Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Pertarungan Di Klab.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Mendengar suara ribut perkelahian, sekejap gegap gempita music dari sang Dj pun berhenti. Berganti dengan suara gedebak-gedebuk serta lengkingan teriakan.


Ketika sebuah wajah gahar menghantam meja bar, dimana di atasnya berbaris botol-botol minuman beralkohol serta gelas kaca.


Prangg!!


Braakk!!


Sesosok raga terlempar keatas meja, hingga benda itu terbelah menjadi dua bagian.


Teriakan dari para wanita penjaja tubuh maupun para waitress kembali terdengar.


Ketika, lagi-lagi sebuah raga besar, terpental menghantam bar. Menyapu apapun yang berserak di atas meja tersebut.


Seketika pria itu mengambil sebuah botol vodka di dekat kepalanya, lalu melempar ke arah pria berambut kuncir yang sudah menghajarnya.


Traankk!!


Better menangkis botol tersebut dengan tendangannya, hingga benda itu menabrak dinding di atas kepala seorang bartender. Botol berikut isinya pecah berantakkan.


Sang pemilik klab tersebut terlihat memegangi erat kepalanya. Dari belakang pintu ruangan kantor mereka mengintip.


"Amsyong owe!" Pria bermata sipit dengan tubuh gendut itu pun terduduk lemas di atas sebuah kursi.


Dikipasi oleh beberapa pelayan wanita yang berpakaian seksi tersebut.


"Sabar Koh." ucap salah satu dari mereka.


"Owe lugi ... lugi besal, myaa!" teriaknya.


Pintu pun di tutup oleh salah satu pekerja, takut ada sesuatu yang nyasar pikirnya.


Melihat serangannya dapat di tangkis dengan mudah, anak buah Domino itu kembali hendak melempar botol.


Namun, gerakannya kalah cepat, sebuah kursi besi lebih dulu mendarat menghajar kepalanya.

__ADS_1


Pria berbadan besar dengan tato di sepanjang lengannya, kini diam tak bergerak. Dengan cairan berwarna merah yang mengalir dari kepalanya.


Better, berlalu menghampiri dua orang kawannya. Meraih meja lalu mematahkan salah satu bagian dari benda segiempat tersebut.


Batang kayu beradu dengan tungkai kaki seorang pria yang hendak menyerang dari belakang Walls.


Pletakk!


Bugh!


Pria itu mengerang, merasai lututnya yang mungkin hancur terkena pukulan teramat keras dari benda tumpul.


" Thanks Paman!" seru Walls dengan peluh di dahinya.


" Awas belakangmu!" teriak Better.


Bruugghh!!


"Argh!"


Dirinya lengah, sehingga mendapat serangan dari belakang punggungnya.


"Sial! Beraninya kalian mengeroyok anak di bawah umur sepertiku!" Walls berteriak seraya kembali menyerang dengan membabi buta.


Sebuah tendangan mendarat dengan telak ke kepala pria yang menyerang Walls dari belakang, membuat hidung pria berbadan tinggi besar itu mengeluarkan cairan merah.


Joy, mengatur napasnya, tenaganya tinggal setengah.


"Kau hebat, Om!" puji Walls mengangkat jempolnya di sela meninju wajah pria di hadapannya.


Pria itu kembali bangkit setelah menyeka hidungnya yang kemungkinan patah itu. Ketika hendak berdiri, Joy kembali mengarahkan kaki nya dengan tendangan memutar.


KREKK!!


Musuh pun berputar di udara sesaat, sebelum akhirnya tersungkur dan tak bergerak lagi.


"Tinggal empat orang, tapi nampaknya mereka lebih tangguh!" seru Joy di sela-sela aksi tarung mereka.

__ADS_1


"Seriuslah! Komodo tua itu memanggil bantuan!" teriak Better yang memperhatikan dimana si mafia tua itu berada.


"Habis kau!" Walls berhasil melumpuhkan seorang lagi dengan tendangan di perut dan dada.


"Sial! Kenapa pasukan mereka datang lagi!" umpat Joy, yang tengah menginjak kepala salah satu lawannya yang baru saja ia jatuhkan hingga semaput.


"Tak berguna!" Domino melempar botol wisky nya, serta menendang meja hingga benda tersebut terjungkal.


"Melawan tiga cecunguk saja kalian kelabakan!" marah Don Domino pada anak buah yang tersungkur di hadapannya itu. Ingin rasanya ia langsung menembak kepala mereka saja.


"Don, bantuan sudah datang!" lapor Jeff, yang melihat dari CCTV di luar Klab.


"Habisi mereka bertiga, jangan biarkan keluar dari tempat ini hidup-hidup!" Lalu Domino keluar bersama Jeff dan Nick, sang kaki tangan andalannya.


"Kunci pintunya, dan pastikan pihak berwajib tidak mencium kejadian ini." titahnya pada Nick, yang kemudian diangguki oleh pria bule itu.


Nick mengunci pintu klab tersebut, setelah Milna dan kawan-kawan premannya telah lebih dahulu menyusup masuk.


BRAKK!!


Trek!


Pintu terkunci, mereka pun berlalu ke parkiran. Memilih kembali ke markas, meninggalkan pertarungan sengit di dalam.


Don Domino yakin, bahwa pertarungannya akan di menangkan oleh anak buahnya. Dirinya benar-benar geram, dan memutuskan akan melibas anak buah Arjuna agar pria itu lemah. Sehingga, dirinya dengan mudah akan menggagalkan rencana pernikahan mereka berdua.


"Hubungi pemilik klab Ngondek itu, Nick. Kirimkan tagihannya padaku." Setelah memberi perintah, pria paruh baya itu memejamkan matanya dengan senyum yang tersungging dari kedua bibir hitamnya.


Seorang pria berkaus hitam ketat, hendak mengarahkan senjata api ke depan. Mengincar kepala pria tampan dengan rambut di kuncir kebelakang.


Seringai tercetak di wajahnya, ketika jarinya berhasil menarik pelatuk itu, dan ...


...Sambungannya nanti siang ya gais ......


...Tepat jam 12, di jamin lupa sama laper saking tegangnya.🤭🤭...


Bersambung>>>>>

__ADS_1


__ADS_2