
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Sudahlah, jujur saja. Kau tidak berbakat dalam berbohong." Susi mendekat, lalu meraih tangan kekar itu.
Arjuna mendengus kasar, dirinya tak bisa berkelit lagi. Sungguh kepayahan yang hakiki, karena ia tak memikirkan alasannya ketika mengajak sang kekasih ketempat ini.
"Ya sudah, kalau kau belum mau cerita yang sebenarnya. Kita naik itu aja yuk!" tunjuk Susi kearah biang-lala kecil yang tengah berputar perlahan.
Arjuna menelan ludahnya kasar, matanya menatap tajam benda melingkar macam roda tersebut.
" A- bagaimana kalau kita main tembak boneka saja. Aku akan mendapatkan boneka teddy besar itu untukmu," tawar Arjuna, sesekali menyeka dahinya yang berkeringat.
" Jangan bilang kalau kau takut?" cecar Susi dengan senyum meledek.
"Haih, kau bilang apa!" Arjuna menarik pinggang ramping itu, membuat sang empunya memekik di tengah keramaian.
Untung saja tidak ada yang memperhatikan mereka. Karena setiap orang yang lalu lalang, sibuk memperhatikan setiap stand permainan, juga depot makanan.
Rangkulan Arjuna itu, membuat wajah keduanya kian dekat. Hingga hembusan napas dari keduanya pun beradu di udara.
" Ar, lepas." tolak Susi, yang berusaha melepaskan diri.
Namun, kedua mata mereka tetap mengunci. Membuat Susi berpegangan pada lengan kekar itu.
" Ternyata sejak awal, aku sudah tertarik padamu," ucap Arjuna tiba-tiba.
"Hah?" Susi mengerjapkan matanya lucu, dengan mulut yang sedikit menganga.
Cup!
"Kyaa ...!" jerit Susi kaget.
Karena pria itu selalu bisa mengambil kesempatan di dalam kesempitan sekalipun.
"Siapa suruh, memasang wajah menggemaskan itu di hadapanku." kilah Arjuna, seraya melepaskan rangkulannya.
"Hei, aku kan kaget," sahut Susi, manyun.
"Eh, malah di majuin. Mau di sosor lagi?" goda Arjuna pada Susi.
"Dasar Donald Duck!" cebik Susi, kesal.
"Siapa itu?" Arjuna membuat tiga garis kebingungan di dahinya.
__ADS_1
"Siapa lagi, ya kau lah!"
"Sejak kapan aku ganti nama!"
" Barusan!"
" Kenapa kau ganti jadi Donald Duck? Dia kan beb ...." Arjuna pun mendelik sebelum meneruskan kalimat terakhirnya.
"Enak saja!" pekiknya, sayangnya Susi sudah berlari menjauh darinya sambil terkekeh, jadilah ia mengejar wanita itu di tengah keramaian pasar malam.
Skip lari-lariannya.
Berakhirlah mereka berdua kini, di atas bianglala. Sekeras apapun menolak, Arjuna kalah juga. Ia pun terpaksa menuruti permintaan calon istrinya itu.
Masa iya lelaki sekekar dan segagah dirinya takut naik begituan. Itulah, kata-kata pamungkas yang di keluarkan Susi.
" Jangan tegang gitu, biasa aja dong mukanya." Susi menahan tawanya, sejak tadi tak sudah-sudah ia meledek Arjuna.
Melihat wajah pucat dari pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu, ternyata sungguh menghibur.
"Sial kepalaku pusing." gumam Arjuna pelan.
"Kau kenapa, Ar?"
Susi pun melambaikan tangannya pada pria tua di bawahnya, yang mana dialah yang mengontrol pergerakan bianglala.
Melihat ekspresi khawatir di wajah Susi, muncullah ide jahil di benak Arjuna. Terlihat dari sudut bibirnya yang tertarik ke atas.
(Di kerjain enak nih.) batinnya, sebenarnya dirinya memang mual dan pusing, akan tetapi masih lah dapat di tahan.
"Kenapa, Mbak. Pacarnya mabok yak?" tanya si bapak pemilik bianglala, mungkin.
"Kayaknya si, Pak. Maaf ya." Susi pun memapah Arjuna perlahan di bantu oleh, si bapak tadi.
" Duh, Gan. Badannya keker begini pake mabok." oceh si bapak.
Mulut julidnya bikin kesel, sampai Arjuna pun mengeratkan gerahamnya.
"Bapak jangan ngeledekin calon suami saya terus, gimana juga setiap manusia itu pasti punya sisi kelemahannya masing-masing." bela Susi, tak tahan juga kalau ada orang lain yang meledek kelemahan Arjuna. Padahal, dirinya sejak tadi meledek terus.
Susi mendudukkan Arjuna di salah satu depot minuman hangat. Bau rempah-rempah menguar ketika pancinya di buka oleh si pedagang.
"Ar, minum ini ya. Biar mual dan pusingnya berkurang," tawar Susi, mengarahkan sendok berisi minuman berwarna agak putih itu. Dengan isi berbagai macam, seperti kacang tanah, kacang hijau, potongan roti tawar serta mutiara.
__ADS_1
Kuahnya yang hangat dan khas manis gula aren membuat tenggorokan hingga perutmu menghangat.
Arjuna pasrah membuka mulutnya, menerima minuman yang seumur hidup pernah sampai ke lidahnya.
"Kok pedes?" tanyanya sambil menjulurkan lidah.
"Memang sedikit pedas, namanya juga jahe merah." jelas Susi heran, "jangan bilang, kalau kau tidak pernah minum beginian?"
" Memang tidak pernah." ketus Arjuna.
"Maaf, karena aku telah memaksamu. Jangan marah." Susi mendekati Arjuna, setelah meletakkan mangkok minuman tadi.
Mendekatkan wajahnya pada wajah kecut Arjuna, yang tengah merajuk.
Cup.
Sebuah ciuman mendarat mulus di rahang berbulu halus itu.
"Jangan marah ya." Susi memasang senyum manisnya.
" Kenapa nyium nya di situ?"
"Yang benar saja ini, kita kan lagi di keramaian," gemas Susi, seraya mengeratkan giginya.
"Yaudah, yuk pulang!"
" Eh ....!"
...
Kita tinggalkan pasangan yang lagi berkencan itu.
Bikin iri saja😏.
Tebak ya gais, babang Juna di kasih minuman apa sama jeng Susi?
Jawab di kolom komen ya😉
_
_
_
__ADS_1
Bersambung>>>