
🔥🔥🔥🔥
" Misi telah selesai dalam semalam. Para tikus berdasi itu kini tau siapa yang sedang mereka hadapi." Joy menepikan mobilnya, lalu ia tersenyum tipis seraya melirik ke kursi di sebelahnya. Segera di raihnya benda tersebut lalu di dekapnya.
Joy, melangkah dengan penuh percaya diri, melewati lobi rumah sakit. Gaya maskulinnya dengan kaca mata hitam yang bertengger diantara hidungnya, mencuri perhatian perawat dan para pengunjung rumah sakit.
'Aku akan meminta maaf padanya, memperbaiki hubungan kami yang seperti tom end jerry. Bagaimanapun, kalimat ku kemarin sudah keterlaluan.' Joy melangkah semakin cepat, ia ingin segera sampai di kamar perawatan Milna. Pria itu beberapa kali tersenyum tipis seraya melihat buket serta kotak coklat di dalam genggamannya. Ia berpikir, setiap wanita akan luluh dengan cara andalannya ini.
Kaki tegap nan panjang itu berhenti, tepat di depan pintu kamar. Tangannya terulur untuk menarik tuas pada pintu.
Klek!
Seketika itu juga, kedua mata amber nya menatap pemandangan yang membuat mata serta hatinya mendadak panas.
Joy segera menutup kembali pintu itu, sebelum kedua orang didalam sana menyadari kedatangannya. Sebelum menjauh, Joy melempar benda yang berada dalam dekapannya kedalam tong sampah.
'Ternyata mereka sudah sedekat itu. Tapi, sejak kapan?" tanya Joy pada dirinya sendiri.
"Terserahlah, bukan peduliku." Joy, pun menginjak gas mobilnya, kemudian melajukan kendaraan itu dengan kencang.
_______
"Sepertinya, aku mendengar ada yang masuk tadi," ucap Milna seraya menoleh ke arah pintu.
"Aku juga iya, apa mungkin perawat? Tapi, gak jadi masuk karena kita lagi romantis-romantisan." Kekeh pria bule itu, yang usianya masih di bawah Milna, hanya saja wajahnya boros dan posturnya tinggi besar.
"Kau, ini selalu membuat orang salah faham. Makanya , menjauh dikit kenapa. Gak usah dekat-dekat!" usir Milna pada pemuda berambut pirang di depannya. Pria itu terus terkekeh sambil mengupas buah apel.
"Aku gak nyangka aja, bisa ketemu aunty di sini. Tapi, yang bikin aku gak abis pikir tuh. Aunty ngapain di pinggir pantai sendirian sambil bengong? Untung aja ketemu aku," tutur pemuda itu, kemudian ia menyodorkan potongan apel ke depan mulut Milna.
"Hentikan, Taro! Aku bisa makan sendiri!" Tolak Milna, seraya meraih sendok di depan mulutnya.
"Kenapa sih, aunt? Anggap saja aku pacar berondong mu." celetuk Taro, sampai sebuah jitakan mampir ke kepalanya.
Tuk.
"Aww!" Taro mengusap kasar rambutnya, seraya menatap kesal pada Milna
"Sakit!"
"Asal aja sih kalo ngomong!" geram Milna.
"Ya kan bener." Taro memberengut membuat wajah tampannya itu terlihat menggemaskan.
__ADS_1
"Ada juga aku di kira pacaran sama hot daddy. Ngaca gih, muka om-om gitu!" kelakar Milna, seraya tertawa.
"Sialan banget punya, aunty. Kata-katanya sungguh sadis." Taro akhirnya menyumpal mulutnya sendiri dengan buah apel yang barusan diirisnya.
Milna hanya menggeleng geli menatap keponakannya itu.
________
Keesokan harinya.
"Pria tengik? Emm, maksudku Joy. Mau apa kesini?" tanya Milna kikuk. Joy yang bergaya dengan style kasual serasa menghipnotis jiwa kewanitaannya.
"Tentu saja menjemputmu, apa lagi?" ketus Joy. Pria ini mau mengambil simpati atau apa? Gayanya macam tak betul.
"Tak perlu repot-repot. Aku bisa pesan layanan taxi online." Milna berkata sambil memasukkan peralatan pribadinya kedalam tas. Sementara pakaiannya sudah di kirim Taro ke tempat laundry.
"Kau!" Joy menarik lengan Milna hingga gadis itu berbalik dan menubruk dada bidangnya. Milna lantas mendongak, sepersekian detik ia terkesima menatap pahatan mengagumkan itu dari dekat.
Joy pun sama, kedua matanya lekat memandang wajah tanpa riasan make up itu. Entah kenapa bayangan ketika Milna bergandengan dengan si pria bule hingga, mereka tertawa bersama kala itu membuat isi kepalanya semakin berpikiran macam-macam.
" Mana pacarmu? Ngapain naik taxi!" sarkas Joy. Bahkan bibirnya menyunggingkan senyum remeh.
"Si–siapa yang kau maksud?" Milna meronta melepaskan dirinya. Napasnya kacau ketika berada begitu dekat dengan Joy.
"Dia baru pulang tadi pagi." Milna kembali untuk merapikan atas meja nakasnya.
"Jadi, dia menemanimu semalaman!" ujar Joy, dengan rahang beradu.
"Kenapa memang?" tanya Milna dengan gaya menantang. Kini ia telah kembali menghadap Joy dengan bersidekap. Ia telah memasang kuda-kuda untuk membantah segala kejulitan yang di lempar Joy seperti sebelumnya.
"Ya sudah, bukan masalah untukku. Sekarang, kau sebaiknya pulang denganku!" ajak Joy. Entah, sejak kapan pria ini mulai peduli dan memaksakan kehendaknya pada Milna.
"Aku tidak ingin berhutang padamu terlalu banyak, aku takut tidak sanggup membayarnya," ucap Milna.
"Sudah jangan drama. Cepat ikut aku!" Joy mengambil tas Milna yang berada di atas kasur lalu menarik tangan gadis itu keluar.
"Tunggu dulu berkasnya!" seru Milna, menghentikan langkah Joy yang cepat.
'Ini orang ya, udah tau nuntun pasien baru sembuh. Jalannya kayak orang ngambil gaji aja.'
Gerutu Milna, dalam hati.
"Cepatlah!" Joy, kembali menarik tangan Milna yang ramping.
__ADS_1
"Bisa pelan gak sih! Macam maling yang kena tangkap saja, kau buat!" protes Milna pada pria yang mencekal tangannya.
"Mau hujan, makanya berjalanlah dengan cepat."
"Kau lupa kalau aku baru sembuh Joy?"
"Baiklah, kalau itu maumu." Joy pun mengangkat Milna ke atas bahunya. Membuat gadis itu memekik kencang.
"Pria tengik! Joy gila! Turunkan aku cepat!" Milna memukuli punggung Joy sambil berteriak.
Mendapat pandangan aneh dan kaget dari beberapa pengunjung rumah sakit. Milna seketika menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
'Pria ini, benar-benar membuatku malu. Beraninya dia memperlakukanku seperti ini.' sungut Milna dalam hati.
"Naiklah!" seru Joy, setelah ia menurunkan Milna. Di luar dugaan, gadis itu menamparnya.
Plak!!
"Kau!" Joy menahan geram sambil merasakan panas di sebelah pipinya.
"Dasar pria tengik kurang ajar! Beraninya kau!" hardik Milna seraya mengarahkan telunjuknya ke depan muka Joy yang sudah merah padam.
"Sudah di tolong, malah menampar dan sekarang kau memakiku!" bentak Joy dengan suara kencang. Baginya, Milna adalah wanita yang paling bar-bar dan tak tau terima kasih.
" Sejak awal, aku tidak butuh pertolonganmu! Kenapa kau memaksa, dan mencoreng malu di wajahku!" teriak Milna. Kali ini, dirinya benar-benar kesal.
"Ya sudah, kalau begitu. Pulang saja sendiri!" Joy pun merangsek masuk mobilnya sendiri. Hingga ia melajukan mobilnya hendak keluar dari base man. Matanya, tetap sesekali melihat Milna melalui spion.
"Gadis itu benar-benar keras kepala! Menyebalkan!" Joy memukul stir mobilnya, sampai pada matanya menangkap sesuatu di belakang sana.
"Aunty! Aku cariin di kamar tadi." panggil Taro. Pemuda bule dengan tubuh ala model itu segera merangkul bahu Milna.
"Semua ini salahmu! Kenapa kau terlambat bocah nakal!" Milna kembali mendaratkan sebuah jitakan sayang ke kepala Taro.
"Ish! Bisa gak sih, jangan kdrt mulu?" protes Taro. Pemuda ini, lancar berbahasa karena dirinya memang lahir dan besar di negara asal Milna.
"Seandainya, Nella masih ada. Aku pasti sudah mengadukan mu padanya," sungut Milna. Kemudian ia berjalan ke depan.
"Aunty, mobilnya di sana!" Taro menarik tangan Milna, lalu mereka berjalan bergandengan sambil sesekali tertawa.
"Bule sialan!" Maki Joy, sambil memukul setir kemudinya berkali-kali.
"Apa bagusnya pria mesum itu. Baru kenal saja sudah merangkul seenaknya. Giliran aku gendong malah kena tampar. Dasar gadis sinting!" Joy terus memaki sepuasnya. Tanpa di sadari, ada yang berdenyut jauh di dalam lubuk hatinya.
__ADS_1
?