
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Proses penarikan saham sudah di lakukan, Tuan. Saya rasa, saham perusahaan Pradipta sudah bagus. Sehingga, penarikan saham kita tidak akan berpengaruh besar. Setidaknya, perusahaan itu tidak akan sampai ๐ฑ๐ข๐ช๐ญ๐ช๐ต," jelas Better, asisten Arjuna yang telah dipercaya memegang kuasa wakil Presdir pengganti Susi.
Arjuna melangkah dengan perlahan ke tempat kesukaannya, yaitu depan jendela besar di ruang kerjanya. Sementara itu, Better mengikuti dari belakang. Menanti tanggapan atau perintah selanjutnya.
"Kerja yang bagus, alihkan saham itu untuk membeli saham perusahaan Bai Goon. Tbk. Kita sudah cukup lama abai dengan perusahaan itu," titah pria yang setelah menikah, semakin memancar pesonanya.
"Baik, Tuan." Better membungkukkan badannya sedikit, hendak pamit. Sebelum akhirnya, Arjuna kembali melanjutkan kata-katanya.
"Aku tidak peduli perusahaan Pradipta, meskipun membuatnya hancur bukanlah lagi niatku. Aku dan Susi, telah sepakat untuk menyudahi dendam kami. Jadi, kau jangan ragu-ragu bertindak. Kita, hanya mengambil kembali apa yang sejak awal adalah milik kita." Arjuna berkata dengan aura dinginnya, bahkan pandangannya tetap lurus dan fokus ke depan. Menatap gedung pencakar langit di hadapannya, yang seakan bersaing, siapa yang paling tinggi dan estetik dalam arsitekturnya.
"Sangat jelas, Tuan." Tanpa menunggu tanggapan, asisten dengan gaya cueknya itu segera pamit undur diri.
"Kalian sudah selesai, Bet?" tanya Susi, yang berpapasan di depan meja sekretaris Arjuna.
Melihat penampilan Susi yang terlihat berbeda dan semakin bersinar alias glowing. Better tidak mengedipkan matanya, rasa kagum itu belum sirna dari hati dan juga pikirannya. Sesaat ia sadar, pria yang senang sekali menguncir rambutnya itu menelan ludah kasar, hingga jakunnya terlihat turun naik.
"Maaf,Nyonya. Kami sudah selesai," jawabnya, dengan mengalihkan pandangan ke atas sepatu sneaker miliknya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan masuk. Semoga hari mu menyenangkan." Sebelum berlalu, Susi melempar senyum ramahnya seperti biasa.
Tanpa ia tahu, senyum itu telah meluluhlantakkan hati seorang bujang yang sejak awal menaruh kagum pada sosoknya.
๐๐ข๐ฅ๐ข๐ณ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ข๐ธ๐ข๐ญ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ค๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช. ๐๐ข๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ, ๐ฃ๐ฐ๐ด ๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฌ. ๐๐ฐ๐ท๐ฆ ๐ฐ๐ฏ ๐๐ฆ๐ต๐ต๐ฆ๐ณ, ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ต ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ถ๐ณ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ฎ๐ถ!!
"Iya, sejak awal memang salahku." Gumamnya kecil, membuat sang sekretaris baru mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Waw, bu bos memang keren." Monolognya, setelahnya kembali menatap layar laptop.
"Chang Min!" panggil Joy sembari menggebrak meja sekretaris.
" Ayam, ayam, ayam!" teriak sekretaris itu kaget, sambil berjingkat dan menaikkan tangannya ke atas.
Sementara itu, si asisten maskulin bin parlente Joy Kinder. Tergelak sampai memegangi perutnya.
"Kebiasaan ih, Pak Joy tuh!" sungut sekretaris yang agak gimana gitu.
"Heh, masa lakik kagetan," ejek Joy. Seraya menyenderkan bokongnya di dinding, yang berada di samping meja.
"Saya kan lagi proses, Pak. Makanya dukung dong, jangan demennya ngeledekin muluk," protesnya lagi.
"Siapa juga yang ngeledek, gue kan cuma manggil elu tadi. Abis serius bener depan laptop sampe membleh tuh bibir seksi nya," goda Joy dengan mengerling genit.
Brakk!!
"Sendirinya kagetan, pakek ngeledek orang!" sarkas sekretaris baru itu, seraya mendelik sebal. Bukan hal baru, semenjak ia bekerja di sana. Joy memang bukan satu-satunya pria tulen yang meledek nya. Membuat transisi hijrahnya semakin sulit saja.
"Yee, Cang Cimin ... dendaman amat si jadi orang." Joy hendak mencolek dagu sekretaris kemayu itu, tapi keburu di tepis dengan kasar olehnya.
Plakk!
"Sshh." ringis Joy, kemudian menelan ludahnya kasar. Ketika melihat pancaran kemarahan sungguhan di mata Chang Min. Lelaki pra dewasa, WNA yang memiliki visa bekerja.
"Kenapa kalian yang merasa tulen sejak lahir selalu mengejek dan menjadikan kami bahan candaan demi kebahagiaan kalian. Jika kekurangan kami anda jadikan kesenangan, untuk apa kalian menuntut kami lebih tulen dan perkasa? Bukankah kalian senang dengan keberadaan kaum kami?!" tukas Chang Min, menohok sisi kemanusiaan Joy.
__ADS_1
"Bu_bukan gitu, Chang." Joy menggaruk kepalanya, bingung. Melihat bahwa lelaki imut di hadapannya benar-benar marah.
" Bisakah kalian mendukung kaum kami untuk berubah lebih baik? Bukan justru malah menjadikan kami candaan atau bullyan." Chang Min menatap Joy serius dengan nada bicara yang sangat tegas. Tanpa di sadari , aura pria tulen telah mencuat keluar dari dalam dirinya.
"Sorry, Bro. Gue janji lain kali gak ada bencandaan kayak gini lagi, suer!" Joy nyengir tak enak seraya menaikkan dua jarinya ke samping telinganya.
๐๐ช ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ฐ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ซ๐ช๐ธ๐ข ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข.
๐พEmang minta di kemplang nih si julid bin jahil, Joy pekok๐. Kerjaannya ngeledek orang muluk.
๐๐ข๐ฑ๐ฆ ๐ญ๐ถ ๐ต๐ฉ๐ฐ๐ณ! ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต-๐ช๐ฌ๐ถ๐ต๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ฉ!
๐พ Yee ... berani?๐ gua kagak kasih jodoh nyaho lu!
๐๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฏ ... ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐จ. ๐๐ต๐ฉ๐ฐ๐ณ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ช๐ด, ๐จ๐ฆ๐ถ๐ญ๐ช๐ด, ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ฌ.
๐พDih, ngerayu ...๐.
Milna gua jodohin ama si Chang Min aja lah.
๐๐ฉ, ๐๐ฉ๐ฐ๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ ....
Abaikan wajah melas Joy ...
Kita coba intipin yang di dalam kantor, laki_ binik lagi ngapain ya ...
Tapi ...
__ADS_1
Setelah bersambung ...
Kaboooorr ....