Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 303. ABPR


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Treeetttt ... Treeetttt!!


Bel berbunyi beberapa kali. Membuat Vanish tergopoh-gopoh menghampiri. Sebelum membuka pintu Vanish terlebih dulu melihat pada kamera di atas pintu. Lalu ia berbicara melalui interkom.


"Anda siapa? Juga mencari siapa?" tanya Vanish. Hatinya tiba-tiba tersentak ketika ada wanita yang cantik dan seksi di depan pintu rumahnya.


"Pak presdir mengirim saya untuk mendandani nyonya. Karena presdir akan mengajak nyonya makan malam," terang Mery mengarang bebas. Ia hanya ingin Vanish membuka pintu untuknya.


" Benarkah? Tunggu di sana biar saya konfirmasi dulu." Vanish pun menjauh dari pintu kemudian ia menghubungi Susi.


๐˜๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜๐˜ข๐˜ฏ.


"Kak Susi, tolong Ninis!" pintanya dengan suara pelan sambil berjalan kedalam kamar. Kemudian Vanish menceritakan kejadian barusan kepada Susi.


"Aku tidak mungkin menghubungi Better Kak. Dia pasti sedang rapat sekarang. Apa!" Vanish pun kaget dengan berita yang di kabarkan oleh Susi padanya.


"Pantas saja, ๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ nampak aneh tadi. Coba Kakak kirim profil wanita itu." Tak lama kemudian, Vanish mendapat kiriman foto lewat aplikasi chat.


"Astaga! Iya ini dia orangnya, sama persis dengan yang tengah berada di depan pintu." Gumam Vanish geram.


๐˜๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜๐˜ข๐˜ฏ!


"Ah iya Kak. Bagaimana ini? Apa aku biarkan saja dia masuk kedalam?" tanya Vanish pada Susi.


๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜•๐˜ช๐˜ด. ๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ญ. ๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜œ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Begitulah rencana dari kedua wanita berani ini. Meskipun Vanish tak punya bekal ilmu beladiri akan tetapi ia tak mudah gentar dalam menghadapi masalah sekalipun orang yang berniat jahat padanya. Karena ketakutan mu adalah kekuatan untuk penjahat.


"Baiklah, silakan masuk." Vanish tersenyum setelah ia membukakan pintu untuk wanita cantik berwajah bule itu.


"Ah, terimakasih." Mery pun memasang senyum palsunya. Ia berusaha menahan geram, demi rasa penasaran yang menggelayuti pikirannya. Ia ingin tau siapa sebenarnya wanita mungil dengan pipi sedikit chubby ini.


"Maaf, saya mencari istri dari pak presdir. Boleh panggilkan dia," ucap Mery penuh selidik.


"Maaf, Nona. Nyonya baru saja turun ke bawah. Katanya ingin menemui temannya. Tunggu saja sebentar, biar saya buatkan minum dulu." Vanish pun berlalu ke dapur dengan menutup mulut menggunakan tangannya.

__ADS_1


๐˜Š๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ. ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ด๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Vanish membuatkan jus yang di campur dengan sesuatu. Ia berharap bahwa sang tamu akan mencoba minuman hasil kreasi dari racikannya sendiri.


"Rasakan! Siapa suruh kau berniat meniduri suamiku!" Perutmu akan melilit jika minum ini." Vanish kembali terkekeh tanpa suara membayangkan bagaimana reaksi dari tamunya itu nanti.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ ๐˜•๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜”๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ด ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ.


Vanish memasang senyumnya saat menyajikan hidangan di meja. Hatinya sungguh berkata lain dengan raut wajahnya.


"Kapan Nyonya-mu akan kembali?" tanya Mery tak sabar. Ia sungguh ingin melihat rival-nya itu.


"Nyonya akan pulang sebentar lagi. Tadi saya sudah menghubunginya. Jadi anda minum saja dulu sambil menunggu kedatangan Nyonya," jelas Vanish sambil menawarkan minuman buatannya.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜‰๐˜ฐ๐˜บ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜Š๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ?


Tanpa Mery sadari ia tengah menyanjung rivalnya sendiri.


"Kenapa lama sekali? Sebenarnya Nyonyamu kemana?" heran Mery mulai gusar. Ia sungguh tak sabar ingin mencakar-cakar wajah dari wanita yang telah membuat Better memperlakukannya begitu rupa. Pria gondrong itu sama sekali tak peduli terhadap perasaannya.


๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜”๐˜ช๐˜ญ๐˜ฐ. ๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. Sebelum membuka ponselnya. Mery kembali meneguk minuman segar buatan Vanish.


๐˜ž๐˜›๐˜! ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ. ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜‰๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. Batin Merybelle dengan segala spekulasinya. Ia sesekali menatap pada layar ponselnya, lalu ke arah Vanish yang tengah duduk manis di hadapannya.


"Apa kau ini adik iparnya presdir?" kulik Mery penuh selidik.


"Anda ini kenapa? Tadi mengira saya pembantu. Kenapa sekarang saya tiba-tiba naik pangkat," ucap Vanish sambil tertawa hingga terpingkal- pingkal.


๐˜’๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ!


๐˜‰๐˜ฐ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด?


Batin Mery geram, hanya saja ia tahan.


"Nona sangat cantik dan berkelas. Apa iya hanya seorang tukang rias," kulik Vanish sengaja.

__ADS_1


"Memangnya kau tidak tau. Kalau penata rias itu harus selalu mementingkan penampilannya," jawab Mery tenang.


"Tapi, anda tidak nampak seperti penata rias. Bahkan anda tidak membawa kotak make up," serang Vanish membuat Mery gelagapan. Karena ia menemukan ide sebagai penata rias secara mendadak. Sehingga ia tidak ada persiapan untuk menunjang sandiwaranya.


"Aku adalah MUA yang hebat. Aku tidak memerlukan banyak alat make up. Cukup dengan beberapa macam alat make up serbaguna milikku. Penata rias macam aku ini sangatlah langka." Mery berkata asal, ia berkelit sebisanya. Meskipun kata-katanya itu tidak masuk akal.


"Kenapa tuan bisa mempercayai orang yang bahkan tidak mengenal istrinya sendiri. Sungguh aneh?" Vanish memicingkan matanya kearah Mery. Wanita bule itu nampak sedikit terkesiap. Namun dengan cepat Mery merubah kembali ekspresinya.


"Apa kamu sedang mencurigai saya!" Merybelle sontak berdiri. Setelah ia melirik keruang keluarga di mana ada foto Better dan juga Vanish dengan rambut yang di kuncir dua macam anak kecil. Ternyata kedua matanya jelalatan sejak tadi.


"Wajar saja saya mencurigai anda. Karena Nona memang sangat pantas untuk di curigai." Vanish ikut berdiri. Bahkan ia juga menyilang kan kedua tangannya di depan dada yang sengaja dibusungkan.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช.


Batin Vanish tertawa senang dalam hati.


"Sejak tadi kau hanya membuang waktuku. Katakan, siapa kau sebenarnya!" Akhirnya Mery tak tahan lagi untuk mengeluarkan taring yang sejak tadi ia sembunyikan.


"Aku?" Vanish mengarahkan telunjuknya ke arah dadanya sendiri. Dengan tampang yang sengaja ia buat sepolos mungkin. Vanish sengaja mengulur waktu dan menunggu sampai racikannya bereaksi.


"Sebenarnya, tidak ada ku tunggu kan sejak tadi?" Mery tersenyum sinis sambil mendekati Vanish dengan cepat.


"Ada kok," sahut Vanish tenang.


"Siapa? Jika ternyata tuan rumahnya adalah kau sendiri!" hardik Mery dengan wajah yang kentara menampilkan kemarahan.


"Nunggu kamu mules!" Vanish terkekeh.


"Apa maksudmu!"


"Eugh!" Seketika Mery memberi remasan pada perutnya.



...Jangan lupa mampir gais, masih anget baru launcing....


Bersambung>>

__ADS_1


__ADS_2