Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Tatapan Memuja.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


_______


"Ar ...," Susi sontak menoleh, ketika mendengar suara bariton yang ia hafal. Seketika ia berbalik serta mengangkat bawahan gaunnya yang menjuntai, bermaksud berlari menghampiri Arjuna-nya.


"Sayang, stop jangan la ...,"


Brukkk!!


Saking cepatnya, Susi tak dapat mengontrol pergerakan kakinya yang mengenakan ๐˜ฉ๐˜ช๐˜จ๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ด setinggi 12 inchi.


" Kenapa kau harus lari? Biarkan aku saja yang menghampirimu," ucap Arjuna dengan senyum simpulnya, melihat bagaimana antusiasnya Susi ketika melihatnya.


"Tentu saja, karena aku sangat menghawatirkan mu!" Susi membetulkan posisi berdirinya. Untung saja, ia jatuh tepat di pelukan Arjuna.


"Aku baik-baik saja, kau lihat kan?" ucap Arjuna seraya menunjukkan keseluruhan raganya.


Ia yang telah berganti pakaian dengan ๐˜ต๐˜ถ๐˜น๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฐ berwarna senada gaun Susi. Hingga luka di lengannya benar-benar tertutupi sempurna.


"Sebentar lagi, Vanish akan keatas. Ia akan membawamu ke hadapanku nanti," Setelah mengatakan itu, Arjuna melabuhkan kecupannya di bibir berwarna merah muda itu.


Warna bold yang menghiasi kedua mata wanitanya, menambah kesan menawan di wajah cantik itu.


"Kau sangat cantik, aku pangling," ucapnya setelah ia melepas tautan mereka.


Susi tak menjawab ia kembali mendekatkan wajahnya pada Arjuna. Bermaksud kembali menempelkan bibirnya. Sebelum akhirnya, Arjuna mendorong pelan tubuhnya.


"Nanti, make up mu luntur sayang," tolak Arjuna, menahan bibir menggoda itu dengan jari telunjuknya.


Bukan maksud hati mengecewakan wanitanya itu, hanya saja dirinya takut tak kuasa menahan diri jika mereka terus berdekatan seperti ini.


Penolakan Arjuna, membuat Susi mendengus kemudian mencebik lucu.


"Tolong, jangan lakukan itu sekarang," Arjuna menjawil hidung mancung Susi. Membuat semburat malu-malu mencuat lepas dari kedua pipi wanitanya.


"Aku senang ... sangat senang, kau baik-baik saja. Terima kasih, telah menepati janjimu." ucap Susi menatap mata Arjuna dalam.


"Aku memang pria yang selalu memegang janjinya." ujarnya bangga.


PUK!


Susi menepuk pelan lengan Arjuna.


"Sshhh ," desisnya.

__ADS_1


"Aih, apa segitu sakitnya? Perasaan tidak sekencang itu." heran Susi yang kaget melihat ekspresi kesakitan dari Arjuna.


"Aku hanya menggoda mu," Arjuna mengedipkan sebelah matanya. Jangan sampai Susi tau mengenai lukanya, pikirnya.


"Kau ini."


"Aw!"


"Kebiasaan, jarimu ini." Arjuna menepis pelan jemari yang suka mencapit itu.


"Keluarlah, aku akan menyusul," ucap Susi setelah menyudahi tawa kecilnya.


" Jangan lama-lama ...."


Cup.


Arjuna meninggalkan bekas kecupannya di kening licin itu.


_________


Susi yang digandeng oleh sahabatnya, Vanish. Melangkah dengan anggun menghampiri mempelai pria, yang tengah menantinya dengan debaran tak biasa.


Susi dan Arjuna, pasangan serasi itu. Yang sampai di tahap ini dengan perjuangan tak biasa dan lazim. Kini, senyum sumringah telah merekah di wajah bahagia keduanya.


"Selamat, Kak!" Vanish memeluk Susi erat, air matanya luruh seiring rasa untuk sahabatnya itu.


"Selamat, Tuan- Nyonya." Better menyalami keduanya. Meskipun tatapannya sempat terpukau pada wajah cantik Susi.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ, ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.


"Van, bawa Better pergi dari sini." titah Arjuna, yang kemudian diangguki oleh Vanish.


๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ.


Better pun berlalu sambil memaki Arjuna dalam hati.


" Ehm, Pak. Bagaimana kalau kita makan itu," Vanish menunjuk stand yang menyediakan roti es krim.


"Baiklah," Better menurut dengan senyum di bibirnya.


๐˜š๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ.


Kembali ke atas pelaminan, di mana nampak seorang pria yang gagah tengah menyalami kedua mempelai.


"Jadi, ini wanita nya ... yang telah membuat jalanan kota pagi ini menjadi sorotan." Erik menatap Arjuna lalu beralih kepada pengantin wanita.

__ADS_1


"Nyonya, kau memang layak di perjuangkan," puji Erik dengan pandangan kagum memuja. Bahkan, sudut bibirnya terus terangkat mengembangkan senyumnya.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข-๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข! ๐˜๐˜ฆ๐˜ช ... ๐˜’๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ!


Arjuna telah menyembunyikan kepalan tangan di belakang tubuhnya.


๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜Œ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜›๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต! ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฑ.


Joy, menutupi mulutnya dengan kepalan tangan, demi menahan kekehannya.


๐˜ˆ๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ.


Joy pun naik kepelaminan.


"A-Tuan Erik, mari kita menikmati makanan lezat. Sayang sekali bila kita melewati momen makan gratis ini, bagaimana?" ajak Joy seraya merangkul bahu lebar itu, dan menggiringnya menuruni tangga.


๐˜ˆ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ช ๐˜‰๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฎ๐˜ถ! ๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ.


Erik terus saja merutuk dalam hatinya.


"Sayang ... My Queen, kita keatas saja. Kau pasti lelah berdiri sejak tadi," Gurat khawatir terlihat jelas dari wajah Arjuna, karena melihat Susi mulai menggerak-gerakkan kakinya.


Blush ...


Wajah cantik itu merona, dengan panggilan baru yang di sematkan padanya.


Tangannya terulur, menyambut ajakan dari suaminya itu.


_


_


Ddrrrttt ...


Ponsel di saku Joy bergetar.


Segera pria itu menggeser layar ponselnya, hingga nampaklah sebuah pesan singkat.


๐Ÿ“จ ๐˜—๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‘๐˜ฐ๐˜บ, ๐˜”๐˜ช๐˜ญ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ. ๐˜‹๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜™๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜š๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต.


"Bet, aku titip tuan dan nyonya. Ada yang harus ku urus di rumah sakit." Joy, menepuk bahu asisten berkuncir itu.


"Uhukk!"


๐˜•๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต?

__ADS_1


๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ.


Bersambung>>>>


__ADS_2