu menemuinya. Hatinya di hantui rasa takut akan ditinggalkan oleh satu-satunya keluarga yang ia miliki, yang dapat merawatnya selepas dari rumah sakit ini.


Namun, akhir-akhir ini ia tak lagi mendapati wujud Seno di hadapannya. Sementara itu, sejak masuk sel Seno tak pernah menghubungi pihak rumah sakit.


๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ! ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ! ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ! ๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‹๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ณ! ๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ช๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ! ๐˜“๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ!


๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช? ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ณ๐˜จ๐˜จ!!


Seno meremas kepala dengan satu tangannya, sementara punggungnya menyender di jeruji hitam.


"Sipir! Sipir!" teriak Seno memanggil penjaga.


"Hei! Kenapa kau berteriak!" Sipir penjara itu menghampiri lalu memukul besi jeruji tersebut dengan tongkatnya.


"Hei, katakan pada komandan mu! Dia tidak bisa menahan ku di sini, aku adalah korban! Kau tau! Rumahku di bakar, aku harus menghabisi mereka yang telah membakar rumahku!" Seno berteriak, merasa dirinya mendapat ketidak-adilan dari apa yang terjadi.


" Heh! Apa katamu! Sudah jangan ngaco! Diamlah atau kami kurung kau di sel tikus!" Sipir itu balas teriak, sambil memukul jeruji besi.


"Dasar gila!" Setelah itu, sipir tersebut pun pergi dari hadapan Seno yang terus mengumpat.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2