
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
_______
"Ar ...," Susi sontak menoleh, ketika mendengar suara bariton yang ia hafal. Seketika ia berbalik serta mengangkat bawahan gaunnya yang menjuntai, bermaksud berlari menghampiri Arjuna-nya.
"Sayang, stop jangan la ...,"
Brukkk!!
Saking cepatnya, Susi tak dapat mengontrol pergerakan kakinya yang mengenakan ๐ฉ๐ช๐จ๐ฉ ๐ฉ๐ฆ๐ฆ๐ญ๐ด setinggi 12 inchi.
" Kenapa kau harus lari? Biarkan aku saja yang menghampirimu," ucap Arjuna dengan senyum simpulnya, melihat bagaimana antusiasnya Susi ketika melihatnya.
"Tentu saja, karena aku sangat menghawatirkan mu!" Susi membetulkan posisi berdirinya. Untung saja, ia jatuh tepat di pelukan Arjuna.
"Aku baik-baik saja, kau lihat kan?" ucap Arjuna seraya menunjukkan keseluruhan raganya.
Ia yang telah berganti pakaian dengan ๐ต๐ถ๐น๐ฆ๐ฅ๐ฐ berwarna senada gaun Susi. Hingga luka di lengannya benar-benar tertutupi sempurna.
"Sebentar lagi, Vanish akan keatas. Ia akan membawamu ke hadapanku nanti," Setelah mengatakan itu, Arjuna melabuhkan kecupannya di bibir berwarna merah muda itu.
Warna bold yang menghiasi kedua mata wanitanya, menambah kesan menawan di wajah cantik itu.
"Kau sangat cantik, aku pangling," ucapnya setelah ia melepas tautan mereka.
Susi tak menjawab ia kembali mendekatkan wajahnya pada Arjuna. Bermaksud kembali menempelkan bibirnya. Sebelum akhirnya, Arjuna mendorong pelan tubuhnya.
"Nanti, make up mu luntur sayang," tolak Arjuna, menahan bibir menggoda itu dengan jari telunjuknya.
Bukan maksud hati mengecewakan wanitanya itu, hanya saja dirinya takut tak kuasa menahan diri jika mereka terus berdekatan seperti ini.
Penolakan Arjuna, membuat Susi mendengus kemudian mencebik lucu.
"Tolong, jangan lakukan itu sekarang," Arjuna menjawil hidung mancung Susi. Membuat semburat malu-malu mencuat lepas dari kedua pipi wanitanya.
"Aku senang ... sangat senang, kau baik-baik saja. Terima kasih, telah menepati janjimu." ucap Susi menatap mata Arjuna dalam.
"Aku memang pria yang selalu memegang janjinya." ujarnya bangga.
PUK!
Susi menepuk pelan lengan Arjuna.
"Sshhh ," desisnya.
__ADS_1
"Aih, apa segitu sakitnya? Perasaan tidak sekencang itu." heran Susi yang kaget melihat ekspresi kesakitan dari Arjuna.
"Aku hanya menggoda mu," Arjuna mengedipkan sebelah matanya. Jangan sampai Susi tau mengenai lukanya, pikirnya.
"Kau ini."
"Aw!"
"Kebiasaan, jarimu ini." Arjuna menepis pelan jemari yang suka mencapit itu.
"Keluarlah, aku akan menyusul," ucap Susi setelah menyudahi tawa kecilnya.
" Jangan lama-lama ...."
Cup.
Arjuna meninggalkan bekas kecupannya di kening licin itu.
_________
Susi yang digandeng oleh sahabatnya, Vanish. Melangkah dengan anggun menghampiri mempelai pria, yang tengah menantinya dengan debaran tak biasa.
Susi dan Arjuna, pasangan serasi itu. Yang sampai di tahap ini dengan perjuangan tak biasa dan lazim. Kini, senyum sumringah telah merekah di wajah bahagia keduanya.
"Selamat, Kak!" Vanish memeluk Susi erat, air matanya luruh seiring rasa untuk sahabatnya itu.
"Selamat, Tuan- Nyonya." Better menyalami keduanya. Meskipun tatapannya sempat terpukau pada wajah cantik Susi.
๐๐ช๐ข๐ญ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐๐ฆ๐ต๐ต๐ฆ๐ณ, ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฎ๐ฎ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ.
"Van, bawa Better pergi dari sini." titah Arjuna, yang kemudian diangguki oleh Vanish.
๐๐ข๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ช๐ต ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ.
Better pun berlalu sambil memaki Arjuna dalam hati.
" Ehm, Pak. Bagaimana kalau kita makan itu," Vanish menunjuk stand yang menyediakan roti es krim.
"Baiklah," Better menurut dengan senyum di bibirnya.
๐๐ถ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ค๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฃ๐ข๐ฉ. ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต๐ช๐ฌ๐ถ.
Kembali ke atas pelaminan, di mana nampak seorang pria yang gagah tengah menyalami kedua mempelai.
"Jadi, ini wanita nya ... yang telah membuat jalanan kota pagi ini menjadi sorotan." Erik menatap Arjuna lalu beralih kepada pengantin wanita.
__ADS_1
"Nyonya, kau memang layak di perjuangkan," puji Erik dengan pandangan kagum memuja. Bahkan, sudut bibirnya terus terangkat mengembangkan senyumnya.
๐๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ด๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ซ๐ช ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข? ๐๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข! ๐๐ฆ๐ช ... ๐๐ฐ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ด๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฎ๐ถ!
Arjuna telah menyembunyikan kepalan tangan di belakang tubuhnya.
๐๐ถ๐ข๐ฏ ๐๐ณ๐ช๐ฌ, ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ค๐ข๐ณ๐ช ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ค๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต! ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต, ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฏ ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฑ.
Joy, menutupi mulutnya dengan kepalan tangan, demi menahan kekehannya.
๐๐ช๐ฉ, ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ต๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ.
Joy pun naik kepelaminan.
"A-Tuan Erik, mari kita menikmati makanan lezat. Sayang sekali bila kita melewati momen makan gratis ini, bagaimana?" ajak Joy seraya merangkul bahu lebar itu, dan menggiringnya menuruni tangga.
๐๐ด๐ช๐ด๐ต๐ฆ๐ฏ ๐ณ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ถ! ๐๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ช ๐๐ฐ๐ด๐ฎ๐ถ! ๐๐ข๐จ๐ช๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข, ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ค๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ณ ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ.
Erik terus saja merutuk dalam hatinya.
"Sayang ... My Queen, kita keatas saja. Kau pasti lelah berdiri sejak tadi," Gurat khawatir terlihat jelas dari wajah Arjuna, karena melihat Susi mulai menggerak-gerakkan kakinya.
Blush ...
Wajah cantik itu merona, dengan panggilan baru yang di sematkan padanya.
Tangannya terulur, menyambut ajakan dari suaminya itu.
_
_
Ddrrrttt ...
Ponsel di saku Joy bergetar.
Segera pria itu menggeser layar ponselnya, hingga nampaklah sebuah pesan singkat.
๐จ ๐๐ข๐ฌ ๐๐ฐ๐บ, ๐๐ช๐ญ๐ฏ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐ช ๐ฐ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ช๐ญ. ๐๐ช ๐ฎ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฎ๐ช ๐ข๐ฅ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ช๐ต๐ณ๐ข๐ด๐ช ๐๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐๐ข๐ฌ๐ช๐ต.
"Bet, aku titip tuan dan nyonya. Ada yang harus ku urus di rumah sakit." Joy, menepuk bahu asisten berkuncir itu.
"Uhukk!"
๐๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต?
__ADS_1
๐๐ช๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ต๐ถ๐ด ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฉ.
Bersambung>>>>