Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 298. ABPR


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Aku akan menghubungimu lagi nanti. ๐˜“๐˜ฐ๐˜ท๐˜ฆ ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ธ๐˜ข๐˜บ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ด ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ, ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ sayang." Better sengaja mengucapkan kalimat terakhir pada percakapannya dengan jelas. Ia dapat melihat melalui ekor mata, akan pergerakan Mery yang berjalan mendekatinya.


" Hemm ... siapa dia? Pacarmu ya? Romantis sekali," ucap Mery yang tau-tau muncul dari belakang Better.


Pria dengan rambut ikal yang selalu di gelung asal itu hanya tersenyum miring menanggapi sangkaan dari wanita masa lalunya itu. Ia takkan menjawab ataupun memberi penjelasan. Bukan karena ia tak ingin menegaskan statusnya saat ini.


Hanya saja, Better hendak menjaga kehidupan privasinya. Ia paham benar siapa Mery dan bagaimana kekuasaan ayahnya. Ia takut dan khawatir jika Mery akan mencari tau siapa istrinya.


"Sebaiknya kita siap-siap. Sebentar lagi nomer penerbangan kita akan di panggil." Setelah berkata Better segera berlalu dari hadapan Mery tanpa sedikit pun memandang pada sang mantan kekasih di masa lalu yang kiranya sengaja berdandan dengan sangat cantik itu demi dirinya.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฅ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜‰๐˜ฐ๐˜บ. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.


Umpat Mery dalam hati disertai tatapannya yang tajam menghunus di belakang punggung Better. Salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas. Hingga mencetak senyum sinis. Senyum yang menyiratkan sebuah rencana.


Di dalam pesawat. Mery mengusir asisten yang di ajak oleh Better. Ia menukar nomer kursi mereka. Sementara, Better yang mengetahui kelakuan Mery hanya melirik sekilas. Kemudian kembali melihat layar pada tabletnya. Mempelajari proposal yang di kirim oleh beberapa perusahaan yang menawarkan kerja sama.


"Nanti saja kerjanya. Sekarang istirahatlah," ucap Mery lembut dengan seulas senyum yang ia sungging kan di wajah cantik bule-nya itu.


"Pekerjaan seorang presdir memang seperti ini. Sejak dulu aku tak pernah memanjakan diriku. Bekerja sudah mendarah daging dan merasuk hingga ke tulang sum-sumku. Berbeda dengan kau yang sejak kecil telah menjadi tuan putri." Better bicara dengan tatapan yang masih fokus pada gadgetnya. Nada sarkas itu ia tujukan untuk mematahkan jurus Mery selanjutnya.


"Perlahan kau akan menyadari Boy. Jika aku bukanlah Mery yang dulu kau kenal manja dan tak bisa apa-apa," ucap Merybelle dengan seulas senyum yang masih setia menghias di wajahnya yang jelita itu. Meskipun sesungguhnya dalam hati ia dongkol bukan main.


"Aku partner mu. Jabatan ku juga lebih tinggi dari pada dirimu. Ingat batasan mu dan panggil aku dengan seharusnya, atau kerja sama kita berakhir sampai di sini," ancam Better tegas. Ia benci Mery memanggilnya dengan sebutan yang terus membuatnya kembali mengingat masa lalu dengan wanita itu.


"Maafkan saya Pak Better. Saya tidak akan mengganggu anda lagi." Mery menahan kesal dengan tetap mempertahankan nada bicaranya. Ia harus dapat mengendalikan diri agar rencananya dapat berjalan dengan baik. Ia cukup puas dengan terganggunya Better akan panggilan sayang darinya di masa lalu. Pertanda bahwa pria itu masih mengingat bagaimana kisah kasih haram mereka kala itu.

__ADS_1


"Satu lagi. Kembalikan kursi Milo. Aku tidak nyaman berdekatan denganmu." Better mengusir Mery bahkan tanpa menengok sedikit pun ke arah wanita itu.


"Apa! Tapi ...,"


"Ingat, kau hanya wakil dari perusahaan Candy Land. Jangan sampai attitude-mu ini mencemarkan nama baik perusahaan ayahmu!" sarkas Better, membuat Mery tak mampu mendebat satu patah kata pun lagi.


๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ช๐˜ต. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ฐ๐˜บ! ๐˜š๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ.


Mery terpaksa pindah dengan menahan kesal dalam hati saja. Akan tetapi ia menumpahkan segala geramnya kearah Milo. Terbukti tatapan kedua mata indahnya begitu tajam menghunus hingga relung kalbu karyawan yang masih jomblo itu. Ia bahkan menghentakkan ujung hak sepatunya dengan kencang.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ฉ! ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜บ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข? ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ? Batin Milo meringis, menahan sakit pada punggung kakinya. Bahkan pria itu mengulum bibirnya agar tidak teriak.


"Kenapa jalanmu pincang?" tanya Better.


"Tidak apa-apa Pak. Cuma aja jempol saya kepentok kaki kursi barusan," jawab Milo asal.


"Baik Pak." Milo hanya menggaruk kepalanya bingung.


๐˜’๐˜ข๐˜ถ! ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ!


๐˜ˆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜‰๐˜ฐ๐˜บ! Umpat Mery yang berada di belakang kursi Milo. Ternyata Better sengaja berkata seperti itu pada asistennya dengan cukup kencang dan jelas. Tentunya agar Mery dapat mendengarnya.


๐˜‰๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜‰๐˜ฐ๐˜บ-๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด. Batin Mery dengan sebuah seringai licik di wajahnya.


Sesampainya mereka di kota tujuan. Milo segera mengambil alih koper dan barang bawaan bos-nya itu. Tak banyak, hanya satu koper besar dan tas kecil berisi laptop. Ia mendorongnya dengan troli. Sementara Milo juga menggendong tas miliknya di punggung.


"Hei kau, bawakan juga koperku!" Perintah Mery ketus.

__ADS_1


"Baik Nona." Milo segera mengambil alih koper besar berwarna magenta milik Mery, kemudian hendak menumpuknya di atas koper Better.


"Lepaskan tanganmu dari koper Nona Merybelle!" Better yang sedang menerima telepon sontak memutuskan secara sepihak. Untung saja ia menoleh ketika mendengar suara cempreng khas Mery.


Milo sontak menghentikan kegiatannya. Ia melepas koper Mery kembali.


"Panggil petugas. Minta bawakan barang-barangmu. Milo itu asistenku!" ucap Better tegas. Kali ia berbicara sambil menatap Mery intens.


"Ah ya baik. Maaf!" Mery menundukkan kepalanya sungkan. Hanya demi pencitraan pastinya. Sesungguhnya dalam hati ia tengah berkali-kali geram setengah mati.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜‰๐˜ฐ๐˜บ. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข? ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜‰๐˜ฐ๐˜บ. ๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช. Mery pun tersenyum senang dengan segala khayalannya.


๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ.


_______


"Kamar kita ternyata saling berhadapan. Padahal, jika anda meminta sekamar. Sungguh saya juga tidak keberatan Pak." Mery menoleh dengan gaya kearah Better yang berdiri kaku menatap antara kamar mereka yang saling bersebrangan.


"Peringatan ku tadi sungguh berlaku. Nona Merybelle!" kecam Better. Saking tegas dan dinginnya, Milo bahkan sampai mengusap tengkuknya sendiri.


"Hahaha, ternyata jiwa humoris anda payah Pak Presdir." Mery segera berlalu memasuki kamarnya terlebih dahulu. Sebelum ia mati malu karena penolakan kembali dari Better.


๐˜—๐˜ข๐˜ฌ ๐˜—๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜บ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฆ. ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช, ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข. ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜›๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜บ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด, ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ. Batin Milo yang sangat menyayangkan kesempatan emas barusan. Seandainya ia yang di tawari pasti tidak akan menolak. Masalahnya, Mery tidak mungkin menawarkan dirinya pada pria yang hanya berpangkat kacung sepertinya.


"Awas saja kau Boy. Berkali-kali kau mempermalukan ku di depan asisten mu sendiri!" Mery belle melempar tas miliknya ke atas tempat tidur beralas khas berwarna putih gading itu. Kemudian ia menggenggam sebuah botol kecil berwarna ungu metalik.


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2