Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Cap ..., cip ..., cup...!!


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


BRUGHH!!


Arjuna malah terjengkang kebelakang, dengan posisi telentang. Tubuh Susi yang sempat di raihnya pun ikut jatuh menimpanya.


CUP!


Bibir keduanya tanpa sengaja bertemu, hingga jarak yang terkikis itu seketika menghadirkan desiran aneh pada tubuh basah keduanya.


Arjuna merasakan hangat di pipinya, hingga sesuatu yang empuk dan kenyal menyentuh dada bidangnya.


Mata mereka sesaat beradu dalam pandangan, Susi yang terbuai wajah rupawan yang di tatapnya dari dekat itu semakin membenamkan bibirnya.


Kecupan tak sengaja itu menjadi sesapan hangat dan basah. Susi semakin memperdalam ciumannya, pria di bawahnya mengikuti permainannya perlahan.


Tanpa sadar Arjuna tengah menikmati tautan bibir pertama baginya. Nalurinya sebagai lelaki mendorongnya untuk memberi balasan.


Hingga, Susi akhirnya tersadar ketika Arjuna yang memeluknya semakin erat telah membuatnya merasakan sebuah pergerakan dari tongkat sakti yang mengeras.


Mata keduanya membola, Susi segera bangkit dari tubuh kekar yang di tindihnya itu.


Ia berpegangan pada pinggiran wastafel karena takut terpeleset lagi.


"Ma-maaf...," lirih Susi menunduk takut. Ia sadar bahwa ia telah lancang. Mencium bosnya sendiri.


Belum lagi statusnya adalah seorang janda.


(Arrgghh, kenapa bisa kebablasan sih! Apa yang akan di pikirkan tuan nanti? Kau bodoh Susi, payah!) Susi terus merutuki dirinya sendiri dalam hati.

__ADS_1


Arjuna sedang berusaha mengatur napas dan geloranya. Entah kenapa, kali ini ia tidak dapat menahan dirinya dan dengan mudahnya jatuh pada pesona seorang janda berbaju basah.


(Memalukan! Bisa-bisa nya ciuman pertamamu diambil janda bodoh seperti dia! PAYAH!) Arjuna terlihat meremas rambut basahnya yang sedikit gondrong.


"K-kau!"


Arjuna mendengus kasar, ia tidak bisa marah. Karena ia juga menikmati momen itu, hingga aliran panas itu tiba-tiba menyengat tubuhnya.


(Aku harus jauh-jauh darinya mulai saat ini. Bisa-bisa, janda bodoh itu mengambil keperjakaanku!)


"Singkirkan wajah bodoh mu itu! Bereskan tempat ini, aku akan keluar." Arjuna segera berlalu dari dapur yang hot end cold itu.


Kek dispenser🤔.


"Yaahh..., bagaimana dengan makanannya?" gumam Susi.


"Semua ini gara-gara dia! Ah, kenapa juga aku harus grogi kalau lagi di perhatiin gitu? Hei, belum tentu dia perhatiin kamu! Aduh..., kenapa pake nyium segala sih tadi? Ini bibir gak ada akhlak, uh!" Susi memukuli bibirnya dengan centong nasi, berharap dosanya luruh karena sudah mencium bosnya tanpa permisi.


____***___


Keesokan harinya Susi mulai menempati meja kerjanya sebagai sekretaris CEO. ARSA. Mandiri.


Ini adalah hari pertamanya bekerja di gedung tinggi dan megah.


Berangkat satu mobil dengan Arjuna, namun tak ada satupun dari keduanya yang angkat bicara.


Membuat Susi frustrasi dan merasa tak enak hati. ia khawatir bila Arjuna salah faham padanya dan menganggapnya sebagai wanita penggoda.


(Bagaimana ini, malu banget kalo ketemu tuan Arjuna. Sepertinya dia marah.)

__ADS_1


Susi mengetuk kepalanya dengan bolpoin, mencari cara untuk kembali mencairkan hubungan dengan bos nya itu.


"Hai Nona cantik," sapa asisten Joy dengan senyum menawannya.


"Pagi Pak Joy," Susi membalas sapaan dan juga senyum itu.


(Seandainya tuan Arjuna seramah ini.) batin Susi.


"Saya mau ke dalam, ada kabar penting buat pak bos." Joy pun meninggalkan meja Susi.


"Ah, iya silakan Pak Joy."


Susi pun memutuskan kembali bekerja saja, ia akan memikirkannya lagi saat makan siang nanti.


Sementara di dalam ruangan, seorang pria berwajah tegas dengan bulu tipis di sekitar rahangnya, yang bertengger manja minta di elus-elus.


Tengah memejamkan mata sambil memegangi kedua bibirnya. Sudut bibirnya sedikit tertarik hingga membentuk sebuah senyuman yang tak di sengaja.


Lalu...,


Tok ..., tok ..., tok!


Khayalannya buyar karena suara ketukan diiringi suara sember sang asisten.


"Tuan! Mr.Walls sedang dalam perjalanan kemari," ujar Joy, membuat Arjuna menegakkan tubuhnya.


"Kau akan mendapatkan bonus Joy, potongan mu batal, asalkan...," Arjuna menjeda ucapannya dengan senyum miring penuh arti.


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2