Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Haruskah menyerah?


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


******


"Lelah sekali...," rintih Susi, sambil memijat betisnya yang mulus.


Di atas kasur busa tanpa dipan inilah, para pekerja melepas penat mereka setelah seharian.


Mata indah nya mengedar keseluruhan ruang kamar persegi ini. Di mana kawan-kawannya telah bergelung nyaman di dalam selimut mereka.


"Apakah hidup harus seperti ini? Ditindas, di remehkan, di perintah seenaknya,"


"Tuhan, aku tak mengerti maksudmu? Ketika aku ingin mati, tetapi kau selalu menggagalkannya. Jika aku masih pantas untuk hidup, lantas kenapa kau memberi ku kisah yang seperti ini?" keluhnya menatap nanar kesembarang arah.


Di tengah cahaya kamar yang remang-remang. Pikirannya menerawang pada suatu kejadian siang tadi.


"Kenapa terjadi keributan di lapangan?"


"Kau ini, seharusnya bisa mengalah pada konsumen, jangan arogan!" tegur Harpic, saat tengah berada di dalam ruangan kepala supervisor itu.


Susi mengeratkan buku katalog yang didekapnya, ia sangat tidak suka berada di satu tempat tertutup dengan pria itu.


"Saya tidak akan mengalah jika ada orang yang memfitnah saya. Apalagi jika orang itu ingin menjatuhkan saya. Kenapa saya justru di salahkan hanya karena membela diri? Apa Anda sedang mencari-cari kesalahan saya? Seharusnya perusahaan memberi perlindungan dan pembelaan terhadap karyawannya," tukas Susi lugas dengan nada tegas penuh penekanan.


"Kau!"


" Berani sekali menjawab kata-kataku!"


"Baru beberapa bulan disini, dan baru diberi kepercayaan sedikit saja, kau sudah berani melawan atasan mu!"


sentak pria besar bermata sipit itu, perlahan ia maju mendekat.


"Apa karena ada orang dalam yang melindungi mu? Sehingga kamu jadi bocah yang songong, hah?" cecar nya, kini jaraknya hanya setengah meter dari Susi.

__ADS_1


"Memang saya akui saya di sini berkat rekomendasi seseorang. Namun, satu hal yang harus Anda teliti lagi. Saya selama ini bekerja keras dan belajar tentang produk perusahaan mati-matian. Jadi, apa yang sudah saya raih ini adalah atas kemampuan saya, bukan atas bantuan orang dalam seperti yang Bapak maksud," tampik Susi tidak terima atas tuduhan yang di lemparkan padanya.


Terlihat ia memijat pangkal hidungnya, kejadian tadi siang membuat hatinya kesal dan ingin marah.


Ia memutuskan ke dapur, mengambil air dingin di dalam kulkas menenggaknya habis. Berharap air es dapat menyejukkan hati dan juga pikirannya.


Setelah puas, ia kemudian berjalan lagi ke kamar dengan lima kasur busa yang tergeletak di lantai.


Kawan-kawannya telah terbang ke alam mimpi, kini gilirannya menghempas semua penat dari realita hidup.


Susi pun menyelimuti tubuh nya, setelah ia menggosok kakinya dengan krim pereda nyeri.


Berusaha memejamkan matanya, mengistirahatkan pikiran dan juga hatinya.


Manusia itu lemah,sekuat apapun ia memaksa dirinya untuk tegar.


(Haruskah aku menyerah dan mengecewakan dia...?)


*****


(Sial! Kenapa di saat aku melihatnya marah, justru semakin membuat ku bergairah. Bahkan, kini tubuhku terasa terbakar.)


"Saya akan melaporkan Anda, karena telah semena-mena terhadap karyawan," gertak Susi.


Ia ingat akan pesan Rapika, bahwa ia harus berani menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan nuraninya.


(Anak ini berani mengancam ku.)


(Heh, ingin rasanya ku bungkam bibir seksinya itu.)


"Ternyata kalau marah kau semakin cantik," senyum smirk.


"Aku akan mengembalikan posisimu, asal kan...," ucapannya terjeda, menatap tajam pada Susi.

__ADS_1


Susi jengah, lagi-lagi ia harus berhadapan dengan pemimpin berotak mesum sepertinya.


"Singkirkan apapun itu keinginan Anda, karena saya tidak seperti apa yang Bapak pikirkan,"


"Seharusnya, Anda memberi contoh yang baik sebagai pemimpin di base camp 17 ini," sergah Susi dengan segenap keberaniannya.


"Kau! Jangan mendikte ku!" Geram Harpic menghampiri Susi dan mencengkeram dagunya.


Membuat wanita muda itu terperangah dan membelalakkan matanya.


"Lepas!"


PLAKK!


Harpic melepas cengkeramannya, kepalanya menoleh keras karena mendapat tamparan, yang membuat aliran panas mengalir di wajahnya.


Susi pun merasakan panas pada telapak tangannya, ia meringis dan segera menghindar hendak keluar.


Namun, baru saja ia melangkahkan kakinya ada yang menarik tangannya dan...,


Tok ... Tok ... Tok...!


Gedoran di pintu menyelamatkannya dari situasi itu.


15 menit sebelumnya.


"Begitulah laporan dari informan kita Tuan,"


" Kebetulan, kepala cabang sedang dinas ke luar kota, karenanya laporan ini telat." Menundukkan kepala, melirik dengan ekor mata.


(Selamatkan aku dewi fortuna.)


"Keluarkan manusia berotak kotor itu dari perusahaan!" geram seorang pria dengan garis wajah yang tegas. Tangannya terlihat mencengkeram kaleng soda.

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2