
🔥🔥🔥🔥
"Hari Ini, adalah kepulangan Milna. Tapi, aku sangat sedih," adu Susi pada suaminya. Arjuna menyeruput pelan kopinya, lalu ia menoleh ke paras cantik istrinya.
"Jangan terlalu kau pikirkan, semua sudah jalannya begitu. Kalau tidak, mungkin selamanya mereka tidak akan bersatu," cetus Arjuna. Menyikapi berita yang di kabarkan Joy padanya dua hari yang lalu.
"Jadi, apa kita gabungkan saja resepsi mereka?" tanya Susi dengan mata berbinar. Karena ia merasa menemukan ide cemerlang.
"Semua tergantung, Milna. Gadis itu berwatak keras bahkan Joy kewalahan membujuknya. Nanti, sayang bantu bujuk Milna. Bagaimana jika nanti ia hamil anaknya Joy? Setidaknya, Joy berniat untuk bertanggung jawab," tutur Arjuna, kemudian pria itu menghela napasnya.
"Sebenarnya, Milna tidak bisa melimpahkan kesalahan sepenuhnya pada Joy. Mereka kala itu sama-sama melakukannya dengan keadaan yang tidak sadar sepenuhnya. Milna dalam pengaruh obat, dan Joy dalam pengaruh alkohol." Arjuna berdiri dari duduknya. Mendekati pagar balkon, kemudian di susul oleh Susi.
Wanita itu merangkulnya dari samping, menyusupkan wajahnya di antara lengan berotot suaminya.
"Perasaan wanita tidak seperti itu, Ar. Selama ini 'kan mereka bagaikan kitty end doggy. Banyak kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Tragedi malam itu, adalah pukulan terburuk bagi wanita manapun, termasuk Milna," tutur Susi. Perasaannya sebagai sesama wanita faham betul apa yang tengah di rasakan oleh Milna saat ini.
Bahkan, sahabatnya itu rela pulang lebih dulu tanpa jet pribadi. Dirinya, menunggu dengan hati was-was. Berharap Milna, tak pendek akal dan kembali ke mansion nya.
"My Queen tenang saja, Milna bukan gadis berotak dangkal. Dia tidak akan bertindak bodoh yang akan merugikan dirinya." Arjuna menepuk punggung tangan Susi, yang melingkar di bisepnya itu.
"Apa kau tengah menyindirku, Ar?" lirik Susi dengan tatapan sinis. Hatinya masih mudah tersinggung. Tak bisa mendapat sedikit saja salah bicara. Maka ia akan menangis bahkan marah-marah seharian.
"Sayang, sama sekali tidak." Arjuna buru-buru membujuk istri gemoy-nya itu. Takut jika Susi ngambek, maka ia akan tidur di kamar baby S, sendirian.
"Ya, kau benar. Otakku saat itu memang dangkal. Aku begitu rapuh dan bodoh. Aku rasa, Milna tidak mungkin seperti diriku." Susi sontak melepaskan rangkulannya pada lengan Arjuna. Ia lalu bergeser sedikit menjauh, kemudian berpegangan pada pagar balkon.
"Justru itulah, hal yang menemukan kita berdua. Bukankah begitu?" bisik Arjuna di telinga Susi. Dirinya kini tengah merangkul sang istri dari belakang.
"Maksudmu, kebodohan dan kedangkalan ku yang menuntun takdir kita?" tanya Susi dengan wajah yang masih mengkerut.
__ADS_1
"He'em, takdir yang mempersatukan kita. Hingga, kita bisa bahagia seperti saat ini. Sungguh, tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Bermimpi pun aku tak berani. Ternyata, begini rasanya. Sungguh aku tak ingin semua ini lepas begitu saja dari genggamanku saat ini." Arjuna, semakin mengeratkan pelukannya. Susi mengulurkan tangannya, menyentuh jambang halus yang menempel di pipinya.
Arjuna mengecup telapak tangan lembut Susi, membuat sang istri menoleh seketika dan terkembang lah senyum itu di wajah cantiknya yang berseri sore itu.
"Maaf, jika ke depannya. Aku akan membatasi pergerakan mu di luar mansion." Arjuna berkata sambil sesekali mengecup telapak tangan Susi.
"Kenapa?" Susi lantas berbalik mendengar perkataan Arjuna.
"Aku takut, nanti akan banyak pria nakal yang akan menggoda mu," ucap Arjuna jujur.
"Ar, kau ini, yang benar saja," kekeh Susi, geli dengan penuturan suaminya. Alasan yang tidak masuk akal baginya.
"Kenapa kau tertawa? Memang kata-kataku ada yang lucu?" gemas Arjuna. Ia pun menggigit daun telinga Susi.
"Aww!" pekiknya pelan. Lebih mirip suara desah manja bagi Arjuna.
"Bulet gini, mana ada yang doyan sih?" kilah, Susi sambil tertawa.
"Lho, kok malah ketawa? Aku lagi romantis ini." Arjuna protes. Karena ia merasa tidak sedang melucu atau melawak.
"Kamu tuh, Ar. Dapat darimana dua kata aneh itu?" tanya Susi heran di sela-sela tawanya yang masih tersisa.
"Dari embah," ketus Arjuna.
" Jadi, kamu belajar gombal dari embah?" selidik Susi lagi. Baru kali ini Arjuna bersikap aneh, biasanya pria ini paling anti dengan bahasa gaul.
" Aku tidak sedang menggombal, aku serius." Arjuna membalik tubuh Susi yang hanya setinggi dadanya itu.
"Gimana aku mau anggap kamu serius, lihat saja." Susi berucap sembari menunjuk ke area tubuhnya.
__ADS_1
"Menarik dan seksi." Celetuk Arjuna. Membuat Susi mencubit pinggangnya.
" Jangan meledek terus, kau lihat bodi ku sekarang. 'Tubuhku dulu tak begini, kini aku tak langsing lagi' Kira-kira seperti itu, lagunya," minder Susi setelah ia selesai menyanyikan sebait soundtrack dari iklan.
"Itu kan menurutmu. Kau tak tau saja, bagi kaum adam itu. Kamu adalah paket komplit. Apalagi, jika mereka tau bagaimana permainanmu yang luar biasa," puji Arjuna dengan binar kekaguman yang nampak jelas di matanya.
" Kau tau, dari ujung rambut, sampai ujung kaki. Kau sempurna. Kau adalah ratuku, bidadari ku ...," bisik Arjuna lirih. Membuat Susi merasa terbuai dan terbang dengan kata-kata memabukkan suaminya itu.
"Sejak kapan kau begitu pandai berkata manis dan romantis, Ar? Kau membuatku merasa percaya diri," ucap Susi sumringah.
"Sayang, kamu adalah wanita yang spesial untukku, bagiku. Bahkan, perasaan ini tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. My Queen, selalu hebat dalam segala hal, bersama denganmu adalah pusat kebahagiaan dalam hidupku." Arjuna mengakhiri kalimat pujiannya itu dengan sebuah kecupan dalam pada kening Susi. Berlanjut pada kedua kelopak mata, pucuk hidung,kemudian bibir.
"Kau adalah segalanya bagiku, aku tidak akan pernah bisa hidup tanpamu. Aku akan selalu menjagamu, dari pandangan mata-mata lapar di luar sana." Kata Arjuna.
"Tapi, haruskah dengan mengurungku? Di mansion?" Susi berusaha negosiasi, masa iya dirinya tidak boleh keluar. Meskipun di dalam mansion ini sudah komplit. Ia tetap ingin keluar setidaknya memantau hiruk- pikuknya Ibu Kota.
"Aku akan mengajakmu keluar satu bulan sekali. Di sekitaran tempat tinggal kita saja. Lalu, kita akan liburan keliling destinasi yang indah. Enam bulan sekali, bagaimana?" tanya Arjuna, meminta persetujuan akan rencananya.
"Baiklah, setidaknya ... aku bukanlah burung dalam sangkar."
"Deal ya! Aku ingin kau selalu ada menyambutku pulang dari kerja. Menemaniku makan malam dan menemaniku dengan pakaian super hot di dalam kamar," ucap Arjuna dengan jurusan yang mulai berbelok dari tema dan topik awal.
"As you wish, Sir!" sahut Susi lantang. Mereka pun mengakhiri sesi raja gombal dadakan dengan berpelukan erat.
________
"Ibu, apa yang harus Nana lakukan sekarang? Aku membencinya, kenapa dia yang harus merenggutnya dariku?" Milna, terisak dengan bertumpu pada kedua lututnya.
"Sebenci itukah? Hingga pertanggung-jawabanku kau tolak?" Joy merunduk ikut bertumpu di tepi danau buatan pinggiran kota K. Tenyata, benar dugaannya jika Milna belum bertolak kenegaranya.
__ADS_1
Bersambung>>>