Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 306. ABPR


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Sudahlah Kak. Ninis baik-baik saja," ucap Vanish menenangkan Susi yang sejak tadi terisak sambil menggenggam jemarinya.


"Sejak tadi dia menangisi mu. Entah sudah berapa liter air mata yang di keluarkan," tukas Arjuna dengan raut wajah kesal. Namun, perasaannya itu bukan ia tujukan pada Vanish.


"Maafkan saya, Tuan Arjuna. Seharusnya saya tidak mengadu dan merepotkan Kak Susi." Vanish menundukkan wajahnya. Tanpa terasa air matanya pun bergulir kini. Ia salah paham.


PUK!


Sebuah pukulan lumayan keras mendarat di paha Arjuna. Di susul oleh pelototan dari kedua mata indah Susi.


"Gunakanlah perasaanmu sedikit Ar," bisik Susi dengan wajah ketus bukan main.


"Haihh, memangnya aku kenapa?" heran Arjuna. Telapak tangannya mengusap pahanya yang panas.


"Kenapa kau memarahinya. Dia itu sedang terguncang," bisik Susi lagi, kali ini dengan cara bicara yang menahan gemas. Ia sedikit geram karena Arjuna mengeluarkan sifat jeleknya disertai raut wajahnya yang sekaku kanebo kering.


"Ck. Kalian salah faham! Tentu saja aku bukan kesal dengan Vanish. Tapi wanita iblis itu!" ujarnya menjelaskan kesalahpahaman yang di terima dua wanita dihadapannya ini.


Vanish segera menyeka air matanya. Wajahnya mendongak menatap Susi. Keduanya pun tersenyum lega. Ternyata mereka telah salah menyangka. Salah Arjuna siapa suruh memasang wajah angker. Wkwkwk.


KLEK!


Suara daun pintu yang dibuka. Kemudian menampilkan sosok yang membuat Vanish merekahkan senyumnya.


"Ayah,"


"Anak Ayah,"


"Oh, ternyata ada Tuan Arjuna dan Nyonya Susi." Roma menundukkan kepalanya setelah ia menyadari kehadiran orang lain di dalam kamar perawatan putri pertamanya itu.


"Di mana emak, Yah?" tanya Vanish sambil melihat ke arah pintu.


"Emak tidak bisa datang. Karena Kiss baru jatuh dari sepeda motor. Jadi emak kirim salam dan mengirimkan seblak ini untukmu," jelas Roma seraya meletakkan makanan yang diidamkan Vanish ke atas nakas.


"Wah, kebetulan banget Ninis lagi pengen makan itu. Malahan tadi suami ganteng ke lobi buat ambil pesanan dari ojek online," girang Vanish.


"Justru itu tadi Ayah ketemu Better. Jadi seblak pesananmu dia berikan untuk abang ojolnya," jelas Roma sedikit kikuk. Pasalnya di sana ada pemilik perusahaan tempat anaknya bekerja. Ia merasa kurang sopan karena hanya mengobrol berdua anaknya saja.

__ADS_1


"Em, kalian teruskan saja ngobrolnya. Vanish sekarang kamu pasti senang sudah ketemu Ayahmu." Susi mengajak Arjuna berdiri.


"Nis, Kami tinggal dulu ya. Cepatlah pulih. Aku akan mengunjungimu lagi nanti." Susi pun pamit begitu pun Arjuna. Kedua nya berjabat tangan dengan Roma.


"Bos-mu sangat baik. Begitu pun istrinya. Kata Better, semua biaya rumah sakit ditanggung oleh tuan Arjuna," puji ayah kagum. Terlihat dari raut wajahnya yang berbinar.


"Benar Yah. Keduanya sangat baik juga perhatian. Meskipun, pembawaan tuan Arjuna memang kaku dan dingin. Tetapi hatinya penuh kepedulian terutama kepada karyawannya sendiri.


" Syukurlah. Kamu sangat beruntung mengenal mereka Nis," ucap Roma bangga.


"Iya Yah, Ninis merasa sangat beruntung. Mengenal Kak Susi, meniti karir bersama di basecamp nomor 17. Kemudian diajak bekerja di perusahaan Arsa. Hingga akhirnya Ninis diangkat menjadi asisten dari Better. Seketika kehidupan Ninis menjadi berwarna dan lebih baik. Sedikit demi sedikit, Ninis dapat mewujudkan apa yang Ayah dan Emak inginkan. Ninis juga dapat menyekolahkan Kiss di tempat favorit pilihannya," tutur Vanish dengan senyum yang tak luput dari wajahnya.


"Semoga kau bahagia selalu Nak. Semoga kehamilanmu kali ini bisa kau jalani dengan baik sampai ketika saat kau melahirkan nanti. Ayah akan menjadi laki-laki kedua yang menggendong anakmu. Ayah akan menjadi kakek yang dapat menghibur, melucu. Bahkan Ayah siap jika nanti akan menjadi badut dari anak-anakmu," tutur Roma dengan buliran air yang menetes dari ujung matanya yang mulai keriput.


"Ah Ayah. Kenapa kau membuat Ninis sangat terharu," ucap Vanish parau karena menahan tangis.


"Oh iya, Yah. Bagaimana keadaan Kiss sekarang?" tanya Vanish berusaha mengalihkan pembicaraan. Karena obrolannya dengan sang ayah sudah mulai mellow.


"Sudah lebih baik, karena habis di urut. Ya tapi gitu, jadi susah jalan untuk beberapa hari," jelas Roma. Sambil menyiapkan seblak bawaannya.


"Kiss ada-ada aja sih. Ngapain juga latihan mengendarai motor segala. Enak juga di boncengin Ayah tiap hari," gemas Vanish.


"Namanya juga anak badung. Tomboy tapi cengeng. Giliran di urut dia nangis menjerit-jerit," cerita Roma sambil mencebik gemas. Vanish pun terkekeh di buatnya.


"Emmhh ... wanginya, pasti enak." Vanish pun membuka mulutnya, menerima suapan penuh kasih sayang dari cinta pertamanya itu.


Karena, sosok seorang Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan mereka.


๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฎ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜™๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ.


Ternyata Better tengah menyaksikan kehangatan antara ayah dan anak itu. Mengintip di balik pintu yang ia buka sedikit. Vanish sang istri tengah memakan lahap seblak buatan Emak.


"Emak emang juara kalo masak. Selalu enak!" puji Vanish seraya mengangkat dua jempolnya.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฆ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข.


Better memasang senyum penuh arti di wajahnya. Kemudian ia memasuki kamar itu perlahan. Ia pun duduk di sofa diam-diam, tak bermaksud mengganggu keakraban dari istri dan juga mertuanya itu.


Ia memejamkan matanya sebentar. Beberapa menit kemudian telah terdengar dengkuran halus dari bibirnya.

__ADS_1


"Dia pasti sangat lelah." Roma menoleh ketika sang menantu ia sadari telah melanglang buana ke pulau kapuk dan benua mimpi.


"Sangat, karena baru saja pulang dari luar kota. Seharusnya Ninis memanjakannya. Tapi lihatlah sekarang, dirinya kembali sibuk merawat Ninis yang masuk rumah sakit," ucap Vanish lirih. Ingin rasanya saat ini ia mendekap raga lelah itu. Mengusap keringatnya atau memijat bahu kekarnya. Tapi sayang, raganya sendiri justru lemah saat ini.


"Semua bukan karena disengaja. Dia menantu Ayah yang hebat. Dia begitu mengerti dan sabar."


" Dia juga sangat mencintaiku Yah. Meskipun Ninis tidak secantik para wanita yang menginginkannya di luar sana. Bahkan mantannya saja sangat lah cantik. Akan tetapi ๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ sama sekali tak tergoda," adu Vanish pada sang ayah.


"Better persis sekali dengan Ayah. Ia begitu total ketika telah memutuskan untuk mencintai satu wanita. Semoga hubungan kalian kekal selamanya, Nak."


_______


"Keluarkan aku dari sini!"


"Atas dasar apa kalian menangkapku!"


"Ayahku itu orang hebat!"


"Dia pasti akan membebaskanku, lalu membakar penjara ini!" Merybelle terus berteriak histeris, hingga seorang wanita paruh baya berwajah sangar menarik rambutnya kencang.


"Hei! Kenapa kau berisik sekali!"


"Akh!" Mery menahan tangan wanita tersebut lalu ia menoleh. Wanita itu menampilkan seringai seramnya pada Mery.


GLEK!


Mery sontak menelan ludahnya kasar, ketika ia menoleh dan mendapati wajah menyeramkan itu di hadapannya.


๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ!


๐™‚๐™–๐™ž๐™จ, ๐™ ๐™š๐™ฅ๐™ค๐™ž๐™ฃ ๐™ ๐™–๐™ง๐™ฎ๐™– ๐™ฉ๐™š๐™ข๐™š๐™ฃ ๐™ค๐™ฉ๐™ค๐™ง ๐™Ÿ๐™ช๐™œ๐™– ๐™ ๐™ช๐™ฎ



๐˜ฝ๐™ก๐™ช๐™ง๐™—.


Rumah tangga yang terasa suram. Terasa hanya sekadar menjalani, tanpa pernah ada hasrat untuk berbagi kasih dengan pasangan yang cintai. Nyatanya justru membuat Marsha, menemukan kebahagiaan di luar rumahnya. Apakah salah jika sikap dingin suaminya memicunya untuk mencari kehangatan di luar rumah?


"Memang, aku bukanlah istri yang setia. Akan tetapi, dalam dua tahun ini aku berusaha bertahan di tengah badai dingin yang seolah menerpa rumah tanggaku tiada akhir. Hingga, satu hari aku kembali dengannya, cinta pertamaku, beberapa tahun lalu. Dia seolah memercikkan api dalam hatiku. Sayangnya, dia sudah menjadi milik wanita lain. Pantaskah aku merebut apa yang bukan menjadi milikku?" - Marsha Valentina.

__ADS_1


"Ketidaksetiaan yang kamu torehkan, nyatanya benar-benar mengoyak rumah tangga kita. Hanya ada dua pilihan, tinggalkan pria itu atau kau harus merelakan hancurnya rumah tangga kita untuk selamanya." - Melvin Andrian.


Bersambung>>>>


__ADS_2