Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Mempersiapkan Pengikut Setia.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


_____


"Joy, perintahkan bagian keuangan untuk memberikan bonus pada karyawan. Pastikan, bonus itu turun minggu ini," perintah Arjuna, pada asistennya.


"Baik, Tuan. Apakah jumlahnya sama rata di tiap divisi dan cabang?" tanya Joy, berharap Arjuna memberi perintah lebih rinci.


"Kau tau gayaku, Joy. Sejak kapan kau menjadi bebal seperti itu!" sarkas Arjuna, memicing ke arah Joy yang mematung seketika.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข? ๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ช.


Joy menggerutu dalam batinnya. Menyesali kebodohannya sendiri.


"Maaf, Tuan. Siap laksanakan!"


"Oh, iya? Saya juga dapat bonus kan?" tunjuk Joy pada dirinya sendiri.


"Bonus mu, nanti. Setelah kau mendapatkan pesanan ku," ucap Arjuna, mematahkan sayap gembira Joy. Hingga, pria itu kembali terhempas ke atas tanah liat. Sakit tapi tidak berdarah, mungkin sekedar memar saja.


Joy pun tak jadi lesu, ketika ia berpikir bahwa bonusnya pasti akan lebih besar. Pria itu kembali sumringah mendengar janji manis bosnya yang sedang bahagia itu.


"Baik, Tuan. Saya akan melihat rumah yang ketiga siang ini. Saya pastikan, kali ini anda akan cocok." Setelah mendapat acungan jempol dari Arjuna, sang asisten rupawan itu pun berlalu.


Drrtttt ...!


Ponsel berlayar 6 inchi tersebut bergetar di atas meja. Segera Arjuna menggeser tombol hijaunya, dengan senyum lebar penuh arti.


๐Ÿ“ฒ" Halo, sayang. Baru tiga jam berada di kantor, apa kau sudah merindukanku?" goda Arjuna sambil membayangkan pipi merona istrinya.


๐Ÿ“ฑ"Kalau aku bilang iya, apa kau akan pulang sekarang juga? Lalu membawakan ku bakso rusuk, yang berjualan di depan kantormu?" cecar Susi, di seberang sana.


๐Ÿ“ฒ " ๐˜ˆ๐˜ด ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ, ๐˜”๐˜บ ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ," ucap Arjuna, lugas.


๐Ÿ“ฑ"Ar, kau benaran akan pulang?" tanya Susi dengan suara yang menandakan bahwa dirinya sangat senang.


๐Ÿ“ฒ " Tunggu, aku. 30 menit lagi aku sampai. Katakan pada Satria junior untuk menunggu daddyโ€“nya." Setelah mengatakan itu, Arjuna segera bersiap untuk pulang.


"Chang Min!" panggilnya pada sekretaris berwajah manis. Menjadikan ia satu-satunya pria


" Iya, Pak Presdir!" Chang Min sontak berdiri. Ketika di lihatnya Arjuna berada di sisi meja kerjanya.


"Aku ingin pulang sebentar, tunda dulu pertemuan dengan beberapa klien kita," titahnya, pada Chang Min. Sang sekretaris imut yang wajahnya bak idol dari negeri ginseng itu.


"Baik, Pak Presdir. Salam untuk Nyonya Susi," sahutnya sambil menundukkan kepala.


"Jangan harap!" ketus Arjuna dengan mata elangnya. Langsung menatap tajam pada Chang Min, hingga pria itu tersedak ludahnya sendiri.


"Maaf, Pak." Chang Min, langsung membungkukkan tubuhnya. Menyesali perbuatannya barusan. Hal sepele bagi orang lain, tapi tidak bagi bosnya itu.


" Bodoh kau, Chang Min!" Ia merutuki dirinya sendiri sambil memukul bibirnya. "Sudah tau, bos mu bucin, ngapain juga pake kirim salam segala."


______


"Sayang ...!" Sesampainya di dalam apartemen, Arjuna memanggil Susi. Meletakkan pesanan sang istri ke atas meja makan, seraya kedua matanya mengedar ke sekeliling ruangan.


"Sayang, aku pulang!" panggilnya lagi. Arjuna telah melepaskan jasnya serta mengendurkan dasi. Ia juga menggulung lengan kemejanya hingga batas siku. Penampilan berantakannya itu, membuatnya semakin terlihat ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜บ dan ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฐ.


Setiap sudut ruang tak terlewat dari pencariannya, tetap saja sosok cantik yang dirindukannya itu tak nampak. Ya, rindu itu sudah kembali penuh, padahal baru beberapa jam saja mereka berpisah.

__ADS_1


"๐˜”๐˜บ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ, kau dimana?" gumamnya, bertanya pada angin. Seraya menggaruk kepala tak gatal dengan segurat bingung yang tercetak di dahinya.


Arjuna sudah berada di area samping apartemennya, dimana di sana ada taman kecil yang tersusun di atas pot-pot cantik hasil rangkaian Susi sendiri.


" Apa iya, dia pergi keluar lagi." Arjuna mulai risau dengan isi pikirannya sendiri.


Seketika itu ...


Praangg!!


Terdengar suara benda pecah, yang berasal dari arah ruangan gym. Arjuna pun bergegas menghampiri asal suara nyaring itu. Ketika sampai di depan pintu geser yang terbuat dari kaca, sepasang mata elangnya terbelalak.


"Sayaaaang ...! Apa yang kau lakukan?" herannya tak percaya dengan apa yang tengah di lihatnya. Arjuna pun segera menghampiri Susi yang hendak mengayunkan kembali senjata di tangannya itu.


"Sayang ... hentikan!" tahan Arjuna.


"Berikan, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข itu padaku!" pintanya.


"Sekali lagi, aku masih belum mengeluarkan keringat," tolak Susi, padahal rambutnya sudah lepek dengan keringatnya.


" Sayang, kau bisa menghancurkan alat-alat olahraga ini." Arjuna mencoba menghentikan aksi Susi secara perlahan.


"Aku akan menggantinya, Ar. Tenang saja. Saat ini, aku benar-benar ingin membelah sesuatu." jelas Susi sembari kembali mengayunkan benda tajam yang super panjang itu.


" Hiyaa!!" teriaknya, ketika ia menyabetkan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข pada alat peraga olah raga milik suaminya itu.


๐˜๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ! ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜จ๐˜บ๐˜ฎ? ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ? ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฉ! ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ...


Arjuna hanya bisa mengoceh dalam hatinya, seraya mencengkeram kepala dengan kedua tangannya. Kemudian, ia mengacak kasar rambutnya.


"Aku sudah selesai," ucap Susi, seraya meletakkan kembali ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข pada tempatnya.


"Tentu saja, sudah. Peralatan ku sudah kau hancurkan sebagian," sungut Arjuna. Ada-ada saja kelakuan istrinya itu. Untung sayang.


Arjuna pun menuntun Susi keluar dari ruangan yang seperti baru di serang alien itu.


"Duduklah, biar aku ambil mangkuknya." Arjuna menarik kursi, lalu mendudukkan istrinya itu.


"Biar aku saja, Ar!" seru, Susi.


"Diamlah! Jangan bangun dari sana, atau kau terima hukuman dariku!" ancam Arjuna dari arah dapur bersih.


Susi pun tersenyum lebar, seraya meletakkan dagunya di atas kepala kedua tangan yang bertumpu pada meja. Memperhatikan, bagaimana suami gagahnya itu menyiapkan makanan untuknya.


" Wah, uapnya masih mengepul!" sorak Susi. Melihat bagaimana kuah bakso itu menggugah selera makannya.


" Aku sengaja, menggunakan rantang tahan panas ini. Agar ketika sampai rumah, baksonya masih panas," jelas Arjuna dengan bangga. Karena ia bisa mempunyai ide inisiatif seperti itu.


"Kau memang jenius!" Susi mengarahkan dua jempolnya, ke depan Arjuna. Dengan tatapan penuh kagum pada pria tampan nan gagah di hadapannya ini.


"Makanlah, selagi hangat." Arjuna menyodorkan mangkuk yang telah penuh berisi bakso berukuran besar serta beberapa tulang rusuk atau biasa di sebut iga sapi.


"Terima kasih, suami siaga ku," ucap Susi dengan tatapan hangat penuh cinta. Sementara, Arjuna hanya menanggapinya dengan emoticon love yang di kode kan dengan dua jari yang di silangkan.


" Besok, ikutlah ke kantor. Karena, istri dari salah satu karyawan ku ingin menemui mu," ucap Arjuna, sembari menyeka peluh yang membanjiri kening hingga pelipis Susi.


"Istrinya, Beng-Beng? Bukankah, sedang hamil besar?"


_________

__ADS_1


Keesokan harinya.


"Nyonya, terimalah sedikit rasa terimakasih dari istri saya." Beng-Beng menyodorkan kotak makan besar berisi makanan buatan istrinya sendiri. Sementara, sang istri yang tengah hamil besar itu, sibuk menyeka air matanya sendiri.


"Hentikan tangis mu, wajahmu terlihat jelek sayang," bisik Beng- Beng pada sang istri yang terus memegangi lengannya.


"Aku tidak bisa, aku begitu senang dan terharu," sahutnya dengan berbisik juga. Padahal aksi mereka berdua itu dapat di dengar jelas oleh Arjuna dan juga Susi.


"Ini rejeki anak kalian. Terima kasih, atas saran mu yang telah membuka mata batin suami ku. Kalau tidak, mungkin kami butuh waktu lebih lama lagi untuk menyadari kehadiran buah cinta kami ini," tutur Susi seraya menyentuh perut ratanya.


"Kedua anakmu akan mendapat tanggungan dari perusahaan, asalkan mereka juga mengabdikan dirinya dengan bekerja di perusahaan ini," jelas Susi, yang semakin membuat mata kedua orang di hadapannya banjir air mata.


"Terima kasih banyak, Nyonya. Kami tidak tau lagi harus berkata apa," ucap wanita yang keadaan perutnya sudah sangat besar itu.


"Tidak perlu, pesankan saja pada kedua anakmu. Untuk setia menemani calon penerus ARSA Company," jelas Susi, dengan seulas senyum penuh arti.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ณ.


Batin Arjuna, memuji kecerdasan istrinya itu. Sejak hamil, Susi bukan hanya tiba-tiba memiliki keahlian, tapi juga kecerdasannya di atas rata-rata. Ia, bersikap lebih tenang dan dewasa. Aura kepemimpinannya sangat terlihat, membuatnya semakin anggun serta elegan.


Namun, jika di atas peraduan. Seketika, ia akan berubah menjadi kelinci kecil yang imut dan menggemaskan.


" Pasti, Nyonya. Anak-anak kami, selamanya akan mengabdi pada perusahaan ini. Terima kasih, karena telah memberi jaminan masa depan yang cemerlang untuk buah hati kami." Beng- Beng dan istri berdiri, kemudian membungkukkan tubuh mereka sebagai ucapan rasa syukur.


Tiba-tiba ...


"Shhh ...," desis wanita hamil itu, seraya memegangi bawah perutnya.


"Akkhh!" pekiknya mengagetkan semua orang yang berada di dalam ruangan.


"Sayang, kau kenapa? apa sudah mau? ah, tidak jangan di sini!" pekik Beng-Beng, panik. Melihat raut kesakitan dari wajah istrinya. Ia hafal betul, bahwa itu adalah tanda anaknya akan segera lahir.


"Kenapa? dia kenapa?" bingung Arjuna, melihat wanita itu luruh ke lantai sembari merintih dan mengerang.


"Dia, mau melahirkan?" kaget Susi, seraya membekap mulutnya.


"Apa!" Arjuan sontak mendelik kan matanya.


"Bawa dia ke rumah sakit!"


"Joy, siapkan mobil kantor!" teriak Arjuna, panik. Melihat bagaimana baju bawah wanita itu telah basah bersimbah air ketuban yang telah pecah.


"Sabar ya, kami akan membawamu ke rumah sakit. Bertahanlah!" Susi mengelus bahu wanita yang tengah merasakan kontraksi itu.


"Anakmu, pasti akan menjadi orang hebat." Susi memberi sugesti yang baik, di harapkan dapat membuat wanita ini senang, hingga rasa sakit yang ia derita akan sedikit berkurang.


"Aakkhh!"


"Sayang, aku sudah tidak kuat lagi!" jerit wanita itu sambil meremas lengan baju Beng-Beng.


"Bertahanlah! Kau, jangan mengeluarkan anak kita di sini," lirih Beng-Beng.


"Apa, apanya yang mau keluar?" tanya Arjuna bingung. Ia tiba-tiba stress dengan kejadian di hadapannya saat ini. Terlihat dari alis mata yang saling bertaut serta beberapa kerut di keningnya.


"Tentu saja, Bayinya," jelas Susi, gemas. Arjuna ini bikin tambah riweh saja, pikirnya.


"Apa!"


"Memangnya bisa? darimana? caranya?" bingung Arjuna, bahkan raut wajahnya melongo bagai sapi tak bergigi. Pria jenius ini, ternyata ada juga bagian yang ia tak mengerti dari siklus kehidupan.

__ADS_1


"Sayang, apa kau tidak pernah belajar biologi?"


Bersambung>>>>


__ADS_2